
Mbak Devi, Mbak Citra, dan Mbak Naning, ketiga karyawan itu melihat ku dengan tatapan yang sinis, belum lagi Pak Farid yang juga sering mencariku, entahlah dua Bos besar selalu berusaha mencuri perhatian dariku. Tentu saja Aku lebih memilih bersama Mr. Alva, dia suamiku dan tentunya jika Aku pergi bersamanya tidak akan menjadi dosa, beda lagi jika Aku pergi bersama Pak Farid, meskipun sering sekali Ia mengajakku untuk makan siang, tapi Aku selalu menolaknya dan itu membuatnya sedikit tersinggung.
Saat itu Aku sedang membersihkan ruangan Pak Farid, sementara dia sedang keluar rapat, Aku pikir jika Pak Farid akan kembali cukup lama, jadi Aku santai-santai saja membersihkan ruangan itu. Hingga tiba-tiba saja terdengar suara pintu terbuka, dan setelah Aku lihat ternyata Pak Farid sedang masuk ke dalam ruangannya, sontak Aku pun terkejut dengan kedatangan nya yang tiba-tiba.
"Selamat siang, Pak! Maaf, Saya sedang membersihkan ruangan ini, jadi, tadi saya belum minta izin dulu kepada Pak Farid." kataku sembari menundukkan kepala.
"Tidak apa-apa, jika kamu yang masuk pasti Aku biarkan, apalagi jika kamu masuk ke dalam hatiku." katanya sembari menatap ku dengan tersenyum, Aduh Gusti mudah-mudahan saja Pak Farid ndak menaruh perasaan sama Aku, Aku ini wanita bersuami dan suamiku sangat dekat sekali dengannya, kalau saja dia tahu jika Aku adalah istrinya Mr. Alva, mungkin dia tidak akan berani mengatakan hal ini kepadaku.
"Maaf, Pak! Saya ndak ngerti maksud Pak Farid." kataku yang pura-pura tidak tahu. Kemudian Pak Farid mulai mendekatiku dan berkata. "Aku mulai suka sama kamu, Nur!"
__ADS_1
"Deg."
Setelah mendengarkan pengakuan dari Pak Farid, Aku pun mulai beranjak pergi dari ruangan itu, Aku tidak mau berlama-lama dengan nya dalam satu ruangan, berbeda jika Aku berada dalam ruangan Mr. Alva, seharian pun Aku betah jika berada bersamanya dalam satu ruangan.
"Maaf, Pak! Saya pergi dulu." Aku pun pamit untuk keluar dari ruangan itu. Tapi, tiba-tiba saja Pak Farid berkata padaku. "Nur! Kenapa sekarang kamu tidak mau Aku ajak untuk makan siang? Aku kan cuma ingin sekedar makan siang saja, Nur! Lagipula kamu kan seorang janda, jadi nggak masalah kan jika Aku mengajakmu." Aku sangat terkejut, bagaimana bisa Pak Farid mengatakan jika Aku adalah seorang janda.
"Apa maksud Pak Farid? Jika Saya seorang janda, bagaimana bisa Bapak menyimpulkan itu!" kataku dengan serius, Pak Farid tertawa kecil dan Ia berkata, "Nur Nur! Aku sudah tahu semuanya, iya kamu memang sudah mempunyai suami, tapi Suamimu itu nggak ada, iya kan? Aku sudah menyelidiki semuanya, jika kamu dan suamimu lama berpisah, entahlah ada yang bilang jika suamimu meninggalkan mu, kasihan sekali kamu, Nur. Bodoh sekali laki-laki yang meninggalkan wanita seperti mu."
"Kamu mau kemana, Nur! Aku belum selesai bicara." katanya sembari menarik tanganku. Aku pun berusaha melepaskan tangan ku dari genggaman nya, sungguh Aku sangat tidak suka dengan caranya yang seperti itu.
__ADS_1
"Lepaskan Saya, Pak! Saya mau pergi." kataku yang terus berusaha pergi dari ruangan Pak Farid. Pak Farid terus menahan kedua tanganku, Aku pun berusaha melepaskan diri dari cengkeraman pria itu, Aduh Gusti tolong lah hamba mu ini, pria ini berusaha untuk memperlakukan ku secara tidak manusiawi.
"Tolong ... tolong ... emmpptt!" Pak Farid membungkam mulutku dengan tangannya agar suaraku tidak terdengar dari luar. Sejenak Aku mendengar Pak Farid berbisik. "Kamu tidak bisa lari kemana-mana, Nur! Aku tahu kamu menolak ku karena kamu lebih memilih si Alvaro itu, kan? Hmm Katakan padaku sudah berapa kali kamu tidur dengannya, dan sekarang giliran mu untuk memenuhi keinginan ku, Aku tidak suka kamu pilih kasih, jika Alvaro saja sudah pernah mencicipi tubuh mu, kenapa Aku tidak bisa?"
Mendengar pengakuan dari Pak Farid, Aku pun tidak percaya dia bisa berpikiran seperti itu, ternyata selama ini mereka selalu berpikiran negatif kepada ku dan Mr. Alvaro. Iya, kami memang sering menghabiskan waktu bersama, tapi Aku dan Mr. Alva tidak pernah melakukan hubungan seperti yang dituduhkan oleh Pak Farid, meskipun tak ku pungkiri jika Aku dan Mr. Alva pernah melakukannya di awal pertemuan kami, dan sampai saat ini kami sudah tidak pernah melakukannya, karena Aku sendiri membatasi kedekatan ku saat sedang berduaan dengan Mr. Alvaro.
Aku terus berontak untuk melepaskan diri dari cengkeraman Pak Farid yang terus memaksaku. Namun, sekuat apapun tenaga yang kumiliki tidak akan bisa menandingi kekuatan Pak Farid, tubuhku terhempas di atas sofa, dengan tatapan menyeringai Pak Farid mulai melonggarkan dasinya dan melepaskannya, setelah itu Ia mulai membuka kancing kemejanya satu persatu. Dan dalam hitungan detik Pak Farid bersiap untuk menindih tubuhku.
Karena Aku tidak mau pria itu menyentuhku, dengan cepat Aku menendang lambang keperkasaannya yang terletak di antara dua pahanya. Alhasil Ia merasa kesakitan sambil memegangi burung nya yang pastinya terasa pusing sekali. Aku pun segera bangkit dan berlari menuju pintu keluar, Pak Farid berusaha mengejarku, dengan gugup Aku membuka kunci pintu dan setelah berhasil Aku segera keluar dari ruangan Pak Farid. Dan tak kusangka dalam keadaan ketakutan Aku menabrak seseorang yang sedang berdiri di depan pintu.
__ADS_1
"Awwwww ... !" Setelah Aku lihat dan Aku rasakan dari harum parfumnya, Aku lihat jika itu adalah Mr. Alvaro. Syukurlah! Akhirnya suamiku datang.
...BERSAMBUNG ...