
" Apa maksudmu, Re ? "
Ryuzaki menatap Aretha dengan tatapan tak percaya. Tak sengaja mendengar kalimat terakhir yang Aretha ucapkan barusan membuat Ryuzaki mulai tak mengerti jalan pikiran Aretha.
" Ya, aku mau ajuin gugatan cerai. "
Kata Aretha tanpa berani menatap suaminya.
Ryuzaki mendekat dimana Aretha dan Sara berada.
" Atas dasar apa kamu mau ceraikan aku ? "
" Aku nggak mau bahas ini sekarang. Tolong, jangan bertanya lebih banyak lagi. "
Jawab Aretha.
Ryuzaki menghampirinya.
" Kita harus bicara, sekarang ! "
Dan dengan cepat tanpa menunggu jawaban dari Aretha, yang juga diiringi tatapan tajam Sara, Ryuzaki menarik lengan Aretha. Aretha mencoba menghentakkan pegangan suaminya. Tapi, Ryuzaki lebih kuat.
Mau tak mau, Arethapun mengikuti langkah Ryuzaki keluar ruangan. Ryuzaki membawanya ke luar, ke taman samping rumah sakit. Memilih bangku yang lumayan jauh dari lalu lalang orang-orang dan kerumunan.
" Kita ! Kita baik-baik saja sampai tadi malam ! Dan pagi ini, kamu tiba-tiba jadi gila ??!! Apa maksudmu, Re ?! "
Cecar Ryuzaki begitu Aretha duduk.
Sementara dirinya masih tetap berdiri, di hadapan Aretha.
" Aku nggak bisa ngeliat Sara menyakiti dirinya sendiri. Kamu nggak tau apa yang sudah Sara alami selama ini. Kalo dibilang hancur, hidupnya sangat hancur. Mungkin kalo nggak dibawa pulang ayah bunda waktu itu, dia nggak akan hidup sampai hari ini.... "
Aretha mencoba menjelaskan.
Ryuzaki melipat kedua tangannya di dada. Ditatapnya Aretha yang seakan sedang melamun, tatapannya menerawang jauh ke depan.
" Aku akui, aku nggak tau banyak tentang Sara. Tapi, Re.... Dia itu gila, nggak waras ! Kamu sendiri tau kayak apa dia... Apa.yang kayak gitu pantes jadi alasan kamu mau bercerai ? "
" Ryu... Akulah yang bikin mentalnya kayak gitu. Akulah yang membuat dia kayak gitu. Aku ! Akulah orang yang pantas bertanggungjawab sampai akhir atas dia. "
" Siapa yang nentuin kayak gitu ? Kamu sendiri, bukan ?! .... Jangan ikutan nggak waras, Re ! "
" Aku orang yang waras saat ini ! Aku yang paling tau siapa Sara. Aku yang paling ngerti keinginan dia dibandingkan yang lain. Akulah yang emang harus bertanggujawab, bukan ?... Karena aku yang membuatnya bergantung padaku.... "
" Itu nggak masuk akal, Re. Kamu bertanggungjawab atas Sara, tapi kamu ngorbanin pernikahan kita. Kamu salah, Re.... Nggak bisa kayak gitu. "
" Please, Ryu.... Tolong ngertiin aku ! Beri aku waktu buat selesaiin masalah ini. Karena aku harus bisa buat Sara percaya dulu padaku, baru aku akan mengubah perasaannya perlahan. "
" Dengan bercerai ? "
" Ya, dia akan lebih percaya padaku, kalo kita bercerai. "
" Nonsens !! "
__ADS_1
" Aku akan mengurus semuanya. Kumohon, bantu aku. "
" Kamu hamil anakku ! Gimana aku bisa bilang iya ? "
" Jangan sampai Sara tau soal itu. "
" Darimana bisa kamu punya pikiran sembunyiin hal itu ? Perutmu akan semakin membesar, Sara akan curiga. "
" Aku akan selesaikan semuanya sebelum perutku membesar. "
" Semua yang ada pada Sara, itu udah jadi sifatnya. Nggak akan semudah itu mengubahnya. Apa kamu pikir, cuma itungan bulan, dia akan berubah ? Kamu naif, Re.... "
" Entahlah..... "
" Dengerin aku, Re.... Ayo ke Jepang. Orangtuaku minta kita ke Jepang. Tinggal disana, jauh dari Sara. "
" Sara butuh aku, Ryu .... Nggak segampang itu. Percuma aku tolongin dia buat tetap hidup kalo akhirnya akulah yang membunuhnya. "
" Sara nggak waras .. "
" Aku yang bikin dia nggak waras ! "
" Itu pilihan dia, bukan tanggungjawabmu ! "
" Sudahlah ... obrolan ini nggak akan ada habisnya. "
Aretha mengakhiri pembicaraan dengan suaminya dan berniat bangun dari duduknya. Sayangnya Ryuzaki mencegahnya. Ia menarik lengan Aretha agar kembali duduk.
Kata Ryuzaki cepat.
Aretha menghentakkan tangan sang suami dan tetap melangkah pergi.
Maafin aku, Ryu ...
Aku harus memilih cara ini agar kamu dan bayi kita tetap aman.
Aku tau seperti apa Sara.
Meskipun nantinya Sara tau tentang kehamilanku, paling nggak Sara melihat kalo kita udah pisah, jadi kamu bukan satu ancaman buat dia.
Aku akan coba bikin Sara bisa menerima bayi kita.
Maafin aku ...
Kediaman Keluarga Danu Sutedjo
" Sebenarnya apa yang terjadi, Bun ? "
Kata Ayah dengan wajah yang sangat serius.
Bunda menarik nafas panjang dan perlahan mengeluarkannya, seakan ingin melepas beban yang sangat berat.
" Ayah merasa, ada yang aneh disini. Sikap Sara, Rere dan juga Bunda. Sara mencoba bunuh diri, Rere terus-terusan merasa bersalah dan menyalahkan pernikahannya, dan kamu, Bun.... Ayah perhatiin, bunda lebih kuatir pada Rere daripada Sara, padahal Saralah yang mencoba mengakhiri hidupnya. "
__ADS_1
" Maaf, kalo bunda nggak pernah bisa cerita ke ayah bunda bingung.... "
" Apa Sara dan Rere bermasalah ? Mereka saling menyayangi, kita nggak pernah bedain mereka koq. Meski Sara bukan anak kandung kita, tapi aku selalu sama pada dia dan Rere. Nggak ada namanya pilih kasih. "
" Bukan itu, Yah....Masalahnya, Sara mencintai Rere... "
" Lho, itu bagus, lalu kenapa... "
" Yah, Sara mencintai Rere bukan sebagai saudara, tapi sebagai pasangan... "
" Apa maksud bunda ?... Ayah nggak nyimak ! "
" Sara... di-dia... melihat Rere sebagai.... Dia cinta Rere, seperti bunda cinta ayah.... "
Bunda bingung menjelaskannya kepada ayah.
" Apa, Bun ? Apa maksudnya, Sara penyuka sesama jenis ? "
Ayah mencoba meminta kepastian atas penjelasan bunda baru saja.
" Ya... seperti itulah... "
Sahut bunda lirih.
" Nggak mungkin.... Sara anak baik, penurut. Malah dia lebih tau aturan daripada Rere. Nilai-nilai akademisnya lebih bagus, dan Sara nggak pernah keluar rumah, nongkrong nggak jelas kayak Rere. Kalo Rere yang seperti itu, ayah masih bisa percaya. Karena Rere aja pernah kabur dari rumah ini dan nggak mau lanjutin kuliah. Tapi bunda bilang, Sara yang .... Ahh, itu nggak mungkin, Bun... "
Ayah tak percaya.
" Yah, ingat hewan piaraan Rere ? Tiga-tiganya nggak ada itu karena ulah Sara. Lalu temen sekolah Rere, Ditto... dia juga pernah dilukai sama Sara. Semua itu karena Sara cemburu, yah... Sara nggak mau, Rere dekat dengan yang lain, selain dirinya. "
" Bun, jangan bicara seperti itu ! Inget, kamu yang pertama kali pingin ngajak Sara ke rumah ini. Kamu yang minta kita adopsi dia ! Sekarang kamu malah bicara yang nggak bener soal dia ! "
" Ayah, Sara coba bunuh diri, karena dia cemburu pada Ryu. Tapi dia nggak bisa melukai orang lagi, makanya dia melukai dirinya sendiri. Ini, baca surat Sara sebelum dia mau bunuh diri. Ryu nemuin surat itu di bawah pintu apartemennya di hari yang sama, saat Sara ditemukan pingsan dengan sayatan di pergelangan tangannya. "
Jelas bunda mencoba meyakinkan Ayah.
Tak lupa pula, bunda memberikan selembar kertas dengan tulisan Sara, yang didapat bunda dari Ryuzaki.
Ayah mengambil surat tersebut dari tangan bunda.
Kening ayah mulai berkerut saat membacanya. Saking tak percaya dengan apa yang dibacanya, ayah mengulang mebacanya.
" Ayah lihat ?... Bunda nggak bohong kan... "
Kata bunda begitu melihat ayah yang telah selesai membaca, diam membisu. Raut wajah ayah tampak gelisah. Mencoba mencerna semua penjelasan bunda dan juga isi surat tersebut.
" Kita harus melakukan sesuatu.... "
Kata ayah sembari memikirkan langkah yang akan diambilnya ke depan.
Apa yang sudah kamu lakuin, Re ?
Sampai membuat Sara menjadi seperti ini ??!!
__ADS_1