AKU DAN CINTA SAUDARIKU

AKU DAN CINTA SAUDARIKU
BAB 70


__ADS_3

Aretha menatap ketiga sahabatnya satu persatu dengan tatapan menyelidik. Jarinya mengetuk meja di samping tempat tidurnya beberapa kali. Ada satu tarikan tajam di sudut bibirnya. Aura yang terpancarpun terasa menyeramkan.


" Re... Ayolah, itu bukan salah ku lho... "


Kata Nasya membela diri.


" Aku juga nggak salah, kan ? "


Sambung Ella sembari mengangkat bahu.


" Terus aku yang salah ?! "


Ucap Zoya merasa tersinggung.


" Nih, aku dijemput kakakku, jadi aku nggak nganterin kamu pulang. Aku sendiri nggak kuat nyetir. "


Jelas Nasya.


" Aku nggak mau tau alasan kalian, yang aku mau tau... Siapa yang nyuruh Ryu nganter aku pulang ?! "


Aretha tampak kesal.


" Zoya ! "


" Zoya ! "


Tunjuk Nasya dan Ella bersamaan.


" Isshhh... Pengkhianat... "


Gerutu Zoya.


Nasya dan Ella cengar-cengir mendapati Zoya yang melotot kesal ke arah mereka.


" Re, aku bisa jelasin. Beneran, bukan mau aku ninggalin kamu dan nitipin kamu ke Ryu. Cuma malam itu, kakaknya Nasya kan ceramah tuh, Ryu ikut ceramah juga. Kamu tau kan, kita-kita ini mana mau diceramahin, suka mendadak sakit kepala. Jadi... "


" Zoy, please deh ! Kamu tau kan, aku ini lagi nggak bisa deket-deket sama Ryu. Sara itu yang paling aku takuti, kalo-kalo dia salah paham soal aku dan Ryu. "


Aretha memotong pembelaan diri dari Zoya. Dengan nada suara setenang mungkin, ia memberikan penjelasannya.


" Aku tau... Sorry. "


Ucap Zoya dengan wajah sedih karena perasaan bersalahnya.


" Aku tuh capek hidup kayak gini. Aku cuma pingin hidup normal, nggak kuatir apa-apa. Aku deket sama siapa, aku jalan sama siapa, aku pingin bebas. "


" Sorry, Re... Sorry banget. "


Kata Zoya.


" Aku tau, tapi, Re... Ryu begitu sayang sama kamu. Dia serius peduli padamu. Kenapa kamu nggak jujur aja pada dia ? Siapa tau, dia malah bisa bantu kamu selesaiin masalah kamu ini. "


Kata Ella.


" Betul kata Ella. Nggak ada salahnya kan ? Kamu jangan terlalu berpikir negatif duluan pada Ryu. "


Sambung Nasya.


" Nggak... Sara itu urusanku pribadi. Udahlah. Nggak usah dibahas lagi soal Sara. Intinya, tolong bantu aku. Buat saat ini, aku cuma mau Ryu jauh dariku. "


Sahut Aretha.


" Okey... Atur aja. "


Timpal Ella, akhirnya.


" Ditto, gimana soal Ditto ? Sara menghindarinya terus. Padahal udah ada sebulan lebih sejak kejadian itu. "


Kata Nasya tiba-tiba.


" Iya ya. Ditto hampir-hampir putus asa, Re. "


" Entahlah... Apa yang aku harapkan jauh dari kenyataannya. Pikirku, Sara akan mencoba menerima Ditto setelah apa yang dilakukan Ditto. Tapi... Sara malah semakin membenci Ditto. Parah... "


Aretha menjawab dengan tatapan matanya yang menerawang jauh ke depan.


" Mmm, terus... Apa yang terjadi semalem ? "


Dengan hati-hati dan penuh rasa ingin tahu, Ella pun bertanya kepada Aretha.


Dan ternyata, pertanyaan dari Ella itu mewakili pertanyaan yang ingin diajukan oleh Zoya dan Nasya.


Keduanya langsung menatap Aretha dengan tatapan penasaran sama dengan Ella.


Aretha menghela nafas panjang, kemudian menatap wajah ketiga sahabatnya dengan kalem.


" Aku... "


Baru satu patah kata Aretha berucap, ketiga temannya tampak semakin fokus ke arahnya dan terlihat serius.


" Nggak inget soal semalem. "


Sambung Aretha dengan senyum yang mengembang.


" Yeee... Kali ada apa gitu ! "


" Iiisssshhhh... "


" Huuu, kirain ! "


Protes ketiganya yang langsung tampak kesal, merasa dipermainkan oleh Aretha.


" Hehehe... "


Sambung Aretha terkekeh.


Bersamaan, ketiganya langsung melempar bantal ke arah Aretha. Aretha semakin tertawa terbahak-bahak menanggapi rasa kesal para sahabatnya tersebut.


KKRRUUUUKKK !!!


Keempatnya berhenti seketika begitu mendengar suara perut keroncongan.


" Aku lapar... "


Kata Aretha sembari memegangi perutnya.


" Udah waktunya jam makan siang juga, yuk, pesen sesuatu via online. "


Usul Nasya yang sempat melirik ke arah jam dinding.

__ADS_1


" Boleh juga.... "


Sahut Zoya.


" Pake aplikasi online aku aja, lagi banyak voucher diskon sama free ongkir nih. "


Kata Ella, dan langsung mengeluarkan handphone nya dari dalam tas ransel mininya.


TING TONG !! TING TONG !!


Belum sampai Ella sempat menyalakan handphone nya, bel pintu apartemen berbunyi.


" Siapa yang datang ? "


Tanya Aretha dengan kening yang berkerut.


TING TONG !! TING TONG !!


Kembali bel berbunyi bersamaan dengan gelengan kepala ketiga sahabat Aretha.


" Kamu nggak punya janji tamu yang mau datang ? "


Tanya Ella kepada Aretha.


Aretha menggelengkan kepala perlahan. Nasya beranjak bangun, setengah berlari keluar kamar dan berinisiatif membuka pintu apartemen.


TING !! KLIKK !!


" Ya ? "


Sambut Nasya sembari membuka kunci pintu sebelum bel selesai berbunyi.


" Sara ?? "


Ucap Nasya mengenali sosok tamu di hadapannya.


Sara tersenyum dengan manisnya menyambut mimik terkejut di wajah Nasya.


Dilihat oleh Nasya, Sara menenteng sebuah rantang kotak bersusun empat.


" Iya, aku bawa makanan dari Bunda buat Rere. Boleh aku masuk ? "


Sahut Sara yang langsung melangkah masuk tanpa menunggu jawaban.


Nasya menyingkir dari pintu dan memberi jalan untuk Sara, barulah setelahnya ia menutup pintu kembali dan menguncinya.


" Rere di kamar ? "


Tanya Sara begitu masuk ke dalam apartemen dan melihat ke sekeliling tak menemukan sosok yang dicarinya.


" Iya, baru bangun tidur. "


Jawab Nasya.


" Aku langsung ke dapur dulu aja. "


Kata Sara cepat.


Iapun langsung berjalan melewati kamar Aretha dengan pintu yang setengah terbuka.


" Sara ? "


Kata Aretha yang melihat Sara berjalan melewati pintu kamarnya.


" Sara bawa makanan dari Bunda katanya. Dia ke dapur dulu. "


Jelas Nasya sambil kembali duduk di atas tempat tidur Aretha.


" Please, jangan pada pulang. Temenin aku. "


Kata Aretha dengan tatapan memohon.


Ketiga sahabatnya saling tukar pandang. Dan setelahnya, mereka menggeleng perlahan.


" Pasti ada yang mau dia omongin, kamu nggak akan kenapa-napa, Re. "


Kata Ella.


" Kalopun ada apa-apa, telpon kita langsung. Kita tunggu di tempat parkiran aja, jadi bisa langsung gercep datang. "


Usul Zoya.


" Bener ya, janji tunggu di parkiran. "


Sahut Aretha.


" Jangan takut. Nih, pegang hapemu. "


Sambung Zoya menenangkan.


Zoyapun segera menyambar handphone Aretha di atas meja kecil yang terletak tepat di sisi tempat tidur. Disodorkannya handphone tersebut ke sang empunya.


Aretha menerima dan menyelipkannya di bawah bantal. Kembali ia melihat ke arah pintu kamarnya. Diikuti ketiga sahabatnya.


" Dia emang jago akting, pura-pura nggak ada yang terjadi atau... dia emang orang yang segampang itu lupa atas apa yang terjadi ? "


Kata Ella.


" Entahlah... "


Jawab Aretha lirih dengan nada suara tak yakin.


" Dia orang yang aneh tapi luar biasa. "


Kata Zoya.


" Maksudmu ?? "


Kompak, yang lain menimpali ucapan Zoya sembari mengalihkan pandangan ke arah Zoya seketika.


Zoya membalas pandangan ketiga sahabatnya dengan mimik wajah serius.


" Setelah apa yang terjadi, dia bisa dengan normalnya bersikap kayak gitu. Kayak biasa-biasa aja, gitu ? Padahal, kalo orang nornal, kayak kita kita ini, apa bisa punya sikap senormal itu ? "


Kata Zoya setengah berbisik, sambil sesekali melirik ke arah pintu kamar.


" Iya... Betul juga. "


Timpal Nasya dan Aretha hampir bersamaan.

__ADS_1


" Aku pikir, dia itu... "


" Makanlah. Sup jagung lebih enak dimakan saat masih hangat. "


Sara memasuki kamar dengan membawa sebuah mangkuk dan membuat Ella tidak melanjutkan perkataannya.


Sara mendekat ke tempat tidur dan kemudian menyodorkan mangkuk tersebut kepada Aretha.


Aretha menerimanya dengan canggung. Ella, Zoya dan Nasya saling bertukar pandang, dan sesaat kemudian secara bersamaan turun dari tempat tidur.


" Aku pulang dulu, ya. Ntar malem maen lagi. Mau aku bawain apa ? "


Kata Zoya sambil berdiri, bersiap keluar kamar.


" Apa aja. "


Jawab Aretha singkat.


" Kita juga pulang dulu, deh. Udah ada Sara disini. Kamu ada yang nemenin. "


Timpal Ella.


" Okey, thanks ya, gengs ! "


Sahut Aretha dengan sikap yang sesantai mungkin, mencoba menutupi ketidaknyamanannya karena tatapan Sara.


Sepeninggal ketiga sahabatnya, Aretha segera menyantap sup jagung buatan sang ibunda.


Sara mengambil tempat, duduk di sisi tempat tidur Aretha. Kedua matanya yang indah memperhatikan gerak gerik Aretha.


" Eemmm... Sup jagung bunda emang paling enak, ya... Udah berapa lama ya, aku nggak pulang kerumah ?... Rasanya jadi pingin meluk bunda. "


Kata Aretha yang tampak sangat menikmati apa yang dimakannya tersebut.


" Pulanglah, Re... "


Kata Sara lembut.


Dengan penuh perhatian, jari nya meraih rambut panjang Aretha yang sebagian tergerai ke depan. Kemudian ia merapikannya dengan hati-hati.


Aretha terdiam, lalu menatap ke arah Sara. Sara membalas tatapannya dengan penuh senyuman.


" Sesekali, saat senggang atau kalo lagi libur, mampirlah kerumah... Bunda pasti senang. Ayah apalagi. Dan juga... aku. "


Sambung Sara masih dengan penuh kelembutan.


Ciri khas Sara saat berbicara dengannya, selalu terdengar lembut dan wajahnya selalu terlihat penuh perhatian.


" Ya... Insha Allah. "


Jawab Aretha singkat.


Kemudian, ia melanjutkan menghabiskan sup jagung di tangannya tanpa mempedulikan Sara yang masih membelai rambutnya dengan perlahan.


Sup jagungpun habis tak tersisa. Aretha meletakkan mangkuk yang telah kosong ke atas meja di sisi tempat tidurnya.


" Aku ambilin air putih ya. "


Kata Sara yang segera bangun dan setengah berlari keluar kamar.


" Huufffttt... "


Aretha menghela nafas.


Ditengadahkannya wajahnya ke arah langit-langit kamar. Untuk sejenak, dia terus menatap ke atas dengan melamun.


Bener-bener nggak nyaman banget ngeliat Sara, apalagi aku ngerasa bersalah jadinya.


Dibuat dari apa hatinya itu ya ?...


Batu banget, nggak tergoyahkan sama sekali kayaknya pada Ditto...


Kalo cewek normal, pastinya ngerasa bahagia banget dimanjain segitunya, diperhatiin segalanya, dicintai sepenuh hati sama cowok seganteng, sekaya, sepinter Ditto.


Bahkan Ditto bener-bener keliatan banget tergila-gila pada Sara.


Di kampus aja, Ditto masuk dalam pilihan cowok populer.


Aku nggak... eehhh...


Apa ini ?...


Mataku kok agak nge blur gini ???


Aretha mengedipkan matanya beberapa kali, kemudian menguceknya sesaat.


Koq jadi gerah begini...


Apa AC mati ya ?...


Keluh Aretha dalam hati saat perlahan merasakan perubahan suhu pada tubuhnya secara bertahap.


Benar saja, wajahnya tampak mulai kemerahan. Seperti orang yang berada di bawah terik sinar matahari seharian.


Aretha menoleh ke arah AC kamarnya, dan dia terlihat kebingungan.


AC nya jalan...


Tapi kenapa gerah begini ???


Batinnya semakin penasaran.


Secara spontan, Aretha mulai membuka kancing baju piyamanya satu persatu dengan terburu-buru.


" Kenapa, Re ?... "


Muncul Sara dengan membawa segelas air putih ditangannya dan mendekat.


" Gerah ?... Mmmm, sini aku bantu. "


Ucap Sara sambil meletakkan air putih itu di atas meja.


Tangannya terulur ke arah kancing baju Aretha. Aretha menatap ke depan, melihat wajah Sara. Dan keningnya mulai berkerut.


" Kamu. Apa yang kamu... "


" Kenapa ? Kamu marah ? Aku cuma ngelakuin apa yang kamu lakuin ke aku. Salahkah ? "


Potong Sara dengan nada suara yang kalem dan sembari menyunggingkan senyum kecil di sudut bibirnya.

__ADS_1


Sialan !!!


Aku terjebak !!


__ADS_2