
Setelah Aku dan Mr. Alva telah selesai memakai baju masing-masing, Aku pun segera membuka pintu yang terkunci itu, sementara Mr. Alva tampak sedang berpura-pura berdiri di depan jendela ruang kantor nya sembari memegangi pinggang nya yang sakit, sejenak Aku tertawa kecil melihat tingkah Suamiku yang terkadang menjengkelkan dan terkadang bikin Aku ketawa, dengan mencoba mengatur nafas Aku pun membuka pintu itu.
Setelah pintu terbuka, Aku melihat Pak Giman yang sedang berdiri di depan pintu dengan wajah yang tegang. Ia sungguh terkejut melihat ku dan Ia pun tampak garuk-garuk tengkuknya sembari cengar-cengir menatapku. Aneh! Kok dia kayak takut gitu, ya! Apa dia takut jika dimarahi sama Bos-nya, atau jangan-jangan Pak Giman sudah bisa menebak apa yang sedang kami lakukan baru saja. Duh Gusti! Semoga saja dugaanku salah.
"Pak Giman! Anda." sapaku sembari tersenyum kepada Pak Giman yang terlihat salah tingkah, benar-benar aneh, harusnya Aku yang salah tingkah, kok Pak Giman sih yang terlihat malu-malu.
"Hehehe, Nur! Maaf ganggu." katanya, loh kok dia malah minta maaf sama Aku sih, apa jangan-jangan Pak Giman memang sudah tahu jika Aku dan Mr. Alvaro sedang apa-apa, hmm sepertinya Pak Giman juga sudah tahu jika Aku ini adalah istri Bos-nya.
"Nggak kok Pak! Pak Giman nggak ganggu apa-apa, Saya juga mau pergi, permisi!" Aku pun segera pergi dari tempat itu, huffftt ... ada-ada aja kejadian pagi ini, gini nih kalau satu atap dengan suami sendiri, meskipun dia pura-pura amnesia, tapi nalurinya sebagai suami tetap kuat, pinginnya ngandang mulu buayanya.
Aku pun pergi ke pantry dan kulihat Rini sedang berada di sana.
"Mbak Nur darimana saja? Aku cari-cari Mbak Nur kok nggak ada? Aku pikir Mbak Nur ndak jadi berangkat ke kantor." kata Rini.
"Aku baru saja dari ruangan Mr. Alva." jawabku sembari mengambil sapu dan alat-alat bersih-bersih lainnya.
__ADS_1
"Eh eh eh Mbak Nur mau ngapain?" Rini mencoba melarangku untuk mengambil alat-alat itu.
"Ya bersih-bersih lah Rin! Ini kan sudah tugasku." jawabku spontan.
"Aduuuhhhhh Mbak Nur ini piye, Mbak Nur kan lagi hamil, jadi Mbak Nur harus banyak istirahat, ndak usah biar Rini saja yang bersihkan, Mbak Nur duduk manis di sini, nanti tak buatin secangkir teh hangat." kata Rini sembari menuntunku untuk duduk di sebuah kursi.
"Tapi Rin!"
"Udah nggak ada tapi-tapian, pokonya Mbak Nur ndak boleh kerja capek-capek, kasihan tuh bibit unggul Mr. Alvaro yang ada di dalam rahim Mbak Nur, jika terjadi apa-apa bisa-bisa seisi kantor ini bakal kena marah sama tuh Bos galak, Mbak Nur nggak tahu aja bagaimana Mr. Alva kalau lagi marahin kita." kata Rini yang tetap melarang ku untuk bekerja, dan kupikir -pikir ada benarnya sih Rini ngomong gitu, kepalaku memang sedikit pusing dan badanku memang masih terasa pegal-pegal.
Ya wis lah Aku nurut saja, lagipula Mas Tejo juga sudah melarangku untuk bekerja, Aku aja yang ngeyel, Aku tuh paling ndak suka sebenarnya malas-malasan, di Desa Aku ndak pernah sampai nganggur, ada aja yang Aku kerjain, bantu-bantu si Mbok di rumah belum lagi Aku juga harus jaga warung kopi Bapak. Hmm Aku kok jadi kangen ya sama mereka. Bapak dan si Mbok, andaikan saja mereka ada di sini, Aku pasti seneng banget.
Sementara itu di ruangan Mr. Alva, Pak Giman terlihat memberanikan diri masuk ke dalam ruang kerja Bos -nya.
"Maaf Mister! Saya mau menyampaikan sesuatu jika rapat hari ini ditunda sampai jam sepuluh nanti, karena Pak Jamil masih ada keperluan mendesak." kata Pak Giman.
__ADS_1
Perlahan Mr. Alvaro membalikkan badannya dan menatap wajah sang asisten dengan tajam. Sementara itu Pak Giman terlihat menahan rasa ingin tertawa nya saat melihat Mr. Alva ketika berhadapan dengannya.
Wajah Pak Giman tampak memerah saat melihat bekas stempel kepemilikan pada leher sang Bos.
"Astaga! Apa Mr. Alva nggak sadar ya kalo ada tanda sekeren itu, wao ini pasti akan menjadi bahan ghibah an karyawan kantor kalau si Mister keluar dari ruangan ini." batin Pak Giman sembari cengar-cengir.
"Eh ngapain kamu senyum-senyum?" seru Mr. Alvaro yang membuat Pak Giman berhenti tertawa kecil.
"Anu Mister, anu ... anu ... oh ya Mister, tadi Saya sempat dengar Mister kok menjerit kesakitan, ada apa ya, Mister? Terus tadi saya lihat ada Nur disini, apa Mister dan Nur sedang bertarung, eh maksud Saya apa Nur sedang memukul Anda atau dia men-smackdown Anda?" pertanyaan Pak Giman sejenak membuat Suamiku berkacak pinggang sambil satu tangannya memegang pelipisnya. Seolah dia berpikir mencari alasan yang tepat untuk itu.
"Hah ... masa sih bisa terdengar dari luar? Tadi ... aku sedang ...!" Mr. Alvaro tidak melanjutkan kata-katanya, sementara Pak Giman tampak menyempurnakan kalimat yang belum diselesaikan oleh suamiku.
"Sedang bercinta ya, Mister?"
Seketika Pak Giman menutup mulutnya dengan kedua tangannya, sementara itu suamiku spontan melototkan matanya kearah Pak Giman yang sedang bercucuran keringat dingin.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...