
Setelah Nur masuk ke dalam pantry dan menghilang dari pandangan Farid, pria itu kemudian membalikkan badannya, Ia sangat terkejut saat melihat Mr. Alvaro yang tiba-tiba berdiri di belakangnya dengan wajah yang terlihat serius, Farid menghampiri Alvaro dan mengulurkan tangannya menyapa pria yang sedang berdiri sambil menahan rasa cemburunya.
"Hai Mr. Alvaro, how are you today?" sapa Farid kepada Alvaro, dengan wajah dinginnya Alvaro mencoba profesional, meskipun dirinya kesal dengan Farid, namun Ia tidak ingin menunjukkannya.
"Ya, Saya baik-baik saja, senang bisa bertemu dengan Anda juga Pak Farid." balas Alva dengan memaksakan senyumnya.
"Baiklah! Mari kita bicarakan semuanya di ruang rapat!" ajak Alva kepada Farid Pramono, mereka pun berlanjut ke ruang rapat, sudah ada beberapa anggota rapat dan staf yang sudah menunggu kedatangan mereka berdua.
Sementara itu di dalam pantry, Aku duduk di kursi sembari mengomel karena ucapan Mas Tejo tadi, bukan bukan dia bukan Mas Tejo lagi, dia Mr. Alvaro yang jahat, yang sombong, yang arogan dan ngeselin, Aku ini istrinya sendiri kok bisa-bisanya sih dia ngomong gitu, apa dia nggak ngerasa kalau Aku ini istrinya, apa dia sudah lupa dengan kemesraan kami di Desa, apa dia juga lupa saat itunya kecepit resleting dan dia kesakitan setengah mati, siapa coba yang nolongin kalau bukan Aku, coba waktu itu Aku biarin nggak Aku tolong, bentuknya pasti udah jelek, nggak ada terima kasihnya sama sekali.
"Mbak Nur ngomong apa sih? Siapa yang anunya kecepit, Mbak?" tiba-tiba saja Rini muncul di samping ku, Aku tidak tahu dia akan datang menghampiri ku.
"Hah ... enggak! Bukan siapa-siapa, Rin! Kamu salah dengar kali." kataku sembari berusaha menutupi rasa kecewaku pada Mr. Alvaro.
"Ohh kirain anunya siapa yang kecepit hehehe." kata Rini.
"Oh ya Mbak! Ada berita bagus hari ini, Mbak!" sambung Rini yang tiba-tiba terlihat bahagia.
"Ada apa, Rin? Berita apa?" tanyaku sambil membersihkan meja.
"Tahu nggak sih, Mbak! Pak Farid Pramono rekan bisnis Mr. Alvaro yang dari PT. MAJU MUNDUR Tbk. Ternyata hari ini Ia akan datang ke perusahaan ini, ya ampun! Seneng banget tahu nggak sih, Mbak." kata Rini yang membicarakan tentang Farid, pria yang baru saja ku temui.
"Memangnya kenapa?" tanyaku penasaran.
"Ya ampun! Mbak Nur pasti belum tahu siapa sebenarnya Pak Farid, dia itu konglomerat yang memiliki beberapa perusahaan besar, Mbak, ya bisa dikatakan sepadan lah sama Mr. Alvaro, cuma yang membedakan itu dari sifat dan karakter mereka berdua Mbak! Mr. Alvaro orang nya tegas dan disiplin, terkenal arogan juga sih dia. Tapi, beda banget sama Pak Farid, dia tuh lebih kalem dan ramah, mereka berdua terkenal sama-sama cakep, ya meskipun cakepan Mr. Alvaro juga sih, pokoknya Mr. Alvaro tuh nggak ada apa-apanya." kata Rini.
"Aku udah ketemu kok sama Pak Farid." jawabku spontan dan Rini sangat terkejut saat Aku mengatakan hal itu.
"Apa? Mbak Nur udah ketemu Pak Farid? Terus-terus gimana ceritanya, Mbak!"
__ADS_1
Aku menceritakan semuanya kepada Rini tentang pertemuan tak sengaja tadi, Rini semakin terkejut saat Pak Farid memberikan kartu nama itu padaku.
"Gila! Pak Farid memberikan kartu nama untuk Mbak Nur! Waah ini pasti ada udang di balik bakwan, kok nggak Aku aja sih Mbak yang ketemu sama Pak Farid, kan lumayan bisa tak jadiin calon mantunya emak, hehehe." kata Rini sambil cengar-cengir.
Aku pun tersenyum mendengar penuturan Rini, dia gadis yang lucu tapi sebenarnya dia sangat baik, di saat kami berdua sedang asyik mengobrol, tiba-tiba saja petugas OB minta izin pulang karena tidak enak badan. Sulaiman, Mas OB yang biasa nganterin minuman untuk para staf dan tentunya yang biasa melayani Mr. Alvaro.
"Mbak Nur, Mbak Rin! Aku pulang dulu, badanku terasa meriang pingin muntah saja, Aku ndak kuat, tolong gantiin Aku sementara Yo!" ucap Sulaiman, pemuda OB yang terlihat pucat itu.
"Iya ya Man! Kamu pulang saja, kamu pucat sekali, kamu masuk angin sepertinya, yo wis ndak apa-apa nanti Aku yang gantiin kerjaan kamu! Udah izin toh sama Mas Tono?" kata Rini kepada Sulaiman.
"Sudah Mbak Rin! Kata Mas Tono nggak apa-apa," kata Sulaiman. Akhirnya Sulaiman pulang ke rumahnya, kasihan sekali melihat karyawan yang sakit dalam keadaan bekerja, mereka mencari rejeki halal tapi apalah daya kondisi tubuh yang tidak fit memaksa mereka untuk tidak melanjutkan pekerjaannya. Aku salut dengan perusahaan ini, meskipun pimpinan nya udah bikin Aku sakit hati, tapi peraturannya tidak memberatkan karyawannya, siapapun yang kedapatan sakit maka mereka akan mengizinkan pulang dan istirahat untuk beberapa hari. Kadang yang sering Aku temui adalah sulitnya untuk meminta izin kepada atasan ketika ada salah satu karyawan nya yang sakit, kadang mereka mempersulit izin tersebut.
Akhirnya Sulaiman pulang, semoga kesehatan nya cepat pulih. Aku dan Rini yang akan menggantikan tugas Sulaiman sementara jika dibutuhkan, sedangkan OB yang lainnya juga tampak sibuk. Kita selalu bekerja sama dalam satu tim.
Aku dan Rini membersihkan pantry dan beberes sembari menunggu jam makan siang, hingga akhirnya ada perintah dari salah seorang karyawan yang bilang kepada kami, jika kami harus menyediakan minuman di ruang rapat dimana Mr. Alvaro dan Pak Farid berada.
"Loh Sulaiman kemana?" tanya seorang karyawan yang datang ke pantry.
"Oh ... tolong kamu buatkan teh lima, dan antarkan ke ruangan rapat, ya!" kata karyawan yang bernama Budi itu.
"Oh siap Pak Bud! Saya akan mengantarkan nya." Rini menjawabnya dengan semangat, setelah karyawan bernama Budi itu pergi, Rini segera membuatkan teh yang akan diantarkan ke ruangan rapat Mr. Alvaro. Namun, tiba-tiba saja Rini mengeluh kalau perutnya sakit.
"Aduh-aduh perutku, aduh Mbak Nur perutku mules banget nih, kayaknya Aku kedatangan tamu Mbak Nur, bentar ya Mbak Nur aku lihat dulu ke kamar mandi," kata Rini sambil memegang perutnya.
"Ya sudah! Pergi sana ke kamar mandi, biar Aku yang buatin tehnya." kataku kepada Rini. Dan akhirnya Rini segera pergi ke kamar mandi, sementara Aku melanjutkan tugas Rini yaitu membuatku teh untuk Mr. Alvaro dan tamu-tamunya.
Setelah beberapa saat, teh sudah siap semuanya. Tapi, Rini tidak juga kembali dari kamar mandi, sementara Budi karyawan tadi datang lagi dan menyuruh segera mengantarkan teh itu ke ruangan rapat. Dan terpaksa Aku yang harus mengantarkan teh-teh itu ke ruangan rapat.
Mau gimana lagi terpaksa Aku yang mengantarkannya, Aku membawa nampan berisi teh-teh yang akan disajikan untuk beberapa orang dalam ruangan rapat itu, termasuk Mr. Alvaro. Hah ... Aku harus mempersiapkan mental untuk bertemu dengan suamiku lagi.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, Aku tiba di depan sebuah ruangan rapat, Aku membuka pintu tersebut dan kulihat ada lima orang yang sedang duduk sambil membicarakan sesuatu yang kelihatannya penting, pasti lah penting mengingat mereka membicarakan tentang hal bisnis.
Aku memberanikan diri untuk melangkah mendekati mereka, dengan sedikit gugup Aku mulai mendekati meja mereka, sejenak Mr. Alvaro menyadari kedatangan ku, dia tampak memperhatikanku, Sementara Aku tidak berani menatap wajahnya, Aku masih teringat akan ekspresi wajahnya yang kasar kepadaku.
"Permisi, Pak! Ini tehnya." kataku saat Aku mulai meletakkan cangkir-cangkir teh itu di atas meja, hingga akhirnya Aku melewati Mr. Alvaro, tanganku sedikit gemetaran saat Aku meletakkan cangkir teh itu di samping tangannya, tiba-tiba saja tangan Mr. Alva menyentuh tangan ku yang masih meletakkan cangkir teh itu, apalah dayaku duh Gusti, sentuhan tangan ini terasa lembut, seperti sentuhan tangan Mas Tejo ku.
Aku pun segera menarik kembali tanganku, karena Aku sadar jika dia bukan Mas Tejo, tapi Mr. Alvaro. Kemudian Aku segera pergi dan memberikan cangkir teh kepada Pak Farid. Aku meletakkannya di samping tangannya, setelah Aku meletakkannya Pak Farid mengucapkan terima kasih kepadaku.
"Terima kasih, ya!" katanya dengan tersenyum padaku. Aku pun mengangguk dan membalas senyumannya. Aku lihat Mr. Alvaro yang menatapku dengan tajam. Aku pun segera keluar dari ruangan itu. Namun, tiba-tiba saja terdengar suara Mr. Alva memanggilku lagi.
"Nur, tunggu!"
Aduh ada apa lagi sih, benar-benar nih orang merepotkan saja, Aku pun membalikkan badan dan melihat ke arah Mr. Alvaro yang sedang berdiri karena jasnya terkena tumpahan teh. Apa sengaja dia menumpahkan teh itu pada bajunya agar Aku bisa kembali ke sana?
"Ada apa Mister? Ada yang bisa Saya bantu?" kataku sembari menundukkan wajah.
"Tolong bersihkan jas ku dulu, Aku tidak sengaja menumpahkan teh itu, cepat bersihkan!"
Apa? Aku harus membersihkan jasnya? Ya ampun ada-ada saja, dan terpaksa Aku harus melakukannya, Aku mengambil tisu dan ku lapkan pada jas Mr. Alvaro yang terkena tumpahan air teh itu. Dengan telaten Aku membersihkannya, tumpahan itu ternyata juga mengenai kemeja bagian dada Mr. Alvaro.
Aku pun membersihkan kemeja yang juga ikut terkena tumpahan teh itu, sejenak Aku merasakan degupan jantung Mr. Alvaro. Aku merasa ada sesuatu yang membuat ku teringat saat Aku tidur pada dada suamiku, irama detak jantungnya benar-benar tidak bisa kulupakan.
Apalagi saat Mr. Alva memandang ku seperti itu, ah sudahlah Aku tidak mau lagi melihat wajahnya, dia cukup membuat ku kesal karena ucapannya tadi.
Setelah Aku selesai membersihkannya, Aku pun segera pergi dari hadapannya.
"Sudah selesai Mister! Permisi, saya harus pergi!" kataku sembari beranjak pergi dari hadapannya. Tapi, dia justru menahan tangan ku dan membisikkan sesuatu pada telinga ku.
"Setelah rapat selesai, Aku mau kamu datang ke ruangan ku, mengerti!"
__ADS_1
...BERSAMBUNG...