
"Tentu saja, Nur! Aku tidak bisa untuk meninggalkannya, jika Aku pergi Aku pasti sangat bersalah padanya." katanya serius.
"Terus, Mister menganggap Saya ini apa? Mister sudah tahu kalau Saya ini sedang hamil, tapi Mister terlihat santai mendengarnya, Mister tahu ndak sih, bagaimana perasaan Saya? Hamil tanpa suami! Sementara Mister segera menikah dan bersenang-senang dengan wanita lain, dimana perasaan Mister?" kataku dengan mata yang berkaca-kaca. Aku pun segera mengajak Evan untuk pulang segera, rasanya Aku ingin sekali berteriak sekencang-kencangnya, Aku ingin sekali mengatakan kepada dunia jika Aku adalah istri Mr. Alvaro. Tapi apalah daya, Mr. Alvaro sudah membuatku pusing.
"Evan! Ayo kita pulang, Nak! Sudah malam, biarkan Mr. Alva istirahat, Evan besok juga harus sekolah, Ibu ndak mau Evan bangun terlambat." kataku kepada Evan yang terlihat bingung dengan percakapan kami berdua.
Terdengar dari bibir mungil anakku jika dia tidak suka melihat ku dan Mr. Alva bertengkar
"Ibu dan Ayah jangan bertengkar dong! Evan nggak suka, Evan jadi sedih melihatnya." kata Evan dengan polosnya. Aku dan Mr. Alva saling menatap, Evan terlihat turun dari kursinya dan pergi.
__ADS_1
"Evan! Kamu mau kemana, Nak!" kataku sembari mencoba mengejarnya.
"Males lihat Ayah dan Ibu bertengkar mulu, Evan mau lihat akuarium besar itu saja, ikannya banyak banget, waaahhhh!" Evan terlihat berlari menuju sebuah akuarium yang terletak di salah satu ruangan, Evan terlihat suka melihatnya. Sementara, Mr. Alva terlihat menahan tanganku untuk mengejar Evan.
"Sudah! Biarkan saja." Aku menarik tanganku dari tangan Mr. Alva. "Lepaskan Saya, Mister!" kataku sembari duduk kembali pada kursi.
"Dengar Nur, Aku memang akan menikahi wanita itu, tapi Aku juga tidak bisa jauh darimu, bagaimana pun juga kamu tidak bisa melarangku untuk menikah dengannya, dan kamu juga tidak bisa melarangku untuk jauh dari bayi itu." katanya yang semakin membuatku gemas, kapan toh kamu sadarnya Mas Tejo, Aku ini sudah capek loh, dibilang sudah ingat itu dia masih ndak tahu siapa sebenarnya Aku dan Evan, dibilang masih amnesia, kok dia kayaknya udah faham betul. Apa jangan-jangan dia sebenarnya udah ingat tapi sengaja merahasiakannya dariku?
"Nur! Kamu mau kemana?"
__ADS_1
"Mulih, neng kene sirahku malah mumet!" (Pulang, di sini kepala ku tambah pusing!) kataku yang terus berjalan menuju ke ruangan dimana Anakku berada.
Astaga rumah Mr. Alvaro besar sekali, seperti alun-alun di desaku, sejenak mataku berputar-putar melihat kemewahan rumah itu, Aku ndak biasa melihat atap-atap tinggi yang berhias lampu-lampu kristal, seketika kepalaku terasa pening, owalah ... ternyata Aku ini masih polos banget, masih kampungan sekali, masa lihat lampu-lampu kristal saja pandanganku mulai berkunang-kunang, biasanya di desa paling bagus juga pakai lampu neon, itu pun terletak di ruangan utama, selebihnya ya pasti pakai lampu bohlam yang berwarna kuning, sama halnya lampu di kamar ku, tentu saja pakai lampu bohlam yang lima Watt.
Lampu yang memberikan intensitas cahaya yang temaram membuat kamarku menjadi terlihat romantis, apalagi saat Aku dan Mas Tejo sedang menikmati malam pertama kami, tentu saja Mas Tejo dan Aku sangat menikmati malam indah itu, terbukti dia ndak membiarkan Aku tidur nyenyak, hingga akhirnya Dia pamitan untuk buang air kecil dan setelah itu dia menghilang, sedih rasanya jika Aku mengingatnya.
Sungguh Aku benar-benar tidak kuat melihat cahaya-cahaya dari lampu Kristal itu, hingga akhirnya pandangan ku mulai gelap dan Aku pun merasa ingin sekali memejamkan mata.
Ah benar saja, Aku pun jatuh pingsan di depan Mr. Alvaro.
__ADS_1
"Nur! Nur ... kamu kenapa?" Mr. Alva menangkap tubuhku dan menepuk-nepuk pipi ku.
...BERSAMBUNG...