
Setelah Aku selesai mencuci pakaian Mr. Alva, Aku pun segera melipat kembali bajunya yang sudah kering, tidak butuh waktu lama untuk mencucinya, karena mesin cuci nya sudah otomatis, Aku juga baru tahu jika mencuci dengan mesin cuci, pekerjaan kita jadi lebih cepat, Rini kemarin sudah mengajarkan padaku cara mencuci baju dengan mesin cuci.
Setelah semuanya beres, Aku segera pergi menemui Pak Farid yang tentunya sudah menungguku, mengingat Aku juga sudah lapar. Aku keluar dan bilang sama Rini jika Aku pergi makan siang bersama Pak Farid.
"Rin! Aku pergi makan diluar sama Pak Farid, kamu ndak apa-apa toh? Nggak enak nolak undangannya, dia maksa terus." kataku kepada Rini yang saat itu sedang ngobrol dengan Giman.
"Enak banget sih Mbak Nur! Bisa makan siang bareng sama Pak Farid, Aku juga pingin loh Mbak." balas Rini, sementara Giman memperhatikan ekspresi wajah Rini dengan mengerutkan keningnya.
"Pergi sama Aku aja, Rin? Mau ya!" tawar Giman sembari tersenyum kepada Rini.
"Nggak ah, Pak Giman dicariin Mister tuh!" kata Rini sembari menunjuk ke salah satu arah.
"Mr. Alvaro! Mana?" tanya Giman Aku pun juga memiliki pertanyaan sama dengan Giman, dimana Mr. Alvaro berada?
"Itu! Dia sedang ngobrol sama Pak Farid di depan!" kata Rini, dan Aku pun segera melihat ke arah depan, dan benar saja Mr. Alvaro dan Pak Farid sedang duduk bersama, ngapain sih Mr. Alvaro di situ, bisa-bisa dia gangguin acara makan siang kami.
Kemudian Aku dan Giman menghampiri mereka, Giman menghampiri Suamiku dan Aku menghampiri Pak Farid. Aku melihat tatapan Mr. Alva seolah tidak menyukai Aku bersama Pak Farid, wajahnya terlihat begitu kesal melihatku bersama rekan bisnisnya itu.
"Hai Nur! Kamu sudah siap?" kata Pak Farid, Aku pun menganggukkan kepala. "Iya Pak, sudah!" jawabku sembari menatap mata Mr. Alvaro yang tajam itu. Kemudian tiba-tiba saja Mr. Alvaro berkata kepada Pak Farid jika dirinya mau ikut bergabung bersama kami.
__ADS_1
"Hmm tunggu Pak Farid!"
"Iya Mister?"
"Bolehkah kita makan siang bareng, hmm kita gabung bersama, anggap saja ini sebagai simbol awal kerjasama kita." ucap Mr. Alvaro kepada Pak Farid, Aku tuh benar-benar nggak ngerti apa yang ada dalam pikiran Mr. Alva, mendadak dia ikut pergi makan siang bersama kami.
"Oh ... tentu saja, Saya merasa sangat terhormat sekali jika Mister mau bergabung bersama kami, mari!" rupanya Pak Farid menyetujui permintaan Mr. Alva. Akhirnya kami bertiga pergi makan siang bersama, sementara Giman tampak geleng-geleng kepala, Ia juga heran melihat sikapnya Bos-nya yang aneh itu. Giman memutuskan untuk makan siang bersama Rini karena jam istirahat waktunya free, sehingga Giman tidak ingin mengganggu acara Bos-nya.
Giman menghampiri Rini yang saat itu juga berada di sana, "Rin! Kamu lihat ada yang aneh nggak sih sama Mr. Alva?" tanya Giman sembari memperhatikan Alvaro, Farid dan Nur yang sedang pergi keluar kantor.
"Hmm ... aneh gimana maksud Pak Giman?"
"Oh ... itu juga yang sedang Saya pikirin Pak, kayaknya Mr. Alva menyukai Mbak Nur deh!" ungkap Rini yang membuat Giman juga berpikiran sama.
"Tahu nggak sih, Pak! Sebenarnya ya Mbak Nur itu udah punya Suami, dan suaminya itu mirip sekali wajahnya sama Mr. Alva, bahkan anak Mbak Nur itu ganteng banget ya ampun, wajahnya persis banget sama Mr. Alva. Kalau Mr. Alva jadi bapaknya pasti cocok banget!" mendengar pengakuan dari Nur, sejenak Giman mulai curiga, Ia teringat saat mereka bertemu dengan anak kecil yang bernama Evan, yang katanya sang Ibu bekerja di perusahaan Mr. Alvaro dan merupakan keponakan Bu Rodiah.
"Astaga! Kenapa Aku baru sadar!" ucap Giman sembari menepuk-nepuk jidatnya, Rini yang melihat itu tampak mengerutkan kening menatap wajah Giman yang tiba-tiba serius.
"Pak Giman kenapa?" tanya Rini yang juga ikut serius. Kemudian Giman bertanya kepada Rini.
__ADS_1
"Rin! Aku mau tanya sesuatu sama kamu?"
"Apa, Pak?"
"Apa kamu punya sepupu perempuan memiliki seorang anak bernama Evan?" sontak pertanyaan Giman membuat Rini terkejut, bagaimana bisa Giman tahu jika dirinya mempunyai seorang sepupu yang tak lain adalah Nur, yang memiliki seorang anak bernama Evan.
"Dari mana Bapak tahu? Iya saya mempunyai seorang sepupu dan dia adalah Mbak Nur."
"Oh ya Tuhan! Ini tidak salah lagi!" Giman langsung menafsirkan jika Mr. Alvaro adalah Ayah kandung dari bocah yang bernama Evan itu.
"Memangnya ada apa sih, Pak?" Rini terus berusaha mendesak agar Giman berterus-terang.
"Rin! Semoga saja dugaanku ini benar, jika Mr. Alvaro adalah Ayah kandung Evan dan suaminya Nur." mendengar ucapan dari Giman, Rini terlihat membulatkan matanya.
"Haaaaa ... astaga! Pak Giman yakin? Karena Saya juga heran sih Pak, wajah Evan itu memang mirip banget loh sama Mr. Alva. Tapi, kenapa Mr. Alvaro sampai tidak mengingat Mbak Nur dan Evan ya, Pak? Bahkan Mr. Alvaro merasa tidak pernah bertemu dengan Mbak Nur, heran juga sih." ucap Rini.
"Itu yang harus kita selidiki, Aku harus bicara sama Tuan besar, mungkin beliau bisa membantu memecahkan permasalahan ini, jika benar Evan itu anak Mr. Alvaro, pasti Pak Hartawan sangat bahagia, ternyata dia sudah mempunyai cucu laki-laki yang akan meneruskan perusahaannya kelak." ujar Giman yakin.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1