
5 Tahun lalu....
" Rere... Boneka marsha aku udah jelek banget ya, udah rusak. Tapi ini kenangan aku dari mami, sayang.... Bunda bisa jahitin nggak ya ?
Kata Sara seraya menunjukkan boneka Marshanya. Di bagian samping badan boneka tersebut, tampak jahitannya yang sudah lepas dan menganga. Busa didalamnya pun terlihat.
" Bunda bisa jahit kok, pasti dia bisa benerin bonekamu lagi. Sini aku liat ! "
Aretha mengambil boneka tersebut dari tangan Sara. Memperhatikannya dengan seksama. Bonekanya memang terlihat dekil. Jahitannya pun sudah terbuka sana-sini.
" Ayo, kita ke Bunda ! "
Ajak Aretha dan menggandeng tangan Sara. Setengah berlari kecil menuju ruang tengah. Kosong.
" Tadi sebelum aku ke kamar, Bunda ada disini. Kemana ya ?.... Ayah juga nggak ada. "
Gumam Aretha. Sara celingukan.
" Nggak mungkin kan mereka pergi keluar tanpa bilang ke kita ya ? "
Sara mengangguk. Mak Ida melintas menuju dapur.
" Mak ! Mak ! "
Panggil Aretha sambil menghampiri Mak Ida.
" Ya, mba ? "
" Bunda mana ? "
" Mm.... Tadi sih ada disini, mba. Ah ! coba cari di taman belakang atau ruang baca deh... "
Sahut Mak Ida. Aretha dan Sara manggut-manggut.
" Oke, Mak. Tararatengkyu ya Mak ! "
Jawab Aretha penuh semangat. Mak Ida mengangguk dan kembali melanjutkan langkahnya menuju dapur.
" Ke ruang baca yuk ! "
Ajak Aretha. Sara mengikuti langkah Aretha dari belakang. Berdua menuju ruang baca.
" Ehh.... tunggu dulu ! "
Bisik Aretha sesaat sebelum membuka pintu ruang baca. Pintu yang tidak tertutup rapat itu dibukanya sedikit.
" Ada apa ? "
__ADS_1
Timpal Sara setengah berbisik. Dilihatnya Aretha seperti hendak menguping. Dengan penasaran, Sarapun melakukan hal yang sama.
" ..... nggak mungkin kan, Bun ? "
" Tapi, Yah.... Sara berhak tau ! "
" Trus kalo dia tau, apa Bunda yakin nggak akan ada masalah ?? Sara itu nggak diterima di lingkungan keluarga nya sendiri, Bunda lupa, itulah alasan kenapa kita bawa Sara pulang. "
" Rumah itu hak dia, Ayah ! Dia yang berhak mengaturnya. Apa dia mau jual apa dia mau tempatin... "
" Ayah tau, tapi ayo kita pikirkan cara terbaik buat Sara terkait rumah ayahnya itu. Kita bisa jual rumah itu dan berikan seluruh uangnya buat Sara. Nggak perlu Sara tau rumah itu dan keluarga besarnya. "
" Bunda nggak setuju ! Tommy memang bukan ayah dan suami yang baik, tapi Sara satu-satunya anak Tommy. Apa yang dimiliki Tommy itu semua hak Sara, kita harus kasih tau Sara soal ini, dan biarkan Sara memutuskannya sendiri. "
" Bun.... rumah itu kenangan terburuk Sara ! Irma bunuh diri dirumah itu, Irma membunuh suaminya di rumah itu, semua kejadian pahit dalam hidup Irma ada di rumah itu. Bunda yakin lama-lama Sara nggak akan tau soal papi mami nya kalo dia memilih menempati rumah itu ? "
" Iya, Bunda tau... Tapi Ayah, paling nggak biarin Sara memutuskan sendiri untuk warisan rumah dari Tommy. Dia lahir disana ! "
" Emang bener dia lahir disana, tapi dia nggak pernah bahagia, Bun... Inget cerita Irma ? Dia dijual sama suaminya yang doyan mabuk dan nggak mau kerja !! "
" Ayah, jangan kencang-kencang ngomongnya. Bunda takut anak-anak dengar. "
" Inget kan, gimana takutnya Irma waktu tau Tommy mau jual Sara ke rentenir ? Malam-malam dia datang bawa Sara ke hotel kita, dia nggak ingin Sara jadi sama kayak dia, dijual sama Tommy, padahal Sara masih 6 taun. Dan paginya Irma telpon kamu, pamitan sama Sara. Ternyata setelah itu dia bunuh diri abis bunuh suaminya. Kamu yakin, Bun... Sara tau semua itu, gimana dia bisa menghadapinya ? "
" Ayah.... "
" Yah... Plisss... "
" Irma yatim piatu, sodaranya yang datang saat pemakaman dan mengetahui kejadian malam itu, melihat Sara, berniat membawanya ke panti asuhan. Nggak ada yang ingin merawat anak pembunuh, itu kata mereka, Bun ! Kamu tau sendiri, kamu denger kan... "
" Ya, okey... Ya, aku tau itu semua... Tolong, jangan dibahas lagi. Rasanya sedih kalo inget Irma.... Bunda benar-benar nggak nyangka, bertahun-tahun nggak ketemu dia, sekalinya ketemu, ternyata hidupnya sepahit itu... "
Aretha membekap mulutnya sendiri untuk menahan diri tidak bersuara karena terkejut. Sara lemas, perlahan menjatuhkan diri ke lantai. Tulangnya terasa seperti lepas dari sendi-sendinya. Percakapan Ayah dan Bunda membuat Aretha dan Sara merasa tak berdaya.
" Sara.... "
Aretha memutar tubuhnya. Menatap penuh penyesalan, gara-gara dirinya, Sara mendengar sesuatu yang menyakitkan. Tatapan mata Sara tampak kosong. Wajahnya yang cantik terlihat pucat.
" Ayo... kita ke kamar ya... "
Aretha memeluk pundak Sara dan membantunya bangkit. Membawanya kembali ke kamar. Setibanya di kamar, Aretha mendudukkan Sara di pinggir ranjangnya.
" Minum dulu... "
Aretha menyodorkan segelas air putih kepada Sara.
" Re... "
__ADS_1
Panggil Sara dengan lirih. Aretha berjongkok di hadapannya. Digenggamnya tangan Sara. Terasa dingin. Ditatapnya mata Sara. Mulai berkaca-kaca.
" Nggak papa, okey ?... Aku ada disini kan ? "
Kata Aretha kemudian memeluk Sara dengan hangat. Sara membenamkan wajahnya ke bahu Aretha. Terisak.
" Mau nangis, nangis aja... Nggak usah ditahan. Biar lega, biar enak... Aku ada disini kok ! "
Ujar Aretha penuh kelembutan. Perlahan menepuk pundak Sara. Kemudian membelai rambut panjang Sara.
" Hiks... Re... Hiks hiks hiks ! "
" Ya, aku ada disini.... Nggak papa... Nggak papa... "
Aretha berusaha menenangkan nya. Isak Aretha makin kencang. Aretha hanya bisa diam kali ini. Bingung harus bagaimana. Apa yang dia dengar tadi bukanlah hal yang sepele.
Ternyata itulah kenapa Sara menjadi sodaraku.
Padahal Sara sangat cantik, penurut dan lembut seperti ini... tapi papi mami nya...
Terlahir dari orangtua yang kayak gitu, dia pasti sangat sedih banget...
" Re... A-aku menjijikkan ya... Hiks hiks ! "
" Kata siapa ? Ayah dan Bunda sayang kok sama kamu, iya kan ? "
" Papi ku sendiri mau... mau... hiks hiks... "
" Papimu itu orang paling **** sedunia, tau ! Bagus deh dia udah mati ! "
" Iya... hiks hiks... A-aku... Mami... Hiks hiks ! "
Kembali Sara terisak-isak. Bahu Aretha makin terasa basah.
" Siapapun orangtuamu, gimanapun mereka, itu adalah hidup mereka. Nggak akan ngaruh sama hidup kamu ke depannya... Nggak usah peduliin masa lalu mu. Cukup tau aja. Okey .... "
Di bahunya, terasa Sara sedang menganggukkan kepala. Sara memeluk Aretha dengan erat.
" Re, kamu hiks... hiks... sayang kan sama aku ? Hiks... hiks... "
" Pastilah ! Aku, Ayah, dan Bunda adalah orang-orang yang nggak akan pernah nggak sayang sama kamu. Akan selalu nemenin kamu, SE-LA-MA-NYA !!! "
" Hiks... Hiks... Huuhuuuuuhuuuu !!!
Akhirnya, tumpah juga tangis Sara, setelah sedari tadi hanya terisak-isak. Aretha membelai rambutnya dengan perlahan.
" Keluarin semua airmatamu, jangan disisain buat masa lalu mu. Setelah ini cuma ada kamu, aku, Ayah, dan Bunda hidup bahagia... Selalu... "
__ADS_1
Sebuah kalimat penghiburan untuk Sara terucap dari bibir Aretha. Membuat Sara semakin yakin rasa sayang nya hanya akan diberikan untuk Aretha seluruhnya. Seutuhnya.