AKU DAN CINTA SAUDARIKU

AKU DAN CINTA SAUDARIKU
BAB 45


__ADS_3

EMPAT BULAN SEBELUMNYA


Rere benar-benar nggak bisa dibujuk !


Segampang itu bilang cerai.


Dia hamil .... dia sedang hamil anakku !


Kenapa dia nggak bisa memilihku dan ikut aku ke Jepang saja ?


Jauhi Sara, dia nggak waras !


Hah, pada akhirnya... aku masih harus berjuang buat dapetin dia gara-gara Sara.


Lamunan Ryuzaki buyar saat matanya melihat pagar rumah kediaman keluarga Aretha. Ryuzaki menghentikan mobilnya dan menepi. Tepat di depan pintu gerbang. Diliriknya jam tangannya. Pukul 02.36 WIB. Lewat tengah malam rupanya.


Sopan nggak ya datang jam segini ?


Ah sudahlah ....


Semoga ayah dan bunda mau menerimaku datang.


Meski setengah ragu-ragu, Ryuzaki keluar dari mobilnya. Di depan intercom, Ryuzaki menghela nafas dahulu sebelum menekan tombolnya.


" Ya, siapa ? "


Suara mang Kasdi terdengar menjawab salam dari Ryuzaki yang telah diucapkan berkali-kali seiring dengan membunyikan bel rumah.


" Mang, ini Ryuzaki, bisa saya masuk ketemu ayah dan bunda ? "


" Aahhh, nak Ryu ! Iya ya ... sebentar ya, saya bukain pintu dulu. "


Jawab mang Kasdi dengan cepat.


Benar saja, tak lama kemudian pintu gerbang rumah tersebut dibuka oleh mang Kasdi.


" Terimakasih mang.... "


Ucap Ryuzaki sembari tersenyum.


" Iya, sama-sama.... Silahkan langsung ke dalam saja, saya sudah kasih tau bapak dan ibu, ada nak Ryu disini. "


" Ya mang, terimakasih sekali lagi. "


" Kunci mobilnya bisa saya pinjem ? Biar saya masukkin mobilnya ke garasi. "


" Nggak usah mang, saya cuma sebentar saja kok. "


" Oh, gitu... ya udah biar saya jagain di luar ya. "


" Ya mang.... makasih banyak. "


Dan Ryuzakipun melangkah masuk ke dalam rumah. Sementara mang Kasdi dengan mata yang sebenarnya masih mengantuk,.dikuatkannya untuk tetap melek. Duduk di sebuah bangku panjang di balik gerbang sebelah dalam, sambil mengawasi mobil Ryuzaki.


" Ada apa, Ryu ? "


Sambut ayah begitu melihat sosok Ryuzaki masuk ke dalam rumah tepat di ruang keluarga.


" Maaf mengganggu istirahat ayah dan bunda. "


Kata Ryuzaki dengan sopan, mencium punggung tangan ayah dan bunda. Kemudian memilih duduk tepat di hadapan ayah bunda duduk.


" Ryu pingin pulang ke Jepang subuh ini. "


" Maksudmu ? "


" Ya, papi minta Ryu pulang ke Jepang, bantu papi disana. Seperti yang ayah tau, papi sering sakit sekarang. Minta Ryu bantu beliau. "


" Lalu... Rere ? "


Kali ini bunda yang bertanya.


" Rere.... dia minta cerai. "


" A-APA ?! "

__ADS_1


Ayah membelalak kaget.


Bahkan ayah sampai berdiri. Bunda menggenggam tangan ayah dan dengan kemudian memberi isyarat kepada ayah untuk duduk dan tenang kembali. Ayah mengikuti apa yang bunda inginkan.


" Alasannya ? "


Bunda bertanya dengan wajah serius.


" Sara yang minta, bunda. Ryu nggak sengaja dengar pas mau nganter sarapan ke rumah sakit buat Rere dan Sara. Sara bahkan mengancam mau bunuh diri. Rere menurutinya, berkali-kali bilang dia lah yang harus bertanggungjawab atas apa yang terjadi pada Sara. "


" Sekarang.... apa kamu punya saran buat kami ? "


" Sementara ini saya akan menenangkan diri di Jepang. Saya belum punya rencana ke depan kayak apa, tapi yang pasti, saya nggak akan pernah tandatangan surat perceraian. Siapa tau nanti Rere berubah pikiran ke depannya. "


" Aku setuju denganmu... Jangan bercerai. Kita akan cari solusi buat masalah ini sama-sama. "


Kata ayah.


" Sambil mencari tau, apa sebenarnya yang terjadi sekarang ini. Kamu boleh tenangkan diri di Jepang. Rere, bunda pikir lebih baik kita ajak pulang aja, ya yah ? Jadi kita bisa menjaga dan mengawasi nya dari dekat. "


" Ayah setuju Bun.... Nanti kasih tau Rere soal ini. "


" Pagi ini, bunda ke rumah sakit. Bunda akan atur semuanya. "


" Kalo begitu, Ryu pamit ya. Ryu titip Rere dan calon bayi kami. Subuh ini, Ryu langsung berangkat. Sekali lagi... Maaf dan terimakasih buat semuanya, Ayah, bunda.... "


Dan dengan berakhirnya kalimat yang ia ucapkan, Ryuzaki pun beranjak bangun dari duduknya. Kembali dengan sopan mencium punggung tangan kedua mertuanya.


" Hati-hati ya.... "


Pesan ayah kepada dirinya sembari menepuk bahunya dengan penuh kehangatan.


" Jaga dirimu baik-baik. Jangan kuatir soal Rere. Sering-sering kasih kabar, jangan putus silaturahmi nya ya.... "


Kata bunda dengan mata yang berkaca-kaca.


" Ya.... "


Dan Ryuzakipun melangkah menuju keluar rumah dengan langkah yang berat.


Sekarang semuanya benar-benar di luar kendali.


Kenyataan tak selalu sama dengan keinginan.


Sudah setahun lebih rasanya bersama Rere...


Semakin hari semakin dekat bahkan Rere hamil anakku... tapi...


Di saat aku seharusnya bersama dia melewati masa-masa kehamilannya, malah ada kejadian kayak gini....


Baru kemarin rasanya bahagia...


" Huufftthh... "


Ryuzaki menghela nafas dan mencoba menengadahkan kepalanya melihat keluar jendela mobil, menatap langit malam.


Saat ia kembali mengalihkan pandangan ke depan, tampak kilatan lampu yang sangat terang membuat matanya tak bisa melihat ke jalanan.


TIINNN !! TTIIIINN !! TIINNN !!


Bersamaan dengan itu, suara klakson berulang-ulang terdengar memekakkan telinganya. Klakson dari sebuah truk barang bermuatan kayu.


Sama-sama terkejut di tikungan yang tajam, sang sopir truk memutar cepat kemudinya ke arah kiri, menghindari hantaman dengan mobil Ryuzaki. Ryuzaki sendiri membanting kemudi mobilnya ke arah yang berlawanan dengan truk tersebut.


Haahh, salah !!!!


Batinnya saat menyadari ia salah arah, tepat dan tak terhindarkan, mobilnya melesat cepat ke arah tepi jalan raya yang ternyata adalah jurang.


" AAARRGGGHHHH !!!!! "


Jeritnya tak terelakkan saat menyadari mobilnya melewati batas tepi jalan raya. Mobil Ryuzaki meluncur kencang ke bawah, menabrak pepohonan di hadapannya dan terhenti saat mobilnya tersangkut di antara dua pohon besar.


Mobil Ryuzaki hancur di bagian depan. Ryuzaki sendiri pingsan. Kepala, bahu, dan tangannya bersimbah darah. Kaca depan yang pecah, beberapa bagiannya mengenai wajah Ryuzaki.


Malam ini malam yang naas bagi Ryuzaki.

__ADS_1


BEBERAPA WAKTU KEMUDIAN


" Uuuugghh... "


Rintih Ryuzaki saat berusaha membuka matanya.


Satu kedipan di matanya, membuat kepalanya sakit. Dengan masih terpejam, Ryuzaki mengernyitkan dahinya. Dan perlahan ia membuka matanya kembali.


Bau obat....


Putih...


Dimana ini ?....


Ryuzaki mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.


Sesaat kemudian, pintu terbuka. Seorang laki-laki paruh baya dan seorang dokter masuk bersamaan.


" Dok, dia sudah bangun ! "


Seru laki-laki paruh baya tersebut dengan raut wajah senang. Sang dokter segera menghampiri Ryuzaki dan mulai memeriksanya.


" Sebentar, aku periksa dulu ya. Jangan banyak bergerak dulu. Coba kita lihat.... mata, oke aman.... buka mulutmu ?.... Bagus, hmm aman juga. Denyut nadi mu stabil... Bagaimana ? Apa yang dirasakan ? "


Ryuzaki menggelengkan kepala kepada sang dokter.


" Nggak ada yang dirasakan ? Hmm, kondisi tubuh emang stabil sih, bagus... "


Kata dokter sambil manggut-manggut.


" Syukurlah.... jadi dia udah bisa pulang kan, dok ? "


Kata si lelaki paruh baya tersebut tampak girang.


" Nanti, setelah saya cek keseluruhannya.... Inshaallah, kalo memang kondisi tubuhnya normal semua, dia bisa pulang besok. "


Jawab sang dokter.


Kemudian setelah mengecek keseluruhan kondisi vital Ryuzaki, sang dokter berpamitan keluar.


" Syukurlah... nak Ryuzaki, akhirnya kamu bisa pulang juga, kamu koma udah sebulan. "


" Hah ?....A-apa ? aku koma selama sebulan ?! "


Ryuzaki seperti tak percaya dengan apa yang didengarnya.


" Ya... tapi sekarang kamu tampak sehat. Jadi besok kamu bisa kembali lagi ke keluargamu. "


Sahut si lelaki paruh baya tersebut.


" Keluarga ? "


Ryuzaki tampak bingung.


" Ya, bapak liat, kamu pake cincin kawin tuh... Dan dari KTP mu, statusmu kawin. Pasti ada keluarga yang sedang menunggumu kembali. "


" Ahh.... "


Ryuzaki menatap ke jari manisnya sebelah kanan.


Cincin kawin ?


Aku sudah menikah ?


" Maaf.... Tapi bapak siapa ? "


Tanya Ryuzaki sambil beringsut duduk dengan hati-hati.


" Nanti, ceritanya panjang.... Sekarang, nak Ryuzaki istirahat dulu sambil menjalani pemeriksaan dok... "


" Ryuzaki ? Siapa Ryuzaki ? "


Pertanyaan Ryuzaki membuat lelaki paruh baya tersebut bengong.


Waduhhh...

__ADS_1


__ADS_2