AKU DAN CINTA SAUDARIKU

AKU DAN CINTA SAUDARIKU
BAB 46


__ADS_3

Pak Abdul termenung menatap sosok laki-laki muda yang sedang terbaring di ranjang di hadapannya. Tampak pulas dan lelah.


Dari KTP dan surat-surat yang bisa kutemukan di dalam mobil itu, orang ini punya data yang jelas.


Menguntungkan juga kalo dia amnesia begini, jadi kecelakaan itu nggak akan terungkap.


Tapi dokter bilang, ini cuma amnesia sementara, jadi bisa kapan saja ingatannya kembali.


Itu bisa bikin posisi anakku semakin dalam bahaya.


Apa yang harus kulakukan ?


Kubawa dia ke kantor polisi, itu akan jadi jebakan buatku.....


Kutinggalin disini, KTP anakku sudah telanjur masuk sebagai penjamin.


Kuantar ke alamat yang dia punya di KTP nya, aku kuatir keluarganya bakal perpanjang masalah ini....


Dan aku yakin, dia bukan pemuda biasa...


Dari barang-barang yang kulihat di dalam mobilnya, termasuk mobilnya sendiri, itu semua bernilai mahal.


Pasti dia orang kaya.


Bakal repot kalo orang kaya bikin masalah...


" Uugghh.... "


Ryuzaki menggeliat. Perlahan dan pasti, ia mulai membuka matanya. Mendapati Pak Abdul yang sedang tersenyum kepadanya, ia merasa lega. Menyadari dirinya tak ingat apapun, Ryuzaki sempat ketakutan dan cemas. Jadi sosok Pak Abdul yang masih berada di sisinya, membuatnya merasa tak sendirian.


" Pak.... "


Ujar Ryuzaki seraya beringsut untuk duduk.


Segera Pak Abdul membantunya.


" Terimakasih.... "


Ucap Ryuzaki sembari tersenyum simpul.


Pak Abdul membalas dengan senyuman pula.


" Dokter bilang, kamu tetap bisa pulang besok. Cuma karena ada amnesia, dokter minta kamu wajib cek-up tiga hari sekali. "


" Oh... baiklah... "


" Oh iya.... ini, ada semua surat-surat di tas ini. Bapak nemuin ini di mobilmu. Komplit, KTP dan beberapa surat lainnya. Dan ada satu tiket, tujuan ke Jepang. Atas namamu. "


Pak Abdul menyerahkan sebuah tas ransel tanggung berwarna hitam dan kuning ke pangkuan Ryuzaki. Ryuzaki membuka ritsleting tas tersebut. Satu persatu dikeluarkannya surat-surat yang dimaksud Pak Abdul sebelumnya.


" Aarghh... "


Kepalanya terasa sakit seperti ditusuk-tusuk. Hanya karena melihat selembar tiket dan KTP nya.


" Jangan dipaksa buat mengingat. Biarkan ingatanmu kembali dengan sendirinya. "


Kata Pak Abdul dengan lembut.


" Ya, pak.... "


Sahutnya dengan lirih.


Seperti ada seekor lebah yang sedang terbang bersuara mendengung berada di dalam kepalanya, Ryuzaki merasa pusing.


" Besok, ikut bapak pulang dulu saja.... Sampai kamu benar-benar siap buat pulang kerumah. "


Akhirnya Pak Abdul tak tega juga, dan berniat untuk merawat Ryuzaki selama proses penyembuhannya. Ryuzaki yang saat ini merasa tidak tahu harus bagaimana selanjutnya, langsung sumringah.


" Ahh, makasih bapak.... Benar-benar terimakasih. Tapi, pak... Apa nggak ngerepotin ? "

__ADS_1


" Nggak... Nggak kok, nak.... Santai saja ya. Itung-itung nemenin bapak. Kebetulan bapak tinggal sendirian. "


" Oh gitu .... Keluarga bapak ? "


" Istri sudah lama meninggal. Anak satu-satunya jadi sopir ekspedisi barang. Jarang pulang. Dia belum menikah, jadi ya gitu... Pulang kalo kepingin saja. "


" Oh... "


Dan obrolanpun berlanjut hingga ke malam hari, sampai waktunya Pak Abdul berpamitan pulang. Ingin merapikan dan mempersiapkan tempat untuk selanjutnya ditempati Ryuzaki keesokan harinya.


Selama tiga minggu koma dan terbangun dalam keadaan amnesia, membuat Ryuzaki bak lumpuh sementara.


Pak Abdul dengan sabar membantunya untuk kembali bisa berjalan. Beliau juga telaten mengantar jemput Ryuzaki saat harus menjalani terapi untuk tubuh dan ingatannya.


Terkadang, ada sepotong ingatan yang menari-nari dalam kepalanya, tapi itu malah membuatnya sakit kepala seharian. Ryuzaki mencoba untuk menyikapinya lebih santai. Seperti tidak ingin terburu-buru menemukan siapa dirinya yang sesungguhnya.


Ryuzaki semakin merasa nyaman dengan kehangatan yang di berikan Pak Abdul. Bahkan tanpa perhitungan, Ryuzaki lah yang sering mengeluarkan uang untuk kebutuhan sehari-hari mereka.


Handphone nya hancur, tak bisa diperbaiki lagi. Chip pada kartunya rusak, tapi Ryuzaki merasa tenang tanpa.handphone nya. Beberapa kali, Pak Abdul menyarankan untuk membeli yang baru, tapi Ryuzaki tak berminat.


Menjalani hari-harinya dengan Pak Abdul, membuatnya seperti merasakan sebuah liburan. Dia merasa, entah kenapa, masa-masa amnesianya ini membuatnya memang ingin melupakan sesuatu.


Itulah kenapa dia tak sayang pada uangnya, mencukupi kebutuhan mereka berdua, Ryuzaki rutin menarik uangnya dari bank seminggu sekali. Dia memang tak ingat piin ATM nya, jadi Ryuzaki mau tak mau melakukan tarik tunai melalui cabang bank terdekat. Hal itu membuat Pak Abdul semakin merasa bersalah.


" Nak.... kondisi badanmu semakin hari semakin bagus. Apakah ingatanmu juga ada yang.... Mm, apa ada yang bisa kamu ingat ? "


Tanya Pak Abdul saat keduanya sedang menghabiskan waktu dengan memancing di pemancingan umum.


" Entahlah pak.... Saya nggak terlalu mikirin soal itu. "


Ryuzaki menjawab dengan malas.


Pertanyaan yang sama yang kesekian kalinya dalam minggu ini.


Aku bosan....


Nggak bisakah diam saja dan nggak nanyain hal yang sama berkali-kali begini ?


DEEGG !!


Pertanyaan Pak Abdul membuat Ryuzaki tersentak.


Istriku ?


Anakku ?


Apakah cewek itu ?


Yang tiba-tiba suka muncul berada di potongan ingatanku ?


Yang mana yang istriku ?


Ada dua cewek....


Kadang muncul bersamaan, kadang berbeda waktu....


" Aduuhh, kepalaku..... "


Keluh Ryuzaki sembari memegangi kepalanya yang terasa sakit. Seperti ada sebuah benda berat yang menimpa kepalanya.


" Masih suka terasa sakit ya, nak ? "


Tanya Pak Abdul dengan penuh perhatian.


" Iya.... kadang.... "


Sahut Ryuzaki lirih.


" Sebaiknya kita sudahi saja mancingnya. Kamu butuh istirahat... "

__ADS_1


Kata Pak Abdul, yang cemas dengan keadaan Ryuzaki.


" Nggak, pak. Nggak papa.... Lanjut aja. Kita kan baru sebentar disini.... "


" Yakin nggak apa-apa ? "


" Ya.....Bapak nggak usah kuatir. "


Ryuzaki mencoba membuat Pak Abdul untuk tak mencemaskannya.


Yah.... sejak dibilang koma selama tiga minggu, aku disini sudah tiga bulan lamanya.


Mungkin sudah waktunya aku kembali.


Darimana aku mulainya ya ?


Tiket ke Jepang ?


Lalu sampai disana, siapa yang kuhubungi ?


Handphone dan simcard ku hancur.


Tapi tiket itu juga pastinya sudah kadaluarsa...


Alamat di KTP bisa yang pertama kulacak duluan.


Terus, kalo udah sampai disana, apa yang harus aku lakukan ?


Perkenalkan diri dan bilang aku amnesia ?


Ah, paling nggak ngajak Pak Abdul aja ya...


Dia lebih bisa menjelaskan soal keadaanku, karena dia yang menemukan aku waktu kecelakaan itu kan....


Ryuzaki tersenyum kecil.


Pak Abdul yang sempat melihat senyum kecilnya, mulai merasa galau.


Ya, sudah tiga bulan dia tinggal denganku.


Hampir empat bulan dia nggak ada kabar kepada keluarganya.


Melihat surat-surat yang ada padanya waktu Rizky membawanya, dia pasti orang yang berniat melancong atau apalah...


Perkiraanku, dia emang mau melancong.


Makanya, mungkin itulah kenapa keluarganya nggak nyariin dia.


Mobilnya yang ringsek pun udah langsung diberesin sama Rizky hari itu juga.


Semoga, dia nggak ingat kecelakaan itu.


Kalo emang dia harus ingat nantinya, aku berharap dia mau memaafkan kesalahan anakku.


Sampai hari ini, Rizky belum berani pulang...


" Pak, kita makan siang yuk... "


Tiba-tiba Ryuzaki menepuk bahu Pak Abdul dengan pelan, tapi cukup keras untuk membuyarkan lamunan beliau. Pak Abdul menoleh dan berusaha mengatasi keterkejutannya dengan cepat-cepat tersenyum.


" Ah, kamu sudah lapar, nak ? "


Tanya Pak Abdul.


" Ya, saya sudah lapar.... Kita istirahat aja dulu di gubuk ujung pemancingan sini. "


" Oh iya, kita juga belum ngopi ya... Hahaha... "


" Hahaha.....Betul, sudah tengah hari belum ngopi, rasanya kurang hidup ya pak.... "

__ADS_1


" Betul... betul... "


Dan sembari mengobrol, kedua laki-laki berbeda generasi tersebut meninggalkan sementara alat pancingnya dan melangkah bersama ke tempat yang dimaksud Ryuzaki.


__ADS_2