AMNESIA BRINGS LOVE

AMNESIA BRINGS LOVE
Terombang-ambing


__ADS_3

Aku hanya diam mematung tak berani untuk menjamahnya lebih dalam, takut saja jika buaya itu mengamuk tiba-tiba.


"Kok malah diem, cepetan benerin, kamu mau Aku tersiksa seperti itu." ucap Mr. Alva yang terlihat meringis menahan rasa sakit akibat kepala buaya nya yang ketekuk.


"Aduh Mister! Mister sengaja ya ngerjain Saya, nggak mau ah, benerin aja sendiri." Aku pun membalikkan badan dan membelakangi Mas Tejo. Aku ndak mau melihat kepala buaya itu, yang pastinya Aku sendiri ndak akan bisa untuk menahannya. Rupanya Mr. Alvaro tidak membiarkan ku bebas, meskipun Aku sedang membelakanginya tapi tanganku masih saja Ia genggam dengan erat.


Seketika Aku membulatkan mata saat tangan ini mulai menyentuh sesuatu yang dibilang keras tapi terasa hangat, aduh Gusti jangan-jangan itu adalah kepala buaya Mr. Alva. Spontan Aku memejamkan kedua mataku dan Aku tidak mau melihat bentuk kepala buaya itu, yang pastinya itu akan sangat menggoda imanku. Karena jika Aku melihat nya, tangan ku ini reflek ingin mengelus-elus ekor panjang buaya itu.


"Cepat dikit kenapa, Nur! Lama banget sih, mana cenut-cenut lagi." rintihnya sembari menyandarkan kepalanya pada pundak ku.


Aduh piye ini, Aku benar-benar dibuat kegerahan sama si Mister Bule ini, mana kepala buaya nya gede banget, tuh kan kerasa banget gedenya. Dengan sangat terpaksa Aku harus meluruskan kepala itu ketempat semula, pastinya dalam situasi seperti ini Mr. Alvaro pasti sangat tidak nyaman dan tentunya sangat kesakitan.


Akhirnya setelah melalui proses yang cukup mendebarkan, Aku bisa meluruskan kepala buaya itu dengan baik, ku tempat kan kepala itu ditempat yang seharusnya dan tentunya Mr. Alva tidak merasa kesakitan lagi. Aku tutup lagi kain penutup yang melindungi bodi perkasa buaya milik Mr. Alvaro. Tapi, ternyata dugaan ku salah, tiba-tiba saja Mr. Alva menyebut namaku begitu dekat, sontak Aku pun menoleh ke arah wajah suamiku, tanpa aba-aba Mr. Alva menciumku begitu saja, Aku pun tidak bisa melawannya karena Mr. Alva bergerak dengan cepat dan tidak memberi ku kesempatan untuk menghindarinya.

__ADS_1


Aduh si Mbok! Sudah berapa kali Mr. Alva membuat ku tidak berdaya seperti ini, dah lah Aku tidak perduli dia pura-pura amnesia apa nggak, yang Aku tahu jika sekarang yang kuhadapi adalah suamiku sendiri, Aku pun tidak munafik, Aku juga suka caranya menyentuhku.


Mr. Alva memelukku dari arah belakang dan tentu saja bibir kami saling bersentuhan dengan manja, untuk sejenak kami menikmati suasana pagi ini, rasanya kemesraan semalam tidak akan pernah cukup, tentunya setelah lima tahun kami berpisah, pasti kami berdua sangat merindukan saat-saat romantis itu, dan ini adalah kesempatan kami berdua untuk melepaskan kerinduan yang teramat dalam itu.


Hingga tak terasa kini Aku berada di atas sofa itu, tak kuasa Aku menolak ajakan Mas Tejo yang selalu ingin berdekatan dengan diriku.


"Stop Mister! Mister mau apa toh!" kataku sembari menahan sesuatu yang mulai menyeruak masuk ke dalam hutan belantara milikku.


"Sudah jangan banyak tanya, rasakan dan nikmati saja, Aku mau menenggelamkan kepala buaya ini, biar dia bisa tidur nyenyak setelahnya." jawabnya yang siap ancang-ancang untuk menenggelamkan kepala buaya itu.


"Tanggung, Nur! Udah terlanjur bangun, susah untuk ditidurkan lagi sebelum kepalanya dicelup dulu."


Aduh aduh Mas Tejo ini loh, mesti gitu! Gini amat sih punya suami bule. Dia membekap mulutku dengan ciumannya, sementara buaya itu sedikit demi sedikit mulai membenamkan kepalanya pada suatu tempat yang sudah basah.

__ADS_1


Hmmm baru saja kami menikmati sensasi nikmat itu, masih dalam hitungan detik, baru saja kepala buaya itu bergerak lima kali dengan lembutnya, tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangan Suamiku.


"Tok tok tok."


Spontan kami saling menatap dan kepala buaya itu pun melemas, Aku pun dengan segera mendorong tubuh suamiku yang berada di atas ku, hingga Ia jatuh berguling-guling di atas lantai, membuat nya memekik kesakitan karena pinggang nya terasa sakit.


"Aduuuhhhhh ...!" sontak suara Mas Tejo yang cukup keras membuat orang yang berada di luar pintu ruangan itu mendengarnya dan ternyata itu adalah suara Pak Giman.


"Mister! Mister kenapa? Mister! Ini Giman Mister!"


Aku pun dengan cepat memakai celana ku kembali yang sempat diturunkan sampai sebatas lutut, sementara Mr. Alvaro juga merapikan kepala buaya nya yang kulihat seperti terombang-ambing kebingungan karena sudah melemas, begitu panjang sampai meler ke bawah. Bukan hanya ingus yang meler, tapi buaya kepala buaya Mr. Alva yang meler diantara dua paha itu, ingin rasanya tertawa tapi sudahlah Aku harus kuat menahannya, apalagi Pak Giman sudah menunggu di luar.


Aduh Gusti, tidur saja segitu panjangnya, apalagi jika bangun, pasti tegak menantang seperti Monas, pantas saja Aku tidak berdaya saat buaya itu sudah menerkam.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


...Hmm cengar-cengir lah kalian 😁😁...


__ADS_2