AMNESIA BRINGS LOVE

AMNESIA BRINGS LOVE
Datanglah ke sini!


__ADS_3

Seketika Aku langsung menoleh ke arah bawah, Aduh Gusti! Benar saja tangan besar Mr. Alvaro ternyata sudah tamasya di atas kedua paha ini, Ia mengelusnya bahkan sedikit merremasnya, Aku menatap wajah Mr. Alva yang juga sedang menatap ku saat itu.


"Ada apa? Kenapa kamu menatapku seperti itu, kamu pasti sudah nggak sabar, kan! Dasar nggak sabaran." katanya, tentu saja kepalaku nyut-nyutan dan semakin pusing melihat tingkah Suamiku ini ya Gusti! Sekarang belum jujur saja tingkahnya saja udah kayak gini bucin nya, apalagi nanti jika Aku dan dia udah bersatu kembali dalam satu rumah, bisa-bisa dia tidak membiarkan ku sampai turun dari ranjang.


"Mister! Bisa nggak sih tangannya nggak disitu? Nanti ada yang ngelihat Mister! Katanya Saya ini bukan Istrinya Mister, kok Mister doyan banget sih nggerayangin Saya?" kataku sembari menepis tangan Mr. Alva dari atas pahaku.


"Kenapa? Kamu nggak suka? Jangan bohong kalau kamu nggak suka, Aku yakin kamu pasti sangat menyukainya, istri atau bukan, tetap saja kamu adalah milikku, Nur! Kamu nggak bisa lari lagi kemana-mana, di mana ada kamu, Aku pastikan Aku ada di belakang mu, apapun yang kamu miliki, Aku pun juga memilikinya, ingat itu baik-baik, sejauh-jauhnya kamu pergi, Aku pun akan selalu mengikuti mu. Sekarang Aku mau menemui klien ku sebentar, setelah itu kamu datang ke ruangan ku!"


Setelah mengatakan hal itu, Mr. Alva segera beranjak pergi dari warung itu, sementara Pak Giman terlihat yang membayar semua makanan yang dipesan oleh Mr. Alva termasuk Ia juga membayar makanan ku dan Rini.


Setelah itu Ia pun pergi begitu saja tanpa berkata apa-apa, sebel nggak sih, baru saja dia mengelus-elus kedua paha ini, tiba-tiba dia pergi begitu saja, ya seperti itu lah sifat. Alvaro, dibalik sifat dingin dan arogan nya, sebenarnya Mr. Alvaro itu orangnya romantis banget, apalagi saat Ia berada di atas ranjang, hmm nggak bisa bayangin lagi deh Aku, belum lagi si Buaya yang gagah perkasa itu, beneran Aku nggak sanggup bila harus meninggalkan buaya Mas Tejo.


Hampir satu jam berlalu sejak Mr. Alva pergi pamit menemui kliennya, saat itu Aku sedang mengelap kaca, tiba-tiba Pak Giman datang menghampiri ku.

__ADS_1


"Nur! Di panggil Mr. Alva tuh!" seketika Aku menghela nafas dan menatap kearah dua orang yang sekarang berada di dekat ku, yaitu Pak Giman dan Rini. Aku lihat kedua orang itu tampak senyum-senyum melihat ku yang sedang bersiap untuk menemui suamiku.


"Cie cie! Yang mau ketemuan, Mbak Nur jangan lupa dikunci pintunya, takut aja nanti jika Pak Giman masuk, nggak asik kan jika Pak Giman mengganggu keasyikan kalian berdua." seru Rini sembari menatap wajah Pak Giman.


"Eh ... siapa juga yang ganggu mereka, mending Aku di sini saja sama kamu, sambil membicarakan rencana pernikahan kita." spontan Rini membuka mulutnya mendengar ucapan dari Pak Giman.


"Apa Pak? Menikah dengan Pak Giman?" Rini terlihat membulatkan matanya.


"Iya! Menikah lah dengan ku, nanti Aku akan memberi tahu kepada mu apa itu hutan belantara dan tongkat sakti, Aku yakin pasti pasti kamu suka." ucap Pak Giman sembari tertawa kecil melihat ekspresi wajah Rini.


Aku pun segera pergi ke ruangan Mr. Alvaro yang berada di lantai atas, tidak membutuhkan waktu lama, Aku pun tiba di depan pintu ruangan Suamiku. Belum sampai Aku memegang handle pintu itu, ternyata pintu sudah terbuka secara otomatis, mungkin Mr. Alvaro sudah tahu jika Aku sudah berada di depan pintu ruangannya.


Pintu itu mulai terbuka dengan sendirinya, Aku pun mulai melangkah masuk ke dalam ruangan yang menjadi saksi percintaan kami berdua. Tapi, kok Aku tidak melihat suamiku ada di dalam ruangan nya? Kemana dia?

__ADS_1


Setelah Aku masuk ke dalam, tiba-tiba saja pintu itu tertutup dengan sendirinya, kaget dong masa enggak, dan benar saja Aku melihat Mr. Alvaro sedang duduk di kursi kebesarannya yang menghadap membelakangi ku.


"Mister!"


Mendengar suaraku, pria itu langsung membalikkan kursinya dan Ia menyuruh ku untuk mendekatinya.


"Kemari, Nur! Datanglah ke sini!" titahnya sembari menggerakkan satu jarinya agar Aku datang kepadanya. Entah kenapa kaki ku terasa sangat ringan untuk melangkah, langkah kaki ini bergerak dengan cepat, hingga tak terasa sekarang Aku sedang berada di samping Suamiku.


"Duduklah di sini!" katanya sembari menepuk-nepuk pahanya.


Waduh dia menyuruhku untuk duduk di pangkuan nya? Nggak salah ini, itu tempat pastinya nggak rata, dan pastinya ada sesuatu yang mengganjal saat di duduki, entahlah benda apa itu?


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2