AKU DAN CINTA SAUDARIKU

AKU DAN CINTA SAUDARIKU
BAB 54


__ADS_3

" Apa yang harus kita lakukan, Yah ? "


Tanya Bunda sembari meletakkan secangkir teh madu hangat di meja taman, di hadapan Ayah.


" Ayah juga bingung, Bun. Tapi yang pasti jangan sampai mereka benar-benar bercerai. Hubungan kita dengan Hari dan Hanako sudah lebih dalam sebelum anak-anak kita menikah. Takutnya, silaturahmi kita akan terputus nantinya. Dan juga proyek kerjasama perusahaan.... "


Kata Ayah dengan serius.


Bunda pun duduk di sebelah Ayah, menatapnya dengan hangat. Ayah menggenggam tangan Bunda, layaknya membutuhkan dukungan.


" Bagaimana dengan Sara ? "


Tanya Ayah dengan nada suara yang pelan.


" Sara masih ada di rumah sakit, sudah empat hari ini dia nggak mau pulang sama sekali sejak Rere siuman. "


Jawab Bunda.


" Ryu ? "


" Dia sudah boleh pulang pulang dari dua hari lalu, tapi dia memilih pulang ke apartemen nya. Beberapa barang dan bajunya kemarin diambil Pak Rustam, sopir kantor perusahaan Hari. "


" Kali ini, Rere benar-benar nggak bisa dibujuk rupanya, Bun. Ryu saja menyerah. "


" Ryu bilang, dia nggak mau bercerai. Tapi saat ini dia pingin Rere tenang dulu, makanya dia memilih tinggal di apartemennya untuk sementara ini. "


" Ayah khawatir soal Sara. Kejadian ini membuat Ryu dan Rere berpisah begini, Ayah takut Sara akan merasa mendapat kesempatan. "


" Dokter Burhan bilang, Sara masih kurang bisa terbuka dan belum banyak perubahan yang berarti pada kondisi kejiwaan nya. "


" Makanya itu, Ayah khawatir. Apa Sara benar-benar memilih ambil jalan yang salah itu ? Rasanya, Ayah sudah mencoba jadi ayah yang baik buat dia. Antara Sara dan Rere, Ayah nggak pilih kasih. Tapi kenapa Sara bisa salah jalan begitu ? "


" Bunda pikir, faktor penyebabnya karena ayah kandungnya sendiri. Sara masih sangat kecil, harus melihat ibunya terus disiksa oleh ayahnya bertahun-tahun. Kata dokter Burhan, bisa jadi dia trauma pada laki-laki. Setelah itu, ibunya bunuh diri di depan dia juga. Pastinya dia membenci ayahnya karena membuat ibunya meninggal. Anak sekecil itu, sudah punya pengalaman tragis.... "


" Bun, apa nggak ada cara pisahkan Sara dengan Rere ya ? "


Dengan pertanyaan yang Ayah lontarkan, membuat Bunda merenung.


" Bunda memaksa Rere nikah sama Ryu, itu cara Bunda buat pisahin Rere dari Sara. Tapi Ayah lihat sendiri kan ? Malah Sara bisa bikin pernikahan ini hampir dua kali retak. Rere kan sudah dua kali ni minta cerai. "


" Iya ya.... Ah, bagaimana kalo kita cariin jodoh buat Sara saja, Bun ? "

__ADS_1


Kata Ayah dengan tenang tapi membuat Bunda langsung menatap tajam ke arah Ayah.


" Cari jodoh buat Sara ? Jangan bercanda, Yah... Rere saja terang-terangan mau bercerai, nggak mungkin Sara malah mau menikah. Yang ada inilah kesempatan dia... Ada-ada saja ide ayah, nggak masuk akal. "


" Justru mumpung Rere belum sah bercerai, Sara harus sudah nikah duluan, Bun. Jadi kalo memang Rere tetap mau bercerai, oke, tapi Sara sudah punya suami, nggak ada yang namanya kesempatan, Bun.... "


" Ayah, kalo Sara belum denger soal Rere minta cerai, ya Ayah benar, Sara bisa saja setuju buat nikah, karena dia taunya Rere masih sama Ryu... Nah ini kan Sara sudah tau Yah.... Dia nggak akan mau kita suruh nikah begitu saja. Ekspektasi Ayah terlalu tinggi dan nggak realistis deh. "


" Lalu... apa yang harus kita lakukan, Bun ? "


" Ikutin dan perhatiin dulu apa yang terjadi saat ini. Rere bersikeras buat bercerai, tapi Ryu masih belum setuju kan. Sara juga masih dalam batas wajar kasih perhatian ke Rere. Lebih baik, kita jangan ngelakuin apa-apa dulu Yah... "


Ucapan Bunda membuat Ayah terdiam dan merenung.


" Ah, baiklah... Sekarang jadi penonton dulu... "


Ayahpun akhirnya menyetujui saran Bunda.


APARTEMEN RYUZAKI TORA


" Baru juga sembuh amnesia mu, sudah belajar mabuk, hah ? "


Tegur Indra yang baru saja datang, mendapati sang pemilik apartemen yang terduduk di bar mininya.


Sahut Ryuzaki lirih.


" Justru, dengan kamu minum, kamu malah akan tambah pusing, bro... "


Indra menarik bangku tinggi di hadapan Ryuzaki.


" Rasanya ini titik kehancuran ku. Aku nggak berdaya, nggak tau lagi harus gimana. Aku kehilangan Rere dan bayiku. Apalagi yang tersisa buatku sekarang ? "


Ryuzaki berkeluh kesah dengan tatapan yang sendu.


" Surat cerai aja belum kamu pegang, kamu udah bilang kehilangan Rere ? Jangan menyerah segampang itu, Ry... Dulu kamu bisa bikin Rere menerima mu dan mencintaimu padahal kalian nikah tanpa cinta. Sekarang ada cinta di antara kalian, ada kisah manis yang pernah kalian alami bersama, bukannya itu sayang kalo cuma jadi kenangan aja ?.... "


" Tapi aku tau Rere, bro. Dia bukan orang yang mudah ditaklukkan. Apa yang udah jadi keputusannya, nggak akan bisa diubah siapapun. Ayah dan Bunda pun nggak bisa. "


" Kamu belum coba, kenapa udah menyerah duluan... "


" Aku udah coba bicara sama Rere waktu masih di rumah sakit, jangankan dengerin apa yang aku omongin, dia malah terus mengusirku dari ruangan. "

__ADS_1


" Okey... saat ini emang Rere belum bisa diajak bicara. Kamu tunggu dia tenang dulu. Cari waktu yang tepat. Kamu coba lagi, minta bantuan Ayah Bunda nya. "


" Aku pingin pulang ke Jepang saja. Kayaknya buat saat ini, berpisah dulu juga bukan hal yang buruk. Aku dan Rere butuh ruang masing-masing buat instropeksi diri juga. Yah, kalo masih jodoh, akan ada jalannya kita bersatu kembali. Kalo ternyata nggak jodoh, paling nggak, kita bisa berpisah baik-baik nantinya. "


" Kamu yakin ? Sama saja kamu kasih kesempatan Sara buat manipulasi Rere lagi lho... "


" Dimanipulasi atau nggak, kayaknya itu bukan urusan ku saat ini. Semua keputusan mau jadinya seperti apa, Rere lah yang harus memutuskan mau apa dia kedepannya nanti. Aku .... cuma bisa berharap, dia nggak salah ambil keputusan. "


" Betul juga sih. Rere tau banget siapa Sara. "


Ryuzaki menghela nafas panjang. Perlahan menghembuskannya. Kemudian dengan gerakan lesu, ia kembali meneguk sloki yang berisi minuman beralkohol. Sesaat sebelum minuman itu turun ke tenggorokannya, ia menahannya dalam mulut. Merasakan rasa manisnya.


" Kapan berangkat ke Jepang ? "


Tanya Indra, kali ini ikut minum juga.


" Beberapa hari lagi... "


Jawab Ryuzaki singkat.


" Berapa lama di sana ? "


" Entahlah... tergantung situasi saja. Besok aku akan cek dulu keseluruhan operasional perusahaan papi yang disini, sejak aku kembali kesini setelah kecelakaan itu, aku nggak pernah datang ke perusahaan. "


" Jaga kondisi badan, jangan diforsir. Kamu juga baru pulang dari rumah sakit, belum seratus persen sembuh. Apalagi kakimu... "


" Ya, aku tau. Siapa tau, sibuk di perusahaan sebelum pulang ke Jepang, bisa bantu aku nggak tenggelam dalam masalah Rere. "


" Iya, aku setuju. Lebih baik ngurusin perusahaan aja buat beberapa waktu ini, jadi nggak bikin kamu nge drop begini. Tapi tetep harus ingat, jaga kesehatanmu. "


" Heemm.... "


" Kalo mau berangkat ke Jepang, kabarin ya, jangan main ilang gitu aja. "


" Pasti... pasti aku kasih tau kamu dan Doni. "


" Rere ? "


" Liat ntar aja.... Udah ah, ayo temani aku minum sampai pagi. Oh iya, telpon Doni suruh kesini sekalian bawa makanan, aku lapar. Tapi nggak tau mau makan apa. "


" Okey... "

__ADS_1


Obrolanpun terhenti. Ryuzaki kembali tenggelam dalam lamunan nya. Sesekali hanya menghela nafas panjangnya dan semakin tampak sedih.


__ADS_2