AMNESIA BRINGS LOVE

AMNESIA BRINGS LOVE
Takut buaya


__ADS_3

Duh Gusti! Apa lagi sih maunya, belum cukup apa dia nyakitin hatiku, Aku hanya diam dan segera pergi meninggalkan ruangan itu, tanpa mengatakan apapun kepada suamiku. Aku benar-benar masih marah padanya.


Aku keluar dari ruangan itu, Aku mengambil nafas dalam-dalam dan mencoba menenangkan diri ku sendiri, setelah itu Aku segera pergi ke pantry, di sana Aku melihat Rini yang sedang duduk di sebuah kursi, Ia menyambut kedatangan ku dan berkata, "Mbak Nur Aku minta maaf, tadi Aku lama ke kamar mandinya, perutku mules banget Mbak Nur, biasa kalau lagi datang bulan sering gitu." kata Rini sembari meminta maaf kepada ku.


Aku pun tersenyum dan berkata kepadanya, "Ndak apa-apa Rin! Lagipula kita kan harus saling tolong menolong, apa sekarang perutmu masih sakit?" tanyaku kepada Rini. Dia menggelengkan kepala. "Nggak Mbak Nur! Aku sudah minum obat tadi." katanya.


Aku pun duduk di kursi sembari mengambil air putih, Rini melihat kearah ku dan Ia seakan tahu jika Aku sedang memikirkan sesuatu.


"Mbak Nur kenapa toh? Kayak banyak pikiran gitu?" Aku terkejut mendengar Rini bertanya seperti itu, bagaimana dia tahu jika Aku sedang banyak pikiran, Aku pun menutupi nya dengan tersenyum.


"Ndak apa-apa! Emangnya Aku kelihatan kayak punya beban pikiran? Ada-ada saja kamu, Rin!" kataku sembari meletakkan kembali gelas air putih itu di atas meja.


"Aku lihatnya gitu Mbak Nur! Aura wajah Mbak Nur itu kelihatan banget kalo sedang bersedih, Mbak Nur kenapa toh? Mbak Nur ndak kerasan ya bekerja di sini?" tanyanya padaku.


"Apa Mr. Alvaro membuat Mbak Nur kesal? Mr. Alvaro emang gitu Mbak Nur, dia emang terkenal tegas kepada siapapun, ya emang sih dia omongan nya agak pedas, tapi sebenarnya dia baik banget loh Mbak Nur, dia sering banget ngasih kita bonus gaji, hampir semua karyawan di kantor ini pernah mendapatkannya. Tapi, semenjak perusahaan di pegang oleh Pak Andre, semuanya berubah nggak ada lagi bonus-bonusan yang ada kita dipaksa kerja rodi, untung saja sekarang Mr. Alvaro sudah kembali dan Pak Andre akhirnya di penjara, tapi aneh juga sih, kenapa ya kok Pak Andre dipenjarakan oleh Mr. Alva?" kata Rini menjelaskan.


Aku tidak tahu apa masalah Suamiku dengan pria yang bernama Andre itu, tapi yang jelas sepertinya Mr. Alvaro sangat marah kepada Andre, Aku melihatnya saat dia memukuli pria itu tanpa ampun. Entahlah! Apapun alasannya, hanya saja Aku tidak suka jika Mr. Alvaro menuduhku macam-macam dengan Andre, meskipun sebenarnya Andre sudah berani kepadaku. Hmm kapan kamu bisa mengingatku kembali, Mas Tejo.


Ada satu hal yang Aku suka dari sifat Mr. Alvaro di sini, dia lebih mementingkan kesejahteraan karyawannya, meskipun dia sudah tidak bersikap baik kepadaku, setidaknya dia sudah menjadi kebanggaan karyawan-karyawannya. Dan itu terlihat saat Mr. Alvaro menjadi Mas Tejo saat Ia di Desa, Ia gemar membantu Bapak berjualan dan Ia tak malu untuk mengangkat beban berat yang Ia pikul di pundaknya, itulah kenapa Aku mulai jatuh cinta kepada Mas Tejo.


*


*


*


*


Setelah beberapa menit berlalu, rapat itu pun telah usai, Alvaro dan Farid telah sepakat untuk bekerja sama membangun bisnis baru mereka, dan mulai hari ini Farid akan menemani Alvaro mengembangkan bisnis mereka sehingga Farid setiap hari akan ada di kantor Alvaro.


"Semoga kerjasama kita menghasilkan banyak keuntungan, selamat bergabung di Perusahaan kami, Pak Farid!" ucap Alvaro sembari menjabat tangan Farid.

__ADS_1


"Terima kasih Mr. Alvaro, senang bisa bekerja sama dengan perusahaan besar ini, dan tentunya Saya sangat bangga bisa bekerja sama dengan Mr. Alvaro yang sudah sangat kompeten di dunia bisnis." balas Farid Pramono. Akhirnya kedua pria itu itu akan bersama dalam menjalankan bisnis baru mereka.


Mr. Alvaro menunjukkan dimana ruangan yang akan ditempati oleh Farid, tentu saja Farid sangat merasa terhormat karena Alvaro benar-benar memperlakukan tamunya sebaik mungkin.


"Ini ruangan Anda, Pak Farid! Semoga Anda nyaman di kantor ini." ucap Alvaro sebelum dirinya pergi.


"Saya merasa sangat terhormat berada di kantor ini, dan tentunya Saya pasti sangat nyaman berada di kantor ini Mister! Bekerja sama dengan Anda adalah sesuatu yang membanggakan bagi Saya." balas Farid sembari tersenyum. Setelah menunjukkan dimana ruangan rekan bisnisnya, Alvaro segera pergi ke ruangannya diikuti sang asisten, Giman.


Jam masih menunjukkan pukul setengah sebelas siang, Alvaro segera memerintahkan kepada Giman untuk memanggil Nur keruangan nya.


"Man! Panggil Nur ke ruangan ku!" titah Alvaro sembari melepaskan jasnya dan Ia duduk di kursi kebesarannya.


"Memanggil Nur, Mister? Cleaning servis itu, Sekarang?" tanya Giman.


"Ya iya Giman! Sekarang, mau ku potong gajimu?" ancam Alvaro dengan mata yang membola.


"Hehehe iya iya Mister, aduh Mister ini loh jangan galak-galak kenapa, pantesan saja Nur nangis, lah kayak gini nada bicaranya, orang saya saja ikut kaget dan gemetaran, apalagi pas denger kalo dipotong gajinya, aduh bisa-bisa Saya semaput Mister!" ucap Giman sembari pergi meninggalkan ruangan Alvaro.


*


*


*


Sementara itu saat Aku sedang bersih-bersih dengan Rini, tiba-tiba asisten Mr. Alvaro datang menghampiriku.


"Nur! Kamu dipanggil tuh sama Mister, suruh keruangan nya sekarang." kata Giman kepadaku.


"Iya sebentar, Pak! Tinggal dikit lagi selesai." kataku sembari menyelesaikan pekerjaan ku menyapu lantai yang tinggal sedikit saja, kata Si Mbok pamali kalau ndak dituntaskan, bisa-bisa jodoh nya kembali, hmm ada-ada saja ya kata orang-orang tua dulu, tapi entah kenapa kalau Aku pribadi sangat tidak nyaman jika Aku tidak menuntaskan menyapu sampai selesai. Bukan karena mitos, tapi lebih karena sebuah tanggung jawab.


Setelah Aku selesai menyelesaikan tugasku, Aku segera pergi menuju ke ruangan Mr. Alvaro. Tapi, diperjalanan tiba-tiba saja Pak Farid memanggilku.

__ADS_1


"Nur, tunggu!"


Aku pun menoleh ke arahnya, kulihat Pak Farid sedang berjalan menghampiriku.


"Pak Farid!" sapaku sembari menganggukkan kepalaku.


"Kamu mau kemana, Nur?" tanyanya padaku.


"Saya mau ke ruangan Mr. Alvaro, Pak! Mr. Alvaro sedang menyuruh Saya untuk datang ke ruangannya." jawabku apa adanya.


"Oh kalau begitu, setelah Kamu menemui Mr. Alva, nanti Aku ajak makan siang, ya?" kata Pak Farid yang menawarkan ku untuk ikut makan siang bersamanya.


"Makan siang, Pak? Ta-tapi?" Aku pun masih tidak enak, masa iya Bos besar sepertinya mengajakku untuk makan siang. Aku mencoba menolaknya, tapi dia terus memaksaku dengan alasan dia mau mentraktir ku sebagai tanda perkenalan karena mulai hari ini Ia akan bekerja dengan Mr. Alvaro.


Karena dia terus memaksaku, Akhirnya Aku mengiyakan ajakan darinya, tapi setelah Aku menemui Mr. Alvaro terlebih dahulu, dan Pak Farid pun tidak keberatan.


"Ya sudah Nur! Nanti Aku tunggu di luar, oke!" katanya dengan wajah yang berseri-seri. Aku pun hanya bisa tersenyum dan menganggukkan kepala. Setelah itu Aku segera pergi menuju ke ruangan suamiku, apalagi yang dia mau.


Setelah beberapa saat, Aku tiba di depan pintu ruang kerja Mr. Alvaro, Aku mengetuk pintu itu perlahan dan dengan cepat pintu itu mulai terbuka. Aku melihat wajah Mas Tejo suamiku berdiri di balik pintu itu. Eh bukan, dia bukan Mas Tejo lagi, tapi Mr. Alvaro yang arogan.


Dia menyuruhku masuk, sementara dia berdiri di samping pintu menungguku untuk segera masuk ke dalam ruangannya, sembari memegang handle pintu itu. Dan setelah Aku masuk Ia segera menutup pintu itu rapat-rapat.


Aku pun menoleh ke belakang, Ku lihat Mr. Alvaro mulai mendekatiku. Aku pun langsung berkata kepadanya, "Ada perlu apa Mister memanggil Saya?" tanyaku sembari berjalan mundur. Ia tetap diam dan semakin mendekatiku. Hingga akhirnya aku berhenti karena tubuhku kini bersandar pada meja kerja Mr. Alva.


"Jika tidak ada yang perlu dibicarakan, sebaiknya izinkan Saya pergi, Mister! Pekerjaan Saya masih banyak." kataku kepadanya. Dan Ia pun berhenti tepat di depanku. Dan tiba-tiba saja Ia melepas kancing kemejanya, dan tentu saja apa yang Ia lakukan membuatku gugup, jangan-jangan! Oh tidak, Aku sudah bersumpah untuk tidak melakukannya lagi, meskipun dia suamiku, tapi kata-kata tadi pagi sangat membuat ku terluka. Kenapa sekarang dia seperti ini padaku.


"Mis-Mister mau apa?" Aku semakin gugup, apalagi Ia terlihat melepaskan seluruh kancing baju. Sehingga nampak lah bulu-bulu halus yang tumbuh di dada suamiku, seketika Aku memejamkan mataku, Aku tidak ingin melihat pemandangan yang selalu membuatku berdebar seperti ini. Aduh Gusti! Berikan hamba kesabaran menghadapi buaya Mas Tejo jika saja buaya itu mulai mengamuk. Gimana dong!


"Kenapa kamu memejamkan mata?" tiba-tiba pertanyaan itu keluar dari mulut Mr. Alvaro.


"Mis-Mister mau apa toh! Aku takut saja jika buaya nya keluar, aduh Aku lagi malas Mister!" kataku sembari memalingkan wajah.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2