
Airin sudah di letakkan di atas brangkar , lalu mereka membawa Airin menuju ke ruangan VVIP , ruangan yang sudah sedari dulu di pesan oleh Andrian khusus untuk istri nya melahirkan , ya tepat nya pada usia kandungan istri nya menginjak delapan bulan , Andrian sudah memesan kamar tersebut ,
"Tuan sebentar lagi dokter nya akan segera datang kesini " ucap salah satu suster itu , sambil memasang infus di tangan Airin .
"Ya " jawab Andrian sambil mencium kening istri nya ,
"Baiklah Tuan , Nona saya permisi dulu , nanti jika terjadi sesuatu Tuan bisa memanggil kami segera , di sana terdapat tombol nya tuan " Ucap suster sambil menunjuk kan tempat tombol yang di gunakan untuk memanggil suster yang berjaga di ruangan mereka .
"Ya " Jawab Andrian singkat ,
"Terimakasih sus " ucap Airin , suster tersebut hanya mengangguk kan kepala nya sambil tersenyum ke arah Airin, lalu dia beranjak keluar meninggalkan ruangan Airin ,
Andrian mengelus perut sang istri agar sedikit meredakan rasa sakit nya .
Airin yang melihat suami nya khawatir dia langsung menatap suami nya itu.
"Hei jangan terlalu khawatir , aku baik baik saja sayang " ucap Airin berusaha menenangkan suami nya itu.
"Bagaimana aku tidak khawatir sayang , aku pernah membaca nya di situs web ,dan dokter juga pernah mengatakan nya , bahwa orang yang melahirkan itu rasa nya sangat menyakitkan , oh aku tidak dapat membayang kan nya ini terjadi sebentar lagi kepada mu sayang " ucap Andrian , mata nya mulai berkaca kaca , Andrian menengadah kan kepala nya menatap langit langit agar diri nya tidak menangis , Andrian masih saja membayang kan betapa sakit nya proses melahirkan , dia tidak bisa membayangkan istri nya akan mengalami nya sebentar lagi , lebih baik diri nya yang merasakan sakit , dari pada istri nya yang merasakan nya , sungguh Andrian sangat lah tidak tega sama sekali .
__ADS_1
"Sayang , jangan seperti itu , aku baik baik saja ,memang rasa nya sakit , tapi ketika kita sudah melihat nya hadir di antara kita , aku jamin rasa sakit nya akan hilang ." Ucap Airin yang terus menerus berusaha membuat suami nya itu tidak terlalu khawatir. Dia ingin suami nya menyemangati nya bukan malah mengkhawatirkan nya ,
"Baik lah " jawab Andrian sambil memalingkan wajah nya karena saat ini air mata nya sudah keluar ,dia tidak ingin istri nya tau , ya bagaimana pun Andrian ,sekuat apa pun diri nya dia hanya lah manusia biasa saja jika di hadap kan oleh orang yang ia sayang pasti sikap kejam nya berubah menjadi kasih sayang , bahkan Andrian tidak pernah menampakkan sikap kejam nya di depan istri nya ,dia selalu bersikap manis kepada istri nya . Ya sampai saat ini Airin belum tau mengenai sisi suami nya yang lain sebagai pimpinan mafiah , Andrian sampai saat ini belum mengatakan bahwa diri nya adalah pimpinan mafiah , karena dia tidak ingin istri nya meninggal kan nya . Dan selama Airin hamil ,Andrian juga tidak pernah mengunjungi markas nya , hanya Robert yang ia percaya untuk mengecek dan melihat kondisi di markas nya.
Akhirnya Airin dapat menangkap wajah suami nya itu yang sedang menitikan air mata nya
"Hei kamu menangis ," ucap Airin sambil memegang dagu suami nya .
"Enggak kok "jawab Andrian sambil memalingkan wajah nya ,
"Oh ayo lah Dad , apa kau tidak malu terlihat cengeng seperti itu , ah aku saja tidak menangis yang merasakan sakit nya. " ledek Airin yang membuat wajah Andrian bak kepiting rebus , bagaimana bisa dia menangis , sangat lah memalukan , jika di lihat oleh orang lain apa lagi para anak buah nya , mau di letakkan dimana wajah nya itu .
"Enggak sayang " jawab Andrian , dia lalu memeluk istri nya menyembunyikan wajah nya di leher istri nya .
"Hei sudah lah ,aku janji aku dan anak kita akan baik baik saja oke , sudah jangan mena_ " ucapan Airin terpotong ketika diri nya merasa perutnya sakit lagi dan bahkan sakit nya lebih sakit dari yang tadi .
"Awwww" jerit Airin sambil menarik nafas nya . Andrian yang melihat keadaan istri nya langsung panik , dia langsung menekan tombol yang berada di ruangan itu .
"Sayang bertahan lah , sebentar lagi dokter akan segera datang , sayang!" Andrian terus menerus berusaha untuk tenang , namun tampak nya kekhawatiran nya menguasai jiwa nya .
__ADS_1
"Sitttt lama sekali sih
mereka datang " umpat Andrian kesal , karena dokter tidak kunjung datang ,dan istri nya terus menerus merasakan sakit yang luar biasa , tidak lama dokter dan suster yang di harapkan sudah sampai , baru dokter sampai Andrian langsung mengomeli dokter dan para suster yang menurut nya sangat lah terlambat . Andrian menatap mereka dengan tatapan yang sangat tajam , membuat mereka semua ketakutan .
"Kalian bisa kerja tidak , ha ? Apa mau kalian saya pecat dari ruang sakit ini , dan kalian semua tidak akan mendapatkan pekerjaan lagi dimana pun " Bentak Andrian .
"Sayang , sudah " Airin yang melihat suami nya emosi langsung memanggil nya , dia tidak ingin suami nya marah marah di waktu yang seperti ini , Andrian yang mendengar panggilan dari sang istri dia langsung menghela nafas nya yang panjang , dia berusaha meredam emosi nya , Andrian lalu menoleh dan menatap sang istri dengan tatapan yang sendu .
Dokter itu langsung meminta maaf kepada Andrian , agar semua nya tidak menjadi rumit .
"Ma_Maaf tuan , kami mengaku salah , kami terlambat " jawab dokter tersebut . Tanpa menunggu Omelan dari Andrian lagi , dokter langsung berjalan menuju brangkar milik Airin untuk segera mengecek kondisi Airin .
"Mau apa ?" Pekik Andrian yang melihat dokter itu menghampiri sang istri.
"Permisi tuan saya ingin mengecek kondisi Nona " jawab nya , Andrian mengangguk kan kepala nya , dia tidak mungkin terus menerus memarahi dokter dan para suster itu , karena dia tidak ingin istri nya menahan sakit lagi.
Dokter langsung memakai sarung tangan medis nya , dia langsung memeriksa nya . Andrian yang melihat hal apa yang di lakukan oleh dokter tersebut langsung membulat kan kedua bola mata nya .
"Kenapa seperti itu memeriksa nya ?" Protes Andrian yang melihat bagaimana cara dokter itu memeriksa istri nya .
__ADS_1
"Maaf Tuan memang seperti ini , kita akan mengetahui Nona sudah dalam pembukaan berapa " jawab Dokter tersebut , Andrian hanya diam dia tidak berniat membalas ucapan sang dokter .
"Tuan , seperti nya Nona sudah berada di dalam pembukaan delapan , dan mungkin sebentar lagi pembukaan nya akan sempurna , dan Nona nanti bisa mengikuti arahan kami , saat ini Nona harus memiringkan badan Nona ke kiri dahulu agar cepat sempurna pembukaan " ucap dokter tersebut memberikan arahan kepada Airin , Airin yang sudah menahan sakit dia hanya diam dan langsung mengikuti perintah dokter tersebut .