
" Uugghh.... "
Aretha membuka matanya perlahan. Terasa pening kepalanya. Samar-samar mulai terlihat langit-langit yang berwarna putih terang.
Dimana ini ?...
Bau... obat-obatan...
Badanku.... sakit semua.
" Re... Kamu sudah sadar ? Nak... "
Suara penuh kecemasan dari Bunda membuat Aretha memaksakan diri menoleh ke sisi kanannya.
" Bun.. da... "
Ucap Aretha lirih dan kesakitan.
" Alhamdulillah, akhirnya.... Sudah sudah, jangan paksakan diri buat bangun. Kamu masih lemah. "
Kata Bunda dengan raut wajah yang berganti senang.
Kemudian Bunda menggenggam jari jemari Aretha dengan penuh kehangatan. Mata Bunda tampak sendu dan sedih. Tapi ada sebuah senyum yang mengembang untuk Aretha.
" Sayang, Bunda bersyukur banget kamu akhirnya sadar. Bunda panggil suster dulu ya, biar cek kondisi kamu sekarang. "
Kata Bunda sambil membelai rambut Aretha penuh kasih sayang.
Aretha mengangguk pelan. Segera setelahnya, Bunda berlari keluar kamar dengan terburu-buru. Sepeninggal Bunda, Aretha memperhatikan sekelilingnya. Dalam penglihatannya, didapatinya ia berada dalam sebuah kamar yang serba putih.
Rumah sakitkah ini ?
Apa yang terjadi ?
Ahh ! Kecelakaan !
Ya, aku kecelakaan bersama Ryu !
Dimana Ryu sekarang ?
Aretha kembali mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tak ada siapa-siapa. Ia merasa penasaran dan sedikit kecewa.
Ryu nggak ada disini...
Apakah dia selamat ?
Ataukah dia....
Nggak ! Nggak !
Dia pasti selamat, kan ?
Dia mungkin ada di luar kamar...
" Ryu.... Ryu.... "
Aretha berusaha berteriak memanggil sang suami, tapi sayangnya dengan kondisinya yang lemah, suara yang keluar dari tenggorokannya lebih ke suara bisikan.
" Lihat, dok ! Anak saya sudah sadar... "
Tiba-tiba Bunda kembali masuk ke kamar, diikuti seorang dokter dan seorang perawat. Ketiganya segera mendekat ke arah Aretha terbaring lemah.
Dengan cekatan, sang dokter langsung memeriksa pupil mata Aretha, membuka mulutnya, dan juga detak jantungnya.
" Apa yang kamu rasakan ? "
Tanya sang dokter dengan sabar.
" Badan saya .... sakit semua.... "
Jawab Aretha masih dengan lemahnya.
" Itu hal yang wajar. Kamu banyak mengalami pendarahan, untung nya nggak ada luka dalam, semua luka luar saja... "
" Ah... "
Lirih Aretha merasa ada yang perih di perutnya saat ia berusaha untuk duduk.
" Hati-hati, luka jahitanmu masih baru. Lebih baik jangan banyak bergerak dulu... "
Saran sang dokter.
Bunda menahan nafas saat sang dokter berhenti bicara. Aretha merasa ada yang aneh dengan raut wajah sang ibu. Seperti tersadar, Aretha langsung membuka selimutnya dan menatap perutnya.
Bagaikan melihat hantu, Aretha syok berat mendapati perutnya yang rata. Ia menarik bagian bawah atasan baju yang dikenakannya. Wajahnya seketika pucat pasi.
" Bunda... Bunda... Perutku.... Perutku.... Bayiku .... "
Dengan berderai airmata, Aretha bertanya kepada sang ibu.
" Maaf... Kami sudah mencoba yang terbaik. Bayimu tak bisa diselamatkan. Ka... "
" Nggak ! Nggak Bundaaaa, Rere mohon, Bundaaaaa !!! "
Entah mendapatkan kekuatan darimana, Aretha yang sebelumnya begitu lemah dan kesakitan, kini menjerit histeris.
__ADS_1
Bunda segera memeluknya, mencoba menenangkannya. Sang dokter dan perawat yang menuliskan laporan perkembangan kesehatan Aretha memilih keluar ruangan.
" Bunda ! Bunda ! Bayi Rere manaaa ?! Bayiku.... "
Aretha terus berteriak, tidak bisa menerima begitu saja apa yang dikatakan sang dokter.
" Sayang.... Sayang.... Bunda tau, bunda tau, ini menyakitkan. Tapi kamu harus kuat. Kamu harus sehat dulu.... Sayang, sayang... Tenanglah... "
Bunda terus memeluk Aretha sambil ikut menangis, merasakan apa yang dirasakan putrinya.
" Ryu mana ?! Ryu mana, Bun ?! Dia ... Ini semua gara-gara dia !! Aku akan bunuh Ryu !! Aku akan .... "
" Ssshhh.... Rere, Rere.... Jangan menyalahkan siapa-siapa. Ryu juga terluka parah. Kalian berdua kecelakaan bersama. Ini sudah takdir, Re. "
" Nggak ! Kalo dia nggak mulai duluan, ini nggak akan terjadi.... Ini.... ini.... "
Belum selesai Aretha bicara, tiba-tiba dia terkulai lemas dalam pelukan Bunda. Pingsan.
" Re... Rere... Allahuakbar.... "
Bunda membaringkan Aretha dengan hati-hati, dan kembali keluar kamar mencari bantuan, memanggil dokter.
TAK LAMA BERSELANG
" Gimana Aretha, Bunda ? Benarkah dia sudah sadar ? "
Tanya Ryuzaki begitu bertemu Bunda di depan ruang rawat inap tempat Aretha dirawat.
" Ya, dia sudah sadar. Tapi dia histeris setelah tau bayinya nggak selamat. Dia pingsan. Sekarang sedang ditangani sama dokter di dalam. "
Jawab Bunda dengan tatapan sendu.
" Ryu boleh masuk ? "
" Masuklah.... Bunda ke kantin dulu ya. "
Sahut Bunda memenuhi permintaan Ryuzaki, kemudian bergegas ke arah kantin rumah sakit.
Entah kenapa, Ryuzaki merasa cemas saat membuka pintu kamar tersebut. Begitu melangkah masuk ke dalam dengan hati-hati, tampak Aretha yang terbaring tak bergerak sedang di periksa oleh dokter.
" Ada apa, dok ? Apa istri saya baik-baik saja ? "
" Tidak apa-apa... Cuma tolong usahakan pasien jangan banyak bergerak dulu ya. Jahitan nya bisa lepas nanti. Dan menyebabkan pendarahan, berbahaya. "
" Ya, dok... "
Sahut Ryuzaki sembari mengangguk.
Sepeninggal dokter, Ryuzaki duduk di sisi ranjang Aretha. Ditatapnya sosok yang terlelap itu penuh hangat. Digenggamnya jari jemari Aretha dengan lembut.
Kata Ryuzaki.
" Apa yang akan terjadi selanjutnya ? Apa kita akan baik-baik saja setelah ini ? Apa kita masih bisa bersama ? .... "
Ryuzaki menghela nafas.
Kini, disentuhnya pipi Aretha dengan lembut. Mengusapnya perlahan. Ryuzaki menunduk, ingin mencium kening istrinya.
Sayangnya, saat jarak antara bibir Ryuzaki dan kening Aretha hanya beberapa sentimeter, Aretha membuka matanya. Dan di tatapan matanya itu penuh dengan kebencian.
" Re, kamu sudah bangun ? "
Ryuzaki mengangkat wajahnya kembali dan tersenyum senang.
" Apa yang kamu lakukan disini ?! "
Aretha balik bertanya dengan nada sengit.
" Rere... "
Lirih Ryuzaki dengan sedih mendapat tanggapan yang mengecewakan.
" Rere ? Kamu panggil aku apa ? "
Sejak dia pulang setelah menghilang, dia nggak pernah memanggilku Rere...
Dia selalu memanggilku dengan nama Aretha.
Dan ini rasanya aneh.
Wajah Aretha penuh tanda tanya dan keningnya berkerut, merasa ada yang aneh baginya dengan cara Ryuzaki menyebut namanya.
Dengan sekuat tenaga, Aretha berusaha untuk duduk. Ryuzaki segera membantunya.
" Iya, aku ingat semuanya sekarang... Aku ingat kalo... "
" Ingatan mu kembali ? Emangnya kamu... Nggak ! Aku nggak ngerti ! Apa maksud mu ? "
Aretha merasa kebingungan mendengar apa yang dikatakan suaminya.
" Maaf, aku nggak pernah kasih tau kamu sebelumnya. Aku kecelakaan sebelumnya, dan aku mengalami amnesia. "
Ryuzakipun menjelaskan.
Pantes... kadang sikapnya terasa aneh dan kaku.
__ADS_1
Tapi aku pikir, karena dia pergi berbulan-bulan itu yang bikin kaku.
Memanggilku pun juga berubah...
Aku sama sekali nggak curiga, kalo dia amnesia.
Aku nggak sangka...
Batin Aretha.
" Kecelakaan kemarin, kepalaku terbentur kemudi dan setelah bangun dari pingsanku, aku mengingat semuanya dengan jelas. Aku.... "
" Ingatan mu dibayar oleh nyawa anak ku ! "
Aretha langsung memotong ucapan suaminya.
" Aku nggak mau kayak gitu juga, tapi apa yang terjadi di luar kendaliku. Kamu yang selalu ingin menang sendiri dan nggak mau mendengar apa yang aku katakan. Kalo saja kamu mau ... "
" Jadi kamu menyalahkan ku ?! "
" Bukan itu maksudku, cobalah buat tenang sekarang. Sudahlah, jangan bahas ini dulu. Perhatikan luka mu itu. Kamu harus bisa menjaga kesehatanmu biar kamu... "
" Aku nggak butuh nasihatmu ! Aku nggak butuh rada pedulimu !!! "
Nada suara Aretha makin meninggi.
" Re, kumohon... Tenanglah... "
Ryuzaki berusaha menenangkan istrinya, ia meraih tangan Aretha. Tapi dengan cepat, Aretha menepiskan tangan suaminya.
" Pergilah ! Aku nggak mau melihatmu ! "
Arethapun mengusir sang suami.
Ryuzaki menatap istrinya dengan sedih dan merasa bersalah. Aretha membuang muka, mengalihkan pandangannya ke arah lain.
" Re, kumohon. Jangan begini. Nggak cuma kamu, aku juga kehilangan. Kalo bisa aku tukar dengan nyawaku, aku akan menukarnya. Aku lebih memilih aku yang mati daripada anak kita. "
" Kalo gitu, cepat tukar nyawamu sekarang ! Kembalikan anak ku !! "
" Re, mana ada bisa begitu ? Bukan kita yang menentukan hidup atau mati. "
" Kalo begitu, pergilah ! Aku nggak mau melihatmu lagi, SELAMANYA !!! "
Ucapan terakhir Aretha membuat Ryuzaki membelalak.
" Aku mau cerai !! "
" Ka... "
" Aretha Zivaa !! "
Belum selesai Ryuzaki membuka mulutnya, suara Bunda terdengar dari arah pintu masuk.
" Bunda kecewa dengan mu, Re ! Hari pertama kamu sadar, kamu sudah langsung minta cerai ?! Bunda tau bagaimana perasaanmu. Tapi nggak cuma kamu yang kehilangan. Kamu nggak bisa seegois itu. "
Kata Bunda sambil melangkah mendekat ke arah keduanya.
" Kalo bukan Ryu menolak menurunkan aku di jalan, ini semua nggak akan terjadi. Aku nggak akan kehilangan anak ku. Tinggal sebulan lagi, Bun. Anakku akan lahir, Bunda. Tapi dia, dia ... "
Aretha tak bisa melanjutkan kalimatnya, tak ingin.
" Ryu.... sekarang, kembalilah ke kamarmu. Bunda akan bicara dengan Aretha dulu. "
Kata Bunda dengan bijaksana.
" Pergi ke kamarmu, dan jangan kembali lagi ke sini !! "
Sambung Aretha masih dengan membuang muka.
Melihat kebencian yang Aretha tunjukkan dengan jelas, Ryuzaki pun mau tak mau bangun dari sisi ranjang dan meninggalkan ruangan dengan hati sedih.
" Aku akan melihatmu lagi besok pagi. "
Kata Ryuzaki sesaat sebelum menutup pintu kamar.
" Nggak perlu ! Aku nggak mau ! Aku benci padamu !! "
Seru Aretha dengan penuh emosi.
" Hentikan, Re ! Apa kamu nggak lihat ? Ryuzaki juga korban disini. Kepalanya sobek, kakinya pun terluka. Dia harus pakai tongkat paling nggak satu sampai dua bulan kedepan. "
Kata Bunda mulai kesal dengan ulah dan ucapan Putri semata wayangnya itu.
Aku tau, aku juga lihat.
Dia pakai tongkat.
Tapi aku nggak akan luluh cuma karena dia terluka.
Aku akan tetap membencinya.
Aku nggak peduli dia terluka.
Aku tetap mau bercerai !!!
__ADS_1