
Alvaro menatap wajah anak itu dengan mata yang membola, bagaimana bisa anak laki-laki itu begitu mirip sekali dengannya, matanya, hidungnya, bibirnya bahkan bola matanya sangatlah mirip sekali dengan Alvaro yang sekarang, bahkan Giman, sang asisten melihat kemiripan mereka berdua seperti sebelas dua belas.
"Astaga, Mister! Anak ini mirip sekali dengan Anda, coba lihat! matanya, hidungnya, bibirnya, warna kulit dan rambutnya pun sama!" ungkap Giman sembari memperhatikan wajah Evan dalam-dalam. Sementara itu Bi Rodiah tampak menarik tangan Evan dan mengajaknya pulang.
"Evan! Ayo kita pulang! Permisi Tuan, sekali lagi Saya minta maaf! Kami harus pulang." ucap Bi Rodiah sembari menggandeng tangan Evan. Namun, rupanya Evan tidak mau di ajak pulang oleh Bi Rodiah, Ia terlihat masih berdiri di depan Alvaro yang sedang berada di hadapannya.
"Evan nggak mau pulang, Uti! Evan mau bilangin dulu sama Tuan ini, kalau naik mobil lihat-lihat dulu, kan Evan jadi takut!" ucapnya yang begitu polos memaksa Alvaro untuk berjongkok di depan anak itu.
"Siapa namamu?" Alvaro bertanya sembari benar-benar menatap wajah Evan dari dekat.
"Evan, Tuan!" jawab Evan dengan suara polosnya. Tiba-tiba saja Evan mengusap mata Alvaro, Ia bilang jika Alvaro seperti Ayahnya.
"Evan kenapa?" tanya Alvaro yang terkejut dengan sikap bocah itu. Kemudian dengan wajah imutnya, Evan berkata, "Kata Ibu, Ayah Evan mempunyai bola mata berwarna biru, apa Tuan mau jadi Ayah Evan?" pertanyaan macam apa ini, seorang Mr. Alvaro diminta untuk menjadi ayah dari bocah laki-laki yang baru saja Ia temui.
"Jadi Ayah Evan? Memangnya Ayah Evan di mana?" lagi-lagi Alvaro bertanya kepada bocah itu.
"Kata Ibu, Ayah Evan sedang pergi jauh dan belum kembali, Evan pingin banget ketemu sama Ayah, tapi Ibu selalu bilang disuruh tunggu terus, Evan bosan nungguin Ayah pulang, tapi sekarang udah ada Tuan di sini, Tuan aja deh yang jadi Ayahnya Evan, Tuan mau, ya!" penuturan bocah lugu itu memaksa Alvaro tertawa kecil, hari ini dirinya benar-benar dihadapkan dengan kejadian-kejadian yang membuatnya tidak mengerti, dimulai dari pertemuannya dengan Nur yang membuatnya mulai merasakan sesuatu dalam hatinya. Dan kini pertemuannya dengan bocah laki-laki yang mirip sekali dengan dirinya. Yang tiba-tiba memintanya untuk menjadi Ayah dari sang bocah itu.
Sementara itu Bi Rodiah terus membujuk Evan untuk ikut pulang, tapi Evan tetap saja tidak mau pergi sebelum Alvaro menjawab pertanyaannya.
"Evan! Ayo kita pulang, Sayang! Biar Tuan itu pergi!" ucap Bi Rodiah sembari meraih tangan Evan kembali. Rupanya Mr. Alvaro mengerti perasaan bocah itu, Ia pun mengajak Evan dan Bi Rodiah untuk naik ke mobil bersamanya.
__ADS_1
"Sudah! Jika dia tidak mau pulang, jangan dipaksa, biar kalian Saya ajak dulu untuk makan siang." sahut Alvaro kepada Bu Rodiah.
"Ta-tapi, Tuan! Nanti kami merepotkan Tuan!" ucap Bi Rodiah yang sedikit takut, mengingat Mr. Alvaro adalah orang kaya, Ia takut jika cucu keponakannya itu merepotkan Alvaro.
"Tidak apa, setidaknya Aku bisa menghibur hati anak ini, dia sangat merindukan Ayahnya, biarkan sehari saja Aku menjadi Ayahnya." jawab Alvaro sembari merapikan jasnya. Sementara itu Evan terus menatap wajah Alvaro dengan tersenyum bahagia.
"Ayo! Ikut bersamaku! Aku akan mengajakmu jalan-jalan sebentar!" Alvaro tampak menggandeng tangan bocah itu, seperti seorang Ayah kepada putranya. Giman, sang asisten dibuat geleng-geleng kepala melihat sikap Bos nya yang tiba-tiba baik kepada bocah yang baru saja ia temui.
"Mr. Alvaro aneh banget, dia terlihat sayang sekali dengan anak itu, padahal selama ini Mr. Alvaro tidak menyukai anak-anak, apalagi bocah itu anak siapa Mister juga nggak tahu, sementara keponakan Mister yang di rumah, nggak pernah tuh dapat perlakuan seperti itu dari Mister! Hmm ...!" batin Giman yang merasa jika ada yang aneh dengan Bos nya.
Akhirnya hari itu juga, Alvaro mengajak Evan dan Bi Rodiah untuk masuk ke dalam mobil, Mr. Alvaro tampak sangat akrab sekali dengan Evan, pun sama Evan pun terlihat begitu nyaman ketika berada di samping Mr. Alvaro.
Sesampainya di dalam kamar mandi, Alvaro tampak mencuci wajahnya, sungguh pertemuannya dengan Evan benar-benar membuat nya bingung, bagaimana bisa wajah anak itu begitu mirip dengannya.
Sementara di meja makan, Giman terlihat menggoda Evan yang sedang makan.
"Hmm Evan pinter banget ya makannya pakai tangan sendiri. Siapa yang ngajarin?" kata Giman.
"Iya Paklek! Ibu yang ngajarin, setiap hari di rumah Embah Kakung dan Embah Uti juga gitu cara makannya," jawabnya dengan mulut yang terisi makanan. Giman tersenyum mendengar penuturan dari bocah imut itu, apalagi Evan seenaknya memanggil dirinya dengan sebutan Pak lek.
"Pak Lek Pak Lek! Untung kamu lucu dan menggemaskan, kalau ndak udah tak cubit itu pipimu!" seru Giman sembari tertawa. Di balik keseruan Giman menggoda Evan, Bi Rodiah tampak bertanya kepada Giman.
__ADS_1
"Maaf, Nak! Sebenarnya Tuan itu siapa? Saya perhatikan wajahnya mirip sekali dengan Evan, mungkin jika jadi Ayahnya Evan pasti sangat cocok." ungkap Bi Rodiah. Kemudian Giman menjawab. "Itu Mr. Alvaro Bu! Dia Bos Perusahaan besar kosmetik yang terkenal di kota ini." Bi Rodiah baru menyadari jika Alvaro adalah Bos nya Rini juga, anaknya yang bekerja di perusahaan itu.
"Owalah, Jadi itu toh Mr. Alvaro, dari tadi Saya belum ngeh jika itu Mr. Alvaro. Pantesan saja Rini bilang jika Evan mirip sekali dengan Mr. Alvaro, ternyata itu benar, mereka berdua memang mirip sekali." ungkap Bi Rodiah.
"Rini siapa, Bu?" tanya Giman.
"Rini anak Saya, dia bekerja sebagai cleaning servis di kantor Mr. Alvaro, opo Nak Giman ndak pernah lihat anak Saya?" tanya Bi Rodiah.
"Cleaning servis? Cleaning servis di kantor Mr. Alvaro banyak, Bu! Bukan anak Ibu saja, ada puluhan cleaning servis di sana, lagipula Saya asisten baru Mr. Alvaro, jadi Saya kurang mengenal karyawan-karyawan Mr. Alva keseluruhan nya." jawab Giman sembari melanjutkan makannya.
"Oh anak Saya itu cantik dan imut, nanti kalau Nak Giman ketemu pasti juga berkata sama seperti Saya!" rupanya ucapan Bi Rodiah membuat Giman tersedak. Ia pun segera mengambil air minum dan segera meminumnya.
"Loh loh Nak, Giman! Nak Giman ndak apa-apa toh!"
"Hadehhh ... saya Ndak apa-apa, Bu! Sedikit keselek mendengar jika putri Ibu itu cantik dan imut." jawabnya dengan tersenyum paksa.
"Loh iya, biar nanti Nak Giman ndak salah orang, soalnya keponakan saya juga bekerja di sana sebagai cleaning servis, dia juga cantik dan manis. Bahkan lebih cantik dari Rini anak saya, cuma ... dia sudah mempunyai anak, dan Evan ini anaknya." ungkap Rodiah kepada Giman yang terlihat terkejut saat mendengar jika Ibunya Evan bekerja di kantor Mr. Alvaro.
"Apa? Ibunya Evan bekerja di tempat Mr. Alvaro dan dia seorang Cleaning servis?" batin Giman sembari menebak siapa cleaning servis yang merupakan Ibunya Evan.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1