AMNESIA BRINGS LOVE

AMNESIA BRINGS LOVE
Bukan pria seperti itu


__ADS_3

Hartawan memperhatikan putranya yang terlihat kacau, sementara Alvaro tampak menatap wajah sang Ayah sembari menghela nafas panjangnya.


"Tidak ada apa-apa, Pa! Aku hanya tidak bisa tidur, kepalaku sedikit pusing." alasan Alvaro yang sedang menutupi perasaannya.


"Papa lihat hari ini kamu sedikit aneh, apa yang sebenarnya terjadi padamu Alva?" tanya Hartawan.


"Hari ini Aku bertemu dengan seseorang yang sudah membuat hidupku kacau, Pa! Karyawan baru di kantor kita, seorang wanita yang bekerja sebagai cleaning servis. Sementara di sisi lain Aku juga bertemu dengan seorang anak kecil yang masih berusia lima tahun, dan Papa tahu! Wajah anak itu mirip sekali dengan wajahku! Aku juga tidak tahu kenapa, seolah-olah anak itu berhasil menyita perhatian Alva, dia menganggap Alva adalah Ayahnya, kasihan! Sedari kecil anak itu belum bertemu dengan Ayahnya."


Mendengar pengakuan dari putranya. Hartawan sedikit bertanya tentang karyawan baru yang disebutkan oleh Alvaro barusan.


"Karyawan baru siapa maksudmu?" tanya Hartawan dengan sedikit menyelidik.


"Itu Pa! Dia cleaning servis baru di kantor kita." jawab Alvaro.


"Cleaning servis! Memangnya kenapa dengan karyawan itu? Apa dia membuat ulah di kantor, sehingga membuatmu marah?" tanya Hartawan yang terlihat menaikkan kedua alisnya.


"Tidak! Dia tidak membuat ulah, cuma Aku tidak sengaja melihatnya bersama Andre di ruangan kantor ku, mereka sedang berduaan." ungkap Alvaro. Hartawan begitu terkejut saat mendengar penuturan putranya.


"Andre dan wanita itu berduaan dalam ruangan mu?" tanya Hartawan dengan menatap wajah sang putra yang menunjukkan jika Alvaro tidak menyukainya.


"Iya! Dan Aku menghajar Andre sekalian, setidaknya petualangan Andre berakhir di dalam penjara, Aku membawanya ke kantor polisi, Andre yang selama ini sudah mencelakaiku, Pa! Sudah waktunya dia tinggal di hotel prodeo untuk mempertanggung jawabkan atas perbuatannya." jelas Alvaro sambil meminum minuman bersoda yang sedang Ia pegang.

__ADS_1


"Jadi, kamu sudah mengirim Andre ke penjara, Papa tidak menyangka jika dia begitu tega membohongi Papa, selama ini dia menyembunyikan kebohongan besar pada Papa, Papa sangat kecewa!"


"Sekarang! Perusahaan sudah aman, selama Aku berada di perusahaan kita, tidak akan ada orang yang bisa merebutnya dari kita, dan Aku tidak akan percaya begitu saja dengan orang-orang yang mengaku sebagai keluarga, karena mereka pastinya hanya menginginkan kekayaan ku saja, Aku tidak akan semudah itu untuk percaya." ucapnya dengan tatapan mata yang tajam.


"Terus! Apa yang terjadi dengan gadis itu? Apa Kamu juga menghukumnya?" kembali pertanyaan Hartawan tentang Nur yang tiba-tiba membuatnya penasaran.


"Tidak! Aku tidak menghukumnya, justru kami ...!" Alvaro tidak melanjutkan kata-katanya karena Ia tahu jika apa yang dilakukannya dengan Nur, sangat-sangat tidak patut untuk dibanggakan.


"Kenapa? Apa yang terjadi di antara kalian?" desak Hartawan.


"Papa ingat! Kemarin Aku sempat tanya dimana keberadaan kalungku yang biasa Aku pakai?" Hartawan tampak menganggukkan kepalanya. "Iya Papa ingat!"


"Gadis itu memakai kalungmu? Apa kamu yakin?"


"Yakin sekali, Pa! Itu memang persis sekali dengan kalung yang kupakai dulu, Aku pun memperhatikan secara seksama kalung itu. Tapi .... Aku mulai lemah!" ungkap Alvaro yang mengakui jika dirinya mulai tergoda dengan fisik Nur.


"Mulai lemah? Maksudmu apa? Jangan bilang kalau kamu mulai tergoda dengannya? Karena yang kamu pegang bukan hanya kalung itu tapi leher gadis itu, bukan?" rupanya penuturan dari Hartawan membuat Alvaro garuk-garuk kepalanya. Melihat ekspresi wajah putranya, Hartawan mulai menyimpulkan jika Alvaro sudah berani berbuat api dengan karyawannya itu.


"Hei semprul! Jangan bilang kalau kalian tergoda untuk melakukannya? Benar kah itu?" Hartawan terus mendesak agar putranya mengakui jika dirinya mulai tergoda dengan wanita.


"Iya iya Pa! Oke ... Alva mengakuinya, dan Alva memang sudah melakukannya dengan gadis itu."

__ADS_1


"Apa! Kamu sadar apa yang sudah kamu lakukan, Alva? Itu anak orang loh, jangan ngawur kamu, kalau dia hamil bagaimana dan minta pertanggungjawaban dari kamu? Kamu mau menikahinya?" Alvaro dibuat bingung dengan pernyataan dari sang Ayah, tentunya Alva tidak menyukai tentang pernikahan, baginya wanita hanya sekedar lewat seperti angin lalu.


"Ayolah, Pa! Jangan menakut-nakuti Alva begitu dong! Ya Aku nggak akan biarkan gadis itu hamil." sahut Alvaro yang sedikit panik.


"Lah kamu gimana? Kamu ingat nggak waktu itu, kalau kamu udah merasa nanam saham di rahim gadis itu, ya tunggu saja sampai kamu bisa memetik hasilnya, itu pun kalau saham mu sangat berkualitas. Pasti gadis itu hamil." balas Hartawan yang terlihat menggelengkan kepalanya melihat ulah sang anak.


"Ya nggak tahu juga sih, Pa! Seingat ku udah tiga kali Aku melakukan pendakian itu, ya mau gimana lagi Aku nggak tahu kenapa tiba-tiba saja Aku menginginkan nya, dan semua benih-benih itu, Aku tanam dalam-dalam di rahim gadis itu." mendengar pengakuan dari sang putra, Hartawan sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Fix putranya ini sudah tergoda oleh seorang wanita yang belum Ia ketahui identitasnya.


"Aduh Alva! Dengerin Papa! Papa selalu mengajarkan tentang tanggung jawab kepadamu, ngomong-ngomong siapa nama gadis itu? Papa ingin bertemu dengannya." pinta Hartawan yang ingin sekali mengetahui lebih dalam sosok gadis yang sudah membuat putranya kalang kabut.


"Hahhh nggak usah deh, Pa! Itu nggak penting. Siapapun dia nggak penting bagi Alva, dia hanyalah gadis biasa yang tidak sengaja masuk ke dalam hidup Alva. Lagipula dia pergi setelah kejadian itu, dia pun tidak meminta pertanggungjawaban dari Alva. Jadi, ya sudah! Anggap saja itu malam yang tak disengaja, lagipula dia sudah tidak perawan. Pasti ada orang lain yang menyentuhnya sebelum Alva." ucap Alvaro saat dirinya mengingat kejadian saat itu.


"Semoga saja tidak ada drama, jika gadis itu akhirnya hamil gara-gara perbuatan mu," ucap Hartawan yang sedikit kesal dengan ulah anaknya.


"Kok Aku sih yang disalahin, Pa! Sebenarnya cewek itu yang mulai duluan, dia bilang Aku ini mirip Suaminya, dia langsung memeluk ku dan menciumku, aneh kan, Pa! wanita jaman sekarang ngaku-ngaku jika pernah menikah dengan ku! Padahal Sama sekali Aku belum pernah menikah dengan siapapun juga."


"Alva Alva, nggak ada yang aneh, yang aneh itu jika kamu tidak tergoda dengan nya. Itu yang patut dipertanyakan!" sahut Hartawan yang membuat Alvaro tak terima jika dirinya dikatakan pria lemah.


"Nggak lah, Pa! Aku bukan pria seperti itu, Aku lihat gadis itu menikmati permainanku, Aku pun sama, Aku tidak Munafik. Jika Aku juga merasakan kehangatan saat bersamanya." ucapnya sembari menatap ke arah langit yang bertaburan bintang di malam hari itu.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2