
Ryuzaki menatap istrinya. Lebih tepat menyelidikinya lewat tatapan mata. Aretha membuang muka. Tidak tahan dengan tatapan mata sang suami.
" Siapa Ditto ? Ada apa dengan kamu, Sara, dan Ditto ? Apa yang terjadi sebenarnya ? Apa maksud obrolan kalian tentang kalimat Ditto masih hidup ? Dan beneran Sara cemburu karena Ditto cinta sama kamu ? Apa maksud Sara dengan Ditto pingin balas dendam sama dia ? Apa yang dilakukan Sara pada Ditto ? Apa kamu cinta sama Ditto ? Apa kalian sempat pacaran ??? "
Ryuzaki memberondong Aretha dengan banyak pertanyaan yang dipendamnya saat berkunjung menengok Sara yang sedang sakit.
" Re, jangan buang muka ! Jawab aku ! "
Ryuzaki memaksa. Aretha mengambil secangkir kopi hitamnya di atas meja. Meminumnya dengan tenang.
" Ditto temen SMU ku, kami sekelas. Waktu itu Sara masih kelas 3 SMP, dan kami kelas 2 SMU. Dari kelas 1, aku dan Ditto emang dekat. Tapi kami nggak pacaran. Aku suka karakternya yang kuat. Ditto macho, selalu ngelakuin sesuatu yang pasti dan setiap ngelakuin sesuatu itu nggak pernah setengah-setengah. Kami selalu bersaing dalam segala hal. Pelajaran, olahraga, dan prestasi yang lain juga. "
Aretha menghela napasnya. Ryuzaki masih fokus menyimaknya.
" Aku pikir, aku mulai jatuh cinta. Baru sekali itu ada cowok yang bisa ngalahin aku dalam segala hal, dan cowok itu dekat pula dengan ku. Persaingan kami malah bikin kami lebih dekat. Ikut les bareng, lomba ini itu bareng, dan kami selalu dijadiin pasangan atau tim untuk beberapa tugas sekolah. "
Ada rasa cemburu di dada Ryuzaki saat melihat sebuah sinar dalam mata Aretha kala menyebut nama Ditto. Ya, Ryuzaki cemburu.
" Secara ya, banyak yang naksir Ditto. Cakep, pinter, mmm... namanya juga idola cewek-cewek. Semua pikir, akulah yang pantes jadi pacar Ditto. Dan emang, semua ngedukung kami buat jadian. "
Aretha menghentikan ceritanya. Pandangannya menerawang ke depan, setengah melamun. Sekilas kenangan akan Ditto kembali menari-nari di matanya. Ryuzaki semakin cemburu.
" Lalu ??? "
Tanya Ryuzaki dengan suara yang ditekan dan terdengar berat. Buyarlah lamunan Aretha. Matanya menatap Ryuzaki.
Cemburu ???
" Hari itu hari Sabtu, malam minggu. Aku lagi dirumah bantuin bunda bikin kue. Tumben, Sara belum pulang sekolah. Bunda kuatir, jadi aku pergi cari Sara. Tapi di sekolahan dia, satpam bilang, dia udah pulang, dijemput seorang cowok. Dari ciri-ciri yang disebutkan, aku tebak itu Ditto. Beberapa kali tlpon, sms, dan chat ke Ditto dan Sara, tapi zonk, ga ada sahutan. "
" Ditto nyulik Sara, maksudmu ? "
" Waktu itu aku nggak tau cerita pastinya. Cuma pas aku mau arah pulang abis muter nyari Sara nggak ketemu juga, eh aku ketemu sama Hasan, temen basket Ditto. Hasan bilang, dia baru aja ketemu Ditto di sekolahan kami, jalan sama cewek pake seragam SMP. Fix, pikir ku, itu Sara. Udah aja, aku langsung ke sekolahan ku. "
" Karena udah malam juga, sekolahan juga udah mulai sepi kan. Yang ku tuju, lapangan basket. Di ruang ganti, Ditto udah tergeletak disana, pingsan. Pinggangnya tertusuk pisau lipat, dan aku yakin, itu pisau milik Sara.... '
" Kamu lapor polisi ? '
__ADS_1
Tanya Ryuzaki dengan penasaran. Aretha kembali seperti melamun, hanya sesaat. Kemudian tersenyum pahit.
" Kalo aku lapor polisi... Apa Sara akan berubah lebih baik lagi atau... malah lebih buruk ? "
" Tapi kamu lapor polisi nggak ? "
" Nggak... Aku ambil pisaunya. Aku panggil satpam di depan, dan manggil ambulance. Aku bilang, aku nggak tau apa-apa. "
" Ditto nggak cerita apa-apa ? "
" Sepertinya nggak. Karena setelah malam itu, Ditto kayak ilang gitu aja. Dan Sara juga nggak ada yang keliatan gimana. Pas aku pulang dari nganter Ditto ke RS, Sara udah ada di rumah. Dan dia bersikap biasa aja. Nggak ada yang aneh atau mencurigakan dari dia. Aku juga nggak berani bertanya tentang pisau itu. Aku takut akan jawabannya. "
" Kenapa takut ? "
" Aku takut, kalo apa yang ada di pikiranku itu benar adanya. Aku pasti akan berubah sikap ke dia, dan aku yakin... Sara akan lebih posesif lagi. "
" Tapi kamu seharusnya nggak diam aja, Re... "
" Ya, aku tau. Tapi aku nggak bisa ngeliat Sara makin hancur. Dia udah banyak kecewa, banyak menderita karena orang-orang terdekatnya. "
" Ya, aku tau... aku salah, aku tau itu. "
" Semua udah terjadi. Belajarlah menjauh dari Sara. Belajarlah membuat Sara bisa berdiri sendiri. Jangan selalu mengikuti apa yang dia mau. Ada waktunya kalian punya kehidupan kalian masing-masing. "
" Ngomong itu emang paling gampang.... "
" Tapi sekarang, kamu kan emang istriku, kehidupan mu harusnya berubah kan, ga boleh merluin Sara lagi, tapi aku. "
" Kamu nantangin Sara ? "
" Gimana bisa bilang nantangin sih ? Kamu itu sekarang istriku, milikku. Sara cuma sebatas orang luar dalam pernikahan kita. "
Kata Ryuzaki sambil mencubit dagu lancip Aretha. Aretha merasa wajahnya terasa panas. Terlihat kemerahan di pipinya. Melihat ekspresi Aretha, Ryuzaki tersenyum kecil.
" Liat deh... orang yang di depan ku sekarang ini bikin aku bingung. Tadiannya, aku pikir kamu itu cowok yang cantik, hehehe... "
Mendengar perkataan Ryuzaki, Aretha hanya meliriknya sesaat. Ryuzaki duduk mendekat. Kemudian memperhatikan Aretha dengan fokus sembari mengernyitkan keningnya. Aretha menjadi merasa canggung.
__ADS_1
" Tapi setelah kita nikah, aku pikir kamu itu cewek yang macho, tapi itu cuma tampilan luarmu aja. Dalem nya tetep cewek-cewek juga, hehehe.... "
Ryuzaki meledek istrinya. Aretha membuang muka dengan kesal.
" Isshhh.... "
" Oh iya, aku kepo lagi deh ! "
" Apaan ? "
" Pisau Sara itu... ada dimana sekarang ? "
" Aku buang, pas aku minggat pertama kali dari rumah 3 taun lalu. Sara mengakui semuanya, semua yang udah dia lakuin. Aku ngerasa... itu bikin aku kecewa berat. Akhirnya, mau nggak mau... Aku harus akui, Sara mengerikan juga. "
" Oooh... jadi kamu hidup di luar karena itu ? "
" Hemm... "
" Hebat juga, biasa hidup enak, bisa ngejalani hidup sebagai pekerja keras. Aku salut... "
" Mau nggak mau kan ? Aku butuh makan, butuh bayar sewa kontrakan. Bunda sih selalu datang begitu tau dimana alamatku, ngasih uang, kirim ini itu. Tapi aku nggak mau terima. "
" Moge mu ? "
" Ulang tahun ku tepat di tahun pertama aku kabur, Bunda belum aku mobil, tapi aku jual, tukar tambah dengan moge itu. Lumayan buat modal balap liar. Kalo menang, hadiahnya lumayan, bisa buat makan sebulan. "
" Sebenernya... apa alasan Sara menusuk Ditto ? "
" Aku pikir alasannya sama kayak dia nyakitin Oren, Bunny, dan Sweetie. Dia nggak mau berbagi atas aku dengan yang lain. "
" Bener-bener .... Parah ! "
" Tapi... ternyata salah. Apa yang aku pikirin, apa yang Sara pikirin tentang Ditto dan perasaannya... Itu salah ! Bener-bener salah... SALAH BESAR !!! "
Mata Aretha seperti ingin keluar saat mengucapkan kata akhir dari kalimatnya. Wajahnya tampak tegang. Ryuzaki kebingungan.
" Salah besar ??? "
__ADS_1