AKU DAN CINTA SAUDARIKU

AKU DAN CINTA SAUDARIKU
BAB 56


__ADS_3

" Kamu beli semua ini ?! "


Nasya menatap Aretha dengan pandangan tak percaya.


" Iya, ada yang salah ? Aku kan cewek... "


Sahut Aretha sembari bersiul kecil.


Nasya melihat satu persatu isi tas belanja milik Aretha yang baru saja diletakkannya di atas meja. Aretha dengan santainya menikmati es kopi yang dipesannya.


" Ssssttt... Re, kamu sakit ? "


Kata Nasya setengah berbisik.


Aretha melirik ke arah Nasya dengan pandangan heran. Diletakkannya gelas es kopinya. Kemudian dengan perlahan, ia mendekatkan bibirnya ke telinga Nasya.


" Aku... Sehaaaattttt !!!! "


" Heiii, bisa budeg kupingku ! "


Kesal Nasya setelah diteriaki sedemikian kencangnya oleh sahabatnya itu.


" Lagian... Bisa-bisanya kamu anggap aku sakit, cuma gara-gara aku beli baju-baju cewek. "


Sahut Aretha yang juga merasa kesal.


" Bukan begitu... Ryu baru tiga hari ini pulang ke Jepang, dan tiba-tiba kamu belanja baju-baju cewek banget begini. Itu bikin aku ngerasa aneh. Kamu ini kan manly banget, dan nggak pernah sekalipun aku liat kamu pake baju feminim. Bahkan waktu kamu hamil, mana pernah kamu pake baju hamil atau daster-daster gitu.... Selalu aja pake kolor, training, kaos oblong lebar. "


" Lalu apa hubungannya apa yang aku beli sekarang dengan perginya Ryu ke Jepang ? "


" Ya kali, kamu jadi sedih lalu depresi dan berubah ngelakuin yang nggak-nggak... Aku pikir, kamu sakit rindu kali... "


" Ciihh ! Mana ada aku sakit rindu ? Aku ini yang ngajuin cerai duluan, tau ! "


" Aku tau, tapi kan Ryu nggak mau tanda tangan. Itu artinya dia masih mau jadi suami kamu. Dan kamu juga kok tenang-tenang aja soal itu, padahal kamu ngotot minta cerai... Aku yakin, kamu juga berharap Ryu nggak mau tandatangan kan ? .... Jangan bohong, Re... "


" Berisik ! Sudah, makan aja itu kentang gorengmu... "


Kata Aretha yang merasa kesal dengan semua perkataan Nasya.


Apa keliatan sejelas itu ?


Ya, aku memang bersyukur melihat dokumen itu tanpa tanda tangan Ryu.


Aku memang berharap, Ryu nggak mau bercerai.


Tapi kalo Nasya bisa melihatku sejelas itu, apa Sara juga ?


Gawat !


Bisa kacau nanti rencanaku.


Batin Aretha mulai cemas.


" Mana Sara ? Biasanya dia kayak perangko, nempel mulu sama kamu. "


Nasya mengalihkan pembicaraan.


" Dia lagi ke dokter, biasa.... "


Sahut Aretha masih tampak kesal.


" Oh, lalu kamu tinggalin belanja kesini ? "


" Yups ! Aku udah chat dia, aku minta dia kesini setelah selesai. "


" Apa rencana mu dengan baju-baju ini ? "


" Memakainya... "


" Haaa ?! "


" Jangan lebar-lebar kalo mangap. Ntar lalat masuk ke mulutmu... "


" Serius kamu mau pakai ? "


" Kenapa nggak ? "


" Mau cerita padaku ? "


" Tentang apa ? "

__ADS_1


" Apa isi otakmu itu ? "


Kata Nasya sembari meletakkan ujung telunjuknya tepat di kening Aretha.


Aretha mengibaskan tangan Nasya dan mendekatkan wajahnya ke arah Nasya.


" Aku cuma mau, aku jadi seseorang yang lain yang berbeda. "


Sahut Aretha pelan.


" Oh... Okey, aku paham. Tapi apa alasanmu berubah ? Demi Ryu ? "


" Demi Ryu ? Nggaklah ! Ryu kan di Jepang... Ngapain juga aku berubah demi seseorang yang jauh banget di sana. "


Sahut Aretha sambil tertawa kecil.


Kemudian dengan santai, ia menyandarkan punggungnya ke belakang. Memperhatikan sekitarnya dan kembali bersiul kecil. Tak lupa, mengangkat satu kakinya untuk diletakkan ke atas satu kaki yang lain.


" Lihat gayamu ini... Pingin jadi cewek feminim, tapi sikapmu masih manly begitu. "


" Oh iya, lupa... "


Kata Aretha sembari memperbaiki cara duduknya.


" Lanjut, apa alasanmu kalo bukan buat suamimu ? "


Tanya Nasya sembari menahan tawanya.


" Sara.... "


" Sara ? Kamu pingin jadi feminim karena Sara ? Nggak ngerti aku... "


Nasya tampak terkejut.


" Sara menyukaiku, karena menganggap ku sebagai pelindungnya. Nah, aku mau tau, kalo aku sama kayak dia, lembut, feminim, apa dia masih menyukaiku sedalam itu ? "


Kata Aretha.


Nasya mengernyitkan keningnya. Menatap lekat-lekat sahabatnya. Seperti memikirkan sesuatu, Nasya tampak serius.


" Apakah rencanaku ini bisa dianggap rencana brilian ? Hehehe.... "


Sahut Nasya dengan tenang.


Kali ini, giliran Aretha yang tampak serius. Ia memikirkan apa yang dikatakan Nasya. Kemudian dengan menggerutu tak jelas, ia terlihat kesal.


" Apa ? "


Tanya Nasya penasaran.


" Makanya aku memilihmu buat ngobrolin ini, karena dari kalian bertiga, kamu yang paling bisa mikir lebih detil. Tapiii.... aku tetep penasaran. Aku pingin coba dulu. "


" Atur sajalah... Kamu yang punya rencana, kamu juga yang ngejalaninya sendiri. Aku bisa bilang apa ? "


" Tapi tetep support aku ya... "


" Pasti, Rere sayang... "


" Thanks. "


Ucap Aretha senang.


Untuk sesaat, keduanya termenung dalam diam dan hanya menikmati makanan dan minuman yang telah dipesan mereka.


" Re... "


" Heemmm... "


" Soal Ryu, apa nggak bisa kalian berbaikan ? Ryu menelponku semalam. Dia bilang, dia sangat mencintaimu, dia nggak mau cerai. Makanya dia nggak tandatangan di berkas perceraian yang kamu kasihin. Dia pingin kamu berpikir ulang... "


Nasya bercerita dengan hati-hati.


" Sudahlah... Jangan bikin mood ku berantakan. Aku nggak pingin bahas soal itu lagi. "


Aretha menanggapi cerita Nasya dengan suara yang malas.


" Tapi Re... Kamu kan juga cinta dia... Kenapa harus menyiksa diri sendiri sih ? Kamu masih benci karena kamu kehilangan a... Maaf... "


Nasya menggantungkan kalimatnya, merasa kuatir akan membuat Aretha kembali sedih.


" Aku tau, dia juga pasti sedih karena kehilangan anak kami. Tapi buat saat ini, kalo aku dan Ryu bersama itu nggak akan mengubah keadaan menjadi lebih baik. Aku terus memikirkannya selama aku dirawat di rumah sakit. Aku sadar, kejadian itu nggak akan segampang itu dilupakan. Baik aku dan Ryu, itu akan terus jadi kenangan yang menyakitkan. Aku terus berpikir, Nas... Berpikir, berpikir, dan berpikir. Dan inilah yang terjadi. Aku memutuskan bercerai itu juga buat kebaikan Ryu juga, Nas... "

__ADS_1


Dengan menguatkan hati, Aretha menjelaskannya kepada Nasya.


" Bukankan tetap bersama menghadapi semuanya, itu pilihan yang baik buat kalian berdua. Saling menguatkan, saling menjaga, dan memulai lagi dari awal... Kalian pasti bisa melakukannya... "


Sambut Nasya mencoba mengubah pendirian Aretha.


Iya, aku juga tau...


Aku dan Ryu pasti bisa ngelakuin apa yang kamu bilang, Nas...


Masalahnya adalah Sara.


Aku dan Ryu nggak akan segampang itu bahagia, kalo Sara masih terus menempel padaku...


Kalo aku cerita ke Nasya, pasti dia cerita lagi ke Ryu...


Ryu yang berharap buat terus bersamaku bakalan langsung balik kesini dan itu bakal bikin kacau semua yang udah aku rencanain.


Selama ada Ryu, biarpun aku bisa pura-pura nggak peduli padanya, Sara akan terus mengawasiku dan menjaga jarakku dengan Ryu...


Itu bikin aku jadi makin sulit lepas dari Sara.


" Re... Rere... "


" Hai, Sara... "


Aretha tersadar dari lamunannya. Dan di hadapannya kini Sara sudah duduk bersebelahan dengan Nasya.


" Kamu melamun ? "


" Kamu baru sampai ? "


Kompak, Sara dan Aretha saling bertanya.


" Iya, Rere lagi ngelamun, Sara baru sampai... "


Dan Nasyalah yang menjawab untuk keduanya.


Dan bersamaan, ketiganya pun saling tersenyum, merasa lucu.


" Kamu belanja ? "


Tanya Sara saat matanya menemukan beberapa tas belanja di pojok meja.


Dan dengan penasaran, Sarapun melihat satu persatu isi tas belanja milik Aretha. Tak lama, tampak wajahnya yang terlihat senang.


" Ini buat aku, Re ? "


Tanya Sara kegirangan.


" Bukan, buat aku kok... "


Sahut Aretha dengan nada getir. Sedikit merasa bersalah.


" Oh... "


Ucap Sara singkat dan raut wajahnya langsung berubah.


" Model bajunya... Tumben... "


Sambung Sara sembari mengalihkan pandangan dari tas-tas itu ke arah Aretha.


" Iya, pingin ganti suasana baru... Melihat isi lemari yang itu-itu aja, bikin aku bete. Pingin coba sesuatu yang baru, kayak kamu bilang kemarin, membuka lembaran baru. Betul kan ? "


Sahut Aretha berusaha sedikit bercanda.


" Iya... "


Jawab Sara lirih.


Nasya merasa suasana menjadi canggung. Antara Aretha dan Sara seperti ada yang janggal karena beberapa pakaian yang dibeli Aretha.


Kayaknya rencana Rere bisa jadi berhasil...


Melihat reaksi Sara yang langsung keliatan nggak suka sama apa yang dibeli Rere, bisa jadi apa yang dipikirin Rere benar.


Baguslah kalo memang bisa berhasil, aku bakal dukung sepenuhnya...


Ryu harus tau soal ini.


Batin Nasya.

__ADS_1


__ADS_2