
Aretha menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan matanya yang sendu. Pikirannya berputar-putar antara sosok Sara, Ditto, dan juga Ryuzaki.
Untuk sesaat, dia menarik nafas panjang dan menahannya. Kemudian, dengan perlahan, menghembuskannya. Seolah-olah, ada sebuah beban berat yang ikut menyeruak perlahan pula dari hembusan nafasnya tadi.
Maafin aku, Sara...
Aku nggak tau lagi harus cari solusinya soal hubungan kita yang aneh ini.
Aku nggak bermaksud jahat kok.
Cuma pingin kita berdua bisa jalani kehidupan kita lebih baik lagi, salah... lebih normal lagi.
" Sudahlah... Nggak usah dipikirin banget-banget, Re. Aku yakin, semua bakal baik-baik aja kok. Kamu, Sara, dan Ditto, nggak akan jadi masalah besar. "
" Jangan sok tau, Zoy... Kita semua tau, kayak apa Sara itu. Pendiam tapi mengerikan. Apa udah lupa yang lalu, hah ? "
" Bener kata Ella, Sara itu psikopat. Apa yang kita pikirin, belum tentu sama dengan apa yang dia pikirin. Mending siapin rencana B, buat prepare aja... "
Aretha melirik ke arah Nasya untuk sesaat. Menatap sahabatnya tersebut dengan serius.
" Jangan menatapku kayak gitu, aku nggak suka tatapan serius mu itu. Tajam menusuk. Serasa aku punya banyak salah jadinya. "
Kata Nasya seraya memalingkan wajah Aretha ke arah lain.
" Kamu emang banyak salah, Nas... Hehehe... "
Ledek Zoya sembari terkekeh.
" Aku lapar... "
Tanpa menghiraukan para sahabatnya yang mulai bercanda, Aretha bangun dari posisi rebahannya di sofa panjang dengan lapisan kulit berwarna hitam.
" Mau pesen via aplikasi apa masak sendiri ? "
Tanya Ella cepat, saat melihat Aretha beranjak.
" Enaknya ? "
Sahut Aretha balik bertanya ke arah Ella.
" Pesen aja, lebih cepat. Eh, aku punya voucher diskon lho di aplikasi online lhoo... "
Sahut Zoya yang langsung mengambil handphone nya dari dalam tas ranselnya yang tergeletak di atas meja.
Aretha mengurungkan niatnya untuk berjalan ke arah dapur. Ia kembali duduk sambil melihat ke arah Zoya yang mulai sibuk dengan handphone nya.
" Ayam bakar ya ? Okey ? "
Setelah menunggu untuk sesaat, Zoya menunjukkan menu makanan yang dipilihnya dari aplikasi online kepada yang lain.
" Nasgor ajalah... Enak ujan-ujan gini makan nasgor yang pedes, lalu minumnya jeruk anget. "
Kata Nasya.
" Yang mana nih ? "
Zoya menjadi bingung.
__ADS_1
" Ya udah, Nasya pesenin nasgor, kita ayam bakar. Iya kan, La ? "
Jawab Aretha memutuskan sambil melihat ke arah Ella.
" Boleh, buat minumannya, aku mau jeruk anget kayak Nasya ya. "
" Sip, ayam bakar tiga, nasgor satu, jeruk anget empat, deal nih ya ? "
Zoya menegaskan.
" Iya. "
" Heem. "
" Okey ! "
Jawab yang lain serempak.
Dan Zoya pun mulai membuat pesanan.
Sementara itu, Aretha menaikkan kedua kakinya ke atas sofa dan duduk bersila.
" Kamu masih aja kuatir soal Sara, hem ? "
Ella bertanya sembari berpindah tempat duduknya lebih merapat ke arah Aretha.
" Aku tunggu makanan di parkiran ya, sekalian cek mobilku, aku lupa, udah aku kunci apa belum ya... "
Kata Zoya mendahului Aretha membuka mulut berniat menjawab pertanyaan dari Ella.
" Ya... "
" Aku temenin Zoya, ah ! "
Ella ikut beranjak dari duduknya dan segera mengejar Zoya yang sudah membuka pintu keluar.
Aretha dan Nasya mengalihkan pandangan ke arah Ella yang terburu-buru mengikuti langkah Zoya.
Untuk sesaat setelah pintu tertutup kembali, Aretha dan Nasya terdiam.
Aretha diam dalam lamunannya, sedangkan Nasya diam dalam kesibukannya melihat beberapa notifikasi pesan pada handphonenya.
" Aku ngerasa bersalah, deh. Apa ya yang terjadi malam ini ? Sara pasti ngamuk. Aku jahat nggak sih ? "
Aretha membuka percakapan.
" Pasti ! Tapi Ditto kan ngelakuin juga karena sayang, nggak main-main. Apalagi ini kan usul mu sendiri, Ditto baru mengiyakan, nggak ada unsur kejahatan. Mmm, kalo buat Sara sih, dia pasti ngerasa dijahatin ya ? "
Sambung Nasya sembari masih sibuk dengan handphonenya.
" Itulah... Kenapa aku ngerasa bersalah. Sara kan nggak cinta sama Ditto. Dan posisinya sekarang, dia nggak berdaya. "
Timpal Aretha dengan nada suara yang melemah.
Mendengar nada suara Aretha, Nasya melirik sekilas ke arah sahabatnya tersebut. Tampak olehnya, wajah cantik Aretha yang terlihat lesu dan penuh rasa bersalah.
" Re... Apapun yang terjadi nanti, aku bakal terus support kamu. Sudahlah... Jangan terus ngerasa bersalah kayak gini. Semua udah telanjur terjadi, mau gimana lagi ? Apa kamu mau sekarang ini kita ke tempat Ditto ? Ayo ! Aku oke-oke aja... "
__ADS_1
Kata Nasya sambil meletakkan handphonenya dan menggenggam tangan Aretha, sebagai tanda dirinya mendukung Aretha sepenuhnya.
Melihat kesungguhan yang tampak jelas di wajah Nasya, Aretha memberikan sebuah senyuman kecil di sudut bibirnya.
" Thanks... "
Ucap Aretha.
" Aku emang ngerasa bersalah... Tapi aku nggak mau gagalin rencana yang aku buat sendiri. Aku bener-bener berharap, Ditto nggak ngecewain aku. "
Imbuh Aretha dengan tatapan penuh asa.
" Ya, semoga Ditto tepat janji, nggak kabur gitu aja setelah dapet enaknya. "
Sahut Nasya dengan nada sedikit sinis.
" Huufftthh... "
Aretha menghela nafas seraya menyandarkan tubuhnya ke belakang. Ia menengadahkan kepala nya ke atas, menatap langit-langit ruangan yang bak lukisan awan putih dan langit biru itu.
Ingatannya kembali pada saat beberapa waktu lalu, dimana ia masih tinggal disini bersama Ryuzaki. Sosoknya dan sang suami yang begitu sibuk dan penuh canda melukis langit-langit tersebut, bagaikan sebuah video yang diputar ulang di matanya kini.
" Ditto... Aku yakin dia pasti bertanggungjawab. Aku liat, tatapan matanya kepada Sara, masih tatapan mata yang sama kayak masih sekolah dulu. Padahal Ditto sudah hampir meninggal karena Sara. "
Kata Aretha dengan suara setengah menggumam.
" Iya, aku jadi heran. Apa yang bikin Ditto segitunya cinta pada Sara ya ? Nyawa hampir melayang, tapi cintanya nggak hilang. "
Timpal Nasya.
" Kamu nggak tau aja, banyak yang suka sama Sara. Liat aja, dia itu cantik, anggun, sopan, pinter, mmm... apalagi ya ?... Ah iya, Sara itu misterius, bikin orang penasaran. Kayak mmm... guci dari jepang atau china yang harganya selangit. Dilihat nya indah, dan bikin orang pingin tau apa arti dari ukiran guci itu, tapi hati-hati banget pas pingin memegangnya, takut pecah. "
Jawab Aretha yang masih menatap langit-langit ruangan.
Nasya terdiam mendengar jawaban Aretha. Untuk sejenak, keduanya terdiam. Masing-masing tampak larut dalam lamunan.
Aretha memejamkan matanya dengan perlahan. Entah kenapa, tiba-tiba ia merasa lelah sekarang.
Nasya mengambil handphone nya kembali. Membukanya dan jari-jarinya mulai sibuk dengan handphone tersebut.
" Re, kemana si Ella sama Zoya nih ? Lama bener, ih ! "
Kata Nasya sambil melihat ke arah pintu.
Aretha masih diam membisu. Tak berniat menanggapi apa yang dikatakan oleh Nasya.
Merasa tak dihiraukan, Nasya mengalihkan pandangannya ke arah Aretha.
Apa Rere udah tidur ?
Secepat itu ?
Saking capeknya mikirin Sara sama Ditto kali ya...
Biarin deh, mendingan aku nggak bangunin dia, biar dia bisa istirahat sebentar sambil nunggu makanan datang.
Ucap Nasya dalam hati, mencoba mengerti apa yang sedang dipikirkan sahabatnya tersebut.
__ADS_1
Dan dengan tenang, Nasya kembali sibuk dengan handphonenya.