
Nggak tau lagi harus gimana.
Semua cara kayaknya udah dicoba, tapi Rere nggak ada perubahan.
Masih tetep nggak bisa didekati.
Melepas Ayako emang bukan pilihan sulit, karena dari awal juga nggak pernah anggap dia lebih dari teman.
Bukan nggak tau soal perasaan Ayako ke aku, tapi selama ini aku lebih nyaman menjadi kakak ataupun sahabat aja.
Dia cantik, pribadinya juga lembut, pola pikirnya dewasa, nggak ada cowok yang nggak tertarik sama dia.
Dibandingkan dengan Aretha....
Hah !! Lagi-lagi bandingin Ayako sama Aretha....
Apa ini artinya aku mulai serakah ?
Ayako type cewek idaman, oke aku setuju banget !
Aretha ?..... Apa kelebihan dia ?....
Cantik ? Ya dia emang cantik, tapi apalagi ?
Yang kutau, jauh berbeda dari Ayako.
Tapi itu yang bikin menarik.
Dan aku sangat tertarik....
" Ryu... Ryu... anata wa kūsōdesu ka ? "
( Ryu, kamu ngelamunin apa ? )
Teguran dari Ayako membuyarkan lamunan Ryuzaki.
" Oh.... le, soreha kūsōde wa arimasen.... "
( Oh.... Nggak, nggak ngelamunin apa-apa kok... )
" Mattaku furete inai anata no tabemono ga miemasu. Sara no ue de fōku o hiita dakedesuga, wairo sura shimasendeshita. "
( Aku liat kamu nggak sentuh makanan mu. Kamu cuma mainin sendok garpumu di atas piring tapi nggak sekalipun menyuap makanan mu. )
" Sumimasen, ima kara tabemasu. "
( Maaf, aku makan sekarang. )
Ryuzaki mulai menyuap makanan nya. Ayako memperhatikannya dengan seksama. Dari awal duduk di restoran ini, Ryuzaki seperti punya dunianya sendiri. Makin kesini, Ayako merasa makin jauh dari Ryuzaki. Seperti ada batasan yang tidak terlihat tapi sangat terasa buatnya. Dan batasan itu, makin lebar akhir-akhir ini.
" Anata no hikōki wa itsu shuppatsu shimasu ka ? "
( Kapan jadwal penerbangan mu ? )
" Ashita no gogo, kūkō made tsureteitte moraemasu ka ? "
( Besok siang, kamu bisa nganterin aku ke bandara ? )
" Tsureteitte ageru. "
( Aku akan anterin kamu. )
Ayako tersenyum lega. Ryuzaki menatapnya penuh makna.
__ADS_1
Aku menyakitinya bukan ?
Tapi dia benar-benar cewek yang baik.
Aku tau, dia nggak pernah mau pacaran sama siapapun karena aku.
Yang di mata nya cuma aku.
Yang di hatinya cuma aku.
Yang di pikiran nya cuma aku.
Yang diinginkannya...... aku.
Tidak ingin tertangkap basah karena melamun kembali, Ryuzaki segera menghabiskan makanannya. Makan malam yang hambar. Dan sangat tenang.
" Kenapa kepalaku agak pusing ya..... "
Gumam Ryuzaki sesaat setelah menghabiskan makan malamnya. Ditatap piringnya yang telah kosong. Pandangannya mulai kabur. Nafasnya mulai tak teratur.
" Ryu, anata wa nani o itte imasu ka ? "
( Ryu, apa yang kamu bilang ? )
" Ryu.... Ryu..... Nani ga mondaidesu ka ? Dōshite ? "
( Ryu.... Ryu..... Ada apa denganmu ? Kenapa ? )
Ayako terlihat khawatir. Beranjak bangun dari kursinya dan menghampiri Ryuzaki.
" Anata no karada wa atsuidesu ! "
( Badanmu panas banget ! )
Kata Ayako tersentak kaget saat tangannya menyentuh pundak Ryuzaki.
( Ayako.... tolong anterin aku pulang.... hhh... hhhh... )
Ryuzaki merasa payah. Tubuhnya bergetar. Ada perasaan aneh yang sangat kuat menguasainya. Ia berusaha mengatasinya sekuat tenaga. Nafsu yang besar.
" Ima ie ni kaerimashou... Watashi wa anata o ie ni tsurete ikimasu. "
( Kita pulang ya sekarang... Aku anterin kamu pulang. )
Kata Ayako dan membantu Ryuzaki beranjak bangun. Begitu dekat dengan Ayako, dia merasa sangat tidak nyaman.
" Takushī ni norimasu, hh... hh...Takushī to yonde kudasai.... hhh... hh... "
( Aku naik taksi aja, hh... hh... Tolong panggilin aku taksi.... hhh... hh... )
Ryuzaki sebisa mungkin mengatur nafasnya yang terengah-engah. Pengunjung restoran di sekitar mereka bertanya-tanya melihat mereka berdua melangkah keluar restoran. Seorang satpam menghampiri mereka, saat melihat Ayako yang sedang membantu Ryuzaki berjalan lebih cepat.
" Ada apa pak ?... Bisa saya bantu ? "
" Tolong, hh... hh... panggilkan taksi.... "
Pak satpam segera berjalan ke arah jalan raya. Menunggu beberapa saat, akhirnya sebuah taksi berhenti juga.
" Silahkan pak.... "
Kata pak satpam sambil membukakan pintu belakang untuk Ryuzaki dan Ayako.
" Apartemen M, pak... cepet !!! Tolong !! "
__ADS_1
Kata Ryuzaki segera memberikan alamat ke sang sopir taksi. Dan sopir pun segera meluncur.
Ayako yang terus menempel pada Ryuzaki bahkan saat duduk di dalam taksi, membuat Ryuzaki makin gerah. Ada gejolak yang menggebu-gebu dari dalam tubuhnya.
Ada obat perangsang ....
Siapa ?
Ryuzaki menoleh ke arah Ayako. Melihat gelagat Ayako yang terus menempelkan tubuhnya ke tubuhnya, Ryuzaki makin curiga.
Ayako ?
Buat apa ?
" Naze watashi ga sonoyōni mieru nodesu ka ? Watashi no hoteru ni ikeba īdesu ka ? "
( Kenapa ngeliatin aku kayak gitu ? Apa kita ke hotel ku aja ? )
Bener.... Ayako !
Ryuzaki menggeser tubuhnya lebih menjauh dari Ayako. Ayako tidak tinggal diam saja. Ia terus mendekat.
" Pak, tolong ! Cepetan ! "
Seru Ryuzaki tidak sabar. Ayako memainkan tangannya di paha Ryuzaki. Ryuzaki menyingkirkan tangannya dengan kasar.
" Nani ga machigatte iru no ka anata ga kangae o kaeru koto o nozonde iru no wa machigatte imasu ka ? Watashi ga anata o aishite irunara watashi wa machigatte imasu ka ??? "
( Apa aku salah kalo aku inginkan kamu berharap kamu berubah pikiran ? Apa aku salah kalo aku cinta sama kamu ??? )
" Hh... Hh.... Aarrgghhhh !!!! "
" Mas... Kenapa ? Apa kita perlu ke Rumah Sakit terdekat ? "
Sopir taksi tersebut tampak cemas saat mendengar teriakan Ryuzaki yang mendadak. Dilihat dari kaca dashboard atas mobilnya, wajah Ryuzaki terlihat kemerahan dan pucat. Jelas-jelas tidak nyaman sama sekali.
" Nggak pak, nggak pak.... hh... tolong, cepetan ! "
Tolak Ryuzaki. Kemudian dengan sengaja memojok di pintu dan menatap ke luar jendela. Ke dua tangannya ia masukkan ke kantong jaket kulitnya. Ayako masih terus mencoba memancing nafsunya. Menyandarkan kepala ke bahunya. Jari jemari Ayako bermain-main di dada dan mulai turun ke perutnya.
" Yamete ! Watashi ga isshō anata o nikumu koto o nozomanai nonara, yame nasai ! "
( Berhenti ! Kalo kamu nggak mau aku membencimu seumur hidupku, hentikanlah !!! )
Bentak Ryuzaki dengan penuh perjuangan, menolak semua sentuhan yang sebenarnya ia butuhkan untuk memenuhi hasratnya. Ayako tersentak. Tidak menyangka reaksi Ryuzaki. Bukan tanggapan seperti itu yang ia harapkan saat ia menaburkan bubuk obat perangsang pada makanan Ryuzaki tadi. Ya, ia sengaja datang lebih awal dan memesan makanan lebih dulu. Saat Ryuzaki datang, semua telah siap di atas meja.
" Watashi wa itsumo anata o matteimasu... "
( Aku selalu nungguin kamu... )
Kata Ayako dengan suara lirih. Sedih.
" Stop pak ! Stop... ya stop disini ! "
Ruzaki menghentikan tak si nya saat gedung apartemen nya sudah terlihat. Taksipun berhenti. Dengan buru-buru, Ryuzaki keluar dari dalam taksi.
" Ryu... Gomen'nasai. "
( Ryu... Maafin ya. )
Ryuzaki menoleh sesaat, dan tanpa menanggapi Ayako, ia mengeluarkan dompet. Mengambil 2 lembar uang ratusan ribu dan menyerahkannya kepada sopir taksi.
" Antarkan dia pak, ke Hotel I ya.... Kembaliannya buat bapak. "
__ADS_1
" Ah iya iya, mas..... siap ! "
Dan taksi pun segera melaju membawa Ayako yang terus menoleh ke belakang. Memperhatikan Ryuzaki memasuki gedung apartemen. Hatinya sakit. Matanya mulai basah.