
Setelah beberapa menit, Alvaro dan Evan tiba di depan rumah mewah Alvaro yang megah, Evan dibuat pangling dengan kemewahan rumah Mr. Alvaro, bocah kecil itu berkata kepada Alva, "Ayah! Ini rumah Ayah?" Evan mendongak ke atas menatap wajah Alvaro dengan serius. Kemudian Alva berjongkok di depan putranya.
"Iya! Ini adalah rumah Evan juga, sebentar lagi Evan akan tinggal di sini bersama Ayah dan juga Ibu." ucap Mr. Alvaro kepada putranya.
"Benarkah itu Ayah? Itu berarti Ibu juga akan tinggal di sini bersama kita?" Alvaro menganggukkan kepalanya dan menatap bahagia wajah putranya itu.
"Ayo kita masuk!" ajak Mr. Alva sembari menggandeng tangan Evan.
"Waahh rumah Ayah besar sekali! Beda sekali dengan rumah Evan yang di desa, nggak sebesar ini sih, tapi ... kok sepi sih Yah? Ayah tinggal sendiri di rumah ini?" tanya Evan yang melihat suasana rumah yang nampak sepi, yang ada hanya beberapa pelayan yang sesekali lewat.
"Tidak! Ayah tinggal bersama Papa, Evan bisa memanggilnya dengan Kakek, itu fotonya." ujar Mr. Alvaro sembari menunjuk ke salah satu foto di sebuah dinding, yang tak lain adalah foto Hartawan.
"Itu adalah Kakek Evan! Tapi, sekarang kakek sedang keluar kota, jadi Evan belum bisa bertemu dengannya." sambung Mr. Alvaro.
Kemudian Mr. Alvaro memerintahkan kepada pelayan untuk menyediakan makanan untuk mereka, karena hari ini Mr. Alvaro ingin mengajak putranya untuk bermalam di rumahnya.
"Pelayan! Ambilkan makanan untuk Tuan muda Evan, cepetan!" titah Mr. Alvaro. Sementara sang pelayan terlihat bingung, bagaimana bisa bocah itu disebut Tuan muda oleh majikannya, tapi tak dipungkiri jika wajah bocah itu sangat mirip dengan majikannya, Mr. Alvaro.
__ADS_1
"Ya ampun! Siapa nih bocah? Kok mirip sekali dengan Tuan Alvaro? Dan Tuan Alvaro bagaimana bisa mengatakan jika bocah itu dengan Tuan muda Evan, seolah-olah itu adalah anaknya, apa jangan-jangan bocah itu memang putra Tuan Alvaro, tapi Tuan Alva kan belum menikah, bagaimana bisa?" batin sang pelayan.
"Hei ... tunggu apa lagi? Cepetan kamu ambilkan makanannya?" titah Alvaro yang melihat sang pelayan tampak begitu terkejut melihat wajah Evan yang benar-benar mirip dengan wajah Mr. Alvaro.
"I-iya Tuan! Akan kami sajikan segera." jawab sang pelayan sembari pergi ke arah dapur.
Setelah beberapa menit, makanan itu datang. Mr. Alvaro dan Evan terlihat begitu menikmati makan malam itu. Namun tiba-tiba saja terdengar bel pintu berbunyi.
"Ayah! Suara apa itu?" tanya Evan sambil memakan ayam goreng.
"Mungkin ada tamu, biar pelayan yang membukanya." jawab Mr. Alva sembari melihat putranya yang sedang asik makan ayam goreng.
"Maaf Tuan! Ada seorang wanita yang ingin bertemu dengan Tuan?"
"Siapa?"
"Namanya Nur, Tuan!" spontan Alvaro tersenyum tipis, rupanya dia cukup senang mendengar Aku datang menyusul Evan sampai ke rumahnya.
__ADS_1
"Suruh dia masuk ke sini untuk menemui ku!" titah Alvaro kepada pelayan itu. Dan benar saja Aku datang menghampiri Mr.Alvaro dan Evan yang sedang makan malam.
"Maaf Mister! Saya ingin membawa Evan pulang." ucapku membuat Mr. Alvaro berdiri dan membawaku untuk ikut duduk bersamanya.
"Eh eh ... apa-apaan sih, Mister!" kataku sambil menarik tangan ku dari genggaman tangan Mr. Alva yang memaksaku untuk duduk di kursi.
"Sudah! Jangan banyak bicara, Aku ingin kamu makan yang banyak, supaya bayi dalam kandungan mu sehat nggak rewel seperti Ibunya, cepat makan!"
Apa lagi ini duh Gusti! Darimana Mr. Alva tahu jika Aku sedang hamil?
"Apa maksud Mister!" kataku sembari menatap tajam bola mata itu.
"Kamu hamil, kan? Dan itu pasti anakku, Aku tidak mau Anakku kenapa-kenapa, sudah jangan banyak tanya, cepat makan!" titahnya seolah-olah apa yang terjadi pada diriku tidak ada pengaruh dalam hidupnya. Dia terlihat santai dan seolah biasa menyikapi jika Aku sedang hamil.
"Apa Mister akan tetap menikahi wanita itu?" tanyaku tiba-tiba, dan Mr. Alva pun menatapku dengan tajam.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1
.