AMNESIA BRINGS LOVE

AMNESIA BRINGS LOVE
Secangkir kopi


__ADS_3

Kami bertemu kembali dalam situasi itu, tatapan mata kami saling berbicara, Mas Tejo ku, iya dia adalah suamiku. Tapi, sekarang dia sudah lupa dengan diriku, Aku memang masih sangat mencintainya, Aku masih sangat berharap dia kembali padaku, Tapi, apa dia mau mengakui ku sebagai istrinya? Ah sudahlah, sekarang dia bukan Mas Tejo ku lagi, meskipun Aku dan dia sudah pernah melepas rindu, meskipun Aku masih ingat betul bagaimana Mr. Alvaro memperlakukan diriku. Hanya saja Aku merasa asing baginya.


Tiba-tiba suara Rini mengejutkan kami berdua, "Mbak Nur!" spontan Aku tersadar dan segera melepaskan diri dari dekapan Mr. Alvaro.


"Ma-maaf Mister! Saya permisi!" pamit ku sembari membawa alat-alat pel itu, sementara Giman terlihat memperhatikan Aku dengan tatapan yang aneh. Sedangkan Mr. Alvaro terlihat seperti biasa, dingin dan cuek. Seolah dia tidak melihatku sama sekali.


"Giman! ayo kita pergi!" katanya kepada sang asisten, mereka berdua pun segera pergi ke dalam ruangan direktur. Tempat singgasana Mr. Alvaro.


"Mbak Nur! Kok bisa sih sampai gitu? Mr. Alvaro lagi-lagi nyelametin Mbak Nur Lu h, duuh romantis nya Aku ndak nyangka loh Mbak, Mister bisa seperti itu." kata Rini sembari senyum-senyum padaku.


"Apa sih, Rin! Kamu tuh ada-ada saja, Aku ndak tahu kalau ada dia tadi, kalaupun ada Aku juga ndak mau dia yang nangkap, biarin aja badan ini jatuh sekalian." kataku sambil berjalan menuju ruang pantry.


*


*


*


Sementara di ruangan Mr. Alvaro, pria itu tampak sedang duduk di kursi kebesarannya dengan ekspresi senyum-senyum sendiri, tentu saja Giman, sang asisten pribadi terlihat mengerutkan keningnya, ada apa dengan Bos-nya? Kemudian Giman memberanikan diri untuk berkata kepada Alva.


"Mister! Mister kenapa? Senyum-senyum sendiri? Pasti Mister teringat kejadian tadi, ya?" ucap Giman dengan tersenyum. Spontan Alva menatap tajam ke arah Giman dan melayangkan sebuah ballpoint ke arah Giman. Dan ballpoint itu mengenai tepat di kepalanya.

__ADS_1


"Aduuhh biyuh! Sirahku mundak ngelu iki, mikir Mister sing ngguyu-ngguyu dewe, sak iki malah di uncali pulpen, Mister ojo ngawur toh!" (Aduuhh! Kepalaku tambah pusing ini, mikirin Mister yang senyum-senyum sendiri, sekarang malah di lempari pulpen, Mister jangan ngawur dong!) umpat Giman sambil mengusap-usap dahinya.


"Salah dewe, nek ngomong ora mikir disek!" (sendiri kalau ngomong nggak mikir dulu!) kata Alva dengan dinginnya, Ia pun kembali membuka berkas kerjanya. Namun, rupanya apa yang baru diucapkan oleh Alva membuat Giman sulit mempercayainya. Bos yang terkenal dengan tampang bule dan ke Inggris-Inggrisan itu mendadak bisa berbahasa daerah sama seperti Giman.


"Loh Mister? Bagaimana Mister bisa bahasa Saya? Mister pasti les privat nih?" tanya Giman yang masih tidak percaya. Tentu saja Alvaro juga tidak tahu bagaimana dirinya bisa berbahasa daerah, Ia pun bingung.


"Oh ya! Aku juga nggak tahu bagaimana Aku bisa berbahasa planet seperti itu, sudahlah, Man! Cepat tunjukkan padaku jadwal rapat hari ini, nggak usah banyak tanya." ucap Alvaro.


Giman pun segera menunjukkan jadwal hari ini untuk kegiatan Bos-nya.


"Hari ini, Mister akan kedatangan tamu seorang direktur dari PT MAJU MUNDUR, Pak Farid, beliau akan menawarkan kerjasama dengan Mister. Mungkin beliau akan sering ketemu dengan Mister. Ini kesempatan besar Mister! Perusahaan ini akan berkembang semakin luas jika Mister bisa bekerja sama dengan Perusahaannya." ucap Giman.


"Baiklah! Kira-kira kapan dia datang ke mari?" tanya Alvaro sembari memeriksa berkas-berkas di atas mejanya.


"Hmm ... Giman! Tolong kamu ambilkan Aku kopi, pagi ini Aku sedikit mengantuk, semalam suntuk Aku tidak bisa tidur." tutur Alva sambil menaikkan kedua alisnya.


"Baik, Mister! Saya akan menyuruh OB untuk membawakan kopi untuk Mister."


Kemudian Giman keluar dan memerintahkan OB untuk membawakan Mr. Alvaro secangkir kopi. Sementara di dalam pantry itu hanya ada Aku yang sedang bersih-bersih.


"Loh! Pada kemana semuanya?" tanya Giman padaku. Aku pun menjawab, "Oh nggak tahu, Pak! Tadi katanya mas OB, mau anterin minum sama staf, terus yang lainnya keluar sebentar beli sesuatu, memangnya ada apa, Pak! Ada yang perlu dibantu?" tawarku kepada Giman yang kelihatannya pria itu sedang membutuhkan sesuatu.

__ADS_1


"Ya udah, karena nggak ada OB satu pun di sini, yo wis kamu saja. Tolong buatin Mr. Alvaro secangkir kopi, sekarang!" kata Giman.


"Se-sekarang? Harus sekarang?" jawabku yang tentunya Aku pasti bertemu dengan pria itu lagi.


"Enggak! Tahun depan. Ya sekarang lah! Cepat antarkan ke ruangannya, Aku mau melihat apakah Pak Farid sudah datang apa belum." ucap Giman sebelum dirinya pergi meninggalkan pantry.


"I-iya, Pak!" jawabku sembari menganggukkan kepala. Aku pun segera membuatkan kopi untuk Mas Tejo, tentunya kopi yang Aku buat berbeda dari yang lainnya, dulu ketika masih di desa, Mas Tejo suka minum kopi dengan sedikit gula, saat kutanya kenapa Mas Tejo tidak suka terlalu banyak gula, dia bilang rasa manis itu sudah ada pada senyumku, sejenak Aku tersenyum kala mengingat saat-saat itu. Mas Tejo orangnya romantis banget.


Setelah selesai, Aku pun segera mengantarkan kopi itu ke ruangan Mr. Alvaro yang tak lain adalah suamiku sendiri, Aku mulai mengetuk pintu itu, dan tak lama kemudian terdengar suara Mr. Alvaro menyuruh ku untuk masuk.


Aku pun membuka pintu ruangannya dan kulihat dirinya sedang sibuk memeriksa berkas-berkas yang ada di atas meja, Aku pun segera masuk dan meletakkan kopi itu di atas meja kerjanya, tanpa Ia melihat ke arahku dia langsung meminum kopi itu, Aku pun segera pergi secepat mungkin agar Mr. Alvaro tidak melihat wajahku, tapi sial banget, Aku tak sengaja menyenggol tumpukan map yang berada di atas meja kerjanya, alhasil semua map itu berserakan di atas lantai.


"Astaga! Kamu punya mata, tidak? Lihat! Semuanya berantakan, dasar bodoh!" Aku sangat terkejut saat Mr. Alvaro berkata seperti itu, sungguh baru kali ini Aku mendengar ucapan kasar dari mulut Suamiku sendiri.


"Ma-maaf Mister! Saya tidak sengaja!" kataku sembari merapikan kembali map-map yang terjatuh itu, mengetahui jika Aku lah orang yang menjatuhkannya map-map itu, Mr. Alvaro terdiam dan hanya menyaksikan Aku memungut map-map itu tanpa membantuku sama sekali.


Dalam hatiku, Aku menangis saat kata-kata kasar itu terlontar dari mulut suamiku sendiri, Aduh Gusti ingin sekali Aku mengatakan jika Aku ini istrinya. Tapi, jika melihat caranya seperti ini, rasanya Aku harus berpikir seribu kali untuk mengatakan yang sebenarnya.


Setelah Aku merapikan map-map itu, Aku segera meletakkannya kembali ke atas meja, dan tak terasa air mataku pun ikut menetes tanpa sadar, Mr. Alvaro melihatku yang sedang menangis.


"Ini map-nya Mister! Permisi!" Aku pamit untuk keluar dari ruangan itu, namun tiba-tiba saja terdengar suara khas Mr. Alvaro memanggil ku.

__ADS_1


"Tunggu!"


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2