
" Re... Sstt, Re... Liat deh ! Bagus ga ? "
Zoya menunjukkan sebuah gaun seksi berwarna merah marun dengan potongan leher berbentuk V tanpa lengan dengan panjang kurang lebih se paha.
" Seksi... dan cukup hot juga ! "
" Dari tadi semua kamu bilang seksi, hot, seksi, hot... Sebenernya kamu ngerti nggak sih soal baju ? "
" Nggak ngerti ! "
" Ah, iya aku lupa ! Kamu kan buta fashion... Nyesel aku ngajakin kamu ke mall. "
" Kan aku juga udah bilang, males keluar... "
" Aneh ih... Kamu itu aneh deh ! "
" Apanya yang aneh sih, Zoy ? "
" Rere sayaaannggg.... kamu itu cewek, cantik, tinggi, pas deh body kamu buat level seorang gadis muda, hehehe.... Tapiiiiiii, kamu itu manly banget, Re !! Cara jalan mu kelewat tegap, dan nggak ada lemah gemulai nya. "
" Ada yang salah dengan itu ? "
" Ya, jelaslah !!! Salah banget ! "
" Apanya yang salah ? "
" Semuanya salah ! Ubah penampilan kamu, gaya bicara, tingkah laku, semuanya... Ubah dong ! "
" Mmm... Kamu kenal aku dah lama, say. Apa segampang itu buat berubah ? "
" Okey, emang nggak gampang sih buat berubah. Tapi paling nggak, jangan naik moge-mu mele, cintaku... "
" Dih, udah lama aku nggak naik moge-ku !... Kuncinya diumpetin Ryu tuh ! "
" Ooooo... Pantes ! Dari kamu tinggal di apartemen Ryu, iya sih aku baru ngeh, kamu sering baik taksi mulu ya. "
" Hadeeuuuhhh... Kemana aja, buuu ?? Baru sadar... "
" Tapi, Re... Kamu kalo makan, masih dianterin dari nyokap apa mertua mu gitu ? "
" Sekarang jarang sih. Kalo sarapan, ketemu apa aja yang ada di kulkas apa lemari. Ada roti, minuman sereal, susu, yang kayak gitu-gitu. Sesekali bikin nasgor... "
" Ah, nasgor mu itu bikin kangen ih ! Kapan-kapan bikinin ya ? "
" Dateng aja ke tempat ku. "
" Pasti secepatnya aku dateng. Trus maksi dan dinner mu ? "
" Mmm... kalo maksi, sering sih deliv order, apa aja. Dinner seringnya Ryu bawain sesuatu. Nggak tau dia beli dimana. Kali dia sepulang kerja mampir di resto. Kalo dia nggak bawa sesuatu, ya dia juga yang pesen deliv order. Aku taunya dah disuruh makan aja sih, hehehe... "
Zoya melipat tangannya ke dada dan menatap Aretha dengan pandangan kagum.
" Wah, wah, wah... salut aku sama hidupmu sekarang. Nggak ada lagi keluyuran malam, nggak ada lagi bau minuman, dan setiap harinya hanya jaga rumah. Bener-bener hebat si Ryuzaki ini ternyata. "
" Kok aku ngerasa kamu bukannya memuji tapi kayak ngetawain aku ya... Seolah-olah selama ini hidupku itu nggak bener dan Ryu ini jadi sang pahlawan... "
" Aahh, kamu itu terlalu negatif thinking aja sih... "
Kata Zoya dengan nada merajuk. Aretha menatapnya dengan mata penuh selidik.
" Ayolah... Aku kan cuma... "
Zoya menghentikan kalimatnya. Memperhatikan wajah Aretha yang tiba-tiba memucat.
" Re, apa yang kamu lihat ? "
__ADS_1
Zoya penasaran dan mengikuti ke arah mana tatapan Aretha tertuju. Dan menemukan se sosok laki-laki muda yang sedang tertawa lepas sedang duduk santai di bangku istirahat di samping lift. Seperti halnya Aretha, wajah Zoya seketika memucat pula. Bahkan sendi-sendi tulangnya serasa lepas. Tubuhnya lemas.
" Re... I-itu dia di-dia... "
Zoya tergagap. Tapi masih tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Dia membekap mulutnya sendiri. Aretha tidak mengeluarkan sepatah katapun, namun seketika setengah berlari menghampiri laki-laki yang dilihatnya. Zoya yang masih shock, diam terpaku di tempat.
Begitu jarak antara Aretha dan sang laki-laki muda itu dekat, Aretha memperlambat jalannya. Matanya hampir-hampir tidak berkedip. Terus menatap tajam sosok tersebut.
Aretha menghentikan langkahnya yang hanya tinggal kurang lebih dua sampai tiga langkah dengan sang laki-laki tersebut. Dimana sang laki-laki itu juga tampak terkejut saat di tengah obrolannya bersama teman-temannya, matanya menemukan sosok Aretha yang berjalan mendekat ke arahnya.
Laki-laki itu spontan berdiri. Terus menatap Aretha. Antara percaya tak percaya, tatapan keduanya memiliki makna yang sama. Seperti melihat sesuatu yang ghaib.
" Aretha ? "
Cuma dia yang panggil aku dengan lengkap.
Nggak salah...
Aku nggak bermimpi.
Itu dia !!!
" Bro... Siapa itu cewek ? Kamu kenal ? "
Tanya seorang laki-laki muda yang lain, yang duduk berhadapan dengan laki-laki muda yang baru saja berdiri tersebut.
" K-kamu !!! Kamu... Ditto ???? "
Mendadak Zoya sudah berada di sisi Aretha dan berseru. Sang laki-laki menatap Aretha dan Zoya bergantian.
" Zoya ??? "
" Hah !! Bener kan, kamu Ditto ! Re, Ditto ! "
Aretha masih terdiam. Wajah nya yang sempat pucat, berangsur-angsur terlihat tenang. Namun tatapan matanya penuh kecurigaan. Sang laki-laki benar adalah Ditto. Teman sekolah di SMU Aretha dan Zoya. 2 teman Ditto masih bingung dengan apa yang terjadi.
Aretha mengajukan pertanyaan dengan nada sengit.
Ditto mulai menguasai diri, menghilangkan keterkejutannya. Dan sangat terlihat jelas, ia memaksakan diri untuk tersenyum.
" Sorry ya, aku ada urusan sebentar. "
Ditto meminta ijin kepada kedua temannya. Mereka hanya menganggukkan kepala. Meski terlihat dari ekspresi wajah mereka, masih penasaran.
" Ayo, kita cari tempat buat ngobrol. "
Ajak Ditto sembari menggandeng tangan Aretha. Zoya mengekor dari belakang. Aretha terus menatap Ditto. Memperhatikan nya dari ujung kaki sampai kepala.
Dia nggak berubah sama sekali.
Wajah babyface nya, kulitnya yang kecoklatan, dan cara bicaranya yang selalu sopan.
Cuma... dia sekarang lebih tinggian deh.
Oh iya, rambutnya... rambutnya sekarang lebih manly ya, agak gondrong.
Jelaslah... dulu kan kita masih pake abu-abu, mana boleh gondrong.
Sekarang dia pasti kuliah kan... kalo dia nerusin sekolah...
Dia nerusin sekolahnya kan ?...
" Zoy, tolong pesen kopi hitam manis, dan cappuchino ya. Kamu pesen apa aja silahkan, aku yang bayar. "
Kata Ditto begitu berhenti berjalan tepat di pintu masuk coffe beans.
__ADS_1
" Oh, okey... "
Dan Zoya pun melangkah masuk terlebih dahulu untuk memesan. Ditto membawa Aretha memilih tempat duduk tepat di sudut ruangan.
" Duduklah... "
Ditto melepaskan gandengannya. Mempersilahkan Aretha duduk, dan ia memilih tempat duduk yang berhadapan tepat dengan Aretha.
" Gimana kabarmu, Re ? "
" Gimana dengan kabarmu ? "
" Kamu ini... Ditanya kok balik nanya. "
" Kamu tau, aku nggak suka basa-basi. "
" Ah iya, betul... Kamu nggak berubah ya, to the point ! "
" Jelaskan semuanya ! "
" Sabarlah, aku punya banyak waktu kok. Kopi aja masih belum dateng kan... "
Ditto menatapnya sambil tersenyum. Aretha membuang muka, mengalihkan pandangannya ke arah Zoya yang masih mengantri untuk memesan minuman.
" Sara ? "
Aretha langsung menoleh, melihat ke arah Ditto kembali. Lagi, Aretha menatapnya dengan curiga dan penuh selidik.
" Jujur sama aku, Dit. Kemana kamu selama ini setelah kejadian itu, dan apa tujuan mu sekarang tau-tau ada disini ? "
Ditto tersenyum simpul. Zoya datang dengan membawa pesanan minuman.
" Cappuchino mu, Dit... "
Ujar Zoya meletakkan secangkir cappuchino di hadapan Ditto.
" Thanks... "
Memilih duduk di sebelah Aretha dan meletakkan secangkir kopi hitam di hadapan Aretha, Zoya memperhatikan Ditto.
" Ga nyangka ya... Sekian lama, masih bisa ketemu kamu lagi, Dit. Gimana kabar mu ? "
" Alhamdulillah... Baik kok, kamu ? Masih suka punya banyak cowok ? "
" Hehehe... Masih inget aja sih ! Nggak, udah nggak kok... sekarang lebih fokus buat kuliah nih, Dit. Sibuk apa kamu sekarang ? "
" Aku kuliah juga... Tapi telat masuk kuliah, baru tahun lalu aku masuk. Lulus SMA kan juga telat... "
" Karena luka mu kah ? "
Pertanyaan Zoya membuat suasana mendadak menjadi tegang. Aretha langsung melihat kearah pinggang Ditto. Ditto sendiri secara spontan menyentuh pinggangnya pula.
" Jawab pertanyaan ku tadi, Dit... "
Kata Aretha dengan tegas, seperti seorang polisi yang sedang menginterogasi penjahat.
Apa maunya ?
Hilang gitu aja, dan tau-tau nongol tanpa berita apa-apa.
Kalo cuma lanjutin hidup tanpa harapan akan sesuatu, nggak masalah...
Aku bisa tutup mata dan tutup mulut soal dia.
Tapi kalo punya maksud yang kayak aku curigain, aku nggak akan tinggal diam.
__ADS_1
Dendamkah kamu, Dit ???