AMNESIA BRINGS LOVE

AMNESIA BRINGS LOVE
Menyuapi


__ADS_3

Sementara itu, Pak Farid mengajak kami untuk makan siang di sebuah lesehan ikan bakar dan seafood, rumah makan yang menyediakan menu bakar-bakaran yang rupanya itu adalah resto favorit Pak Farid, beliau sengaja mengajak kami untuk makan siang di tempat itu, selain makanannya enak-enak tempatnya juga nyaman, rupanya Pak Farid tidak terlalu mewah seleranya, meskipun dia adalah orang yang tentunya bisa membeli makanan yang lebih mewah dengan menu ala-ala luar negeri, tapi Pak Farid lebih suka masakan Indonesia.


Pak Farid mempersilahkan kami untuk duduk di tempat yang sudah disediakan, tentunya tempat duduk kami berbeda, namanya juga lesehan pastinya kami duduk di atas lantai yang bersih. Aku lihat Mr. Alvaro tidak terbiasa dengan hal seperti ini, itu sudah pasti seleranya juga berbeda, dia pastinya lebih suka duduk di kursi. Tapi, tak kusangka jika Mr. Alva terlihat nyaman duduk di atas tikar yang digelar. Ia terlihat selonjoran kaki dan merebahkan punggungnya pada salah satu tiang.


Ia terus menatap diriku, sementara Pak Farid tampak mengajakku berbicara, sehingga membuat ekspresi wajah Mr. Alva tampak kesal.


"Oh ya Nur! Kamu tinggal siapa?" tanya Pak Farid.


"Saya tinggal bersama Bibi Rodiah, Pak!" jawabku sembari tersenyum. Sementara Mr. Alvaro terus saja menatapku serius, seolah-olah dirinya tidak ingin melihatku dekat dengan Pak Farid.


"Ngomong-ngomong kamu sudah punya pacar, Nur?" pertanyaan Pak Farid rupanya sudah dijawab oleh Mr. Alvaro yang tiba-tiba menyahutinya.


"Dia ini sudah menikah, Pak Farid. Jadi, tidak usah mendekatinya nanti suaminya marah, iya kan Nur?" Mr. Alva berkata sembari menatap ku dengan tajam, tentu saja Aku juga nggak ngerti kenapa tiba-tiba Mr. Alvaro berkata seperti itu, apa dia sudah ingat tentang ku? Apa dia sudah ingat jika Aku ini istrinya?


"Hehehe ... Mr. Alva benar, Pak Farid. Saya sudah menikah." jawabku dengan anggukan.


"Waahh sayang sekali, ya! Aku pikir kamu belum menikah, beruntung sekali Suamimu memiliki istri secantik kamu, eh ngomong-ngomong Suamimu nggak marah jika Aku mengajakmu makan siang?" Pak Farid tampak masih menghormati status ku yang sudah memiliki suami.


"Suami Saya ... suami saya ...!" belum selesai Aku menuntaskan kata-kataku, tiba-tiba Mr. Alvaro menyelanya.

__ADS_1


"Suami Nur orangnya galak Pak Farid, sebaiknya besok-besok Pak Farid tidak usah mengajak Nur lagi, takutnya nanti Pak Farid dihajar sama suaminya, iya kan Nur!"


Aduh Gusti apa-apaan sih Mr. Alvaro bicara seperti itu sama Pak Farid, iya Aku sadar dia memang suamiku, mungkin dia masih merasakan ikatan batin dengan ku, sehingga Ia tidak rela jika Aku jalan bersama pria lain, meskipun dia belum mengakui Aku sebagai istrinya.


"Waduh bisa gawat tuh, maafin Aku ya, Nur! Sebelumnya Aku memang tidak tahu jika kamu sudah mempunyai suami, kalau Mr. Alvaro tidak bilang mungkin lama-lama Aku bisa jatuh cinta sama kamu, untung saja Aku sudah mengetahuinya sebelum terlambat." kata Pak Farid sembari tertawa kecil.


Tak berselang lama pelayan datang membawakan pesanan kami yaitu ikan bakar gurame dan bebek bakar madu. Setelah semuanya lengkap tersaji di atas meja, Pak Farid segera mempersilahkan kepada kami untuk makan.


"Ayo ayo dimakan, Mr. Alva, Nur! Ayo makan!" titah Pak Farid kepada kami, dan Aku pun segera mengambil piring untuk mengambil nasi, setelah Aku mengambil lauknya Aku pun mulai makan, begitu pun dengan Pak Farid yang begitu lahap makan dengan tangan kosong, karena kami makan di lesehan, maka kami makan tidak menggunakan sendok alias menggunakan tangan kosong.


Sementara itu Aku lihat Mr. Alva kesulitan untuk makan, iya Aku tahu jika Mas Tejo tidak bisa makan dengan tangan kosong, Ia pun terlihat kesusahan makan menggunakan tangan kosong, dan akhirnya Dia memutuskan untuk makan sedikit saja, Duh kasihan banget toh Mas Tejo ku, karena Aku kasihan, Aku pun menawarkan diri untuk membantunya.


"Aku nggak bisa makan pakai tangan, ribet! Mana banyak durinya tuh ikan." katanya sembari melihat tangannya yang penuh dengan nasi putih yang menempel. Aku pun mendekati suamiku dan kuberikan bantuan Kepada nya.


"Sini!" kataku sembari mengambil piring nasinya.


"Kamu mau apa?" Mr. Alva tampak terkejut dengan apa yang Aku lakukan, Aku ambil piringnya, Aku suapkan nasi ke dalam mulutnya.


Sejenak Ia terdiam melihatku tengah menyuapinya, mungkin memori kami dulu mulai membayang dalam ingatannya, semoga saja.

__ADS_1


"Ayo buka mulutnya!" kataku kepada Mr. Alva.


Ia pun mulai membuka mulutnya dan menerima suapan dari tanganku, Ia terlihat menikmati setiap suapan yang kuberikan, hingga tanpa sadar tanganku tergigit dan Aku sangat terkejut.


"Awwww ... hati-hati dong Mister! Sakit nih!" kataku sembari melihat jariku yang tidak sengaja Ia gigit.


"Sorry-sorry, Kamu nggak apa-apa kan, Nur? Coba lihat mana yang sakit?" Ia tampak menarik tanganku dan memeriksanya.


Aku pun merasa tidak enak dengan Pak Farid yang melihat kami sedari tadi, sepertinya Pak Farid kurang menyukai apa yang sedang Aku lakukan untuk suamiku.


"Jangan Mister! Sudah tidak apa-apa kok." kataku sembari menarik tanganku dari genggaman nya. Namun, Mr. Alva justru membersihkan setiap jari jemariku dengan mulutnya, tentu saja pemandangan itu membuat setiap orang yang melihatnya pasti berfikir yang macam-macam, meskipun sebenarnya kami adalah suami istri. Apalagi Pak Farid yang menatap kami penuh curiga.


"Sudah, Nur! Sepertinya tidak apa-apa, jari-jari mu terasa sangat manis, Nur!" spontan ucapan Mr. Alvaro membuat Pak Farid tiba-tiba pamit pergi ke toilet.


"Maaf Mister! Saya permisi dulu ke kamar mandi." katanya, Aku tahu jika itu hanya alasan Pak Farid agar tidak melihat kemesraan kami.


"Oh iya, Pak Farid, silahkan!" balas Mr. Alvaro dengan senang.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2