AMNESIA BRINGS LOVE

AMNESIA BRINGS LOVE
Mabok perjalanan


__ADS_3

Akhirnya setelah berhasil membantu si Mbok yang konde nya tersangkut, si Mbok pun bisa bernafas dengan lega, kedua orang tua ku duduk di kursi tengah, sementara Pak Hartawan duduk di kursi depan bersama sopir, Bapak dan si Mbok terlihat senang, seperti anak kecil yang baru pertama menaiki mobil.


"Waahh penak Yo, Pakne! Kursine empuk ora koyo wekne dewe atos." (Waahh nyaman ya, Pak! Kursinya empuk tidak seperti punya kita, keras) kata si Mbok sambil menepuk-nepuk jok mobil yang Ia duduki.


"Yo mesti toh, Bune! Kursine dewe soko kayu, lah iki ngunu mobile wong sugih, yo mesti penak, syukur yo Bune, Nur ole morotuwo sing becik lan garwa sing trisno tenanan marang Nur, Bapak melu bungah." (Ya tentu saja, Bu! Kursi kita dari kayu, sedangkan ini mobilnya orang kaya, ya tentu saja nyaman, syukur ya Bu, Nur dapat mertua yang baik dan suami yang cinta sekali sama Nur, Bapak ikut bahagia) kata bapak sembari menitikkan air matanya.


Rupanya Bapak sangat terharu dengan keadaan ku sekarang, Pak Hartawan sengaja menyusul si Mbok dan Bapak untuk bertemu dengan ku, jauh-jauh dari kota, Pak Hartawan rela meluangkan waktunya hanya untuk menjemput sendiri si Mbok dan Bapak.


Bapak memang tidak ikut melahirkan ku, tapi Bapak selalu menyayangi ku, beliau selalu mengharapkan sesuatu yang terbaik untuk putrinya, Bapak selalu mendampingi ku saat Aku dalam kesusahan, sejak kecil Bapak tidak akan pernah membiarkan ku menangis, meski beliau bukanlah orang berpunya, tapi Bapak selalu memberikan yang terbaik untuk ku, apalagi saat Aku masih sekolah dulu, Bapak lah yang mengantarkan Aku pulang pergi ke sekolah, jarak sekolah dan rumah membutuhkan waktu hampir satu jam, apalagi keadaan alam di desa kami yang tentu saja naik turun, membuat perjalanan menjadi lama, Bapak selalu mengantar ku memakai sepeda onthel.


Ah ... masa-masa itu benar-benar tidak akan pernah Aku lupakan, betapa perjuangan Bapak agar Aku terus bisa sekolah sampai lulus, doa terbesar Bapak adalah, agar Aku kelak mendapatkan pasangan yang menerima ku apa adanya, yang menyayangi ku tanpa syarat, seperti Bapak yang sangat menyayangi ku, dan semua itu sudah dikabulkan oleh Gusti Pangeran, keinginan Bapak sudah terkabul, mungkin ini memang sudah digariskan oleh yang kuasa, Aku bertemu dengan Mas Tejo dalam sebuah tragedi yang menimpa Mas Tejo hingga akhirnya dia Amnesia saat itu, Aku mencintai Mas Tejo apa adanya, tanpa memandang siapa dia sebenarnya, karena Aku yakin jika Mas Tejo yang akan menjadi imam ku kelak. Dan Gusti Pangeran telah membuka semua tabir ini, dibalik rasa ikhlas ku mencintai Mas Tejo, ternyata Aku mendapat kenyataan jika Mas Tejo bukanlah orang sembarangan, dia termasuk salah satu Sultan, perusahaan nya sangat besar dan terkenal, dia bukanlah Mas Tejo melainkan Mr. Alvaro.


Perjalanan menuju ke kota memerlukan waktu yang lama, sekitar empat jam, selama dalam perjalanan si Mbok mulai merasa mual dan pusing, mungkin si Mbok tidak terbiasa dengan AC mobil yang dingin, si Mbok pun pingin muntah tapi ndak bisa, seolah-olah tertahan di dalam perut.


"Aduh Pakne, Aku kudu gumoh, Pakne! Sirahku muter-muter Pakne!" (Aduh Pak, Aku mau muntah, Pak! Kepala ku muter-muter, Pak) si Mbok tampak memegang kepalanya yang terasa pusing, Bapak mencoba memijit-mijit kepala si Mbok, melihat itu Pak Hartawan bertanya kepada si Mbok dan Bapak.

__ADS_1


"Bu Semi kenapa, Pak?"


"Eh ini loh Pak, si Mbok kepalanya pusing, mau muntah katanya, mungkin ndak terbiasa naik mobil, mabok dia Pak!" kata Bapak sembari tersenyum.


"Oh ... masuk angin, ya! Apa tadi Ibu tidak sarapan sebelum berangkat?" tanya Pak Hartawan. Si Mbok pun menggelengkan kepalanya. Karena saking senangnya mau naik mobil, si Mbok pun lupa sampai belum sarapan, karena terlalu girangnya si Mbok akan bertemu dengan ku.


"Baiklah! Kita istirahat sebentar, kita makan dulu supaya Ibu bisa mengisi perut, nggak baik naik kendaraan sebelum makan, ya jadi begini! Masuk angin, kan!" ucap Pak Hartawan sembari menyuruh sopirnya untuk berhenti di depan sebuah rumah makan.


Akhirnya mobil mewah itu berhenti di rumah makan sederhana yang menyediakan menu-menu modern yang tentunya si Mbok dan Bapak belum pernah menginjakkan kaki di restoran mahal itu.


Bapak dan si Mbok turun dari mobil, seketika mereka begitu terkejut melihat resto mewah yang sekarang ada di depan mata.


"Maaf Pak! Ini rumah siapa? Kok besar sekali?" tanya Bapak dengan polosnya. Pak Hartawan tersenyum dan berkata, "Ini bukan rumah siapa-siapa, Pak! Ini adalah rumah makan. Mari! Kita masuk." ajak Pak Hartawan kepada kedua orang tua ku, si Mbok dan Bapak terlihat mengikuti langkah Pak Hartawan untuk masuk ke dalam restoran mewah itu.


Seperti tadi, Bapak melepaskan sendalnya saat tiba di depan restoran, seketika Pak Hartawan melihat Bapak yang sedang berusaha melepaskan sendalnya dan menyuruh kembali untuk memakai nya.

__ADS_1


"Pak Prapto! Jangan dilepas sendalnya, nggak apa-apa dipakai saja!" seru mertuaku kepada Bapak.


"Hehehe apa nanti ndak dimarahi yang punya rumah, Pak? sendal Saya jelek, Pak." kata Bapak sembari melihat kearah kakinya. Pak Hartawan tersenyum dan memberikan kode kepada pengawalnya untuk membelikan sendal baru untuk Bapak.


"Tidak akan ada yang marah, Pak. Tuh Bapak lihat orang-orang juga tetap memakai sendalnya." ucap Pak Hartawan sembari menunjuk kaki para pengunjung restoran.


"Ohhh iya," Bapak tampak tersenyum malu, kemudian Bapak pun masuk dengan menggunakan alas seadanya yang Ia punya, tentu saja semua orang memperhatikan penampilan Bapak yang sangat-sangat sederhana itu, tapi mertuaku sepertinya tak memperdulikan orang-orang sekitarnya, beliau tetap tersenyum sembari berjalan menuju ke tempat duduk yang sudah disediakan.


Bapak dan si Mbok bergandengan erat sekali, seolah-olah si Mbok takut jika terlepas dari tangan Bapak. Mereka terus berjalan mengikuti langkah Pak Hartawan, hingga tak sadar kaki si Mbok terpeleset lantai restoran yang licin, mengingat sendal yang dipakai si Mbok alasnya sudah teramat licin, sehingga dengan mudahnya si Mbok terpeleset lantai keramik.


"Aduh aduh Pakne," si Mbok bergelayut pada tangan Bapak sembari menahan agar tubuh tetap terjaga dan tidak terjatuh. Untung saja Bapak bisa menahan dengan kuat badan si Mbok sehingga si Mbok ndak jadi terjatuh.


Pak Hartawan hanya tersenyum melihat tingkah lucu si Mbok dan Bapak, mungkin dalam pikiran mertuaku, seru juga punya besan seperti si Mbok dan Bapak, pasti setiap hari ada-ada saja tingkah lucu keduanya. Dan salutnya juga untuk mertuaku Pak Hartawan, beliau ndak pernah merasa malu jalan bareng si Mbok dan Bapak yang pastinya bagi sebagian orang akan terasa malu bila jalan bersama si Mbok dan Bapak yang masih terlihat norak dan kampungan itu.


Beruntung nya Aku mempunyai suami Mas Tejo dan mertua seperti Pak Hartawan, nggak nyangka aja Aku bisa menjadi bagian dari keluarga mereka.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2