AKU DAN CINTA SAUDARIKU

AKU DAN CINTA SAUDARIKU
BAB 21


__ADS_3

" Kono resutoran wa īdesu, anata wa itsumo koko de tabemasu ka ? "


( Restoran ini bagus, kamu biasa langganan makan disini ? )


" Koko de tabeta koto ga nai, kono resutoran wa Riko-san ni susume raremashita. "


( Belum pernah kesini, restoran ini rekomendasi dari Riko. )


" Naruhodo, arigatō.... "


( Oh begitu ya, terimakasih.... )


Tempat ini ku pesan seharusnya buat ngajak Rere makan malam.


" Dōitashimashite. "


( Sama-sama. )


Percakapan terhenti saat seorang pelayan datang mengantarkan pesanan mereka. Namun, begitu sang pelayan selesai menghidangkan makanan dan pergi, obrolanpun berlanjut sambil menikmati pesanan mereka. Sebenarnya lebih tepat seperti sesi tanya jawab. Ayako bertanya dan Ryuzaki menjawab.


Sementara Ryuzaki dan Ayako makan malam di sebuah restoran bintang 5, Aretha menghabiskan waktunya di tempat biasa dia nongkrong. Warung Bakso Pak Bejo.


" Kamu ini, malam minggu ngajakin aku nongkrong disini, lagi bokek ? "


Komentar Ella yang disambut dengan senyum sinis Aretha.


" Banget !!! "


Sahut Aretha dengan nada kesal.


" Kamu tau nggak ? Si sialan itu bikin aku nggak bisa kerja lagi. Dan lebih sialan lagi, bisa-bisanya dia bilang, aku lagi ikut program kehamilan. Hiiihhhh !!! Pingin aku cekik aja tu orang ! "


Aretha mulai menumpahkan isi hatinya. Ella geleng-geleng kepala. Diperhatikannya Aretha yang dengan kesal memotong-motong baksonya, sebagai pelampiasan amarahnya.


" Re, yang kamu maksud sialan itu adalah suami mu. "


" Bukan pilihan ku ini kok ! "


" Tapi tetep dia itu suami mu, sayang... "


" Aku nggak suka ! "


Ella tersenyum simpul.


Ya, Rere selalu seperti ini.


Jujur aja, orang yang melihat penampilannya akan berpikir dia itu cewek tomboy yang gagah, kuat dan nggak butuh siapapun dan apapun.


Selalu bisa menemukan solusi setiap masalahnya.


Terlalu mandiri.


Tapi, tetap aja dia itu seorang cewek yang butuh dimengerti dan di dengar.


Dia butuh curhat, dan sampai hari ini dia selalu mencariku buat urusan curhat nya.


Kupikir, Ryuzaki bisa mengambil hatinya dan membuatnya berubah.


Yahhh.... mungkin nggak segampang itu ngerubah Rere.


" Dia kan janji, kalo dia nggak akan ikut campur apapun urusan ku. Jadi.... mau ku, dia ya dia dan aku ya aku. Lagian kan ini juga pernikahan bukan karena cinta, bullshit lah sama yang namanya cinta ! "


" Re, pernikahan ini demi kebaikan kamu, bunda mu tau apa yang terjadi antara kamu dan Sara. Itulah kenapa kita-kita kasih tau tempat kamu ngumpet ke bundamu. Kita temen kamu ini, cuma pingin kamu hidup normal kayak cewek-cewek lain. "


" Jadi maksudmu aku nggak normal ??? "


" Eehh, bukan kayak gitu ! Maksud ku, kamu kan selama ini tertekan soal Sara, kamu nggak bebas karena ada nya Sara, kamu... "


" Aku lah yang bikin Sara kayak gitu ! Aku yang salah ! Aku egois !!! Jadi aku harus bertanggungjawab atas apa yang udah terjadi pada Sara. "


" A-apa maksud mu ?... Emang apa yang terjadi sebenarnya ? "


Ella menarik tangan Aretha dan membuat Aretha menoleh ke arahnya. Sekilas, tampak wajah manis Aretha yang menunjukkan rasa penyesalan.


Selama ini hanya tau Sara yang cinta mati sama Aretha, tapi kenapa seperti itu, nggak pernah tau....


" Ahhh ..... kayaknya semua yang terjadi padaku, itu karena karma yang harus ku dapat. "

__ADS_1


" Apa yang terjadi sebenernya, Re ? "


" Mmm.... "


Aretha tidak ingin menjawabnya. Malah memainkan sendok garpunya di dalam mangkok baksonya.


" Beberapa hari ini, aku nggak liat Sara.... "


Aretha berbicara setengah bergumam.


" Di kampus, aku sering dengar dia ada di perpus. Di kantin juga jarang ketemu. "


" Terakhir dia marah padaku saat aku nginep di rumah Bunda. Kami tidur di kamar Sara, tapi Ryu membawaku pindah saat aku udah lelap. Sempet bingung, waktu tidur ada di kamar Sara, bangun-bangun ada di kamarku. Ryu cerita, dia yang gendong aku pindah kamar. Jadi bikin Sara salah paham, dia bilang ke aku, aku udah nggak sayang lagi sama dia. Mau jelasin tapi yaa.... udah lah ! "


" Lagi kamu kan udah nikah, kenapa juga malah tidur sama Sara... "


Aretha kembali terdiam.


" La, temenin minum yuk ?! "


" Disini ? "


" Di tempat biasa lah.... Mang Bejo kan jual bakso, bukan jual minuman. "


" Okey ! Ku telpon Zoya sama Nasya ya... "


" Sip !! "


Dan setelah membayar bakso yang telah dihabiskannya, Aretha dan Ella pun pergi ke tempat biasa mereka berkumpul menghabiskan waktu malam minggunya.


Waktu menunjukkan pukul 03.30 WIB. Ryuzaki berkali-kali melihat layar handphone nya. Sambil melihat pemandangan di luar dari balkon apartemennya, menikmati kesekian gelas kopi hitam nya. Ya, menunggu Aretha pulang, dia sudah menghabiskan beberapa gelas kopi.


Malam minggu yang sebelumnya, aku nggak pernah peduli dia mau pulang jam berapa.


Ini bukan hal yang beda, setiap malam minggu dia selalu pulang pagi.


Tapi kenapa sekarang ini aku ngerasa peduli, dan anehnya aku nungguin dia pulang...


Sama siapa dia ?


Sara ?


Nggak, nggak... paling nggak jangan sama Sara !


Tiba-tiba terdengar suara pintu masuk yang dibuka. Ryuzaki memutar tubuhnya, dan melihat ke arah pintu masuk.


" Kenapa lampunya mati ? Emang si Ryu belum pulang apa ? "


Ternyata Aretha yang baru saja pulang. Ryuzaki masih diam tak bergerak di balkon, memperhatikan apa yang sedang dilakukan Aretha. Meraba-raba dinding mencari saklar lampu.


Dari cara berdirinya, dia mabuk lagi...


" Ahh... nyala deh ! "


Kata Aretha tersenyum lega.


" Baru pulang ? "


Saat lampu menyala, barulah Ryuzaki masuk ke dalam, meninggalkan balkon. Aretha melihatnya, dan menatapnya dengan tatapan yang aneh.


" Ngapain kamu di balkon ? Tumben belum tidur ? "


Tanyanya sambil menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Nafasnya terdengar naik turun tak beraturan. Ryuzaki duduk di sebelahnya.


" Mabuk lagi ? "


Aretha menggelengkan kepalanya perlahan menjawab pertanyaan Ryuzaki. Dan Ryuzaki bangun, berjalan menuju dapur. Mengambil susu murni dan menuangnya ke panci kecil. Menyalakan kompor dengan api kecil dan menghangatkan susunya.


" Sana tidur, sebentar lagi kan pagi, biasanya kamu punya jadwal lari pagi kan .... "


Kata Aretha sambil merebahkan kepalanya di sandaran sofa, dan memejamkan matanya.


Sibuk apaan sih di dapur...


Segala nyalain kompor jam segini.


" Ini, minum dulu... "

__ADS_1


Aretha membuka matanya. Ryuzaki sedang menyodorkan segelas susu kepadanya. Perlahan menarik tubuhnya untuk duduk dengan benar. Mengambil segelas susu dari tangan suaminya.


" Susu hangat bisa bikin badan mu lebih nyaman setelah minum banyak... Agak eneg, tapi bisa netralin alkohol dalam badan. "


Kata Ryuzaki, kembali duduk di samping Aretha. Aretha meminumnya sedikit demi sedikit. Rasa hangat menjalar dari tenggorokan ke dadanya. Merasa aneh sampai di perut, tapi memang tak berapa lama, terasa nyaman.


" Mau muntah ? Muntahin aja.... "


Kata Ryuzaki, sambil menyalakan televisi. Asal melihat acara yang berlangsung. Yang penting, tidak terasa sepi suasana saat ini.


" Makasih. "


Kata Aretha setelah berhasil menghabiskan segelas susu hangatnya. Kemudian meletakkan gelas yang telah kosong ke atas meja.


" Senin mulai masuk kuliah lagi, aku udah urus semua admin di kampusmu sebelumnya. Kali ini kelarin kuliahmu, kalo nggak persiapan buat hamil aja. "


Ryuzaki mengatakan semuanya dengan nada yang biasa tapi buat Aretha, mendengarnya bak petir di siang bolong. Kaget. Seketika rasa lemas karena mabuknya langsung hilang.


" Gila kamu ya ! Lama-lama kamu makin ngaco, tau ! "


" Itu bukan aku yang atur, ayah dan bunda mu yang nyuruh. "


" Trus kamu bilang iya iya aja ? "


" Lah emangnya aku harus jawab apa ? "


" Mana ada orang hamil gitu aja ? Dan nggak mungkin juga kita ngelakuin itu ??? "


" Kenapa nggak ??? "


Jawaban Ryuzaki membuat Aretha makin meradang.


" Nggak !!! "


" Aku tanya, kenapa nggak ??? "


Ryuzaki mengulangi pertanyaannya, kali ini sambil menatap Aretha dengan tajam. Aretha membuang muka. Ryuzaki menarik tangannya.


" Jawab aku, kenapa nggak ??? "


Aretha menoleh. Menarik kembali tangannya tapi suaminya lebih kuat, tidak melepaskan genggamannya.


" Lepasin ! Aku ngantuk ! "


Aretha kembali berusaha menarik tangannya kembali. Kali ini Ryuzaki menahan tangannya dan malah menggeser duduknya, mendekat.


" Apa yang kamu lakuin ? "


Aretha mengepalkan tangan satunya dan berniat memukul Ryuzaki. Tapi Ryuzaki menangkap tinjunya, dan malah menggenggamnya. Ryuzaki mendekatkan wajahnya ke wajah Aretha. Wajah Aretha yang memerah karena minum semakin merah.


" Sekuat apapun kamu, kamu itu cewek, nggak seharusnya ngerasa sok kuat dan nggak butuh siapapun. Jangan berlagak seolah-olah kamu itu bisa segalanya ! "


Kata Ryuzaki saat wajahnya begitu dekat dengan wajah Aretha. Kemudian, ia melepaskan genggaman tangannya dan menarik kembali tubuhnya untuk menjauh dari tubuh Aretha.


" Tidurlah .... aku temani kamu disini, tanggung aku mau tidur, sebentar lagi pagi, aku mau jogging. "


Ryuzaki bangun dari sofa, meletakkan bantal dan memberikan selimut kepada Aretha. Ia sendiri memilih rebahan di karpet sambil menonton televisi.


Sikapnya aneh....


Sesaat kupikir dia emang peduli padaku karena dia mau peduli...


Tapi tau-tau dia bisa jadi orang yang bikin kesel, kata-katanya tajem langsung nusuk ke hati.


Anehnya lagi...


Segampang itu bilang aku harus kuliah atau hamil aja ?


Dia pikir, asal suruh hamil langsung hamil ?


Ngelakuin itu kan harus suka sama suka...


" Kubilang, tidur ! Jangan ngeliatin aku sambil mikirin sesuatu yang nggak-nggak ! "


Eehhh, ini orang ya....


Bisa-bisanya ngebaca pikiranku !

__ADS_1


__ADS_2