
Setelah semuanya tuntas, Aku pun segera merapikan bajuku kembali, Aku lihat Mr. Alva juga sudah merasa puas, Aku pun segera keluar dari ruangan itu, Aku lihat senyum kemenangan terukir di wajah Mr. Alva.
"Saya keluar dulu Mister! Ndak enak kalau Saya terus berada di ruangan Mister, permisi!" Aku pamit dan segera menuju ke pintu keluar.
"Tunggu dulu, Nur!" kata Mr. Alva sembari berjalan menghampiri ku.
"Apalagi Mister! Saya sudah capek, tolong biarkan Saya pergi!" kataku.
Dia membalikkan badan ku dan menatap ku dalam-dalam. Dan setelah itu dia mencium keningku dengan lembut.
'Cup' sebuah ciuman terasa begitu hangat pada keningku.
"Maafkan Aku jika sudah membuang waktumu sia-sia, Aku tidak tahu kenapa Aku sangat ingin sekali berada di dekat mu, apa kamu marah dengan apa yang Aku lakukan?" tanyanya padaku.
Sebenarnya Aku ndak marah sih, dia kan suamiku. Cuma keselnya dia nggak mau mengakui jika dirinya sudah ingat semuanya tentang diriku, buat apa coba dia menyembunyikan nya dariku?
"Nur! Kenapa kamu tidak menjawabnya?" Ia menanyakan kembali pertanyaan itu.
"Saya ndak akan pernah bisa marah pada Anda Mister! Anda adalah suami Saya, meskipun Anda tidak pernah mengakuinya, sampai kapanpun Anda akan tetap Saya anggap sebagai suami Saya. Tapi sayangnya itu hanya sebatas mimpi, Anda tidak akan pernah Saya miliki karena Anda akan menikahi wanita lain." kataku sambil menyinggung tentang sosok wanita yang Ia katakan jika wanita itu adalah calon istrinya.
Mr. Alvaro terdiam saat Aku mengatakan hal itu, sejenak Ia berpikir tentang ucapan ku, Aku pun segera pergi dari ruangan itu, tak perduli Mr. Alvaro mengizinkannya atau tidak, Aku akan tetap pergi meninggalkan ruangan itu.
Dia tetap menatapku tajam hingga akhirnya Aku mulai keluar dari ruangan nya, dan Aku lihat Mr. Alvaro terus saja menatap ku, hingga akhirnya Aku perlahan menutup pintu itu dan wajah Mr. Alvaro pun mulai menghilang dari pandangan mata ku.
Aku berjalan sedikit berlari menuju kearah pantry, di sana Aku melihat Rini dan Pak Giman yang sedang duduk berdua, secara tak sengaja Aku melihat mereka pegang-pegangan tangan dan Rini tampak malu-malu, entah apa yang mereka bicarakan, seperti nya mereka sedang membicarakan sesuatu yang serius, tapi kok pake pegang-pegang tangan segala. Sekilas Aku mendengar Pak Giman berkata kepada Rini. "Rin! Mau ya kawin sama Aku?" goda Pak Giman yang terlihat senyum-senyum kepada Rini.
Rini pun menjawab, "Kawin doang Pak? Ogah ah, percuma di kawin kalau nggak di nikah, rugi dong!"
__ADS_1
"Jadi, itu artinya kamu bersedia jika Aku nikahi?" Pak Giman terlihat serius menatap wajah Rini.
"Pak Giman serius? Ah nggak mungkin, Pak Giman pasti bohong nih." pungkas Rini.
"Bohong gimana? Memangnya Aku ini kelihatan seperti tukang bohong! Sejak Aku mulai mengenal mu, kok Aku jadi suka ya melihat mu, nggak tahu kenapa tiba-tiba saja Aku merasakan hal itu, Aku itu bukan tipe pria yang suka menjanjikan dan iming-iming kebahagiaan pada seorang gadis, jika Aku sreg dan suka, udah Aku nggak perlu lama-lama untuk membiarkan nya sampai di ambil orang, kamu mau ya, Rin?"
Seketika Rini tersenyum malu-malu mendengar rayuan Pak Giman, Aku pun ikut Senyum-senyum sendiri melihat tingkah keduanya, si Rini yang masih sangat polos dan Pak Giman yang berusaha merayu Rini agar mau menikah dengannya.
"Piye Rin? Kok malah senyum-senyum sendiri? Aku harap ucapan ku tidak membuat mu gila ya, Rin?" seketika Aku tak bisa menahan tawaku saat Pak Giman bilang seperti itu, sontak Rini pun berhenti dengan ekspresi cemberut.
"Ihh Pak Giman ini, baru aja dipuji-puji sampai terbang ke angkasa, sekarang dihempas lagi bilang Saya gila, Pak Giman tuh yang gila." kata Rini sembari mengerucutkan bibirnya.
"Ya memang Aku sudah gila, tapi Aku tergila-gila karena kamu, Rin!" seketika Rini begitu malu saat Pak Giman mengatakan hal itu. Pak Giman mulai mendekat dan menggeser tempat duduk nya agar bisa semakin dekat dengan Rini.
"Eh eh Pak Giman mau ngapain?" ucap Rini yang melihat posisi Pak Giman yang sekarang begitu dekat dengannya. Rini terlihat gugup saat Pak Giman mulai mendekati nya.
Jedug jedug jedug
"Dada Pak Giman berdetak kencang sekali, Pak Giman punya penyakit jantung, ya!" kepolosan Rini membuat ku ikut menahan nafas.
"Bukan penyakit jantung, Rin! Tapi, ini adalah debaran jantung saat Aku berada di dekat orang yang istimewa, kamu bisa rasakan bagaimana iramanya, bukan!"
Aduh-aduh ini Bos sama asisten klop banget, pinter banget bikin rayuan gombalnya, dan herannya Rini menjadi diam seketika seolah dirinya terhipnotis oleh ucapan Pak Giman.
Aku pun semakin membulatkan mata saat Pak Giman dan Rini mulai mendekatkan wajah mereka, seolah-olah mereka hendak berciuman. Aku pun segera masuk ke dalam dengan berpura-pura tidak tahu, sepertinya Aku harus menggagalkan ciuman mereka, karena apa? Mereka tuh belum menikah, jelas nggak boleh lah dan udah menyalahi norma agama dan budaya, berciuman dengan bukan pasangan halal, itu kan dosa.
Aku pun masuk dan mereka berdua terkejut melihat ku datang. Keduanya terlihat saling menjauh dan tampak gugup saat melihat ku datang ke dalam pantry.
__ADS_1
"Mbak Nur! Mbak Nur Kok udahan? Cepet banget!" kata Rini sembari menoleh ke arah Pak Giman yang juga terlihat salah tingkah.
"Udahan gimana maksud mu, Rin?" Aku balik bertanya dengan santai.
"Ya ... kok cepet banget, udah selesai ya hukuman nya, hehehe!" Rini terlihat cengar-cengir melihat ku.
Aku pun menjawab nya dengan santai, "Ngapain lama-lama, bisa-bisa kamu dan Pak Giman yang kebablasan," kataku sembari tersenyum melihat kepanikan wajah mereka berdua.
Pak Giman mencoba bersikap santai dan Ia pun pamit pergi ke ruangan Boa nya.
"Emm kalau begitu Aku pergi dulu. Rin! Kang Mas pergi dulu, ya!"
Haaa ... Kang Mas? Astaga Pak Giman sudah berani memberikan nama panggilannya untuk Rini. Aku lihat Rini garuk-garuk kepalanya mendengar ucapan Pak Giman tadi.
"I-iya pergi sana!" balas Rini sembari tersenyum malu menatap ku.
"Ehem ... cie yang ditinggal Kang Mas pergi!" Aku menyindir Rini yang terlihat malu-malu kucing.
"Apa sih Mbak Nur ini,"
"Kayaknya ada yang lagi kasmaran nih!" kataku sembari mengambil air minum.
"Hehehe opo toh Mbak! Aku dan Pak Giman cuma bercanda kok!" kata Rini menutupi.
"Bercanda? Serius juga nggak apa-apa kok, Rin! Pak Giman orangnya baik kok." kataku sembari memberikan semangat kepada Rini.
...BERSAMBUNG ...
__ADS_1