
Di saat kami sibuk membicarakan tentang buaya, tiba-tiba saja anakku bertanya kepada kami, "Ayah sama Ibu bicara buaya apa sih? Di rumah Ayah kan nggak ada buayanya, kok Ibu bilang setiap malam ada buaya merayap? Hiii Evan jadi takut!" kata Evan sambil bergidik ngeri. Sementara itu Aku dan Mr. Alva tampak saling menatap dan saling memberikan kode supaya Evan tidak mengerti tentang apa yang kami bicarakan.
"Hehehe maksud Ibu, itu buaya, ahhh ... boneka buaya maksud Ibu, iya boneka buaya nya kalau malam bisa jalan sendiri, Ibu jadi takut!" kataku yang mencoba mencari alasan yang tepat untuk mengelabuhi Evan yang pastinya dia masih belum mengerti.
Rupanya alasanku justru membuat ku semakin cengar-cengir, apalagi Evan bilang jika Aku tidak perlu takut dengan buaya yang ada di rumah Mr. Alva.
"Boneka buaya? Kenapa Ibu takut? Ibu nggak usah takut, itukan cuma boneka, Bu! Nggak gigit kok, dipeluk aja sambil bobo pasti Ibu suka, boneka buaya punya Ayah kan empuk pastinya, dan juga besar. Pasti Ini nyaman sekali kalau bobo sambil peluk boneka buaya itu. Iya kan, Yah!" kata Evan yang pastinya membuat ku sesak nafas seketika. Aduh Gusti! Nih bocah dia pikir boneka buaya beneran, padahal buaya yang Aku maksud itu si anunya Bapak kamu itu, Nak! Bikin Ibu pusing setengah mati.
Tentu saja mendengar penuturan dari sang anak, Mr. Alvaro semakin bangga karena buaya nya dipuji oleh sang anak, besar dan empuk. Senyum sumringah pun terus menghiasi wajah tampan suamiku.
"Tuh! Kamu dengar kata Evan! Kamu tidak perlu takut lagi, Evan saja ngerti kok kalau Ibunya itu pasti suka mainan buaya, apalagi dipeluk setiap malam." kata Mr. Alva sambil senyum-senyum memikirkan biayanya yang dipeluk Nur setiap malam.
__ADS_1
Aku hanya tersenyum kecut mendengar penuturan Ayah dan anak itu, apa jadinya jika setiap malam Aku peluk si buaya Mas Tejo itu yang besar dan panjang itu. Bisa-bisa buayanya nggak mau tidur, gangguin Aku terus. Hiii Mas Tejo ini mesumnya keterlaluan.
Setelah beberapa menit, mobil Mr. Alvaro tiba di depan rumah Bi Rodiah, Aku pun segera turun dari mobil, terlihat beberapa tetangga Bi Rodiah yang melihat kedatangan kami. Mereka terlihat saling berbisik dengan ekspresi julid.
"Eh eh itu bukannya si Nur, keponakan Bu Rodiah, iya nggak sih Ibu-ibu?"
"Betul, itu memang si Nur! Eh dengan siapa tuh? Pagi-pagi gini baru pulang."
"Hmm jangan-jangan Nur jadi simpanan tuh orang, hiii murahan banget ya, Ibu-ibu. Dasar perempuan nggak laku! Ya gitu ngerayu pria-pria berdasi supaya dapat duwit banyak."
"Janda gatel memang!"
__ADS_1
Tak sengaja Aku mendengar percakapan Ibu-ibu itu, Aku pun tidak tinggal diam, Aku tahu jika mereka sengaja ngomongin Aku yang tidak-tidak.
"Ibu-ibu tidak punya kesibukan kah di rumah? Ibu-ibu ndak masak? Ibu-ibu ndak ngurusin pekerjaan di rumah, masih pagi sarapannya gosip, mana kenyang yang ada malah dosa, udah pulang sana, bikin mata sepet lihat Ibu-ibu ngegosip, Saya pulang pagi kek, pulang malam kek bukan urusan Ibu-ibu, dan Saya juga ndak ngerugiin Ibu-ibu." jawabku ketus, sementara Mr. Alva tampak menatap ku dengan serius. Mungkin ada yang sedang Ia pikirkan saat tahu para tetangga sedang menggunjingku.
"Dengar, Nur! Sejak kamu tinggal disini, kamu tuh sangat meresahkan masyarakat, kamu bikin Suami-suami kami jarang pulang, kamu udah bikin suami-suami kami nggak betah di rumah lagi." hardik Salah Seorang diantaranya. Mendengar kata-kata itu Mr. Alva kemudian berkata kepada mereka. "Cukup! Saya tidak mau ada yang menghina Nur lagi, jika kalian menghina nya lagi, jangan pernah bermimpi untuk tinggal di kawasan ini lagi, daerah ini adalah kawasan yang sudah Aku beli, Aku bisa saja meratakan tempat tinggal kalian, karena Nur tidak butuh tetangga macam kalian!"
Mendengar ancaman Mr. Alva, Ibu-ibu itu tampak ketakutan, "Ma-maaf Mister! Kami minta maaf, tolong Jangan gusur rumah kami!"
"Kalau begitu, minta maaf padanya!" titah Mr. Alva agar Ibu-ibu itu segera meminta maaf kepada ku.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1