
Sudah berapa lama ya nggak kesini ?
Susunan ruangannya nggak berubah, masih sama...
Aretha mengelilingi ruangan dan menyentuh satu persatu benda yang ada dengan telunjuknya.
Tiba di dapur, Aretha termangu. Beberapa kenangan masa lalunya bersama Ryuzaki menyeruak di matanya saat menatap setiap sisi dapur.
Banyak hal terjadi disini...
Menunggunya bangun sambil nyiapin sarapannya sampai dia pulang kerja dan masakin makanan favoritnya.
Apa dia juga lupa semua itu ?
Aretha menggigit bibir bagian bawahnya.
Pagi ini, aku baru tau kalo Ryu amnesia...
Aku pikir dia pulang ke Jepang, ternyata dia kecelakaan dan bahkan amnesia...
Lalu dia pulang padaku, berada disisiku, selalu menemaniku, tapi tanpa ingatan apa-apa tentang aku...
Apa aku terlalu bodoh ?
Apa aku yang begitu egois ?
Sampai nggak pernah sadar, nggak pernah tau dia lagi butuh aku padahal...
Aku terus bahagia sendirian.
Aku nggak pernah tau kalo dia lagi berjuang buat mengembalikan ingatannya.
Kata Bunda, dia nggak mau aku tau, dia nggak mau aku kuatir.
Lihatlah...
Dia terus saja sangat peduli padaku.
Dia berobat sendiri, tapi aku selalu menemani Sara berobat.
Bahkan aku nggak membantunya satu kali pun, malah selalu menyalahkan dia atas kehilanganku.
Gimana perasaan nya sekarang ?
Berada di posisi terus disalahkan, hilang ingatan, dan masih memohon buat bertahan...
Aku menyakitinya di titik paling tinggi.
Ya... pada akhirnya, aku lah yang paling menyakitinya.
Aku benar-benar tak termaafkan.
Aretha melangkahkan kakinya kembali ke arah kamar. Ia membuka pintu dan masuk kedalamnya.
Ryu...
Ucap Aretha dalam hati dengan raut wajah yang tampak sedih.
Tepat di hadapannya, di dinding di atas tempat tidur, terpampang sebuah foto pernikahan mereka dengan ukuran 1,5 x 2 meter.
Kalo liat hasilnya bagus banget...
Kayak pengantin yang benar-benar berbahagia di hari pernikahan.
Padahal pas mau difoto, bunda penuh dengan ancaman cuma biar aku mau senyum semanis mungkin.
Tanpa sadar, Aretha menyunggingkan senyum kecil dari sudut bibirnya.
Baiklah, saatnya bongkar koper...
Kenangan cukup disimpan saja mulai sekarang.
Ke depannya, cuma bisa berharap Ryu maafin aku.
__ADS_1
Kalopun pada akhirnya dia mutusin buat selesai, aku juga harus bisa menerimanya.
Seperti kata pepatah, penyesalan selalu datang terlambat.
Dan Aretha bergegas keluar kamar, menuju ruang tengah, dimana ada dua koper miliknya yang ia bawa dari rumah.
Aretha memutuskan untuk tinggal di apartemen Ryuzaki selama ia menyelesaikan kuliahnya, dengan alasan, apartemen Ryuzaki lebih dekat jaraknya dengan kampus.
Sementara itu, di belahan bumi yang lain, tepatnya di Tokyo, Jepang. Ryuzaki menatap foto pernikahannya yang terpajang di atas meja kantornya.
Hari ini, apa yang kamu lakuin, Re ?
Masih sibuk dengan kuliahmu, atau dengan Sara ?
Nasya bilang, kamu berubah...
Lebih feminim lebih kalem, penampilanmu juga berbeda.
Pingin rasanya kembali ke sisimu dan melihat sendiri perubahanmu.
Tapi... kamu pasti menolak ku, bukan ?
Kamu tau, Re...
Aku kangen...
" Futatabi kūsō ? Moto tsuma ni tsuite ? "
( Ngelamun lagi ? Soal mantan istri ? )
Tiba-tiba Ayako datang sembari meletakkan sebuah tas bento di hadapan Ryuzaki.
Lamunan Ryuzaki buyar, ditatapnya Ayako yang sedang menatapnya dengan pandangan kecewa.
" Kanojo wa mada watashi no gōhō-tekina tsumadesu. Moto tsumade wa naku, moto tsuma ni naru koto wa kesshite arimasen. Watashi ni motto kitai suru no o yame nasai. "
( Dia masih istri sah ku. Bukan mantan istri dan nggak akan pernah jadi mantan istri. Berhentilah berharap lebih padaku. )
Sahut Ryuzaki sembari mengalihkan pandangannya ke arah lain.
" Anata no okiniiri... Wasabi, nori o noseta sashimi. "
( Favoritmu... Wasabi, sashimi dengan taburan rumput laut. )
Kata Ayako mengalihkan pembicaraan sambil mendekatkan satu kotak bento ke Ryuzaki.
" Watashi ga nani o itte iru no ka wakarimasen ka? Watashi wa anata o shimai ijō no monoda to wa omotte imasendeshita. Itsumo ki ni natte, Mainichi ranchi o motte kite kuremasu. "
( Apa kamu nggak ngerti apa maksudku ? Aku nggak pernah menganggapmu lebih dari adik. Selalu ngerepotin diri sendiri, setiap hari bawain aku makan siang. )
Kata Ryuzaki dengan tenang.
Ia menerima apa yang disodorkan Ayako, tapi kemudian meletakkannya kembali di atas mejanya.
Ayako menarik bangku di seberang meja kerja Ryuzaki. Ia duduk disitu dengan wajah cemberutnya. Ditatapnya Ryuzaki lekat-lekat.
" Shikashi, watashi wa anata o watashi no kyōdaida to wa omotte imasendeshita. Watashi wa kodomo no koro kara anata to tomodachideshita. Watashi wa gakkō de anata ni chikadzukimashita. Watashi wa on'nanoko ni naruto sugu ni anata ni koi o shimashita, soshite kyō made watashi wa dansei to shite anata o aishiteimasu. Watashi wa anata no tsuma to shite watashinojinsei o sugoshitaidesu. "
( Tapi aku nggak pernah menganggapmu sebagai kakakku. Aku berteman denganmu dari kecil. Aku makin dekat denganmu saat sekolah. Aku jatuh cinta padamu begitu aku menjadi seorang gadis, dan sampai hari ini aku mencintaimu sebagai wanita terhadap seorang laki-laki dewasa. Aku ingin menghabiskan hidupku sebagai istrimu. )
Ayako tak menyerah. Dengan panjang lebar ia menyatakan apa yang ada di dalam hatinya. Dan tanpa diduga oleh Ryuzaki, ia mengambil foto pernikahan milik Ryuzaki dan membantingnya.
PPRAANNGGG !!!
" Nē... "
( Hei kamu... )
Nada suara Ryuzaki sempat meninggi tapi kemudian menjadi lirih.
Segera Ryuzaki bangun dari duduknya dan menghampiri pecahan bingkai dan kaca dari foto pernikahannya. Ia mengambil selembar foto berukuran 10 R tersebut. Membersihkannya dengan hati-hati.
Melihat hal itu, Ayako tidak tinggal diam. Direbutnya dengan cepat foto di tangan Ryuzaki. Langsung dirobek-robeknya tepat dihadapan Ryuzaki.
__ADS_1
Mata Ryuzaki tampak berapi-api, wajahnya merah karena marah, dan satu tamparan keras mendarat di pipi Ayako.
PPLLAAKKKK !!!
Ayako yang tak menyangka bakal mendapat tamparan keras dari laki-laki yang begitu dipujanya, tampak sangat sedih. Matanya berkaca-kaca.
Ryuzaki merasa menyesali perbuatannya begitu melihat tanda telapak tangannya di pipi Ayako begitu memerah. Apalagi saat mendapati mata sipit Ayako yang hampir menumpahkan airmata.
" Gomen... "
(Maaf... )
Ucapnya lirih.
Ryuzaki mendekat ke arah Ayako yang berada di hadapannya. Memeluknya dengan perlahan. Seketika tumpahlah airmata Ayako. Dalam sesenggukannya, ia membasahi dada Ryuzaki dengan airmata.
Ryuzaki makin menyesal mendengar isak tangis Ayako. Dengan lembut, ia membelai rambut Ayako yang hitam panjang ban lurus itu.
" Gomen'nasai... Watashi wa machigatte imashita. Watashi wa anata ni shitsureina koto o subekide wa arimasen. Watashi no hontō no kimochi ni me o toji tsudzukenaide hoshī dakedesu. Kono mama tsudzukeru to, sarani itami o kanjiru yō ni narimasu. "
( Maafin aku... Aku salah. Nggak seharusnya aku kasar kepadamu. Aku cuma mau kamu jangan terus-terusan menutup mata dengan perasaanku yang sebenarnya. Kalo kamu kayak gini terus, kamu bakal ngerasain lebih sakit hati lagi. )
Kata Ryuzaki dengan nada suara yang kalem.
" Watashi wa sono zen ni akiramemashita, nazenara watashi wa anata-tachi ga otagai o totemo aishite iru no o mitakaradesu. Shikashi, totsuzen anata wa koko ni modotte kite, anata no hahaoya wa anata ni iimasu, anata no tsuma wa anata to rikon shitai to omotte imasu. Watashi wa anata ga kanashimi tsudzukeru no o miru tame ni tada jitto tatte iru tsumori wa arimasen. "
( Aku sudah pernah menyerah sebelumnya waktu itu, karena aku liat sendiri kalian begitu saling mencintai. Tapi tiba-tiba kamu pulang ke sini, dan ibumu bilang, istrimu pingin ceraiin kamu. Aku nggak rela kalau diam saja liat kamu terus bersedih. )
Kata Ayako di sela-sela isak tangisnya.
Ryūzaki no kaori wa itsumo watashi o ochitsuka semasu. Kare no ude no naka ni iru koto wa watashi ni totte hontō no yume no yōdeshita. Watashi wa watashinojinsei no nokori no ma, watashi ga kono yō ni kare no ude no naka ni iru koto ga dekitara īnoni to omoimasu.
( Wangi badan Ryuzaki selalu bikin aku tenang. Berada dipelukannya benar-benar kayak mimpi indah bagiku. Aku berharap, bisa selalu berada dalam pelukannya kayak gini selama sisa hidupku. )
Batin Ayako penuh dengan doa.
" Watashi ni chansuwokudasai. Mōichido. Watashi wa anata ga nozomu mononara nani demo kamaimasen. Hitsuyōniōjite, watashi wa anata no tsuma no yō ni naru koto o manabimasu. Watashi wa kanpekina daigaehin ni narimasu. Watashi wa jibun yori mo anata o aishiteimasu. Kono sekaide wa, anata wa watashi ga hoshī subetedesu... "
( Berikan aku kesempatan. Sekali lagi. Aku bisa jadi apa saja yang kamu inginkan. Kalo perlu, aku bisa belajar jadi kayak istrimu itu. Aku akan jadi penggantinya yang sempurna. Aku mencintaimu lebih dari aku mencintai diriku sendiri. Di dunia ini, cuma kamu yang aku inginkan... )
Ayako terus merajuk dan memohon.
" Orokana shōjo... Kanojo wa darenimo totte kawara reru koto wa arimasen. Kare wa karedesu, anata wa anatadesu. Kimitachi wa chigau. Soshite, anata ga yaritai koto wa nani demo, sore o okikaeru koto wa dekimasen. Saishūtekini anata kara hanareru yō ni watashi o kyōsei shinaide kudasai... "
( Gadis bodoh... Dia nggak akan pernah bisa digantikan oleh siapapun. Dia ya dia, kamu ya kamu. Kalian berbeda. Dan apapun yang ingin kamu lakukan, nggak akan pernah bisa menggantikannya. Jangan memaksaku akhirnya menjauh darimu... )
Sahut Ryuzaki dengan perlahan melepaskan pelukannya pada Ayako.
Ayako terus memeluknya erat, menolak untuk melepaskan pelukan Ryuzaki. Namun, Ryuzaki mendorongnya dengan tegas tapi sopan.
" Ienikaeru... Watashi wa hitori de iru hitsuyō ga arimasu. "
( Pulanglah... Aku pingin sendiri. )
Kata Ryuzaki.
" Anata ga motte kita chūshoku o oemasu. Yakusoku shimasu. "
( Aku akan makan semua makan siang yang kamu bawain tadi. Aku janji. )
Sambungnya sambil melempar senyum dan menghapus bekas airmata di pipi Ayako dengan jari-jarinya.
" Watashi ni chansu o ataeru ka dō ka wa anata shidaidesu, watashi wa ki ni shimasen. Shikashi, anata-tachi ga mada saikai suru no o tameratte iru kagiri, watashi wa anata o te ni ireru koto o akiramemasen. "
( Terserah kamu mau kasih aku kesempatan atau nggak, aku nggak peduli. Tapi selama kalian masih ragu buat bersatu kembali, aku nggak akan menyerah buat dapetin kamu. )
Kata Ayako dengan tegas.
Ryuzaki ingin menjawabnya tapi gadis itu sudah memutar tubuhnya dan bergegas keluar ruangan, meninggalkan Ryuzaki yang akhirnya memilih membisu.
Cintamu padaku, sama dengan cintaku padanya...
Tak peduli kayak apa dia menolak ku, aku juga nggak akan pernah menyerah.
__ADS_1
Aku harap, kamu segera dapetin seseorang yang lebih baik dariku, menghargai semua pengorbanan dan cintamu...