
Dalam pelukannya Aku terasa begitu nyaman, apalagi mencium aroma tubuh suamiku sendiri, seperti menghirup aroma terapi yang menenangkan hatiku, Aku pun semakin dalam menyusup sampai kubuka jas Mr. Alvaro, Aku endus-endus aroma tubuhnya yang membuatku candu, entahlah Aku merasa puas jika sudah menghirup aroma maskulin dari tubuh suamiku.
Tentu saja apa yang Aku lakukan membuat Mas Tejo kegelian, Ia pun mencoba menghindari perlakuan ku yang terus semakin menempel.
"Eh eh Nur Nur! Geli Nur, kamu jangan gini dong, aduh!" Mr. Alva benar-benar tidak kuat geli, Ia terlihat berusaha melindungi dirinya dengan mencoba menutupi area dadanya. Karena Aku yang terus memaksa untuk mencium tubuhnya.
Tanpa kami sadari ada orang yang sengaja menguping kami berdua dari luar ruangan, dan dia adalah Mbak Devi dan kawan-kawan, rupanya Mbak Devi penasaran dengan apa yang kami lakukan.
"Eh eh dengerin deh! Tuh kan Nur pasti sengaja menggoda Mr. Alvaro, ihh menjijikkan sekali sih Nur ini, bisa-bisa nama baik perusahaan ini jatuh gara-gara kelakuan perempuan itu, kita harus buat Nur pergi dari perusahaan ini, wanita ganjen itu nggak boleh ada di kantor Mr. Alvaro."
"Iya kamu benar, kita kerjain aja si Nur, biar dia nggak betah di kantor ini, biar dia cepet pergi dari sini."
"Betul juga, tapi kita harus hati-hati dengan supaya Mr. Alva tidak mencurigai kita, bisa-bisa justru kita yang akan dipecat seperti kejadian waktu itu."
ketiga wanita itu terlihat merencanakan sesuatu untuk membuat ku pergi dari perusahaan Mr. Alvaro, hmm jahat sekali mereka, padahal Aku tidak mengganggu hidup mereka, dan Aku tidak pernah mengusik ketenangan mereka. Aku hanya ingin kembali kepada suamiku, apa Aku salah jika Aku juga ingin dekat dengan suamiku.
__ADS_1
Sementara itu Aku masih terus menempel seperti cicak pada Mr. Alva, dia pun tidak berkutik, Mas Tejo pasrah, Ia tahu jika itu adalah keinginan bayinya yang masih dalam perut ini. Mas Tejo justru tertawa geli saat Aku terus memeluknya dan menempelkan wajahku pada area dada dan sekitarnya. Mr. Tejo duduk di atas sofa dan menyandarkan kepalanya dan membiarkan ku memeluknya sesuka hati.
Awalnya Aku memang sebel sama dia, tapi lama-lama Aku jadi nyaman, hmm bayiku ini benar-benar ingin sekali dekat dengan Ayahnya, Aku duduk di samping Mr. Alva sambil kepalaku yang terbenam pada dada bidangnya, sementara satu kaki ku naik ke atas paha Mr. Alva, pokoknya Aku anggap Mas Tejo itu Sebuah guling, Aku bebas memeluknya, toh dia ndak marah justru dia pasrah.
Tiba-tiba saja terdengar suara Mr. Alva yang berkata sambil menarik nafasnya dalam-dalam. "Nur!" katanya dengan nafas yang mulai naik turun, terlihat sekali dada bidang Suamiku bergerak ke atas dan ke bawah serta detak jantungnya yang mulai berdetak kencang.
"Hmmm apa?" jawabku yang masih anteng menikmati aroma tubuh Mr. Alvaro.
"Turunkan kakimu!" titahnya kepada ku. Aku pun menatap wajah Mr. Alvaro yang terlihat meringis menahan sesuatu.
"Nur! Turunkan kakimu, kamu sudah bikin kepala buayaku ketekuk, aduh Nur nggak enak banget." spontan Aku pun segera menurunkan kakiku dari paha Mr. Alvaro, Aku pun merasa sangat bersalah sudah membuat Mr. Alva kesakitan.
"Ma-maaf Mister!" kataku sembari menjauhkan diri ku dari tubuh Mr. Alvaro. Ia pun menahan ku untuk menjauhi nya dengan menahan satu tanganku.
"Mau kemana kamu? Kamu harus tanggung jawab." katanya sembari menatap ku nakal.
__ADS_1
"Hehehe, Saya mau keluar Mister! Ma-maaf seharusnya Saya ndak melakukan itu, permisi!" kataku sembari beranjak pergi dari tempat dudukku. Eh lah kok Mr. Alva justru menarik tanganku, tentu saja Aku pun jatuh kembali dalam pangkuannya.
"Eh eh eh, Saya mau pergi, Mister!" Aku berusaha melepaskan diri dari dekapannya, tapi Mr. Alvaro justru mengunci tubuh ku sehingga Aku tidak bisa bergerak.
"Tidak semudah itu kamu bisa pergi dari sini, kamu harus bertanggung jawab." katanya sembari menatap ku dengan senyum smirk.
"Tanggung jawab apa maksud, Mister?" Aku pun masih bingung apa yang dimaksud oleh suamiku.
"Kamu benarkah dulu posisi kepala buayaku, setelah itu kamu boleh keluar!"
Ha ... benerin kepala buaya Mr. Alva? Waduh mampus kamu Nur, mana bisa Aku menahannya, bisa-bisa Aku ndak bisa melepaskan dari kepala buaya itu dari tangan ku.
"Cepatlah Nur!" titahnya sembari menarik tangan ku untuk menyentuh kepala buaya nya yang masih tertutup oleh pakaian dalam suamiku. Tentu saja tanpa sengaja tanganku yang lembut ini menyentuh sesuatu yang mulai mengeras, Aku yakin itu adalah kepala buaya Mr. Alva yang sedang ketekuk, hmm haruskah Aku menolongnya?
...BERSAMBUNG...
__ADS_1
...Gimana gimana apakah Nur akan menolong buaya suaminya yang ketekuk? 😁...