
" Apa kabar, Re ? "
Ryuzaki menyapa dengan hangat sembari melemparkan senyum kecil di sudut bibirnya.
" Baik, Rere sangat baik-baik saja, hehehe... "
Nasya segera menjawab, tepat saat Aretha hendak membuka mulutnya.
Bisa main semprot dia ngeliat Ryu bawa-bawa tu cewek Jepang sampai kesini...
Batin Nasya.
Aretha menutup mulutnya dan mengambil minuman di hadapannya. Seolah-olah melampiaskan rasa kesalnya, Aretha menyeruput minumannya dengan cepat.
" Pelan-pelan... Nanti bi... "
" Rere ! Akhirnya... "
Belum selesai Ryuzaki bicara, muncul Sara yang setengah berlari menghampiri mereka dengan nafas yang tersengal-sengal.
Mati aku !
Hari ini hari apa sih ?
Pagi-pagi udah apes banget begini ?
Bener-bener ganggu acara sarapan ku !
Batin Aretha kacau.
Waduh, gimana ini ?
Ngapa segala Sara juga nyampe kesini...
Kirain ni anak udah pulang tadi.
Apes dah si Rere pagi ini...
Kira-kira Rere gimana ya ngadepin mereka ini ?...
Batin Nasya sembari melirik ke arah Aretha.
" Re, kenapa bisa pada kesini barengan sih ? Kayak janjian aja ya... "
Bisik Nasya.
" Kamu tanya ke aku ? Lah aku nanya ke siapa ? "
Sahut Aretha ikut berbisik.
" Ihh... "
Nasya setengah kesal mendengar ucapan Aretha.
" Kamu ? Kok bisa ada disini ? Kalian janjian, Re ? Aku pi... "
" Duduk, Sara. Kamu udah sarapan belum ? "
Aretha memotong kalimat Sara, dan menepuk sisi bangku yang kosong di antara dirinya dan Ryuzaki.
Belum sampai Sara mengikuti apa yang diucapkan Aretha, sudah diserobot dahulu oleh gadis yang terus berada di sisi Ryuzaki.
" Eh, masako, aku kasih bangku buat sodaraku, bukan buat situ ! Main duduk aja ! "
Aretha tampak kesal melihat ulah gadis tersebut.
" Masako ? "
Ucap Nasya penuh tanda tanya.
" Bukannya itu nama bumbu penyedap masakan ya ? "
Lagi, Nasya penuh tanda tanya.
" Namanya Ayako, Re... "
Belum sempat Aretha menjawab, Ryuzaki sudah mendahuluinya.
" Ya ya ya... terserah deh ya. Masako, Ayako, atau apa pun itu nama dia, aku nggak suka ngeliat dia main duduk gitu aja. Ajarin tuh cewek Jepangmu biar sopan di negri orang ! "
Kata Aretha dengan ketus.
" Re, hari ini bisa pulang ke rumah ? Ayah dan Bunda pingin kamu pulang. "
Sara yang kini duduk di sebelah Nasya, mencoba mengalihkan perhatian Aretha dari rasa kesalnya.
" Ada apa ? Ada yang sakit kah ? "
Dan Sara berhasil. Lupa akan kesalnya, Aretha sekarang tampak cemas.
" Nggak, nggak ada yang sakit kok. "
__ADS_1
Sahut Sara sambil tersenyum, kecut.
Aku yang sakit...
Aku yang sakit, Re...
Kamu tau ?
Aku kecewa berat sama kamu sampai bikin hatiku sakit banget...
Batin Sara sedih.
" Ah, iya. Aku pulang nanti. Setelah jam kuliahku selesai. "
Arethapun memutuskan.
" Ya udah, itu aja. Aku... Ah, aku pamit ya. Jangan lupa, ya. Pulang. "
Kemudian Sarapun kembali beranjak bangun dari tempat duduknya.
" Langsung pulang ? "
Tanya Aretha.
" Nggak, aku ada janji sama Ditto. "
Jawab Sara cepat dan tanpa menunggu lama, iapun berlalu pergi.
Aretha dan Nasya saling pandang dan menatap kepergian Sara dengan penasaran. Ryuzaki menatap keduanya dengan bingung.
" Ryu, ayo kita jalan-jalan saja. "
Suara Ayako memecah keheningan. Dan lagi-lagi, Aretha kembali kesal.
" Ya, jalan-jalan pagi bagus buat kalian berduan. Gih sono, jangan ganggu sarapan ku. Keburu dingin deh sotoku. "
Salah...
Bukan itu yang pingin kukatakan.
Apa kabarmu, Ryu ?
Semua sehat kan di Jepang ?
Mami Papi, apa ikut kesini juga ?
Kapan sampai sini ?
Kamu tau ?
Aku kangen...
Batin Aretha, yang berlawanan dengan apa yang keluar dari mulutnya.
" Aku pingin ke apartemen. Ada beberapa barang yang pingin a... "
" Nih ! "
Belum selesai Ryuzaki bicara, Aretha menyodorkan sebuah kunci yang diambilnya dari tas ranselnya.
Ryuzaki menatapnya sejenak. Sempat sepersekian detik, tatapan mata mereka beradu. Namun, Aretha segera mengalihkan pandangannya ke arah makanannya.
" Apartemen itu sudah kamu tinggali bukan ? Nggak sopan rasanya kalo aku masuk tanpa kamu ada disana. "
Kata Ryuzaki.
" Apartemen itu milikmu. Aku cuma numpang aja. Daripada aku harus cari tempat baru. Tapi karena kamu sudah pulang, ya ntar aku pindah. Kasih aku waktu satu atau dua hari buat cari tempat baru. "
Sahut Aretha datar.
" Kayaknya pagi ini kamu lagi nggak bagus moodnya. Lain kali aja, kita ketemu lagi ya... "
Balas Ryuzaki dengan santai.
" Kamu yang bikin mood ku nggak enak. "
Gerutu Aretha setengah bergumam.
" Re... Jangan kayak gitu. "
Bisik Nasya.
" Apa ? "
Tanya Ryuzaki yang penasaran melihat Aretha dan Nasya kasak kusuk tak jelas.
" Nggaaakk... "
Sahut Aretha dan Nasya bersamaan.
Ryuzaki tersenyum seraya beranjak dari duduknya. Dan secara spontan, ia membelai lembut kepala Aretha.
__ADS_1
Aretha merasa aliran darahnya tiba-tiba makin cepat, detak jantungnya berdegup kencang. Ia mengangkat wajahnya melihat ke arah Ryuzaki.
" Masih sama... "
Ucap Ryuzaki sambil berlalu pergi.
" Aku nggak akan biarin kamu dapetin Ryu... "
Kata Ayako dengan suara yang pelan sebelum mengikuti langkah Ryuzaki.
" Dih, cewek gila ! "
Oceh Nasya kesal.
" Soto ku dingin, jeruk hangatku dingin... Apa masih enak ya kumakan ? "
Kata Aretha yang kini menatap ke arah meja dengan lesu.
" Pesen lagi aja, tapi kamu yang bayar. "
Sahut Nasya.
" Nggak ah... Nggak pingin makan sekarang. "
" Keburu kesel ya ? "
" Heemmm... "
" Si Ayako itu, dia udah bisa bahasa Indonesia ya. Kedengeran fasih lagi. "
" Paling juga diajarin Ryu... "
" Tadi kamu nggak nanya ke Ryu, kapan sampai di Indonesia... "
" Pingin, tapi males... "
" Nggak penasaran juga soal orangtuanya ikut kesini apa nggak ? "
" Penasaran siiihh... "
" Aturan tadi ngobrol dong... Apa dia mau tinggal disini seterusnya atau sementara, sekarang dia tinggal dimana, atau kamu tanyain, itu masako tinggal sama dia apa nggak, kamu juga ha... "
" Sebenarnya, kamu itu yang penasaran atau aku yang harusnya penasaran sih ? "
" Aahh iyaa... Lupa. Tapi jujur sih, aku juga pingin tau, hehehe... "
" Kepo... "
" Abisnyaaa... Aku geregetan liat kamu tadi. Aku tau kamu, Re. Kamu itu kesal karena si masako itu kan ? Tapi harusnya kamu tunjukin ke dia, kamulah ratunya, kamulah tuan rumahnya, kamulah istri sah Tuan Ryuzaki Tora Wijaya. Eeehh, kamu malah kesel sendirian nggak jelas ! "
" Aku paling nggak bisa cari muka. "
" Bukan cari muka, tapi tunjukin siapa kamu, gitu. Emangnya dengan kamu galak ke Ryu, Ryu bakal paham kalo kamu lagi cemburu ? Apa kamu pikir, Ryu punya ilmu telepati, hah ? "
" Cemburu ?!... Idih, siapa yang cemburu, hah ?! Biarpun aku nggak lebih cantik dari si masako, aku nggak ada pikiran sempit kayak gitu. Cemburu ?! Huh !! "
Aretha melipat kedua tangannya, membusungkan dadanya dan memasang wajah masamnya. Nasya tersenyum melihatnya.
" Ya ya ya, mulut boleh bilang nggak, tapi matamu itu, wajah keselmu itu dan gerak tubuhmu itu keliatan banget, Re... KA-MU CEM-BU-RU !!! Heheheh... "
Aretha memalingkan wajahnya, menatap Nasya yang sedang menertawainya.
" Sok tau ! "
Ucap Aretha makin kesal.
" Hei, aku bukannya sok tau ! Tapi aku emang tau, sayangku... "
Sahut Nasya membela diri.
" Udah ah, aku mau ke kelas. "
Aretha beranjak dari duduknya dan berniat pergi.
" Ini... gimana ? "
Nasya mencekal tangan Aretha dengan cepat sambil menunjuk ke arah makanan dan minuman yang ada di atas meja.
" Abisin aja sama kamu. Aku nggak napsu. Udah dingin. "
Sahut Aretha.
Dan tanpa menunggu jawaban Nasya, ia pun melanjutkan langkahnya, keluar dari kantin.
" Ihh, aku ngirit-ngirit ngatur duit. Makanan udah dibayar nggak jadi dimakan, bener-bener pemborosan. Tungguin aja, aku bakalan tiap hari makan di rumah si Rere ntar ! "
Gerutu Nasya dengan wajah cemberutnya.
Akhirnya, rela tak rela, Nasyapun berlari kecil mengejar Aretha yang mulai menjauh.
" Re, tungguuu !! "
__ADS_1
Kejar Nasya.