AKU DAN CINTA SAUDARIKU

AKU DAN CINTA SAUDARIKU
BAB 50


__ADS_3

" Mami, Ryū wa koko de nani o subeki ka wakaranai. Ryū wa konran shite iru. Ryū wa machigatte iru no o osorete iru. "


( Mami, Ryu nggak tau harus gimana disini. Ryu bingung. Ryu takut salah. )


Kata Ryuzaki melalui telepon selulernya kepada sang ibu yang berada di Jepang.


Terdengar helaan nafas panjang dari sambungan telepon di seberang.


" Ryū, saisho kara shōjiki ni naranakatta no wa nazedesu ka? Mami tashikani, anata no tsuma wa anata no jōkyō o rikai suru koto ga dekimasu. Kare wa anata ga anata no kioku sōshitsu kara kaifuku suru no o tetsudau koto ga dekimasu. "


( Ryu, kenapa kamu tidak jujur saja dari awal ? Mami yakin, istrimu pasti bisa mengerti dengan keadaanmu ini. Dia bisa membantumu memulihkan amnesiamu. )


Sahut sang ibu, dengan nada suara yang terdengar sedih.


" Ryū wa aware ni naritakunaishi, aresa o fukumu darenimo eikyō sa rezu ni ryū no omoide o te ni Aretha. Kokode wa Aretha no hahaoya dake ga ryū no jitsujō o shitte imasu. "


( Ryu tidak mau dikasihani, Ryu ingin mendapatkan ingatan Ryu tanpa pengaruh dari siapa-siapa termasuk Aretha. Disini hanya bunda Aretha yang mengetahui keadaan Ryu yang sebenarnya. )


Timpal Ryuzaki menjelaskan, berharap pengertian dari sang ibu.


" Ryuu Ryuu… gomeiwaku o okake shimasu. Shikashi daijōbu... Sugu ni mama wa Jakaruta ni iku jikan o mitsukerudeshou.


Sore made no ma, motto ochitsuite keikai shite kudasai ne soshite wasurenaide kudasai, teikitekini chiryō o uke tsudzukete kudasai. "


( Ryu Ryu... kamu itu menyusahkan dirimu sendiri. Tapi baiklah... Secepatnya mami akan mencari waktu untuk berangkat ke Jakarta.


Sementara ini, cobalah untuk lebih banyak tenang dan waspada saja ya. Dan jangan lupa, tetap rutin berobat ya. )


Akhirnya Mami pun mengambil keputusan.


" Arigatō mami, ryū wa o hayame ni omachi kudasai. Ryū wa koko ni mami ga hitsuyōdesu, ryū wa mami ga daisukidesu... "


( Terimakasih ya Mami, Ryu tunggu secepatnya. Ryu butuh Mami disini, Ryu sayang Mami... )


Sahut Ryuzaki dengan lega.


Sedikit senyum mengembang di ujung bibir Ryuzaki saat sang ibu menutup teleponnya terlebih dahulu.


" Ngobrol di telepon dengan siapa ? "


Ryuzaki tersentak kaget mendengar sebuah teguran dari arah belakangnya. Dengan cepat ia memutar tubuhnya dan mendapati sosok Sara yang sedang menatapnya dengan penuh selidik.


" Tapi dari bahasa yang kamu pake, kamu telepon keluarga Jepang mu ? "


Sambung Sara menebak.


" Ya, aku telepon mami. Kenapa ? Salahkah ? "


Jawab Ryuzaki dengan tenang.


Sara berjalan menghampiri Ryuzaki, memperhatikannya dari atas ke bawah dan sebaliknya. Ryuzaki yang di tatap sedemikian rupa, mulai merasa risih.


" Aku perhatiin, kamu sekarang lebih... macho ? Hemm iya, lebih macho deh. Style mu juga berubah ya... Dulu selalu keliatan rapi dan stylish banget. Sekarang, mmm... aku bilang kamu lebih kasual, santai dengan baju apa saja. "


Sara memberikan penilaian tentang dirinya.


" Nggak sangka, kamu mengenalku dengan baik ya... "


Komentar Ryuzaki dengan tersenyum.


" Aku pikir, waktu Rere dijodohin sama kamu, dia akan ngotot menolak, karena Rere itu berjiwa bebas dan nggak gampang terikat dengan satu hubungan serius. Tapi kalo aku pikir-pikir lagi.... Dengan kepribadianmu lah, akhirnya Rere jatuh cinta padamu dan ngelupain aku. "


Perkataan Sara membuat Ryuzaki mengernyitkan keningnya.


Jadi.... dijodohin ?


Mami nggak ada ngebahas ini tadi di telepon, nggak nyinggung soal perjodohan pernikahanku ini.

__ADS_1


Ah, aku juga nggak kepikiran nanyain soal itu.


Tapi apa maksudnya Sara bilang, melupakan dia ?


" Nggak mungkin Rere lupain kamu, kamu sodaranya satu-satunya. Dan kuliat sampai hari ini, kalian sangat dekat, kemana-mana selalu bersama. Nada bicaramu, nada seseorang yang cemburu, Sara... "


Kata Ryuzaki mencoba memancing Sara berbicara lebih banyak lagi.


" Cemburu ?.... Iya !! Aku cemburu, Ryu !!! Aku nggak suka kamu datang lagi dirumah ini ! Aku nggak suka ngeliat kamu dan Rere sok romantis, aku nggak suka ngeliat kalian mesra, dan aku benci kebersamaan kalian !!! "


Tanpa diduga, setengah berteriak, Sara menanggapi perkataan Ryuzaki. Bahkan wajahnya terlihat sangat marah, mata indahnya membelalak menatap tajam ke arah Ryuzaki. Tangannya terkepal kencang, menahan amarah yang ingin meledak.


Ryuzaki memperhatikan perubahannya yang tak diperkirakannya sebelumnya. Ryuzaki merasa makin janggal dengan sikap yang ditunjukkan Sara kepadanya.


" Sara, apa maksudmu ? Kenapa .... "


" Ya, aku cemburu !!! Puas ??!! Huh .... "


Belum selesai Ryuzaki bicara, Sara sudah menimpalinya terlebih dahulu. Lagi-lagi, dengan nada yang setengah meninggi dan penuh amarah.


Tanpa menunggu tanggapan dari lawan bicaranya, Sara dengan cepat memutar tubuhnya, berlalu begitu saja.


Ryuzaki menatap langkah kaki Sara dengan penuh tanda tanya.


Bener-bener semakin misterius dan... menarik !


Dia cemburu ?


Apa ini cinta segitiga ?


Aku, Aretha dan Sara ?


Kalo ini benar cinta segitiga, apa Sara yang seharusnya menikah denganku ?


Apakah Sara yang sebenarnya pacaran denganku sebelum pernikahan ini terjadi ?


Dan sampai hari ini.... dia masih cinta padaku ?


Apa bener kayak gitu ?


Tapi kok aku ngerasa nggak yakin....


" Huuffhh.... "


Ryuzaki menghela nafas dan merebahkan tubuhnya di sofa panjang yang berada di sebelah kanannya.


Udah seminggu ini Ayah dan Bunda keluar kota.


Urusan bisnis...


Udah sebulan dari aku pulang kesini, tapi ingatanku yang hilang masih juga nggak ada tanda-tanda bakal muncul lagi.


Nggak pernah keluar rumah kecuali nganterin Aretha cek kandungan.


Janji dengan dokter buat urusan amnesia ku juga belum terealisasi sampai sekarang, karena bunda malah pas waktunya harus nemenin ayah keluar kota.


Jalan sendiri berobat..... Nggak ah !


Semoga aja, mami buruan kesini.


" Yang... "


Aretha muncul dengan membawa sepiring nasi goreng dengan telor ceplok di atasnya. Ryuzaki mengangkat kepalanya sesaat dan melihat Aretha menghampirinya, ia beringsut dari posisi tidurnya menjadi duduk.


" Heemmm.... wangi nya menggugah selera nih. "


Ujar Ryuzaki sembari mencium aroma nasi goreng yang disodorkan sang istri kepadanya.

__ADS_1


" Aku pingin makan nasgor, jadi aku bikin aja barusan... Yuk, makan berdua ! "


" Ini kan masih jam 10 pagi, sayang... Dan kamu, udah sarapan dengan sandwich sampai 3 x ditambah susu kedelai segelas, juga aku liat setelahnya kamu makan apel 1 buah.... Masih laper ?? "


Kata Ryuzaki sambil geleng-geleng kepala, takjub.


" Yaanng..... aku kan nggak sendirian, aku tuh makan sebanyak itu juga buat porsi berdua kok. "


Sahut Aretha dengan tampang cemberut.


" Ah iya ya.... Kamu sekarang kan berdua ya.... "


Kata Ryuzaki dengan tersenyum kecil, dan perlahan ia membelai perut Aretha yang sudah membuncit.


" Baby kecil, apa kamu selaper itu ? Liat nih, mamamu sampai makan banyak banget... "


Kata Ryuzaki sembari mengusap perut Aretha dengan lembut. Sejenak dikecupnya perut sang istri.


Entahlah dengan masa lalu ku yang aku masih bingung, tapi yang pasti, ada calon bayi ku di rahim Aretha.


Aku emang butuh tau tentang ingatanku yang hilang, tapi aku harus fokus dengan anak ku yang sebentar lagi akan lahir...


" Re, kamu mau... "


Sara yang baru saja datang menghampiri keduanya, menghentikan kalimatnya. Melihat Ryuzaki yang sedang mengecup perut buncit Aretha, seketika raut wajahnya tampak tak suka.


" Ya, Sara ? "


Kata Aretha ingin tahu maksud Sara yang berhenti tersebut.


Ryuzaki mengangkat kembali kepalanya, dan berpura-pura tak peduli akan kehadiran Sara, ia mulai menyuap nasi goreng yang ada ditangan Aretha.


" Aku cuma mau ajak kamu keluar nanti siang, kita makan diluar, di tempat biasa. Kamu mau ? "


Sara melanjutkan kalimatnya kali ini.


" Ah, beli bakso di Pak Rustam ? Mmm, sayang, kamu mau ikut ? "


Aretha menoleh ke arah Ryuzaki.


" Aku mau kita pergi berdua. "


Belum sampai Ryuzaki buka suara, Sara sudah menyerobotnya dengan tegas.


" Sara ... Ayolah ! "


" Kalo nggak bisa nggak apa-apa. "


Sara tetap dengan pendiriannya.


" Ryu suami ku, apa kamu masih mau berdebat soal ini ? "


" Re, aku tau. Nggak perlu kamu sebut soal itu berkali-kali. Tapi aku emang cuma mau berdua sama kamu. Kamu takut berduaan aja sama aku sekarang, setelah suami mu kembali ? "


" Nggak kayak gitu, maksudku... "


" Aku nggak akan celakai kamu, Re. Kamu sendiri tau, aku udah berobat, aku rutin ke terapi, dan aku yang selalu jagain kamu selama ini. "


" Sara, Sara... kamu salah paham. Bukan itu, nggak kayak gitu. Aku tau kamu lebih baik sekarang, cuma apa salahnya kalo kita pergi bertiga ? Ryu nggak pernah kemana-mana selama pulang... Kita bisa jalan-jalan bareng. "


Ryuzaki yang masih sibuk dengan nasi goreng yang kali ini sudah berpindah tangan dari tangan Aretha ke tangan nya, mulai tertarik dengan isi perdebatan kedua saudara tersebut.


Sara berobat ? terapi ?


Ke psikiater ?


Sakit... jiwa beneran ?

__ADS_1


Nah loh.... ini bikin penasaran...


__ADS_2