
Mr. Alvaro sudah masuk ke dalam ruangan nya, hmm apa lagi sih, pasti dia mau ngomelin Aku, Aku lihat pintu ruangan itu tertutup rapat, Aku bisa saja masuk ke dalam ruangan suamiku sendiri tanpa seizin darinya, tapi untuk saat ini sebaiknya Aku tahan diriku, setidaknya Aku bantu dia menyempurnakan drama nya yang masih berpura-pura amnesia, padahal sebenarnya Aku yakin Mas Tejo sudah ingat semuanya.
Aku memberanikan diri untuk mengetuk pintu itu sebanyak tiga kali, nggak usah banyak-banyak, karena Aku yakin dia sudah mendengarnya dari dalam, dan benar saja tak lama setelah Aku mengetuk pintu, terdengar suara Mr. Alva yang menyuruhku untuk masuk.
Perlahan Aku buka pintu itu, kepala ku menyembul terlebih dahulu dan kulihat pria yang sudah membuatku cenut-cenut itu sedang berdiri di depan jendela kantor yang menghadap pada pemandangan kota pagi ini.
Ia berdiri membelakangi ku, Aku pun segera masuk dan menutup kembali pintu tersebut.
"Ceklek" spontan Mr. Alva menoleh ke arahku, dengan tatapan yang tajam dia berjalan menghampiriku, hatiku kok berdebar ya saat dia mulai mendekati ku, ya ampun apa dia benar-benar ingin memarahiku.
"Emm Mr. Alva kenapa memanggil Saya?" tanyaku sembari berjalan mundur.
__ADS_1
"Kamu tahu kenapa Aku memanggilmu ke sini?" katanya yang berbalik tanya.
"Loh kok Anda yang tanya, ya mana Saya tahu." jawabku spontan.
"Aku sudah bilang jangan berangkat kerja dulu, kamu itu ngerti nggak sih, Aku sudah melarangmu untuk tidak datang ke kantor hari ini, tapi kamu tetap saja tidak mau mendengarkan ku, dasar keras kepala." katanya yang membuat ku ikut emosi.
"Memangnya Anda siapa? Anda bukan siapa-siapa Saya, kan? Anda tidak pernah menganggap Saya sebagai istri Anda. Jadi, buat apa Saya nurut kata Mister, terserah Saya dong Saya mau ke kantor kek, mau kemana kek, bukan urusan Anda." jawabku sedikit keras, sebel aja sih, salah sendiri pakai drama masih amnesia, sukurin entar Aku balas kamu Mas Tejo.
"Tapi kamu sedang mengandung anak ku, Nur. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan kandungan mu, faham!" katanya sambil kedua tangannya menggebrak dinding, sementara Aku berada tepat di depan Mr. Alva. Spontan Aku memejamkan mata saat kedua tangan kekar itu memukul dinding, Aku tahu dia ndak suka, tapi mau gimana lagi, ya wis lah Mas Tejo, kita harus impas, kamu sudah membuat ku bingung selama ini, sekarang giliran ku yang akan membuat mu bingung.
"Anda tuh kenapa sih? Saya berhak menentukan hidup Saya sendiri, Mister jangan khawatir Saya akan tetap melahirkan anak ini kok, tapi Saya ndak bisa ngikutin semua kemauan Mister, karena kita tidak ada hubungan apa-apa, hubungan kita sekedar bos dan karyawan, titik." kataku sembari menatap mata Mr. Alva serius.
__ADS_1
"Nur! Kamu jangan keras kepala, Aku berhak melarangmu untuk pergi kemanapun karena Aku adalah ...." Mr. Alvaro tidak melanjutkan kata-katanya.
"Karena apa? Apa maksud Mister?" kataku sembari terus mendesak agar Mas Tejo mengatakan yang sebenarnya, jika Aku adalah istri nya.
"Karena Aku ... Aku adalah Ayah dari bayi yang kamu kandung, jadi Aku berhak untuk melarangmu, karena keselamatan anakku tergantung pada dirimu, dan Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan mu, kamu mengerti tidak!" ucapnya dengan mata yang membola.
Aku melihat kekhawatiran dalam matanya, Aku tahu Mas Tejo ndak ingin Aku kecapekan, tapi ya mau gimana lagi, Aku kesel juga sama dia, terlalu sekali dia udah bohongi Aku jika dirinya tidak ingat dengan istrinya, hmm dikiranya Aku ndak ngerti apa.
"Maaf! Saya ndak bisa mengerti maksud Mister, dan sekarang izinkan Saya pergi dari sini, Saya mau kerja, Saya di sini cuma karyawan Mister, Saya bukan Nyonya besar. Jadi, Saya juga butuh uang untuk hidup Saya sehari-hari, kalau Mister Alva ndak suka, ndak apa-apa, Saya akan pergi dari kantor ini dan Saya akan mencari pekerjaan lain dan tentunya Saya akan mencari Bos yang modelnya tidak seperti Anda." rupanya kata-kataku membuat Mr. Alvaro menundukkan kepalanya, spontan Ia memelukku dengan erat, Aku pun bingung dengan tingkah nya.
"Kamu nggak boleh kemana-mana Nur, kamu akan tetap bersama ku di sini, Aku tidak akan membiarkan mu pergi dari sini, tidak akan!" katanya sembari mendekap ku dan menyandarkan kepalaku pada dadanya.
__ADS_1
Halah-halah Mas Tejo ini loh, selalu saja membuat ku melow gini, mau marah tapi lihat tingkah suamiku kayak gini kok ya ndak tega.
...BERSAMBUNG...