
"Kok kamu diam saja, Nur! Nggak dimakan nasinya?" Mr. Alva tampak memperhatikan ku yang hanya memutar-mutar sendok makan ku.
"Ndak apa-apa, Mister! Saya cuma ... cuma ...!" Aku ndak melanjutkan kata-kataku, karena Aku tuh gugup sekali saat Mr. Alvaro menatapku seperti itu, haduh mbok ya kalau lihatin tuh jangan pas makan gini dong, Mister! Aku kan jadi malu, biasanya Aku makan sangat lahap sekali, gara-gara si Mister lihatin mulu, jadinya Aku makan bak lipstik ku masih baru saja, nggak bisa nempel tuh sendok sama bibir, bisa dibayangkan dong sok cantik kan, Aku! Aduuhh Aku benar-benar malu, apalagi melihat ekspresi wajah dan tatapan bola matanya itu loh yang bikin putus tali BH ini.
Mr. Alva yang tahu jika Aku sedang gerogi jika dipandanginya terus, Ia pun mencoba menyuapi ku dengan sendok yang Ia pegang, tentu saja sendok itu juga berasal dari mulutnya. Tapi, Aku kok suka ya, meskipun itu sendok habis dipakai Mr. Alva, ada sensasi rasa yang berbeda. Aku pun balik menyuapi nya dari sendok yang ku pegang. Tak ada rasa canggung dan tak ada rasa malu, seolah-olah Mr. Alva sangat nyaman dengan apa yang kami lakukan, Ia tak peduli orang-orang sekitarnya melihat kami pada melongo. Bagaimana bisa Bos besar menyuapi karyawan cleaning servisnya sendiri. Aneh kan!
Tentu saja apa yang kami berdua lakukan tentu saja membuat Rini dan Pak Giman ikut melongo, mungkin mereka berdua terkesima dengan kemesraan kami berdua.
"Ihh mesra sekali! Jadi pingin digituin!" ucap Rini sembari menatap kami yang saling menyuapi.
"Sini biar Aku yang suapin!" tiba-tiba Pak Giman berkata sembari memberikan sesuap nasi di atas sendok miliknya.
__ADS_1
Seketika Rini menatap wajah Pak Giman dengan ekspresi terkejut, "Eh eh apa-apaan sih Pak Giman!"
"Loh katanya mau disuapi, ayo sini tak suapi, biar sama kayak Mr. Alva dan Nur, biar kita nggak cemburu."
"Apa, Pak? Kita? Pak Giman bilang kita? Ayolah Pak Giman, jangan bercanda deh, ya!" Rini terlihat melanjutkan makannya, sementara Pak Giman tampak berusaha mendekati Rini yang duduk di samping nya.
"Rin!"
"Hmm!"
"Pak Giman mau tanya apa?" balas Rini sembari mengunyah makanan nya dan menatap wajah Pak Giman.
__ADS_1
"Kamu udah punya pacar belum?" sontak Rini menggelengkan kepalanya dan berkata, "Tidak Pak! Siapa toh yang mau sama Saya, Saya ini jelek, pendek, nggak ada manis-manisnya, ah sudahlah Pak Giman! Saya ndak mau membahas urusan pacar, tersinggung Saya." jawab Rini yang tak sengaja Aku pun mendengarnya.
"Kenapa kamu tersinggung?" Pak Giman semakin penasaran dengan ucapan Rini.
"Soalnya Saya ndak ada yang naksir, Pak! Emangnya Pak Giman ada niatan naksir sama Saya?" celetuk Rini yang dijawab langsung oleh Pak Giman.
"Kalau ada? Gimana? Kamu mau menerimanya? Aku tuh nggak pakai pacar-pacaran, jika kamu mau kita langsung nikah, yang penting kamu memiliki hutan belantara, bukan tongkat sakti " spontan Rini menyemburkan makanan yang ada di dalam mulutnya tepat mengenai wajah Pak Giman.
Seketika Pak Giman menutup matanya saat semburan dari Mbah dukun eh salah dari mulut Rini itu, tepat mengenai wajah cukup tampan pria itu. Dan Rini pun segera meminta maaf kepada Pak Giman sembari membersihkan wajah Pak Giman dengan tisu.
"Aduh aduh maaf, Pak! Saya ndak sengaja, bapak sih pake berkata seperti itu, saya ini masih polos, Pak! Jadi, Rini tuh ndak ngerti apa yang dimaksud dengan hutan belantara dan tongkat sakti, Pak Giman sih aneh-aneh aja." kata Rini sembari mengusap wajah Pak Giman.
__ADS_1
Aku hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah konyol keduanya, hingga tak sadar Aku merasa ada sesuatu yang merayap-rayap di atas kedua pahaku.
...BERSAMBUNG...