
Mereka emang terlihat intim sih...
Tapi kan mereka bersaudara ya, mmm...
Oh iya, saudara angkat.
Semua tau Sara kayak apa.
Tapi kenapa masih bisa percaya begitu saja, ninggalin Sara berdua dengan Aretha ?
Ryuzaki tak berkedip saat melihat Aretha dan Sara yang sedang bercanda di bangku taman belakang. Sesekali gelak tawa keduanya terdengar.
Apa yang mereka obrolin ya ?
Seru banget keliatannya...
Ryuzaki terus memperhatikan keduanya dengan kening yang berkerut. Penuh tanda tanya. Tapi tak ingin sekali pun mendekat. Hanya melihat dari kejauhan, duduk di ruang makan, yang memang bisa melihat ke arah taman belakang.
Hah, apaan itu ?
Sara terang-terangan mesra banget ke Aretha ?!
Itu cewek, parah juga...
Ini siang hari !
Semua yang ada dirumah ini bisa ngeliat !!
Ryuzaki tersentak dan melotot kesal saat melihat Sara dengan lembut mencium kening Aretha, lalu membelai rambut Aretha dengan santai.
Ini nggak bisa dibiarin....
Aretha kan istriku !
Bisa-bisanya dia semesra itu kepada istriku !!
Aku harus menghentikan nya !
Ryuzaki langsung bangun dari duduknya dan bersiap untuk melangkah ke depan, menghampiri Aretha dan Sara. Tapi, baru beberapa langkah ke depan, Ryuzaki berubah pikiran.
Nggak, nggak.... jangan dulu !
Tahan emosimu, Ryu...
Kata Doni dan Indra, Sara itu berbahaya...
Jangan bikin dia merasa dapat masalah yang menyudutkan, bisa panjang urusan.
Okey, aku harus sabar.
Ryuzaki memilih kembali ke tempat duduknya. Kemudian menyendok nasi dan lauk pauk, masih dengan sesekali mengawasi sang istri dan saudara angkat istrinya tersebut.
" Lho, Mas Ryu baru mau makan siang ? "
Mendadak Bi Siti sudah berada di sampingnya dan membuatnya hampir tersedak karena terkejut.
" Ah, Bi Siti. Bikin kaget saja. "
" Mas sih melamun... Lihat, ayam gorengnya aja naruhnya di luar piring gitu... "
Tegur Bi Siti sembari tersenyum geli.
Ryuzaki yang mendengar apa ucapan Bi Siti segera melihat ke arah piringnya. Benar saja, ada sepotong ayam goreng yang tergeletak di sisi luar piringnya.
" Hehehe.... Iya ya, salah naruh, hehehe. "
Jawab Ryuzaki dengan malu.
" Lihat apa tho, Mas ? "
Tanya Bi Siti dengan logat Jawa yang kental, sambil mengikuti arah pandangan Ryuzaki sebelumnya.
" Oh, Mbak Rere dan Mbak Sara tho.... "
__ADS_1
Bi Siti menjawab sendiri pertanyaannya.
" Mereka itu deket banget dari Mbak Sara jadi bagian keluarga ini. Bapak dan Ibu juga nggak beda-bedain sayangnya. Mbak Rere seneng banget, jadi punya sodara... "
Kata Bi Siti menjelaskan.
" Ya, saya juga dikasih tau soal itu. "
Sambung Ryuzaki sembari menyuap nasinya.
" Semoga saja Mbak Sara bisa beneran normal ya. Jadi Mbak Rere nggak lagi tertekan. Kasian Mbak Rere... Tapi Mbak Sara juga kasian. "
" Ih, Bi Siti ini... Sebenarnya yang kasian siapa sih ? "
" Hehehe... Kayaknya dua-duanya kasian deh ya. "
" Bisa saja, Bi.... Tapi saya juga kasian ini. "
" Lho koq bisa ? "
" Saya makan sendirian... "
Sahut Ryuzaki dengan tampang memelas.
" Oalah, Mas Ryu lucu juga... hehehe.... Lanjut deh, makannya. Saya mau rapihin ruang baca Bapak. "
" Iya Bi, silahkan... "
Dan Bi Sitipun berlalu meninggalkan Ryuzaki yang kembali melanjutkan makan siangnya.
BEBERAPA HARI KEMUDIAN
" Ada yang tertinggal nggak ? "
Tanya Ryuzaki sesaat sebelum membantu Aretha masuk ke dalam mobil.
" Nggak ada.... Semuanya lengkap ada di dalam tas ku, vitamin, hape, dan dompet... Ada nih. "
Sahut Aretha sembari mengecek kedalam tas kecil yang tergantung di pundaknya.
Dan Ryuzaki pun mulai menyalakan mobil, bersiap melaju meninggalkan klinik, dimana Aretha memeriksakan kandungannya secara rutin.
" Sebentar lagi.... Aku akan jadi ibu... "
Kata Aretha dengan raut wajah yang gembira dan mata berbinar-binar.
" Kalo kamu jadi ibu, aku jadi seorang ayah bukan ?... I love you, ibu anak ku... "
Kata Ryuzaki dengan senyum yang mengembang, dan dengan satu tangannya mengusap lembut perut Aretha.
" I love you, too... Aku nggak sabar, kayak siapa anak kita ini... "
Ryuzaki yang mulai fokus ke depan saat mobil melaju, melirik sekilas ke arah Aretha.
Dengan tatapan yang hangat, Aretha terus memandangi dan membelai perutnya yang membuncit tersebut.
Sedikit lagi, inshaallah bulan depan...
Kamu akan melihat dunia ini.
Kamu akan melihat mama dan papa.
Sedikit lagi....
Semoga sampai waktunya tiba, kamu dan mama terus sehat dan kuat ya sayang...
" Asal jangan mirip Sara, mirip kamu atau aku juga pasti bagus. "
Mendengar apa yang diucapkan Ryuzaki, Aretha langsung mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah suaminya. Menatap suaminya dengan tajam.
" Apa maksudmu, Ryu ? "
" Aku berdoa, dia jangan mirip Sara. Salahkah ? "
__ADS_1
Jawab Ryuzaki tanpa mengalihkan pandangannya dari arah depan, fokus dengan mengemudinya.
" Sara sodaraku, apapun kekurangan dia saat ini, dia sedang berusaha memperbaikinya. Jangan bicara yang nggak-nggak soal dia di depanku ! "
Jawab Aretha yang langsung kesal.
" Hei, aku kan cuma ber... "
" Aku nggak mau kamu berpikir sejahat itu pada Sara ! "
" Aku nggak... "
" Mulutmu bener-bener tajam, aku nggak sangka ! Sara punya banyak kelebihan juga, dan dia akan membantuku merawat anak kita. Dia itu nggak jahat, dia cuma salah jalan ! "
Aretha terus memotong ucapan Ryuzaki. Dan itu membuat Ryuzaki makin merasa kesal. Pandangannya mulai terbagi dua, antara melihat jalan di depan dan menatap Aretha di sisinya.
" Aretha, aku ini suamimu ! Aku selalu perhatiin kalian berdua ! Dan yang aku lihat, Sara itu nggak melihat kamu sebagai sodara ! Dia masih melihatmu sebagai kekasihnya ! Itu salah, sayang ! "
Kali ini Ryuzaki mulai membentak istrinya.
" Jangan panggil aku sayang ! Aku benci kamu ! Sara sedang berobat ! Dia... "
" Aku nggak buta, Aretha ! "
Potong Ryuzaki cepat dengan nada setengah tinggi.
" Kenapa semua orang nggak bisa ngeliat Sara berusaha berubah ?! Kamu juga ! Apa sih yang di otak kalian, cuma bisa nge bully tapi nggak kasih kesempatan buat dia ?! "
" Dia berubah cuma di depanmu ! Aku nggak ngeliat dia berubah sedikitpun. Aku liat sendiri dengan mataku, dia cium keningmu, membelaimu mesra, dia perlakukan kamu lebih dari sodara, lebih kayak pacar ! "
" Diam, Ryu !!! Aku nggak mau dengar ! "
" Jangan ikutan gila, sadarlah ! "
" Kamu yang gila ! Kamu yang harusnya sadar !! "
" Aretha ! Sara nggak sebaik yang kamu pikirkan ! "
" Diam ! Diam ! Diaamm !!! "
" Dasar bodoh ! Dikasih tau malah marah ! "
" Hentikan mobil, aku mau turun ! "
" Nggak, kamu pergi denganku, pulang juga bersamaku. Aku masih waras, nggak bakalan biarin kamu yang lagi hamil tua jalan sendirian ! "
" Aku bisa pesan taksi ! "
" Lalu aku harus bilang apa kalo kamu bisa pesan taksi ?! "
" Ryuzaki Tora ! Aku mau turun !! "
Dan tanpa pikir panjang, Aretha merebut kemudi dari Ryuzaki. Ia berusaha memutar kemudi ke arah samping, agar mobil bisa berhenti di sisi jalan.
Ryuzaki tak tinggal diam, dengan sigap tetap mempertahankan arah kemudinya untuk lurus ke depan. Bagaikan kucing yang sedang berebut tulang, mereka saling berebut kemudi, memutar kesana memutar kesini.
" Aretha ! Lepas ! Bahaya !! "
Teriak Ryuzaki kesal dan mencoba mendorong tubuh Aretha ke samping.
" Nggak !!! Aku mau... AAAAAA !!!!
Begitu Aretha menjerit, Ryuzaki melihat ke arah depan.
Mobil melaju cepat tak terkendali lagi, menabrak ruas jalan raya dengan sangat kencang.
BBRRAAAKKKKKKKK !!!!!!
DIIINNN !!! DIIINNN !!! DIIINNN !!!!
Terdengar suara klakson mobil tanpa henti, membuat beberapa pengendara mobil dan motor yang melintas, berhenti.
" Ambulance ! Panggil Ambulance !! Panggil Polisi !! "
__ADS_1
Jerit seseorang yang pertama tiba di dekat pintu mobil Ryuzaki dan mendapati keduanya penuh berlumuran darah. Dalam keadaan diam tak bergerak.
Seketika banyak orang yang mengerumuni mobil hitam Honda Fiesta tersebut. Dengan bantuan polisi dan warga sekitar, mencoba mengeluarkan tubuh Ryuzaki dan Aretha dari dalam mobil. Dan kemudian mengirim mereka ke rumah sakit, saat mobil ambulance datang.