AMNESIA BRINGS LOVE

AMNESIA BRINGS LOVE
Pusing tujuh keliling


__ADS_3

"Buaya apa maksudmu?" tanyanya padaku. Aku pun masih memejamkan mata dan tidak mau melihatnya seperti itu, bagaimana pun juga Aku ndak mau melakukan itu lagi.


"Ya ... buaya nya Mister." jawabku sembari menutupkan tangan pada wajahku. Namun, ternyata Mr. Alvaro justru menyentuh tanganku dan memaksa ku untuk membuka kedua mataku.


"Buaya buaya, ngomong apa sih kamu itu. Kalau kamu terus seperti itu bagaimana bisa kamu melihatnya. Coba lihat Nur! Kamu harus segera melakukannya, tidak bisa ditunda lagi, ini sudah tugasmu Nur." katanya yang semakin membuatku gemetaran saja sih nih orang.


"Aduuhh tugas opo toh Mister? Jangan aneh-aneh deh, ya! Aku lagi malas lihat buaya mu." kataku yang terus berusaha agar tidak melihatnya. Tak kusangka Mr. Alvaro justru meletakkan tanganku pada area dadanya yang terbuka itu, Aduh si Mbok tolongin anakmu ini, dia dipaksa sama suaminya tengokin buayanya, mana terasa sekali bulu-bulu halus itu menusuk tanganku yang halus ini.


"Mis-Mister maunya apa toh?" tanyaku sekali lagi, Dia pun menjawab, "Kalau kamu menutup matamu seperti itu, bagaimana bisa kamu mengetahuinya, sekarang lihat baik-baik!" katanya sembari terus meletakkan tanganku pada dadanya, dimana kancing kemeja miliknya sudah terlepas, meskipun Aku masih merasakan kain kemeja itu masih melekat pada tubuh Mr. Alvaro, tapi Aku yakin jika sekarang belahan dada bidang itu pasti terpampang nyata.


Perlahan Aku membuka kedua mataku, pelan-pelan Aku melihat dari bawah hingga akhirnya mata ini tertuju pada tanganku yang menyentuh area dada seksi itu, Aku mulai mengatur nafas ini, takut saja jika Aku sesak tiba-tiba, dan kepalaku mulai bersandar pada tubuh sempurna itu.


"Coba kamu lihat! Noda tehnya nggak bisa hilang tuh, sekarang Aku minta kamu cuci kemeja ini, Aku tunggu! Tuh sekalian sama Jasnya. Aku tidak mau bajuku kotor, rasanya sangat tidak nyaman."


Huffftt ... ternyata dugaan ku salah, rupanya Ia menyuruhku untuk mencuci kemejanya yang terkena tumpahan teh saat di ruangan rapat tadi, dan Aku melihat noda teh itu memang cukup banyak meninggalkan warna coklat pada kemeja Mr. Alva yang berwarna putih itu.


Aku pun segera menarik kedua tanganku dari dada Mr. Alva, dan Ia pun segera melepaskan seluruh kemeja yang Ia pakai, sungguh tak bisa ku pungkiri, Aku sangat suka melihat Mr. Alvaro tidak pakai baju, badan atletis nya benar-benar mendebarkan hatiku, hmm suamiku memang tiada duanya, sekilas bekas luka di perutnya pun terlihat dengan jelas, Aku mencoba bertanya kepadanya bagaimana bisa Mr. Alvaro mendapatkan luka itu, meskipun sebenarnya Aku sudah tahu jika luka itu di dapatkannya saat Ia kutemukan di depan warung ku lima tahun yang lalu.

__ADS_1


"Maaf Mister! Kalau boleh Saya tahu, bekas luka di perut Mister itu kena apa, ya?" tanyaku sambil menerima kemejanya yang Ia lepaskan. Dia melihat pada bekas luka di perutnya, kemudian Ia berkata, "Aku juga tidak tahu, Aku tidak ingat bagaimana bisa Aku mendapatkan luka ini, tiba-tiba saja Aku melihat luka ini saat Aku membuka kedua mataku, bukan hanya luka di sini, tapi ...." Dia tidak melanjutkan kata-katanya.


"Tapi apa Mister?" tanyaku penasaran. Ia pun menatapku serius.


"Karena kamu sudah pernah merasakannya, jadi nggak ada salahnya jika kamu mengetahui bekas luka lainnya yang sampai saat ini masih membuat ku bingung." katanya sembari membuka ikat pinggang yang melingkar pada pinggang seksinya.


"Eh eh Mister mau ngapain?"


"Biar kamu tahu dimana bekas luka ku yang lain, mungkin kamu bisa tahu bagaimana bisa Aku mendapatkan luka itu, perasaan dulu Aku tidak pernah memiliki luka itu di sini." katanya sembari terus membuka ikat pinggang itu.


"Stop stop Mister! Nggak usah di tunjukkan, Saya sudah tahu." kataku sembari beranjak pergi membawa kemeja dan jas Mr. Alvaro untuk Ku cuci. Dia pun semakin mendesak bagaimana bisa Aku mengetahuinya.


"Aduh Mister! Plis deh jangan ngintilin mulu ah, permisi Saya mau cuci bajunya Mister." kataku sembari mendorong tubuh suamiku agar Ia tidak menghalangi jalan. Tapi dia justru menahan ku dengan memegang erat kedua tanganku.


"Kamu tidak boleh pergi sebelum kamu mengatakannya, darimana kamu tahu bekas luka itu?" Ia terus memaksaku, tentu saja Aku bilang, " Ya tahulah Mister! Udah tiga kali masuk masa Saya ndak tahu bekas luka pada leher buaya itu!" jawabku dengan nada yang melemah.


"Buaya? Buaya apa sih maksudmu, Nur!" Mr. Alvaro ternyata masih belum ingat tentang buayanya yang pernah tercepit resleting celananya.

__ADS_1


"Buaya punya kamu itu loh Mas Tejo, gemes Saya, kapan sih kamu ingatnya Mister? Udah-udah permisi, Saya mau lewat!" kataku yang terus memaksa agar Mr. Alvaro segera menyingkir dan tidak menghalangi jalanku.


Aku pun berjalan sedikit berlari menuju ke arah pintu, tapi Mr. Alvaro masih saja mengejarku. Rupanya dia masih belum puas mendengar jawaban dariku.


"Kamu nggak boleh pergi sebelum mengatakan yang sebenarnya, cepat katakan!" Dia terus memaksaku. Dan Aku udah mulai malas untuk menjelaskannya, dia juga nggak bakalan ngerti. Hatiku masih sakit banget saat dia berkata kasar tadi pagi.


"Mister Plis! Biarkan Saya pergi."


"Nggak bisa, sebelum kamu mengatakannya."


"Biarkan Saya pergi." kataku yang terus seperti itu, dia pun tetap memaksa untuk berdiri di tengah pintu.


Aku pun mulai menghela nafas panjang, kemudian Aku mulai berkata kepadanya, "Sebenarnya maunya Mister itu apa sih? Tadi pagi marah-marahin Saya gara-gara ngejatuhin map-map itu, Mister bilang Saya bodoh, Mister bilang Saya ini murahan, Mister pikir itu tidak menyakiti hati Saya, seenaknya bicara tanpa sadar Mister sudah membuat Saya malas, mangkel, sakit tahu nggak! Sekarang maksa-maksa Saya untuk menjelaskan tentang luka itu, bodo amat tentang luka Mister, sudah! Disyukuri saja masih untung nggak putus cuma luka doang." kataku yang sedikit nyolot, sungguh Aku benar-benar sakit hati sekali pada suamiku sendiri saat Ia berkata kasar padaku.


Tiba-tiba saja terdengar dari mulut suamiku, sebuah jawaban yang membuatku semakin bertambah pusing dan semakin membuat mataku berkunang-kunang.


"Ya elah Nur! Judes banget sih kamu, gitu aja marah, jadi karena itu kamu nggak mau melihat bekas luka itu lagi, padahal kamu sudah dibikin merem melek loh Nur, ya masih untung memang nggak putus, kalau putus toh kamu juga nggak akan bisa merasakannya, iya toh!" katanya dengan senyum nakal khas Mas Tejo.

__ADS_1


Halah-halah apa lagi sih ini, Mr. Alvaro ini benar-benar bikin Aku pusing tujuh keliling.


...BERSAMBUNG...


__ADS_2