
Sementara itu di suatu tempat, Pak Hartawan hari ini akan mengajak kedua orang tua ku untuk datang ke kota, menyaksikan putri mereka secara langsung menikah dengan Mr.Alvaro yang akan melegalkan pernikahan kami, sebuah kejutan besar untuk ku di hari ulang tahun Mr. Alvaro yang tinggal menghitung hari.
"Pak Prapto, Bu Semi! Mari kita berangkat!" ajak Pak Hartawan yang membawa serta kedua orang tuaku, Bapak dan si Mbok pasti terlihat senang sekali, seumur hidup baru kali ini mereka naik mobil, Aku bisa bayangin bagaimana ekspresi wajah mereka, pasti mereka girang banget.
Aku salut dengan mertua ku, meskipun beliau kaya raya, tapi beliau tidak malu mengajak kedua orang tua ku yang pastinya masih terlihat kuno dan ndak kekinian, si Mbok yang memakai jarik dengan kebaya model kutu baru, tentu saja dilengkapi dengan bengkungan khas yang si Mbok lilitkan pada perutnya, kata orang tua jaman dulu, supaya perutnya singset dan tetap ramping, di tambah lagi dengan aksesoris konde ala-ala sinden, si Mbok memang suka sekali pakai konde, apalagi kalau ada hajatan di rumah tetangga, pasti si Mbok selalu pakai, supaya terlihat cantik katanya.
Sementara Bapak suka sekali memakai celana komprang ala-ala jaman dulu, yang dipadukan dengan kemeja lengan pendek dan tak lupa sebuah peci yang warnanya sudah agak kemerah-merahan, peci kesayangan Bapak. Maklum lah kehidupan di desa memang jauh dari perkotaan, mau beli peci baru itu pun kita harus ke kota dulu, karena sekarang Aku pergi ke kota, mungkin tidak ada yang mengantarkan Bapak ke kota untuk beli peci baru, sedih rasanya kalau seperti ini, kehidupan si Mbok dan Bapak yang jauh dari kata mewah. Tapi, Aku bangga sama mereka, mereka selalu menghibur ku dan menguatkan Aku saat Mas Tejo pergi meninggalkanku, dan berkat doa mereka juga, akhirnya Aku bisa bertemu kembali dengan suamiku.
Dengan membawa tas besar si Mbok dan Bapak terlihat seperti orang minggat, mungkin mereka terlalu senang akan dipertemukan dengan Aku di kota, apalagi mereka pasti juga sangat merindukan Evan, cucu mereka satu-satunya.
__ADS_1
Pengawal Pak Hartawan terlihat membawakan tas si Mbok dan Bapak, mereka juga membawa beberapa oleh-oleh dari desa, maklum Bapak dan Ibu membawa oleh-oleh seadanya, tentu saja si Mbok dan Bapak mengambil dari ladang milik kami, seperti buah pisang, buah nangka, singkong dan juga Pete, si Mbok tahu makanan kesukaan ku.
Pak Hartawan mempersilahkan si Mbok dan Bapak untuk masuk ke dalam mobil mewah itu, sejenak si Mbok mendorong tubuh Bapak untuk masuk terlebih dahulu.
"Wis ndang toh, Pakne!" (Cepetan dong, Pa) kata si Mbok.
"Sik toh Bune, sikilku nggeruyuh Iki!" (Sebentar dong, Bu! Kakiku gemetaran ini) jawab bapak sembari mencoba mengangkat perlahan kakinya untuk naik ke dalam mobil yang tentunya bagi mereka itu sangat asing sekali.
"Loh Pak Prapto, sendalnya dipakai saja, tidak usah dilepas!" kata Pak Hartawan yang membuat Bapak terkejut.
__ADS_1
"Eh nanti mobile kotor Pak!" jawab Bapak sembari tersenyum malu.
"Tidak apa-apa, Pak. Sudah! Dipakai saja."
Akhirnya Bapak memakai sendalnya kembali, kemudian beliau segera naik terlebih dahulu sebelum si Mbok, setelah Bapak sampai di dalam mobil, sekarang si Mbok yang ikut naik, Bapak menarik tangan si Mbok agar bisa berpegangan. Namun, diluar dugaan ternyata konde si Mbok nyangkut pada pintu mobil, tentu saja kepala si Mbok ikut tertarik..
"Aduh aduh Pakne, konde ku Pak ne, copot iki piye, aduhh!" (Aduh aduh Pak, konde ku lepas ini , Pak! Aduuhh) teriak si Mbok sambil memegangi kepalanya.
"Piye toh Bune, wis ora usah nggawe konde, koyo melu nyinden wae." (Gimana sih Bu, udah tidak perlu pakai konde, kayak ikut nyinden saja) kata Bapak sembari menolong si Mbok yang konde nya tersangkut.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...