
Braaakkkk ceklek -ceklek.
Suara pintu kamar mandi terdengar dikunci dari dalam, entahlah apa yang akan kami lakukan di sana, mungkin kami sedang mandi bersama barangkali. Entahlah! Satu menit, lima menit, hingga akhirnya empat puluh lima menit. Pintu kamar mandi mulai terbuka, Aku pun mulai keluar dari kamar mandi, dengan kondisi rambut yang masih basah dan hanya berbalut handuk yang melingkar pada tubuh ramping ku, Aku berjalan keluar dengan memegangi handuk ku yang hanya sebatas paha. Dan tak berselang lama Mr. Alvaro mengikuti ku dari belakang.
Wajahnya kegirangan, huuuhh dasar laki-laki kalau udah dikasih apa yang dia mau, seneng banget mukanya, ceria, seperti dapat rejeki nomplok pada novel Office Boy ku itu.
"Terima kasih banyak, Nur! Aku benar-benar bahagia hari ini, kamu sangat luar biasa, Aku suka sekali dengan gayamu, geolanmu sangat-sangat menggetarkan seluruh jiwaku, Aku tidak akan pernah melupakannya," katanya sembari berbisik pada telingaku.
__ADS_1
Apa toh Mas Tejo ini! Luar biasa apanya, Aku sampai kehabisan tenaga menghadapi kamu, untung kita masih suami istri, jadinya Aku ndak takut dosa, hmm masa sih Mr. Alva tidak ingat, kok lama-lama Aku ragu ya! Apa jangan-jangan dia sengaja membohongi ku, hmm kayaknya Aku harus bermain seri untuk menandingi Mas Tejo, setidaknya Aku harus cari tahu dulu, apakah Mr. Alva benar-benar sudah ingat atau belum. Tapi, dilihat dari bagaimana caranya dia menyentuhku, sepertinya dia sudah ingat, dia masih ingat betul kok tempat GSpot yang selalu Ia tuju. Yaitu sekitar daerah pusar ke bawah dan sekitar tengkuk.
"Sekarang! Ganti pakaian mu, setelah itu kita sarapan, Aku tidak mau bayi ku kelaparan, Aku yakin jika sekarang anak kita pasti sangat bahagia sudah dijenguk oleh Ayahnya, benar kan? Apa kamu juga tidak senang?" katanya sembari membelai lengan ini. Duh Gusti! Mas Tejo ini loh apa belum puas juga, semalam sudah, ditambah bonus pagi ini, benar-benar nih bule tenaganya bikin ampun. Tapi, enak sih jujur Aku juga suka.
"Em ... Saya mau ganti baju dulu, Mister. Permisi!" kataku sembari melepaskan tangan Mr. Alva yang menempel pada kedua lenganku. Eh tapi bajuku dimana? Kok nggak ada? Aku pun menanyakan kepada Mr. Alva yang juga sedang berganti baju.
"Mister! Di mana baju saya? Tadi ada di sini? Kok sekarang hilang sih!" Aku bertanya sembari berkeliling mencari keberadaan baju ku. Yaitu sebuah celana kulot dan atasan kaos rajut.
__ADS_1
"Eh eh Nur! Kamu ngapain! Kamu masih pingin lagi? Aduh Nur, ini sudah siang. Apa Evan nggak sekolah dan kamu ndak kerja?" katanya yang terlihat kegelian.
"Ma-maaf Mister! Saya ndak ngerti bagaimana Saya mulai suka dengan aroma tubuh Anda, mungkin ini bawaan dari debay yang ada di dalam kandungan Saya." kataku sembari beranjak mundur.
"Hmm ... ya sudah, tidak apa-apa, itu normal. Itu tandanya jika bayi kita sangat menyayangi Ayahnya." katanya percaya diri sekali.
"Mister! Saya benar-benar minta maaf, Saya ndak bermaksud untuk menggoda Mister, sebaiknya kita ndak usah bertemu lagi, alangkah baiknya jika Saya pergi saja dari sini, dan Saya akan serahkan Evan kepada Mister!" ucapku yang mencoba memancing apa yang akan Mr. Alvaro lakukan jika Aku benar-benar pergi dari hidupnya.
__ADS_1
"Kamu ini ngomong apa sih, Nur! Sampai kapan pun kamu tidak akan pernah bisa pergi dariku. faham!"
...BERSAMBUNG...