
Mobil yang membawa kami sudah tiba di depan Mansion mewah Mr. Alvaro, terlihat sangat mewah dan megah, ya Tuhan! Seperti sebuah istana kerajaan, benar-benar kediaman Mas Tejo sangat besar dan mewah. Aku turun dari mobil, bersama Bi Rodiah dan Rini Aku berjalan menuju ke ruangan utama di mana pesta itu dilangsungkan.
Aku juga heran kenapa banyak orang yang menatapku kaget, apa penampilan ku terlalu buruk sehingga mereka melihatku seolah-olah tidak pantas, padahal semua ini bukan kemauan ku, suamiku sendiri yang memberikannya, malam itu Aku memakai gaun panjang berwarna putih gading, memang sih mirip sekali dengan gaun pengantin, mungkin itu juga mereka mengira jika penampilan ku sedikit aneh, terlalu mewah mungkin, ah entahlah Aku hanya menurut saja, Aku takut jika Mas Tejo marah kalau Aku tidak menuruti perintahnya.
Aku berjalan melewati tamu undangan yang pandangan nya tertuju padaku, sembari melihat penampilan ku mereka juga saling berbisik, sesekali mereka tertawa kecil, oh ya ampun! Apa penampilan ku terlalu jelek sehingga mereka menertawakan ku? Aku pun bertanya kepada Rini tentang penampilan ku malam ini, apakah jelek dan kenapa mereka semua tampak menertawakan ku?
"Hei coba lihat! Itu bukannya cleaning servis itu nggak sih? Hii ya ampun sok kecantikan banget!"
"Cuih bener tuh, mentang-mentang Mr. Alvaro sering membela dia, jadi sok paling penting, gak pantes dia pakai baju gitu."
"Hah, dia terlalu tinggi berkhayal mendapatkan seseorang seperti Mr. Alvaro, dasar perempuan nggak tahu diri."
"Kalau wanita kampungan ya kampungan aja, nggak usah sok-sok an."
"Eh ... tapi sebenarnya dia memang cantik kok, ya bisa jadi Mr. Alvaro melirik dia,"
"Halah itu nggak mungkin, dia wanita dari kampung, mana mungkin Mr. Alvaro jatuh cinta sama gadis macam dia."
Beberapa tamu undangan membicarakan tentang kedatangan Nur dalam pesta itu.
__ADS_1
"Rin! Mereka kenapa sih melihat Aku seperti itu? Apa bajuku jelek, ya? Ini yang milihin Mas Tejo sendiri bukan mau ku." Aku melihat diriku sendiri apa memang ada yang salah dengan penampilan ku.
"Nggak usah didengerin Mbak, mereka tuh nggak tahu siapa yang sebenarnya mereka hina, kalau mereka tahu yang sebenarnya, Aku yakin mereka pasti malu banget, Mbak! Mereka sudah berani ngomongin istri Mr. Alvaro, apa mereka masih mau kerja di perusahaan Mister nggak! Kalau masih mau mereka pasti nanti minta maaf sama Mbak Nur, percaya deh!" jawab Rini mencoba menenangkan Aku.
"Udah Mbak! Ayo kita masuk aja!" ajak Rini kepadaku agar kami segera masuk ke dalam ruangan pesta. Tiba-tiba saja rombongan karyawan yang suka merendahkan Aku di kantor mulai datang, tentu saja mereka pun tak lupa menyapaku dengan kata-kata yang menusuk hati.
"Wah wah wah! Eh Nur, kamu berani juga ya datang ke pesta ini, sok cantik dengan memakai baju gitu, padahal kampungan, mending pulang saja kamu, kamu tuh seharusnya di rumah, nyuci, ngepel, itu tuh tugasmu, nggak di sini tempatnya, ini tempat orang-orang kaya, bukan karyawan rendahan macam kamu!" umpat Mbak Devi kepada ku, seketika Rini marah dengan apa yang dikatakan oleh Mbak Devi.
"Eh Mbak Devi, tutup mulut kamu, sebelum kamu menyesali sebaiknya Mbak Devi minta maaf sama Nur, cepetan!" titah Rini yang membuat semua gengnya menertawakan kami.
"Hahaha apa? Minta maaf sama Nur? Ck ck ck ... Aku akan minta maaf dan bersimpuh di hadapan nya jika Nur berhasil membawa Mr. Alvaro naik ke lantai dansa. Hmm ... Aku yakin Nur tidak akan bisa melakukannya, Mr. Alvaro tidak akan pernah mau berdansa dengan wanita kampung seperti Nur, beda level!" setelah mengatakan hal itu, Devi segera pergi dan mendahului Nur.
"Sssttt sudah! Percuma meladeni wanita seperti dia, eman-eman energi kita terkuras hanya untuk menjawab omongan wanita lambe turah itu," jawabku menenangkan Rini.
"Ya ampun Mbak Nur! Mereka belum tahu saja siapa sebenarnya Mbak Nur, hmm sebentar lagi kalian semua pasti diam dan tak akan berani bicara seperti itu lagi setelah tahu siapa sebenarnya Mbak Nur, udah nggak sabar ingin melihat ekspresi wajah mereka, pasti pada melongo tuh." Rini, Aku dan Bi Rodiah disambut oleh beberapa pelayan khusus, sementara Evan sudah berlari ke arah Ayahnya yang sudah menunggu kedatangan ku.
"Ayaaahhhhh!" panggil Anakku sembari berlari menuju Mas Tejo yang sedang berbicara dengan tamu koleganya. Seketika Mas Tejo menyambut kedatangan Evan dengan senang, Mas Tejo merentangkan kedua tangannya dan menanti Evan datang ke dalam pelukannya.
Greeepp
__ADS_1
Evan pun langsung memeluk Ayahnya, dengan penuh kerinduan Mas Tejo memeluk putera kami penuh kasih.
"Ayah ... Evan kangen banget sama Ayah!"
"Ayah juga kangen banget sama kamu, Sayang!"
Seketika apa yang dilakukan oleh Mr. Alvaro membuat seluruh tamu undangan tercengang, bagaimana bisa anak laki-laki itu memeluk suamiku penuh kerinduan dan tidak sungkan minta gendong Mr. Alvaro, dan anehnya Mr. Alvaro pun menuruti permintaan sang bocah.
"Eh tuh bocah anak siapa sih?"
"Tahu tuh, tapi mukanya mirip banget sama Mr. Alvaro!"
"Eh bener banget, sangat mirip, seperti pinang dibelah dua saja."
"Eh tunggu, itu bukannya anak nya Nur, cleaning servis itu, kan?"
"Eh iya, bener loh. Kok bisa sih, jangan-jangan dia ...!"
...BERSAMBUNG ...
__ADS_1