
Ditto mengetukkan jari jemarinya secara bergantian sambil menatap Sara dengan penuh cinta.
Sara sendiri tak menghiraukannya. Dengan santai, ia menyuap satu per satu potongan wafel dengan isi krim keju bertoppingkan taburan keju, coklat meses, dan chocochips warna warni.
" Kamu lapar ? Mau nambah ? Aku pesenin ya... "
Kata Ditto perhatian.
" Mmm, nggak usah... Ini juga belum tau abis apa nggak. "
Sahut Sara, masih dengan tatapan mata yang mengarah ke makanannya.
" Gimana kabarmu akhir-akhir ini ? Aku mencari mu di tempat kerja, tapi kamu nggak ada. Libur atau pulang lebih awal ? "
Tanya Ditto.
Sara menggelengkan kepala perlahan beberapa kali. Lalu mengangkat wajahnya, memandang ke arah Ditto.
" Aku nggak libur. Aku juga nggak pulang lebih awal. Aku sengaja menghindarimu. "
Jawabnya lugas.
" Jadi kamu tau, aku mencari mu setiap hari ? "
" Aku tau. "
" Kamu benar-benar sengaja ?! "
" Ya... Aku nggak mau ketemu kamu. "
" Lalu, hari ini ?... Kenapa kamu mau ? "
" Aku pingin jelasin ke kamu. Apapun yang terjadi malam itu, anggap itu cuma mimpi. Nggak ada yang terjadi malam itu. Nggak ada apa-apa antara kamu dan aku. Bisa ? "
Dengan tegas, Sara bicara.
Ditto terdiam untuk sejenak. Namun, tatapannya masih melekat pada wajah cantik Sara.
" Aku... Nggak bisa menerima ketulusanmu, Dit. Menyerahlah... Aku nggak pingin menyakitimu kayak sebelumnya. Apa kamu nggak ngerti juga ? Aku ini lain... "
Sambung Sara, kali ini wajahnya tak kelihatan tegas seperti tadi, lebih kalem.
" Perasaanku pada Rere emang nggak wajar. Tapi aku menikmati semua ini dengan senang. Aku nggak peduli apa pendapat orang. "
Imbuh Sara dengan sikap tenangnya.
Ditto menghela nafas dan mengedarkan pandangannya ke beberapa pengunjung kafe di sekitar nya.
Bahkan kehilangan kesucianmu karena akupun, tetap nggak bisa bikin kamu berpaling dari Rere.
Kalo Rere itu cowok, mungkin aku lebih bisa menerima kekalahan ini.
Tapi... benar-benar lucu, aku kalah oleh seorang perempuan !
Batin Ditto.
" Kamu benar-benar jahat, Sara... "
Ucap Ditto seraya menatap kembali ke arah Sara dengan tersenyum pahit.
" Jahat ?... Atas dasar apa kamu bilang aku jahat ?! Apa nggak seharusnya akulah yang bilang kayak gitu ?? "
Kata Sara dengan sinis.
" Aku mau tanggungjawab, aku mau nikahi kamu, aku... "
" Aku nggak mau, Dit ! "
Seru Sara cepat, memotong kalimat Ditto.
Beberapa pengunjung yang duduk di dekat mereka, menoleh ke arah Sara untuk sejenak.
" Kenapa kamu terus aja ngotot mau nikahi aku, hah ? Aku ini nggak cinta sama kamu. Kita nggak akan bahagia, kalo nikah tanpa cinta. "
Kata Sara dengan memelankan suaranya sekarang.
" Aku harap, ini pertemuan terakhir kita. Jangan mencariku dengan alasan apapun. "
Imbuh Sara menegaskan.
" Aku menolak. "
Sahut Ditto, tak kalah tegas.
__ADS_1
" Kamu !... "
Sara protes.
" Sampai kamu mau menikah dengan ku, aku nggak akan pernah lepasin kamu. Sekali aku pernah kehilangan mu, dan itu bikin aku sekarat. Kali ini, aku nggak akan menyerah begitu saja. "
Jelas Ditto.
" Apa yang harus aku lakuin biar kamu menjauh dariku ?! "
" Sampai kamu menikah dengan laki-laki selain aku, barulah aku menyerah. Ingat ! Menikah dengan laki-laki lain. "
" Itu nggak akan pernah terjadi ! "
" Baguslah... Jadi aku nggak perlu menyerah, bukan ? "
" Ditto ! "
" Hem ? "
Ditto meladeni kekesalan Sara dengan santai.
Sara tampak sangat geram. Tangannya mengepal. Raut wajahnya terlihat garang. Benar-benar berubah 180° dari kesehariannya yang selalu kalem, ramah dan pendiam.
" Aku benci padamu ! "
Ujar Sara penuh amarah.
Dengan cepat, ia beranjak bangun dan menyambar tas kecilnya di atas meja. Tanpa berpamitan, ia meninggalkan Ditto yang terdiam menatapnya pergi menjauh.
" Kayaknya... kondisimu sama denganku. "
Terdengar suara yang mendekat ke arah Ditto, sesaat setelah Sara pergi.
" Hai ! Ryuzaki, apa kabar ?... "
Dengan sumringah, Ditto segera berdiri dan mengulurkan tangan, menyambut siapa yang menghampirinya.
" Baik... Sangat baik. "
Jawab Ryuzaki seraya menerima uluran tangan Ditto.
Keduanya pun saling berjabat tangan dan saling melempar senyum. Setelah itu, Ryuzaki memilih duduk dimana tadi Sara duduk. Ditto juga kembali duduk di tempatnya semula.
" Kamu... Mmm, makin macho aja ! Agak jauh berbeda kayaknya dari terakhir kita ketemu. "
" Hahaha... Bisa aja ! Aku tetaplah aku yang dulu, Dit. Masih galau karena punya saingan cinta yang beda dengan cowok manapun. "
Jawab Ryuzaki dengan tawa lebarnya.
" Ya ya ya, aku tau betul itu. Hehehe... "
Timpal Ditto.
" Oh iya, kopi ? atau... "
" Nggak usah lah... Aku cuma penasaran melihat kalian berdebat tadi. Itu di ujung sana, mejaku. "
Jawab Ryuzaki sembari menunjuk ke sudut ruangan.
Ditto pun mengarahkan pandangannya mengikuti telunjuk dari Ryuzaki. Dan benar saja, tampak masih ada bekas tempat makan dan minum di atas meja tersebut.
" Jadi, sudah dari tadi rupanya... "
Kata Ditto.
" Awalnya sih, aku nggak tau ada kalian disini. Tau-tau kedengeran ada suara cewek yang lagi marah. Dan kulihat, ternyata kamu dan Sara lagi berantem. Pingin nyamperin dari tadi, tapi kayaknya kalian lagi panas-panasnya berdebat. Jadi aku memilih sebagai penonton aja. "
Ryuzaki menerangkan.
" Heemm... Keliatan banget ya berantemnya ? "
" Keliatan tapi nggak kedengeran banget apa isi debat kalian koq... Cuma raut wajah kalian yang bikin orang tau, kalian lagi berantem. Sorry... "
" Nggak masalah... "
Kata Ditto singkat.
Ditto mengambil kopinya yang sudah dingin. Menyeruputnya lumayan banyak dan meletakkan kembali ke atas meja.
" Kopipun udah jadi dingin... "
Gumamnya.
__ADS_1
" Pesan lagi saja. "
Usul Ryuzaki.
" Ah, biarin lah... Udah nggak mood. "
" Ah, okey... Mau curhat ? "
Ryuzaki dengan bijaksana menawarkan.
" Hahaha... Kita ini laki-laki, buat apa curhat... Itu cewek punya lah. "
Sahut Ditto tertawa.
" Heiii, jangan salah... Curhat itu bisa dilakuin siapa saja, man. Woman and man, bisa lah... "
Timpal Ryuzaki.
" Masih mengejar Sara ? "
Sambung Ryuzaki menebak.
" Apalagi ?... "
Jawab Ditto santai.
" Oohh... Ditolak lagi ? "
" Seperti biasa... ya. "
" Bukankah udah jelas, kenapa nggak nyerah aja sih ? "
" Lalu, kamu sendiri ? Sudah ketemu Rere ? Gimana ? Dia mau balikan kah ? Atau dia juga menolak mu lagi ? "
" Lho, kenapa rasanya berbalik aku yang diinterogasi ya ? "
".Hehehe... Pingin tau juga soal perkembangan kalian. Karena kalo nggak salah dengar, tadi sempet bilang, kondisi kita sama... Betul kan ? "
" Betul banget... "
" Kapan ketemu Rere ? "
" Baru tadi... Karena hasilnya zonk, jadi berniat menghabiskan waktu disini. Nggak disangka, ketemu tontonan bagus, hehehe... "
" Sialan... Memangnya film ? "
" Aku anggap aja, drama percintaan kota, hemm... ? "
" Ya ya ya... Atur aja. "
Dan untuk sejenak, keduanya terdiam. Hanyut dalam lamunan masing-masing.
" Ke basecamp yuk ! "
Ajak Ryuzaki, mengawali pembicaraan.
" Basecamp ? Dimana ? "
Tanya Ditto penasaran.
" Sebelumnya sih basecampnya di apartemen ku. Tapi setelah aku nikah, pindah di rumah Nano. "
" Oh... "
" Aku chat yang lain dulu, ya... Biar makin rame. "
Kata Ryuzaki seraya merogoh saku celananya, mengambil handphone.
Begitu menyalakan handphonenya, Ryuzaki segera mengirim pesan ke Eza dan Doni. Sesaat wajahnya tampak serius. Namun beberapa detik kemudian, senyum tipis mengembang di wajah nya yang melankolis.
" Sip ! Yang lain udah oke nih, kita juga otw sekarang. "
Kata Ryuzaki.
" Okey... "
Timpal Ditto sambil tersenyum.
" Malam ini, nggak boleh pulang kalo belum mabuk, setuju ? "
" Mabuk ? "
" Yups ! "
__ADS_1
" Oke oke... Siapa takut ?! "
Dan sembari tertawa kecil, keduanya berjalan beriringan meninggalkan kafe.