
" Re... "
Panggil Ryuzaki begitu tinggal selangkah lagi dari tempat Aretha duduk.
Aretha menoleh ke samping. Wajahnya tampak sangat terkejut mendapati sosok Ryuzaki sudah berdiri begitu dekat dengannya.
" Ngapain kesini ? "
Ketus Aretha yang dengan cepat memasang tampang masam, menutupi rasa keterkejutannya.
" Masih badmood rupanya... "
Kata Ryuzaki sembari duduk di sebelah Aretha.
Aretha hendak bangun dari duduknya, namun Ryuzaki dengan sigap menangkap pergelangan tangannya, mencegahnya untuk pergi.
" Aku pingin bicara. "
Kata Ryuzaki dengan raut wajah memohon.
" Apalagi ? "
Masih ketus, Aretha menjawab.
" Tentang kita. Tentang semuanya. Kita selesaikan apa yang sebelum nya cuma terpendam di hati. "
Jawab Ryuzaki.
Aretha menarik tangannya, melepaskan pegangan Ryuzaki. Ditatapnya sosok laki-laki di hadapannya itu.
" Bagiku, semua sudah selesai. "
Katanya dengan tegas.
" Belum, Re. Dengan sikapmu yang begini, semuanya malah menjadi semakin berlarut-larut. Kita, nggak akan bisa tenang. Sebentar saja, ayo kita ngobrol. Keluarin uneg-unegmu padaku, aku juga akan lakuin hal yang sama. Biar sama-sama tau, kita harus gimana selanjutnya. "
Sahut Ryuzaki dengan mimik wajah yang serius.
" Okey... Aku ikuti apa maumu sekarang. Jadi, silahkan. Kamu mulai duluan. "
Dan akhirnya, Arethapun menyetujui apa keinginan Ryuzaki.
" Pertama, aku minta maaf soal bayi kita. Aku akui, aku salah. Konsentrasi ku pecah saat mengemudi dan itu membuat kita kehilangan... dia. "
Ryuzaki terdiam untuk sejenak. Ia menghela nafas. Berusaha untuk tak larut dalam kesedihan.
Melihat raut wajah Ryuzaki, Aretha merasa bersedih. Kenangan akan kehilangan anaknya kembali muncul perlahan.
" Aku tau... Aku tau kamu juga merasa kehilangan. Tapi apa kamu pikir, dengan kita ngebahas masalah ini lagi, semuanya akan baik-baik saja ?! Apa bisa normal lagi ?! Dia sudah berbentuk bayi, Ryu ! Anak kita ! Aku menjaganya sebaik mungkin, semaksimal mungkin ! Aku menunggunya lahir ! Aku berharap, aku berdoa setiap hari, aku bisa menjadi seorang ibu yang bahagia ! Aku menunggunya melihatku, melihatmu ! Mimpiku, semuanya hilang ! Cuma karena kamu ngebahas hal yang nggak penting waktu itu !! "
Aretha pun mengeluarkan apa isi hatinya. Wajahnya penuh amarah. Matanya mulai berkaca-kaca.
" Aku pantas disalahkan. Aku menyesal. Aku memang salah. Kalo saja aku nggak ngebahas soal Sara, kita nggak akan ke... "
" Sudahlah... Masalah itu, kita tutup sampai disini saja. Setuju ?! "
Aretha memotong kalimat Ryuzaki dengan sinis.
" Nggak bisa begitu, Re. Tujuanku kesini, pingin menyelesaikan masalah di antara kita. Kalo cuma terus dipendam, mau sampai kapan kita kayak gini ? Mau berapa lama kamu semarah ini padaku ? "
" Selamanya ! "
Tegas Aretha sembari menatap tajam tepat ke arah mata Ryuzaki.
" Apa nggak ada kesempatan sekalipun buatku ? Sekali lagi... Please... "
Ryuzaki tampak memohon dengan tulus.
" Kesempatan ?! Kamu minta kesempatan sekali lagi ?! Kemana kamu waktu aku depresi ??? Kamu pergi ! Kamu pulang ke Jepang ! Kamu tinggalin aku sendirian menanggung kesedihanku ! Kamu nggak ada di sisiku, padahal kamu yang selalu bilang, apapun yang terjadi, kamu akan terus menemaniku. Tapi mana ??? Kamu menyerah menemaniku ?!!! "
Nada suara Aretha makin meninggi. Bahkan nafasnya tampak turun naik karena emosi. Airmatanya berjatuhan tanpa terkendali lagi.
" Kesempatan itu sudah hilang, Ryu... Kalopun ada, mungkin kesempatan mu yang lain. Kesempatan buatmu dapetin pasangan hidup yang lebih baik dariku. Kesempatan buatmu menjalani hidupmu dengan baik tanpa aku... "
Sambung Aretha, kali ini dengan suara yang melemah.
" Aku nggak mau hidup tanpa kamu, Re. Aku nggak mau kesempatan yang lain selain kembali bersamamu, Re. Aku mohon. "
Kata Ryuzaki penuh harap.
" Aku lelah... "
__ADS_1
Lirih Aretha sambil berdiri, berniat meninggalkan Ryuzaki sendiri.
" Aku cinta sama kamu, Re. "
Kata Ryuzaki yang dengan cepat berdiri dan memeluk Aretha dari belakang.
" Aku nggak mau bercerai. Aku mau kita kembali kayak dulu lagi. Mulai dari awal. "
Sambung Ryuzaki setengah berbisik di telinga Aretha.
Aretha masih terdiam dalam isak tangisnya. Ditatapnya kedua lengan Ryuzaki yang melingkar di bahunya.
Dulu...
Lengan inilah yang paling bisa bikin aku nyenyak saat tidur.
Dalam dekapannya, aku ngerasa sangat nyaman.
Hangat, masih hangat kayak dulu...
Badannya yang lebih besar dariku ini, membuatku merasa aman...
Dulu... aku begitu suka berada dalam pelukannya.
Batin Aretha mengenang masa-masa bahagianya dengan Ryuzaki.
" Kumohon... "
Kembali Ryuzaki berbisik.
Dengan penuh cinta, dikecupnya rambut Aretha. Ada sebuah getaran dari relung hati Aretha yang terdalam saat Ryuzaki mengecup dari belakang.
Ya... ya...
Aku pingin bilang, ya...
Aku juga masih cinta sama kamu, Ryu.
Berpisah denganmu, bikin aku sadar...
Aku nggak bisa kehilangan kamu.
Hari-hariku sepi... cuma ada kenangan kita berdua yang membuatku masih bisa tersenyum.
Tapi pada akhirnya, aku terus kangen sama kamu, Ryu...
Aku pingin kembali bersamamu sekarang juga.
Tapi urusan ku soal Sara belum selesai.
Ditambah adanya Ayako yang terus menempel padamu.
Aku nggak akan bisa tenang menjalani hari-hariku bersamamu sekarang ini...
Batin Aretha galau.
" Aku nggak bisa... "
Dan dengan lirih, Arethapun memutuskan.
" Nggak ! Kamu bisa, Re. Aku yakin, kamu masih cinta aku, Re. Aku yang pertama buatmu, aku juga yang harus jadi terakhir buatmu. Hanya aku, Re. Setuju, hemm ? "
Ryuzaki mengencangkan pelukannya.
" Ryu, aku... "
" Aku akan menebusnya. Aku akan ngelakuin apapun biar kamu maafin aku dan kasih aku kesempatan sekali lagi. Gimana, kamu mau kan ? "
" Ryu, please... "
" Lihat aku ! "
Ryuzaki melepaskan pelukannya dan memutar tubuh Aretha menghadap ke arahnya.
" Lihat aku, Re ! Tatap mataku... Aku tulus, Re... "
Kata Ryuzaki.
Aretha menatap mata Ryuzaki. Keduanya saling menatap satu sama lain. Getaran yang dirasakan Aretha sebelumnya semakin terasa kencang. Dadanya berdetak keras.
Please...
__ADS_1
Aku tau kamu tulus.
Tapi aku harus menjauh sejauh mungkin darimu saat ini.
Kalo nggak, rencanaku akan berantakan.
Ya Allah, aku harus gimana ini ?
Aretha makin kebingungan dalam mengambil keputusan.
" Apa yang bikin kamu ragu, Re ? Aku tulus padamu... "
Kembali, Ryuzaki benar-benar berharap Aretha memganggukkan kepala.
" Ryu... Ada beberapa hal yang bikin aku nggak bisa bersama denganmu saat ini, aku... "
" Saat ini ? Apa itu artinya ke depan, kamu bisa bersamaku lagi ? Apa itu bisa kubilang, kita nggak perlu bercerai ? "
Ryuzaki menyela kalimat Aretha dengan mengernyitkan dahinya.
Gimana ngejelasinnya ya ?
Kalo aku bilang iya, dia pasti bakal bikin berantakan rencanaku dan Ditto.
Aku nggak mau Ryu masuk ke dalam rencanaku, demi keamanan dia juga.
Aku tau betul karakter Sara.
Aku harus menjauhkan Ryu dari Sara saat ini...
Tapi kalo aku bilang nggak, Ryu bakal salah paham padaku...
Ntar bisa-bisa dia malah diambil Ayako.
Aahh, kacau !
Lagian, kenapa sih harus balik sekarang ? Kenapa nggak ntar-ntar aja gitu...
Tunggu urusanku beres semua, jadi kan aku nggak bingung sendirian begini.
Bener-bener bikin dilema aja nih !
" Re.. Rere... "
Ryuzaki menggoyangkan bahu Aretha beberapa kali karena mendapati tatapan kosong Aretha.
" Kamu melamun ? "
Tanyanya penasaran.
Aretha menggelengkan kepala. Dilepaskannya tangan Ryuzaki dari kedua bahunya.
" Tolong... Menjauhlah. Pergi dari hidupku sejauh yang kamu bisa. Aku cuma pingin sendiri sekarang. Aku jalani hidupku dengan caraku, kamu jalani hidupmu dengan caramu. Kita... nggak ada hubungan apa-apa lagi. "
Kata Aretha dengan bibir yang bergetar.
Airmatanya berjatuhan. Raut wajahnya tampak sangat sedih.
" Re... "
Ryuzaki masih memohon.
Tapi Aretha telah memilih. Tak lagi ingin menatap Ryuzaki penuh dengan penyesalan, ia memutar tubuhnya. Berjalan menjauh dari sisi Ryuzaki.
Biarlah...
Apapun yang terjadi nanti, begini lebih baik.
Nggak cuma demi kamu, tapi demi aku sendiri, demi hidupku sendiri...
Bukan perkara mudah mengurus Sara, dan aku nggak mau kamu terlibat.
Kalopun nanti Sara sudah bisa kuberesin, kamu masih menungguku, bukankah hidup kita akan lebih bahagia ?
Tapi kalo kamu memilih meninggalkanku, aku nggak akan menyalahkanmu.
Semua sudah terjadi, aku siap apapun resikonya nanti...
Maafin aku, Ryu...
Ucap Aretha dalam benaknya.
__ADS_1
Dan Ryuzaki hanya bisa menatap sosok Aretha dalam diam dengan penuh rasa kecewa di hatinya.