AMNESIA BRINGS LOVE

AMNESIA BRINGS LOVE
Siapa di dalam ruangan


__ADS_3

Tak berselang lama Alvaro datang menghampiri mereka bertiga, Alvaro terlihat mengusap rambut Evan dan tersenyum kepadanya.


"Hai Evan! Bagaimana? Kamu suka makanannya?" tanya Alvaro sembari dirinya duduk kembali di kursinya.


"Suka Yah! Tapi, Evan lebih suka sayur asam sambal terasi, hmm itu enak banget, Tuan!" kata bocah itu sembari mengacungkan jempolnya, sejenak Alvaro terdiam, seolah dirinya pernah makan sayur asam sambal terasi, tapi dimana dan kapan? Sementara Giman terlihat garuk-garuk kepala bagaimana bisa bocah sekecil ini memanggil Bosnya dengan sebutan Ayah? Sementara sang Bos tidak marah sama sekali.


"Sayur asam sambal terasi? Makanan apa itu?" Alvaro bertanya kepada Evan.


"Ya ampun Ayah! Apa Ayah tidak pernah makan makanan lezat itu, kalau Ibu yang masak enak banget, Yah! Nanti deh kalau Ayah main ke rumah, biar Ibu yang masakin buat Ayah." tutur sang bocah sembari melanjutkan makannya.


Sementara itu Bi Rodiah berbicara kepada Evan, agar Evan tidak memanggil Mr. Alvaro dengan sebutan Ayah.


"Evan! Kok manggilnya gitu, itu Mr. Alvaro, Nak! Bukan Ayah Evan!" ucap Bi Rodiah.


Mendengar ucapan dari Bi Rodiah, Alvaro langsung berkata, "Tidak apa-apa, Bu! Biarkan saja, jika dia nyaman dengan panggilan itu, Saya tidak masalah." jawab Alvaro dengan tersenyum dan tidak marah sama sekali.


"Mr. Alvaro! Hari ini Saya melihat kelembutan pada hati Anda, sifat arogan dan sombong Anda seolah hilang di hadapan anak ini, sepertinya mereka ada sebuah chemistry, siapa sebenarnya anak ini?" batin Giman yang melihat sikap Bosnya begitu manis saat di hadapan bocah Lima tahun itu.


"Evan, habiskan makanannya, setelah ini Aku akan mengajakmu untuk bermain." ucap Alvaro kepada Evan yang tampak menganggukkan kepalanya.


Seharian ini Alvaro menghabiskan waktunya bersama Evan, hingga tak sadar jika waktu sudah menunjukkan pukul lima sore.


"Evan! Ayah antar kamu pulang dulu, ya! Ini sudah hampir gelap, lain kali kita bermain lagi, oke!" ucap Alva kepada bocah itu. Evan pun mengangguk senang apalagi Ia mendapatkan mainan yang banyak dari Alvaro.


"Iya, Yah! Evan senang banget bisa jalan-jalan bersama Ayah," jawab bocah itu dengan wajah bahagianya.


Akhirnya hari menjelang malam, Alvaro mengantarkan Evan dan Bi Rodiah pulang ke rumahnya, keduanya tampak turun dari mobil mewah milik Alvaro, dan setelah itu Evan melambaikan tangannya kepada Alvaro yang juga melambaikan tangan.


Giman melihat wajah bahagia dari Bos nya, tentu saja kehadiran anak itu sungguh ajaib, Evan berhasil membuat wajah Alvaro tersenyum kembali, tidak seperti siang tadi yang tampak dingin.


"Sepertinya Mister girang banget hari ini, apa anak itu berhasil menghibur hati Mister?" tanya Giman. Alvaro pun tersenyum dan dirinya seolah sangat bahagia bisa bertemu dengan anak kecil itu.


"Nggak tahu, Man! Perasaan ku tiba-tiba saja menjadi lebih baik saat bertemu dengan anak itu, sepertinya Aku mulai menyayanginya, ini aneh banget nggak sih! Apa hanya karena Evan mirip denganku, sehingga Aku bersikap itu kepadanya?" ucapan Mr. Alvaro sejenak membuat Giman mulai berpikir.

__ADS_1


"Maaf nih, Mister! Saya cuma sekedar bertanya, apa Mister dulu pernah berhubungan dengan seorang gadis atau bisa dikatakan sudah menikah seperti itu?" pertanyaan Giman sontak membuat Alvaro menatap asistennya dengan tajam.


"Apa maksudmu?"


"Hehehe maksud Saya, apa dulu Mister pernah menjalin hubungan cinta dengan seorang wanita hingga wanita itu hamil dan melahirkan, soalnya Saya curiga jika Mister sudah mempunyai seorang anak, apalagi Saya melihat kemiripan Evan dengan Mister."


"Kamu ini bicara apa! Aku tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun, mana mungkin Aku memilki anak, Evan mirip dengan ku itu hanya kebetulan, di dunia ini banyak sekali kebetulan. Sudah! Aku tidak mau membicarakan hal ini lagi, Aku mau kembali ke kantor!" ucapnya dengan nada tinggi, membuat Giman untuk sementara menahan rasa penasarannya.


"Sepertinya Aku harus mencari tahu siapa Evan sebenarnya?" batin Giman.


*


*


*


Sementara di kantor, setelah seharian membersihkan lobi dan ruangan lainnya, Aku lupa jika Mr. Alvaro menyuruhku untuk membersihkan ruangannya, Aku pun segera pergi ke ruangan Mr. Alvaro, sementara Rini pamitan untuk pulang terlebih dahulu. "Mbak Nur! Aku pulang dulu, ya! Mbak Nur ndak apa-apa toh aku tinggal dulu?"


"Ndak apa-apa, Rin! Pulang saja dulu, Aku mau lanjutin beberes ruangan Mr. Alvaro, Aku tadi lupa, takutnya orang nya datang dan marah jika ndak Aku bersihkan." kataku sembari membawa peralatan bersih-bersih.


Aku pun segera membersihkan dan mengepel lantai ruangan yang cukup besar itu. Mulai dari membersihkan kaca dan mengelapnya semua perabotan dari debu, sejenak Aku melihat foto Mr. Alvaro yang terdapat pada dinding ruangan itu, dia terlihat gagah dan tampan dengan kemeja dan jas yang terlihat begitu pas di badannya.


Aku mengambil foto itu, Ku tatap wajah pria yang begitu mirip dengan suamiku, Mas Tejo, mungkinkah kamu adalah Mas Tejo? Aku melihat tatapan mata yang tajam itu, sangat berbeda dengan sorot mata milik Mas Tejo, pria dalam foto itu menunjukkan wibawanya, Ia seolah pria dengan segala kekuasaannya. Kemudian Aku meletakkan kembali foto itu pada tempatnya.


Sejenak Aku melepaskan kancing kerah bajuku yang menutupi sebuah kalung pemberian Mas Tejo saat kami masih bersama.


"Mas Tejo! Hanya ini satu-satunya kenangan dari kamu, Mas!" kataku sembari memegang kalung emas yang melingkar pada leher ini, ku raba-raba kalung emas yang dulu dipakai oleh Mas Tejo, dan dia memberikannya padaku sebagai simbol rasa cintanya yang begitu besar kepadaku.


Aku pun kembali mengancingkan kerah bajuku, Aku kembali mengepel lantai itu, hingga akhirnya Aku melihat seseorang mulai masuk ke dalam ruangan Mr. Alvaro. Pria itu masuk begitu saja saat Aku sedang mengepel lantai.


Sejenak pria itu berhenti dan menatapku. Aku pun menundukkan kepala dan memberi hormat kepadanya, sepertinya dia juga bagian orang penting di kantor ini. Melihat dari penampilannya yang begitu rapi.


"Selamat sore, Pak! Maaf Mister Alvaro tidak ada di ruangan nya, beliau menyuruh Saya untuk membersihkan ruangan ini." sapa ku kepada pria yang menatapku dengan tatapan yang aneh.

__ADS_1


"Kamu anak baru ya disini? Cantik juga." tanya nya dengan tersenyum smirk.


"Iya, Pak!" jawabku sembari hendak membawa pergi alat-alat bersih-bersih ku.


"Permisi, Pak! Saya mau pergi dari sini!" kataku sembari beranjak pergi dari ruangan Mr. Alvaro, karena Aku merasa tidak nyaman berada di tempat itu, karena kehadiran pria yang belum ku ketahui namanya itu.


"Kamu mau kemana? Di sini saja temani Aku, lagipula Alvaro tidak ada di ruangan ini, kan!" katanya sambil menahan satu tanganku. Aku pun spontan menarik lenganku dari tangannya dan berusaha untuk keluar dari ruangan itu dengan segera.


"Maaf, Pak! Lepaskan tangan Saya!" kataku sambil berontak untuk melepaskan diri dari cengkeraman pria itu. Namun, pria itu tak juga melepaskan tangannya dari tanganku, justru pria itu mulai mengunci pintu ruangan Mr. Alvaro.


"Apa yang Anda inginkan, Pak! Lepaskan Saya!" Aku sedikit bersuara keras kepada pria yang hendak berbuat kurang ajar itu.


"Tidak semudah itu kamu bisa pergi dari sini, Aku hanya ingin berkenalan denganmu, bukankah kamu anak baru di kantor ini, kamu sangat cantik, memaksa ku untuk menyentuh kecantikan wajah ini." ucapnya sembari mencoba menyentuh pipiku. Aku pun segera menepis tangan pria itu, tapi apalah daya kekuatan pria itu lebih besar dariku, pria itu memiliki tubuh besar hampir sama dengan Mr. Alvaro, sehingga dengan mudah Ia berhasil menangkap tubuhku, Aku tidak bisa menahan kekuatannya, Ia berhasil melepaskan dua kancing kemejaku dengan mudah. Sehingga leher ku pun mulai terlihat.


"Lepaskan Saya, Pak!" kataku yang terus berusaha untuk melepaskan lepas dari pelukan pria itu.


"Tidak akan, Aku tidak akan melepaskan mu!"


Sementara diluar Mr. Alvaro sudah tiba di kantornya, dan Ia pun segera pergi ke ruangannya, Ia menyuruh Giman untuk pulang lebih awal.


"Giman! Kamu pulang saja dulu, Aku mau ke ruangan ku sebentar." kata Mr. Alvaro.


"Baik Mister!" Giman pun segera pergi meninggalkan Alvaro yang saat itu sedang berjalan menuju ke ruangannya.


Sesampainya di depan pintu ruangannya, sejenak Alvaro mengernyitkan dahinya, kenapa pintunya terkunci dari dalam, siapa yang berada di dalam ruangannya.


"Shiiit ... siapa yang sudah berani masuk ke dalam ruangan ku!" batinnya sembari membuka pintu itu dengan kunci duplikat.


"Ceklek -ceklek" mendengar suara pintu yang hendak dibuka, Andre melepaskan Nur dan mendorong tubuh gadis itu. Sementara Nur terlihat merapikan bajunya kembali.


Pintu itu mulai terbuka dan Mr. Alvaro melihat Andre dan Nur di dalam ruangannya. Wajah pria itu mulai memerah melihat dua orang sedang berada di dalam ruangannya.


"Apa yang kalian berdua lakukan di ruangan ku?"

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2