
Setelah Pak Hartawan mengajak si Mbok dan Bapak makan, akhirnya mereka melanjutkan perjalanan menuju ke tempat tinggal mertuaku dan tentunya mereka berdua akan bertemu dengan suamiku, Mr. Alvaro.
Hampir lima jam perjalanan, akhirnya mobil Pak Hartawan tiba di depan rumah mewah milik CEO perusahaan besar di kota itu, yang tak lain adalah Mr. Alva atau Mas Tejo. Mobil itu berhenti di depan rumah yang memiliki plafon tinggi itu, si Mbok dan Bapak turun dari mobil dan terperangah melihat keindahan eksterior rumah mewah suamiku.
Di desa tidak ada rumah seperti itu, kata si Mbok rumah Mr. Alva seperti dalam negeri dongeng. Tentu saja kedatangan Pak Hartawan disambut oleh beberapa pelayan yang sudah berjajar di sepanjang jalan menuju pintu rumah, si Mbok pun terkejut kenapa tiba-tiba banyak orang yang membawa barang-barang nya, si Mbok pun memarahi para pelayan itu.
"Loh loh mau dibawa kemana itu tas Saya, hei kamu mau maling, ya! Sini kembalikan!" teriak si Mbok sambil menarik tasnya yang dibawa oleh beberapa pelayan untuk diletakkan di ruang tamu.
"Bu Semi, mereka bukan maling, mereka semua adalah pelayan kita, mereka mau membantu Ibu dan Bapak agar tidak keberatan membawa tas dan barang-barang kita." jelas Pak Hartawan yang membuat si Mbok malu-malu.
"Owalah gitu toh, Pak! Waduh orang kaya tuh enak ya, apa-apa udah ada yang nyediain." kata si Mbok sembari tersenyum malu.
"Nanti Ibu dan Bapak akan tinggal di rumah ini, ini adalah rumah menantu Kalian, Tejo. Sebentar lagi Tejo akan pulang, mari kita tunggu di dalam." seru Pak Hartawan kepada kedua orang tuaku.
Si Mbok dan Bapak akhirnya masuk ke dalam Istana itu, bagaimana pun juga ini adalah pengalaman pertama mereka menginjakkan kaki di rumah sebesar itu, Pak Hartawan membawa si Mbok dan Bapak untuk masuk ke dalam ruang tamu dan mempersilahkan keduanya untuk duduk.
__ADS_1
"Ayo Pak, Bu! Kita istirahat dulu, Saya akan menyuruh pelayan untuk mengantarkan minuman untuk Bapak dan Ibu." kata mertuaku sambil menyuruh seorang pelayan untuk mengambilkan minum untuk besannya.
Sementara itu Bapak dan si Mbok masih canggung untuk masuk ke dalam rumah mewah itu, terlihat Bapak duduk di lantai, lantainya nyaman katanya, ndak kotor dan sangat bersih, dan rasanya juga dingin, sementara Pak Hartawan yang tahu Bapak duduk di lantai bawah langsung menghampiri Bapak dan mengatakan agar Bapak duduk di kursi saja.
"Loh Pak Prapto ngapain duduk di situ! Duduk di kursi saja, Pak! Di situ nanti kotor." seru mertuaku sembari mengajak Bapak yang sudah duduk di atas lantai.
"Nggak apa-apa, Pak! Di sini enak, adem, lantainya nyaman dan juga bersih, nggak kayak di rumah kami, iya toh Bune! di rumah kami ndak punya lantai sebagus ini, lantai kayak gini yang ada cuma di dalam Mesjid di kampung kami, nggak nyangka saja Saya bisa merasakan lantai ini di rumah Bapak." ujar Bapak sembari mengusap lantai yang terbuat dari marmer itu.
Kemudian Pak Hartawan ikut duduk di bawah bersama Bapak, ya ampun! Mertuaku itu benar-benar jadi panutan, padahal dia orang kaya tapi tak segan ikut duduk di atas lantai dengan Bapak dan si Mbok.
"Loh Pak Hartawan kok ikut duduk bersama kami? Nanti baju Bapak kotor, kalau kami sih biarkan saja, toh Kami hanya orang desa, Pak! Ndak pantas untuk duduk di atas, kami tahu diri." kata-kata Bapak membuat mertuaku tersentuh.
Hingga akhirnya sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah mewah Mr. Alvaro. Dan benar saja itu adalah suamiku yang baru pulang dari kantor. Sejenak mertua ku bilang jika suamiku sudah pulang.
"Itu pasti Tejo, dia sudah pulang." kata Pak Hartawan yang Bapak dan si Mbok. Tentu saja kedua orang tua ku sangat senang bisa bertemu lagi dengan menantunya yang menghilang lima tahun yang lalu.
__ADS_1
Suara tap sepatu mulai mendekati ruangan itu, Bapak dan si Mbok dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang memakai baju rapi dengan setelan jas yang mewah, sejenak Bapak dan si Mbok mengerutkan keningnya saat melihat wajah yang sedang tersenyum kepada mereka, hingga akhirnya Mr. Alvaro ikut duduk bersama Bapak dan si Mbok di atas lantai, sementara si Mbok dan Bapak sangat takut dengan kehadiran Suamiku yang cukup membuat kedua orang tua ku tidak mengenalinya.
"Bapak, Ibu! Ini Tejo! Moso Bapak sama Ibu mboten kenal? Ini Tejo, Pak, Bu! Mantune panjenengan, garwane Nur, anak Bapak lan Ibu." (Bapak, Ibu! Masa Bapak dan Ibu tidak kenal? Ini Tejo, Pak, Bu! Menantu Bapak dan Ibu, suaminya Nur) kata Mr. Alvaro kepada si Mbok dan Bapak yang terlihat bingung.
"Iki Tejo? Kok ngene model e? Sepuntene Ndoro! Mungkin Ndoro salah, Nak Tejo ndak koyo gini." (Ini Tejo? Kok begini modelnya? Maaf Tuan! Mungkin Tuan salah, Nak Tejo tidak seperti ini) kata Bapak yang masih belum percaya jika Mr. Alva adalah Mas Tejo suamiku, siapapun orangnya pasti tidak akan percaya jika Mr. Alva adalah Mas Tejo yang dulu sangat sederhana, tapi kini sekarang penampilannya sudah sangat mewah, membuat Si Mbok dan Bapak jadi bingung.
Mr. Alvaro tersenyum, Ia tahu jika dirinya sudah berubah, kemudian Ia beranjak berdiri dan akan membuktikan kepada Bapak dan si Mbok jika dirinya adalah benar-benar menantu mereka.
"Baiklah! Bapak dan ibu tunggu di sini, Saya akan membuktikan jika Saya adalah menantu Bapak dan Ibu." pamit Mr. Alva beranjak ke kamarnya dan menunjukkan bahwa dirinya adalah benar-benar suamiku, entah apa yang dilakukan oleh suamiku untuk meyakinkan kepada Bapak dan si Mbok jika dia adalah Mas Tejo.
Sementara itu si Mbok dan Bapak tampak saling berbicara.
"Iku maeng sopo toh, Pakne? Wajahe kok mirip Nak Tejo, tapi rasukane ora koyo ngunu, Aku wedi Pakne!" (Itu tadi siapa sih, Pak? Wajahnya kok mirip sekali dengan Nak Tejo, tapi bajunya nggak seperti itu,Aku takut, Pak) kata Si Mbok kepada Bapak.
"Aku yo melu wedi, Bune! Pacakane koyo juragan gede ngunu, embuh Bune! Aku yo bingung." (Aku juga takut, Bu! Penampilan nya kaya Bos besar gitu, entahlah Bu! Aku juga bingung) balas Bapak sambil garuk-garuk kepalanya.
__ADS_1
Sementara itu mertuaku tampak tersenyum melihat tingkah si Mbok dan Bapak yang masih belum percaya jika Mr. Alvaro adalah Mas Tejo.
...BERSAMBUNG...