AKU DAN CINTA SAUDARIKU

AKU DAN CINTA SAUDARIKU
BAB 8


__ADS_3

Kediaman Hari Wijaya.


" Mi ! Shitei sa reta hi ni tsuite wa tashikadesu ka ? Ima kara isshūkandesu ! "


( Mi ! Yakin dengan hari yang udah ditentuin ? Itu satu minggu dari sekarang lho ! )


" Kinō dōshite satta no ? Anata wa subete o kiku koto ga deki, hanasu koto mo dekimasu ... "


( Ngapain kamu kemarin kabur gitu aja ? Kan kamu bisa tau apa yang diobrolin dan ikut kasih usul juga ... )


" Ryū wa kankeinaiga, shōrai no giri no musume ga jissai ni darena no ka wa wakaranai. )


( Ryu sih nggak masalahdf, tapi mami kan belum tau kayak gimana calon mantu mami. )


" Watashi wa kare ga otoko no yōdearu koto o shitte imasu, anata ga kare o umaku tasukeru koto ga dekiru kagiri, soreha mondaide wa arimasen .... "


( Mami tau kok dia tomboy, asal kamu bisa ajarin dia dengan baik, nggak masalah kan ... )


" Sate, anata ga kare o ukeireru koto ga dekireba, Ryū mo kare o ukeireru koto o manabimasu .... "


( Okey, kalo mami bisa terima dia, Ryu juga akan belajar menerima dia juga ... )


" Mama no handan wa kesshite machigatte imasen. Kitto kanojo wa ī kodesu. Gaiken ga shinzō to chigau koto mo arimasu yo ne ? "


( Mami nggak pernah salah menilai orang. Mami yakin kok, dia gadis yang baik. Kadang penampilan luar itu berbeda dengan dalamnya, kan ? )


Iya sih, bisa jadi ....


Tapi 1 minggu lagi lho ???


Kemarin itu, baru mau ketemu buat makan malam, dia udah main kabur gitu aja !


Gimana kalo nikah ntar ?


Jangan aja, aku ditinggal bengong di pelaminan !!!


" Ryū, anata wa kūsōdesu ka ? Nanida to omoimasu ? "


( Ryu, kamu ngelamun ? Mikirin apaan sih ? )


" Ā, nani mo kangaete imasen. Tada, haya sugimasen ka ? "


( Ah, nggak mikirin apa-apa kok. Tapi, apa itu nggak kecepetan ? )


" Anata wa sudeni 25-saidesuga, kanojo mo kanari toshiuedesu. Kanojo no ryōshin wa anata no chichioya ga teian shita hidzuke ni mo dōi shimashita. "


( Kamu udah 25 tahun, dia juga udah cukup umur kok. Orangtuanya juga setuju dengan tanggal yang Papi mu usulin. )


" Sukunakutomo, saisho ni jūji suru koto ga dekimasu. Atarashī rainen wa kekkon suru kamo shiremasen. "


( Paling nggak, kita bisa tunangan dulu. Mungkin tahun depan baru deh kita nikah. )


" Fianse o daiichi ni shite, sugu ni kekkon suru koto no pointo wa nanidesu ka. )


( Ngapain tunangan dulu, udah langsung nikah aja. )

__ADS_1


" Ryū ga saisho ni chikadzuki, saisho ni shiriai, saisho ni otagai o shiru hitsuyō ga aru .... "


( Ryu kan perlu pdkt dulu, kenalan dulu, saling tau satu sama lain ... )


" Anata ga kekkon shita nochi, tsumi o osorezu ni, yori jiyūde, subete no koto o shite kudasai. "


( Lakuin itu semua, ntar setelah kalian nikah. Malah bisa bebas dan nggak takut kena dosa. )


Iisshhhh.... Mami ada-ada aja !


Dan percakapan pun berlanjut tentang persiapan pernikahan yang ternyata sudah terencana dengan sedemikian rupa oleh sang Mami.


Toko Kelontong Oom Ridwan.


" Re ! Jangan lupa, ya ! Entar jam 3 ada yang ambil belanjaan, Bu Eneng, total 285 ribu uangnya. Itu listnya di atas meja kasir, kamu siapin ya ! "


Pesan Oom Ridwan, pemilik toko kelontong tempat Aretha bekerja, menghabiskan waktu pagi sampai siangnya.


" Siap, bos que ! "


Sahut Aretha penuh semangat. Dan tak lama, Oom Ridwan segera menyalakan mobilnya meninggalkan Aretha.


Toko kelontong tersebut beroperasi 15 jam dalam sehari. Buka pukul 06.00, tutup pukul 21.00. Tetapi Aretha masuk kerja pukul 09.00 sampai pukul 16.00. Dan ia sudah bekerja di toko tersebut hampir 2 tahun. Oom Ridwan sangat percaya padanya.


Dengan sigap, Aretha menyiapkan pesanan belanja milik Bu Eneng, sesuai instruksi dari sang bos. Kali ini sang bos sedang pergi untuk belanja barang dagangan yang sudah hampir kosong.


" Rere ! "


Aretha menghentikan kegiatannya. Melihat ke arah pintu masuk toko.


" Pagi-pagi sudah sampai sini, kamu nggak kuliah ? "


Tanya Aretha kepada Sara, yang baru saja datang. Kemudian melanjutkan kembali kegiatannya yang terhenti tadi.


" Kamu sudah dikasih tau Bunda ? Tentang tanggal pernikahan kamu ! "


Kata Sara sambil mendekat, dimana Aretha sedang menyiapkan pesanan belanja pelanggan.


" Belum, lagi ngapain sih ngurusin kayak gitu ? Biarin aja lah orangtua yang pikirin. Lagian juga nggak dalam waktu dekat ini, kamu nggak usah kuatir. Aku akan cari cara buat batalin pernikahan ini. "


" Ihh, kamu gimana sih ? 3 hari lagi ! "


Aretha dengan cepat menoleh dan mendekat ke arah Sara.


" Secepat itu ??? "


" Iya, emang Bunda nggak kasih tau ? "


" Udah 1 minggu ini hape rusak, kecemplung di toilet pub. Nggak sempet bawa buat servis juga. "


" Pantesan aku telpon, aku chat, nggak aktif. Apa yang harus kita lakuin sekarang ? "


Aretha terduduk di bangku kasir. Kepalanya tertunduk. Kedua tangannya memijit keningnya.


Bullshit !!!

__ADS_1


Belum juga ketemu cara ngatasin cemburunya Sara, sekarang malah harus ngadepin pernikahan dadakan begini...


Nggak boleh banget ya, aku tenang dikit.


" Re, ayo pulang ! Kamu bilang ke Ayah Bunda, kamu nggak mau pernikahan ini .... "


" Nggak segampang itu, Ra ! Ayah kalo udah bilang A, ya akan tetap A ! "


" Terus .... Kamu tetep mau married ? "


" Tau ah ! Nggak bisa mikir aku ! "


Raut wajah Aretha tampak kesal. Nada suaranya penuh tekanan tinggi. Sara sadar, saat Aretha seperti itu, berarti sebuah tanda, ia harus menjauh. Karena Aretha butuh waktu untuk berfikir dan menenagkan diri.


" Re, aku pulang dulu. Nanti aku akan bantu kamu bicara sama Bunda ya .... "


Aku nggak rela, Re ....


Kamu bakal married dan kamu akan tinggalin aku.


Aku nggak peduli kayal gimana pandangan kamu ke aku, tapi cuma kamu yang bisa terima aku apa adanya tanpa protes.


Aku nggak mau kehilangan kamu, Re !


Sara pun melangkah pergi keluar toko.


Basecamp. Garasi Ella.0


" Coba, kamu bicara dulu sama bo-nyok kamu, Re ..... "


" Waktunya tinggal 3 hari lagi, La ... Udah nggak butuh bicara lagi. Aku butuh tempat baru buat ngumpet paling nggak 1 minggu lah. "


" Kamu selalu aja mikir apa-apa itu ujungnya kabur duluan. Coba dulu ! "


Aretha terdiam. Menyalakan rokok dan berfikir. Ella menggelengkan kepala.


" Akhir-akhir ini, rokok mu semakin kuat. Kurangin lah ..... Badan mu bukan robot. Semaleman begadang kerja di pub, pasti juga minum kan. Belum pagi langsung kerja di toko. Kamu berniat ngerusak badan mu sendiri ? "


Seperti tidak mendengar apa yang dibicarakan sahabatnya. Aretha masih tetap terdiam. Sesekali membuat lingkaran dari asap rokok yang dihembuskannya.


" Rere ! Kamu dengar nggak ? "


" Hem .... "


Tidak peduli betapa gondoknya Ella, Aretha masih saja tidak menanggapinya.


" Gimana dengan Sara ? "


Barulah Aretha menoleh. Ella tersenyum kecut.


Giliran nama Sara aja kedengeran, baru deh !


Bener-bener ajaib banget itu nama ....


Segitu dalemnya nama itu buat hidup dia, apa segitu tragisnya ???

__ADS_1


__ADS_2