AMNESIA BRINGS LOVE

AMNESIA BRINGS LOVE
Jangan panggil Aku Mister


__ADS_3

Tapi saat itu Aku masih kesal sih sebenarnya, dia mencium ku, tapi Akunya diam meskipun tak dipungkiri darah ini mulai bedesir, Mr. Alva tidak menyerah begitu saja, Ia tahu jika Aku masih kesal padanya, dia terus berusaha untuk merayuku dengan caranya, dingin dan tidak membalas itulah yang Aku lakukan saat itu, Aku tak bergeming sama sekali saat Mas Tejo melakukan apa yang seharusnya dia lakukan. Entah bagaimana bisa sekarang Aku sudah berada di atas ranjang, Mas Tejo datang padaku tapi Aku tetap diam, padahal sebenarnya Aku mulai merasa merinding kala Mas Tejo menyentuhku dengan sangat lembut.


Dia tahu Aku tak merespon nya, sejenak Ia berhenti dan menatap wajah ku penuh tanda tanya, "Nur! Kamu masih marah padaku?" Aku mendengar ucapan itu dari bibir manisnya.


"Tidak!" jawabku spontan.


"Tapi kenapa kamu bersikap dingin seperti ini? Seolah-olah kamu sudah menolak ku." katanya sekali lagi. Aku masih tetap diam.


Karena tidak mendengar jawaban dariku, Mas Tejo pun mulai bangun dan beranjak pergi dari tempat itu seraya berkata, "Baiklah! Jika kamu merasa tidak suka Aku berada di sini, Aku akan pergi dan Aku tidak akan memaksamu lagi, Aku akan pulang!" setelah mengatakan hal itu Mas Tejo pun langsung beranjak menuju pintu keluar. Sejenak Aku melihat wajah kekecewaan nya, ya ampun! Apa Aku begitu keterlaluan menghukum suamiku seperti itu. Aku nggak mau munafik, Aku juga masih sangat mencintainya, Aku ndak mau kehilangan dia lagi, sudah cukup drama ini, saatnya untuk di akhiri.


Hampir saja Dia menyentuh handle pintu itu, dengan cepat Aku berlari menghampiri Mas Tejo dan kupeluk dia dari belakang.


"Jangan pulang, Mas! Aku takut sendirian, tetaplah disini bersama ku." Aku memeluk erat tubuh suamiku, ku sandarkan kepala ini pada punggung bidangnya, dia pun berhenti dan menyentuh tanganku yang melingkar pada pinggang seksinya.


Seketika itu Ia membalikkan badannya dan menatap kedua bola mata ini, dalam cahaya temaram itu wajah Mr. Alvaro terlihat tampan sekali, belum lagi bola mata yang menatapku penuh gairah itu. Malam ini Mr.Alva tidak terlalu banyak bicara, tapi perlakuannya malam ini benar-benar membuatku tidak bisa berkata-kata, berbeda dengan kemarin-kemarin saat kami melewati waktu bersama, malam ini Mr. Alva benar-benar berbeda, mungkin karena sekarang dia sudah mengungkapkan jati dirinya padaku.


"Mister!"

__ADS_1


"Jangan panggil Aku Mister, Aku adalah suamimu, panggil Aku dengan Mas Tejo, panggilan kesayangan mu padaku." Aku tidak menyangka dia memintaku untuk memanggil dirinya dengan nama pemberian Bapak padanya, padahal nama aslinya sangat keren dan tentu saja nama itu adalah nama kebesarannya, Mister. Tapi entah kenapa dia lebih suka Aku panggil seperti itu, ya sudah lah Aku turuti saja permintaannya.


"Mas Tejo!"


Dia tersenyum dan berkata, "Apa Kamu memaafkan ku?"


"Maaf? Untuk apa? Seharusnya Aku yang minta maaf, Aku sudah membuat mu menangis seperti itu, Aku benar-benar ndak tega melihat mu, Mas! Apa jadinya jika Aku pergi beneran dari sini, pastinya kamu nangis guling-guling, iya kan!" goda ku sembari tertawa kecil.


"Jadi kamu ngetawain Aku nangis, ya? Kamu tahu nggak sih Aku tuh sedih beneran, malah diketawain, dasar kamu tidak punya perasaan, kamu tahu jika kamu pergi bagaimana dengan nasib buayaku ini." Mas Tejo berkata sembari menggelitik pinggang ku, tentu saja Aku sangat geli sekali.


"Ampun, Mas! Ampun iya ampun. Geli, Mas! Lepasin!" Aku menggeliat seperti cacing kepanasan saat tangan Mas Tejo terus menggelitik tubuh ini, lama-kelamaan kok Aku merasa ada yang berbeda, kini Mas Tejo tidak menggelitik nya lagi tapi ....


"Mas! Ahh ...!" sesekali Aku mendesaah kecil saat Aku merasa lidahnya masuk dan bermain di dalam hutan belantara milikku.


Aduh Gusti! Rasa apa ini, kemarin-kemarin Aku belum pernah merasakan sensasi seperti ini, tapi kali ini Mas Tejo melakukannya. Tentu saja Aku geleng-geleng kepala ketika seperti ada aliran listrik yang menyengat di sana, bukan geleng-geleng kepala karena disco loh ya! Tapi geleng-geleng kepala saat Aku merasakan sensasi luar biasa yang belum pernah Aku rasakan, membuat ku menggeliat tak karuan, antara nikmat dan malu. Sementara Mas Tejo terlihat begitu menikmatinya.


Duh Mas Tejo segitu amat menikmatinya, padahal di sana pasti sangat rimbun dan penuh dengan rerumputan liar, karena Aku masih menjaga kelestarian hutan belantara milikku, kira-kira apa Mas Tejo ndak kesulitan menemukan tempat favoritnya? Hmm entahlah yang jelas dia sudah asyik bermain di sana, menggelitik manja dengan memainkan lidahnya.

__ADS_1


Puas sudah Ia bermain di sana, hingga membuat ku lemas karena beberapa kali Aku merasakan puncak gelora, mungkin saat ini buaya Mas Tejo sudah ndak sabar ingin bersarang dan bertelur di dalam tempat favoritnya.


Nafasku sudah tak karuan, entah kapan Mas Tejo sudah berhasil membuat kain-kain yang melekat pada tubuh ini hilang entah kemana, mungkin sudah berjatuhan di bawah ranjang. Hingga sekarang kami berdua sudah polos tanpa sehelai benang pun, bak seorang bayi yang baru saja dilahirkan, jika bayi terlihat lucu dan menggemaskan, tapi beda dengan kami yang tentunya sudah tidak menggemaskan lagi, tapi bikin geregetan.


Ah sudahlah Aku tidak bisa menceritakannya secara detail apa yang terjadi selanjutnya, tentu nya Aku sudah merasakan buaya Mas Tejo masuk ke dalam sana, hmm ekornya itu loh goyang-goyang terus, gimana Aku bisa menahannya, enak tahu ndak.


Tak perduli hujan turun malam itu, semakin deras hujan semakin mesra saja kami berdua, seolah-olah kami bebas menyalurkan hasrat di malam itu, tak perduli suara merdu ku saat buaya itu kian membuat ku meracau tidak karuan. Begitu pun Mas Tejo, ah sudahlah seperti itu lah kami menyatukan raga dan cinta ini bersamaan.


Belum lagi suara-suara yang keluar dari pusat penyatuan itu, semakin menambah semangat kami untuk mencapai tujuan utama yaitu puncak gelora asmara yang nikmat nya tak tertandingi.


"Mas!"


"Hmm!"


"Aku mau pipis!"


Dia hanya tersenyum dan mempercepat ritme gerakan nya, dia tahu jika Aku sebentar lagi akan menuju puncak. Dan setelah beberapa menit Aku pun mulai merasa sensasi yang benar-benar luar biasa, Aku peluk Mas Tejo erat-erat di saat bersamaan, tak berselang lama Ia pun menyusul nya dengan erangan yang cukup membuat siapa saja yang mendengarnya pasti ikut merinding.

__ADS_1


Dia cabut dengan segera buaya itu dari sarangnya, karena Aku tahu dia tidak ingin menyakiti bayi kami yang masih berada di dalam kandungan, jika dia menyemburkan nya di dalam, dikhawatirkan akan mempengaruhi kondisi bayi kami yang usianya masih beberapa Minggu.


...BERSAMBUNG...


__ADS_2