
"Udah ya, Mister! Biarkan Saya pergi, Saya mau cuciin baju Mister, hmm ngomong-ngomong apa Mister akan seperti ini terus di ruangan ini, nggak pakai baju gitu." kataku padanya sebelum pergi keluar dari ruangan itu, Aku melihat dirinya yang sedang bertelanjang dada dan belum memakai apapun.
"Ya nggak lah, Nur! Enakan kamu dong lihatin Aku gini terus, tuh! Baju gantiku ada di dalam lemari sana tuh!" Mr. Alvaro menunjuk ke salah satu lemari di sudut ruangannya, Aku pun mengikuti arah telunjuknya. Aku melihat sebuah lemari cukup besar yang berdiri kokoh di sudut ruangan itu. Dan tiba-tiba saja Mr. Alva menyuruhku untuk mengambilkan kemejanya di dalam lemari itu.
"Nur! Tolong ambilkan bajuku di dalam lemari, bisa-bisa kamu kesenangan melihatku seperti ini, Aku mau pakai baju, cepetan!" katanya dengan wajah tanpa dosa. Dasar bule aneh, pagi-pagi udah bikin Aku nangis, sekarang bikin Aku tambah greget dengan ucapannya yang bilang Aku kesenangan lihat dia, Aduh-aduh pingin tak pites aja buaya mu itu Mas Tejo.
Dengan terpaksa Aku pun melangkah mengambilkan baju untuk suamiku, kasihan juga kalau dia nggak pakai baju, pasti dia nanti masuk angin, mengingat udara di ruangan Mr. Alva begitu dingin.
Aku buka lemari itu, dan kulihat ada beberapa kemeja ganti, ku ambilkan kemeja warna biru. Setelah itu Aku pun menutup kembali pintu lemari itu dan memberikannya kepada Mr. Alvaro.
"Nih bajunya!" kataku sembari memberikan kemeja itu. Tapi, rupanya Mr. Alva tidak mau menerimanya. Dia justru menyuruhku untuk memakaikannya.
"Pakai kan dong!" titahnya sembari melihat kearah langit-langit ruangan itu. Aku pun hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah aneh bule satu ini, yang tak lain suamiku sendiri. Piye toh Mas Tejo, ternyata kamu tuh manja banget.
Aku pun segera membuka kancing kemeja itu untuknya dan kemudian Aku pakaikan pada tubuhnya yang masih polos. Karena postur tubuh Mr. Alvaro yang tinggi tegap, Aku pun sedikit kesusahan untuk memakaikan kemeja itu pada tubuhnya.
Sembari menatap wajah Mr. Alva, Aku pun menyuruhnya untuk duduk di kursi, supaya Aku lebih mudah untuk memakaikan baju itu.
"Mister! Mister bisa duduk nggak? Jangan berdiri gitu, dong! Saya ndak bisa pakai in nih baju kalau Mister berdiri kayak jerapah gitu." kataku dengan sedikit keras, mendengar kata-kataku, ternyata membuat Mr. Alvaro protes, dia pun pelan-pelan mengikuti perintahku untuk duduk di kursi sambil berkata, "Jangan galak-galak dong, Nur! Masa Aku dikatain jerapah, tadi buaya, besok apalagi, bisa-bisa besok kamu bilang Aku ini seperti kuda Nil."
Ya Allah Gusti, untuk kali ini Aku ndak bisa menahan rasa ingin tertawa ku mendengar ucapan Mr. Alvaro. Aku spontan tertawa lepas sambil memegang perutku yang lama-lama terasa kram, sementara Mr. Alvaro justru melihat ku sambil garuk-garuk kepalanya.
"Nur! Cepetan pakai kan! Kok malah tertawa. Kamu sudah Crazy, ya?" Aku pun mulai berhenti tertawa dan mencoba mengusap air mata yang tak sengaja keluar dari sudut mata ku, mungkinkah itu yang dinamakan air mata bahagia, air mata keluar saat kita sedang terbahak-bahak.
__ADS_1
"Apa Mister? Crazy crazy apaan sih, itu yang buat motong kayu yang biasa digunakan tukang bangunan?" kataku sembari memasangkan baju Mr. Alva.
"Itu gergaji, Mbak Nur! Crazy itu adalah gila! Kamu mulai gila, ya?" celetuk Mr. Alvaro sambil menggelengkan kepalanya.
Setelah Aku memakai kan kemeja itu, sekarang tinggal ku pasangkan kancing baju nya, Aku berdiri menghadap ke depan Mr. Alva, dia sedikit mendongak karena dirinya sedang duduk, sedangkan aku berdiri. sambil mengancingkan baju itu aku berkata, "Iya saya memang sudah gila, tapi saya gila karena mas Tejo, bukan dengan Mr. Alvaro."
Mendengar aku berbicara seperti itu Mr Alvaro langsung bertanya padaku, "Mas Tejo siapa Nur? Perasaan dari kemarin kamu memanggilku dengan sebutan Mas Tejo? Sampai-sampai waktu itu kamu juga menganggap ku Mas Tejo, berarti waktu itu kamu nggak kepikiran tentang Aku dong, Nur! Kamu memikirkan pria lain yaitu Mas Tejo mu." katanya yang protes jika dirinya tidak kusebutkan namanya saat kejadian malam kemarin.
"Mas Tejo itu suamiku Mister! Ngerti ndak? Apa Mister ndak inget toh siapa Saya dan siapa Mas Tejo?" tanyaku sambil menatap bola mata indah itu. Ia pun menggelengkan kepalanya.
"Ya nggak lah Nur, Aku saja baru lihat kamu kemarin, Aku juga nggak tahu wajah suamimu. Jadi, Tejo itu Suamimu, Nur? Ohh ... oke oke sekarang Aku ngerti kenapa kamu mau bercinta dengan Mr. Alvaro yang keren ini, itu karena Aku mirip sama suamimu, kan? Eh ngomong-ngomong sekarang suamimu dimana?" Aduh Gusti pertanyaan macam apa ini, menanyakan tentang dirinya sendiri?
"Kenapa Mister tanyakan ini kepada Saya? Tanyakan sendiri kepada Mister? Kenapa Mister ninggalin Saya waktu itu, aduh Mas Tejo kamu sebenarnya ingat nggak sih?" Aku pun hilang kesabaran, Aku pun mengatakan hal itu kepadanya, supaya dia benar-benar mengingat jika Aku ini istrinya.
Mr. Alvaro melihat ku pergi dengan tatapan yang penuh tanda tanya, Aku pun segera keluar, percuma saja meyakinkan dirinya untuk percaya.
*
*
*
*
__ADS_1
Aku berjalan menuju ke pantry, tiba-tiba saja Pak Farid menghadang langkah ku. "Nur! Ayo kita makan, ini sudah waktunya istirahat." katanya sembari melihat ku yang sedang membawa baju Mr. Alvaro.
"Loh Nur! Bajunya Mr. Alva kenapa?" tanyanya, dan Aku menjawab, "baju suamiku terkena tumpahan teh, pak Farid! Jadi saya harus mencucinya." jawabku sembari tersenyum, tiba-tiba saja Pak Farid membulatkan matanya saat mendengarkan penjelasanku, dan benar saja Ia pun berkata, "Apa Nur? Suami katamu? Mr. Alvaro Suamimu?" sontak Aku pun terkejut mendengar penuturan dari Pak Farid, buru-buru Aku pun segera menjelaskannya.
"Hehehe maksud Saya Mr. Alvaro, Pak Farid!" jawabku sembari cengar-cengir. Duh hampir saja aku keceplosan.
"Ya sudah Pak Farid! Saya cuci dulu, sebentar lagi Saya kembali, cuma sepuluh menit. Sebentar ya, Pak!" kataku sembari pergi untuk segera mencuci baju Mr. Alvaro. Dia pun tersenyum dan menganggukkan kepala.
*
*
*
Sementara Farid sedang menunggu Nur, tiba-tiba saja Alvaro datang menghampiri rekan bisnisnya itu.
"Pak Farid! Sedang apa Anda di sini?" tanya Mr. Alva.
"Eh Mr. Alvaro! Ini Saya sedang menunggu Nur, Saya mau ajak dia makan siang." jawab Farid dengan senang.
"Sialan! Berani-beraninya dia ngajakin Nur makan siang, awas aja nggak bakalan kalian bisa makan siang bareng!" batin Alva dengan wajah yang sedikit kesal melihat Nur akan diajak Farid untuk makan siang.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1