
"Evan! Mana Ibu?" tanya Mas Tejo pada anakku.
"Di sana, Yah!" tunjuk Evan pada satu arah. Aku berada di barisan paling belakang, begitu banyaknya tamu undangan membuatku kesusahan untuk mendapatkan tempat paling depan, ya sudahlah tak mengapa, Aku di belakang saja, toh Aku juga masih kelihatan Mas Tejo.
Tamu-tamu itu mendesak ku mundur, seolah-olah Aku ini hanya tamu biasa, bukan dari kalangan orang kaya, banyak yang memandang ku rendah duh Gusti! Dah lah nggak usah di ladeni, ini adalah acara ulang tahun suamiku, Aku tidak mau cari keributan, meskipun kuping ini panas selalu mendengar ucapan buruk mereka tentang diriku.
Puncak acara pun segera di mulai, Mas Tejo meniup lilin dan memotong kue ulang tahunnya, di sana dia di temani mertuaku dan juga Evan, mertuaku sangat senang bisa bertemu dengan cucu nya, Pak Hartawan tampak menggendong Evan dengan Sayang, Aku lihat dari kejauhan mertuaku tampak menangis bahagia saat melihat wajah putra kami, beliau pasti ndak menyangka jika Evan begitu mirip dengan Mas Tejo. Aku benar-benar terharu, ternyata Pak Hartawan begitu bahagia, iya tentu saja karena Evan adalah cucu pertamanya dan beliau baru bertemu hari ini.
Sementara orang-orang di sekitar ku, terus saja mengolok-olok diriku, katanya anakku ndak punya sopan santun main peluk orang sembarangan.
"Heh Nur! Bilangin tuh sama anakmu, suruh dia pergi dari sana, mengganggu pemandangan saja, ganggu momen orang lain, saudara bukan, teman bukan, main-main gelandotan saja, anak sama ibu sama saja!" lagi-lagi geng karyawan nyinyir itu terus menekan ku, dah lah Aku memilih diam, Aku capek dan males banget ladenin mereka, buang-buang waktu saja.
Aku lebih fokus pada Mas Tejo yang sedang memotong kue, potongan kue Pertamanya Ia berikan kepada mertuaku, terdengar sorak Sorai tamu undangan yang hadir, kemudian Mas Tejo memotong kue kedua, dan tentu saja Ia berikan kepada putra kami, Evan. Seketika tamu undangan saling menatap dan berbisik, mereka heran saja bagaimana bisa Mr. Alvaro memberikannya potongan kue itu kepada anak kecil, sejenak Para tamu undangan menatapku aneh, mereka pikir Aku memanfaatkan Evan untuk mencari perhatian Mr. Alvaro.
"Dasar wanita murahan, kamu pintar sekali memanfaatkan anakmu, dasar Ibu tidak tahu diri, harusnya kamu malu, udah bagus di kasih pekerjaan di perusahaan Mr. Alvaro, malah ngelunjak minta lebih, nggak bakalan Mr. Alvaro tertarik dengan wanita seperti kamu, dihh ngimpi jangan tinggi-tinggi kalau jatuh sakit baru tahu rasa!" umpat mereka yang selalu memandang ku rendah, Aku mencoba menahan emosiku, padahal sebenarnya Aku sangat ingin nyumpal mulut-mulut nyinyir itu, hah jika Aku ikut nyinyir juga apa bedanya Aku sama mereka, di sini Aku adalah istri Mr. Alvaro, seorang istri harus bisa menjaga nama baik suaminya, Aku tidak mau bertindak dengan caraku sendiri, Aku juga masih memikirkan kehormatan suamiku, Aku bisa saja memukul mereka jika Aku mau, Aku bisa jambak rambut mereka dengan mudah, tapi tidak, Aku masih memikirkan Mas Tejo, Aku tidak mau disebut sebagai istri yang bar-bar.
__ADS_1
Di saat semuanya sibuk menghinaku, tiba-tiba saja terdengar suara Mr. Alva mengumumkan kepada semua yang hadir dalam pesta ulang tahunnya.
"Mohon perhatian nya Sebentar! Saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua yang sudah hadir dalam acara Saya, sesuai janji saya kemarin-kemarin, bahwa hari ini Saya akan mengumumkan sesuatu yang sangat terpenting dalam hidup Saya, yaitu memperkenalkan kepada kalian semua tentang siapa sebenarnya pendamping hidup Mr. Alvaro, dia adalah wanita hebat, wanita tercantik yang pernah Saya temui, wanita yang tidak pantang menyerah, dia juga adalah Ibu dari anak Saya."
Mr. Alvaro memotong pembicaraan nya saat Ia menunjukkan Evan sebagai putranya, tentu saja seluruh tamu undangan tercengang dan melotot kan matanya, ini baru pengakuan tentang Evan.
"Loh loh loh Mr. Alvaro udah punya anak?"
"Jika itu anaknya Mr. Alvaro berarti ... waduh mampus kita!"
"Itu artinya Mr. Alvaro sudah menikah terlebih dahulu dong."
"Eh itu anaknya Nur, kan? Ya ampun jangan-jangan ...."
Kemudian Mas Tejo melanjutkan pengumumannya kembali.
__ADS_1
"Perlu kalian ketahui semua, bahwa sekarang istriku ada berada di antara kalian semua, dia bukan wanita kalangan atas, dia bukan juga berasal dari keluarga kaya, Aku menikahinya karena cinta, kami berdua saling mencintai, ketulusan dan kelembutan hatinya membuat hati seorang Mr. Alvaro tersentuh dan akhirnya hati ini jatuh cinta kepada nya, dan dia adalah ...!" Mas Tejo berjalan menuju ke tengah-tengah tamu undangan, entahlah dia sedang mencari siapa, semua mata tertuju kemana Mr. Alvaro pergi, hingga akhirnya Mr. Alvaro berhenti tepat didepan ku, sontak semua orang dibuat diam tak bersuara, mereka terlihat begitu terkejut saat Mr. Alvaro meraih tanganku dan menciumnya dengan lembut.
Aku menatap wajah suamiku yang terlihat tampan malam itu, dia tersenyum padaku dan tanpa pikir panjang Mr. Alvaro menggandeng tangan ini dengan mesra, Aduh Gusti! Aku jadi mewek seperti ini, Aku tak bisa membendung air mata ini, Mas Tejo tahu jika Aku sedang menangis, dengan sigap Ia mengusapnya perlahan sembari berkata padaku, "Jangan menangis! Aku akan selalu ada di sisimu, sekarang sudah tiba saatnya semua orang tahu jika kamu adalah istri sah Mr. Alvaro, Nyonya Alvaro, tersenyum lah Nur! Senyum lah untukku, hanya melihat senyuman darimu itu adalah kado terindah untuk ku." Mas Tejo memelukku penuh kasih sayang, bisa dibayangkan bagaimana reaksi mereka-mereka yang baru saja menghinaku.
Tentu saja mereka semua menundukkan wajahnya dan sangat malu, apalagi Mas Tejo membawaku berdiri di depan seluruh tamu undangan.
"Kalian tahu siapa wanita ini, iya dia adalah Nurul Cinta, pegawai cleaning servis di kantor ku, wanita yang sudah memberiku cahaya cinta, wanita yang berhasil meluluhkan hati seorang Mr. Alvaro yang dingin dan arogan, wanita ini juga yang sudah memberiku seorang putra yang tampan, iya dia ada Nur ... cleaning servis yang sering kalian hina, yang sering kalian caci, dan sekarang dia adalah istri Bos kalian, siapapun yang sudah menghina istri Mr. Alvaro, itu berarti dia sudah menghina Aku juga. Itu tandanya kalian sudah tidak dibutuhkan lagi di perusahaan Mr. Alvaro."
Mendengar penuturan dari suamiku, seketika mereka-mereka yang menghinaku tadi, tiba-tiba beramai-ramai datang dengan bersimpuh memohon maaf kepada ku, loh loh Aku pun sangat terkejut dengan sikap mereka, Aku ini hanya manusia biasa kenapa mereka sampai bersimpuh segala.
"Ampuni kami Mister!"
"Ampun Nyonya! Kami mohon jangan pecat kami."
...BERSAMBUNG...
__ADS_1