AMNESIA BRINGS LOVE

AMNESIA BRINGS LOVE
monitor bayangan


__ADS_3

"Ya sudah! Papa pergi dulu ke kamar, ingat! Jangan tidur terlalu malam, Papa berharap kamu tidak jatuh cinta kepada gadis itu, agar kamu tidak menyesal dengan sumpahmu untuk tidak bermain dengan wanita manapun, karena yang Papa lihat, kamu sudah mulai terbuka dengan seorang wanita. Alvaro! Ingat kata-kata Papa, suatu hari nanti pasti akan ada seorang wanita yang mampu meluluhkan hatimu. Tunggu waktu itu tiba." ucap Hartawan sebelum dirinya pergi dari kamar Alvaro.


Pintu kamar itu mulai tertutup, kini Alva tinggal sendiri, Ia mencoba menetralkan perasaannya dan berusaha melupakan bayangan Nur dengan membuka beberapa berkas dan dokumen penting yang akan Ia periksa. Namun, tiba-tiba saja bayangan bocah kecil yang tadi siang sempat Ia temui tiba-tiba melintas dalam pikirannya.


"Evan!" satu kata yang terucap dari bibir Alvaro, nama Evan, bocah yang mempunyai kemiripan wajah dengannya.


"Kenapa Aku merasa jika anak itu begitu dekat denganku? Ada apa ini?"


Alvaro menutup kembali berkas-berkas itu, dan Ia pun beranjak untuk tidur, meskipun sebenarnya dirinya tidak bisa memejamkan mata, tapi setidaknya Ia berusaha melupakan bayangan kedua orang itu.


Malam semakin larut, hanya denting jam yang terdengar halus menyapu telinga, Alva hanya bisa memijit pelipisnya karena dirinya benar-benar tersiksa dengan bayangan Nur ataupun Evan. matanya sama sekali tidak bisa memejamkan sedikitpun, belum lagi suara-suara merdu dari bibir Nur yang tak sengaja tersimpan pada memori internal Alva.


"Mas Tejo! Aku milikmu, Mas!"


"Mas Tejo! Kamu adalah suamiku, Aku sangat merindukanmu!"


Suara itu terdengar berulang-ulang di telinga Alvaro, belum lagi bayangan saat dirinya mencumbu Nur dengan mesra, mencium bibir gadis itu dengan rakusnya, apalagi saat dirinya dan Nur sedang menyatukan raga mereka, desaahan itu, lenguhan itu, teriakan kecil itu, sungguh bayangan-bayangan itu seperti sebuah monitor yang terpampang nyata pada dinding kamar Alvaro.


Bagaimana dirinya begitu menguasai tubuh Nur, menjadikan gadis itu miliknya, dan bagaimana saat Dirinya tidak membiarkan Nur untuk bergerak.


Alvaro benar-benar melihat bayangan itu begitu nyata, seperti dirinya menyaksikan sendiri bagaimana Ia memperlakukan Nur begitu mesra dan sesekali nama Tejo disebut oleh Nur saat mereka berdua berada dalam puncak.

__ADS_1


"Mas Tejoooooo!"


"Akkkhhhhhh!"


Alva menghela nafasnya dalam-dalam, Ia mengusap keringat yang keluar dari wajah tampannya, dia tak percaya jika dirinya dan Nur melewati kejadian itu seperti mereka pernah melakukannya, Nur begitu luwes menerima sentuhan dari Alva, pun sebaliknya Alva seolah tahu dimana GSpot seorang Nur, sehingga dengan mudahnya Alvaro membuat Nur tidak bisa berbuat apa-apa, gadis itu hanya bisa mendesaah berkali-kali dan mencengkram rambut Alva dengan kuat.


"Shiiit ... gila! Lama-lama Aku bisa gila jika seperti ini, bagaimana bisa Aku seperti itu padanya, apa benar kata Papa, jika Aku sudah mulai terbuka dengan seorang wanita, dan kenapa harus dengan Nur." gumamnya sembari melihat kedua tangannya yang sudah menyentuh sesuatu yang berharga dari Nur.


"Tangan ini? Tangan ini sudah menyentuhnya, dan Nur tidak menolaknya, hmm apa jangan-jangan dia juga seperti itu dengan pria lainnya. Haaaaa ... kenapa Aku bisa sebodoh itu, Alva! Jangan pernah terpengaruh oleh wanita itu, cukup sekali saja kamu melakukan kesalahan itu padanya, dan jangan tergoda lagi untuk menyentuhnya." gumam pria itu.


*


*


*


*


"Nur! Biar Evan sekolah, kasihan anakmu sudah waktunya sekolah." kata Bi Rodiah.


"Tapi, Bi! Saya ndak punya cukup uang untuk mendaftarkan Evan sekolah, Bi Rodiah tahu sendiri jika Nur baru sehari bekerja di kantor Mr. Alvaro." kataku sembari mengusap rambut Evan.

__ADS_1


"Kamu jangan khawatir! Untuk sementara biar Bibi yang membiayai sekolah Evan! Ndak apa-apa, Bibi iklhas! Bibi seneng bisa bantu kamu, Nur! Nanti, kalau kamu sudah punya uang, kamu bisa melanjutkan biayanya." kata Bi Rodiah yang membuat ku sangat berhutang budi kepadanya.


Aku pun menatap wajah putraku dan berkata kepadanya, "Evan! Evan mau sekolah?" tanyaku kepada anakku, dan Ia pun menjawab kegirangan, "Mau, mau Bu! Evan mau sekolah, biar kalau sudah besar, Evan bisa bahagiain Ibu, beliin Ibu mobil biar Ibu ndak kecapekan pergi ke mana-mana." sejenak ucapan dari bocah polos itu membuatku tersenyum. Aku pun memeluk nya dengan penuh haru.


Duh Gusti! Andai saja Mr. Alvaro tahu jika Evan adalah anak kandungnya, mungkin nasibmu tidak semalang ini, Nak! Ibu berharap suatu hari nanti Mr. Alvaro bisa mengingat kembali masa lalunya saat bersamaku di Desa. Semoga saja.


Hari itu juga Bi Rodiah membawa putraku pergi ke sekolah, tentu saja Bi Rodiah yang mengurus semuanya, sementara Aku berangkat ke kantor bersama Rini.


Hari ini adalah hari keduaku bekerja di kantor Mr. Alvaro, Aku dan Rini berangkat bersama, pagi itu suasana kantor masih sepi, Aku dan Rini segera menuju pantry dan mengambil alat-alat tempur kami, sapu, pel dan lap.


Aku dan Rini beserta beberapa karyawan cleaning servis lainnya terlihat bekerja bersama sebelum semua karyawan datang termasuk Mr. Alvaro yang tak lain adalah suamiku, Mas Tejo.


Saat itu Aku sedang mengepel lantai di sepanjang koridor kantor, Aku fokus pada pekerjaanku agar semuanya cepat selesai. Aku berjalan mundur sembari memegang gagang pel dan menyapukannya pada lantai.


Hingga tak kusadari kaki ku tersandung dan Aku hampir saja terjatuh.


"Aaaaaaaaaaaa."


Tiada hujan tiada angin, tiba-tiba saja ada seseorang yang menahan tubuhku agar tidak terjatuh di lantai. Spontan Aku berpegangan pada leher orang itu. Dan betapa terkejutnya saat Aku melihat Mr. Alvaro sedang berada di hadapanku, pria itu terlihat melingkarkan tangannya pada tubuhku, menahannya agar tubuh ini tidak terjatuh.


"Mister ... Anda!" kataku saat wajah itu sedang menatapku dengan tajam.

__ADS_1


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2